Blog Tausiyah275

Oktober 8, 2007

Zakat, Potensi Yang Terlupakan

Filed under: Ensiklopedia Islam,Fiqh,HOT NEWS,Muamalah,Seri Kesalahan2,Zakat — Tausiyah 275 @ 8:08 am

Menjelang Ramadhan berakhir, sudah menjadi kewajiban bagi kaum Muslim (YANG MAMPU DAN HARTANYA SUDAH MASUK NASAB) untuk membayar zakat sebagai kewajiban untuk melengkapi (menyempurnakan) ibadah puasa yg telah dia lakukan selama sebulan penuh. Zakat sendiri merupakan salah satu rukun Islam, sehingga bisa dikatakan pilar agama Islam.

Aku melihat zakat adalah sebuah potensi (yang sangat) besar dalam menghimpun, mengelola dan mendistribusikan harta kaum Muslim. Namun sayangnya, hanya proses menghimpun saja yg rutin dan dilakukan…itu pun, aku yakin, masih belum optimal. Dengan kata lain, belum 100% potensi menghimpun zakat yg bisa dilakukan oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Aku beranggapan dan berasumsi bahwa masih banyaknya badan2 zakat, yg notabene tidak terpusat, yg mengakibatkan potensi penghimpunan zakat ini masih belum optimal.

Dalam satu waktu perenungan, aku sempat berpikir dan berandai-andai, suatu saat kelak didirikan lembaga zakat yg profesional, mungkin lebih baik dari baznas. Bahkan, dalam bayanganku, lembaga zakat yg terbentuk memiliki efektivitas yg (hampir serupa atau bahkan lebih baik) dari lembaga pajak.

Ya…zakat dan pajak tidak bisa dipisahkan dari kaum Muslim di Indonesia, sebagaimana pernah aku tulis di artikel berikut.

Informasi yg aku dapatkan, Malaysia sudah memiliki badan zakat yg (menurutku) cukup profesional. Dari artikel di sini, aku dapatkan informasi berikut:

Pada 1991 dana zakat yang terkumpul mencapai 62.6 juta RM pada 1992 jumlahnya meningkat menjadi 77.8 juta RM. Kemudian pada 1997 dana zakat yang terkumpul sebesar 203.5 juta RM namun pada 1998 dan 1999 mengalami penurunan yaitu menjadi 197.7 juta RM dan 196.1 juta RM. Penurunan terjadi karena saat itu Malaysia dihantam krisis.

Namun pada 2000 dana zakat yang terkumpul mengalami kenaikan kembali hingga mencapai 261.4 juta RM. Dan hingga 2003 PPZ mampu mengumpulkan dana zakat sebesar 408 juta RM.

Kita bisa lihat bahwa potensi zakat di Malaysia sedemikian besar. Jika kita kalikan dengan kurs yg ada, 1 ringgit = Rp 2600, maka uang yg terkumpul adalah sebesar Rp 1,06 triliun. Padahal jumlah muslim di Malaysia tidaklah sebesar di Indonesia. Itu baru tahun 2003, bisa kita bayangkan berapa kira2 uang yg terkumpul di tahun 2007 ini.

Ya ya ya…barangkali jumlah pemberi zakat (muzakki) dan penerima zakat (mustahik) bisa menjadi alasan (meski sebenarnya, menurutku tidak boleh ada alasan hanya karena kita tidak sanggup mengoptimalkan potensi kita).

Dan ternyata potensi zakat umat Islam di Indonesia barulah ‘seujung kuku’. Aku dapatkan informasi berikut

Alfath mengatakan, potensi zakat di Indonesia mencapai Rp 20 triliun per tahun. Namun dari jumlah itu, yang tergali baru Rp 500 miliar per tahun.

(data didapat dari sini dan asumsi yg digunakan adalah asumsi tahun 2006).

Penyebab lain mengapa potensi zakat masih belum cukup optimal adalah masalah pengelolaan dan distribusi. Dalam beberapa kesempatan, aku berusaha mengikuti ceramah dan melihat fenomena zakat yg terjadi di Indonesia selama 2-3 tahun terakhir.

Dari hasil pengamatan yg relatif singkat, aku melihat adanya ‘KESALAHAN’ mendasar yg (menurutku) menjadi penyebab zakat (yg terkumpul) belum bisa dioptimalkan dalam pengelolaan dan distribusi. ‘Kesalahan’ tersebut adalah:
1. Tidak ada data yg valid mengenai jumlah rakyat yg berhak menjadi mustahik. Akibatnya sering terjadi tumpang tindih (overlap) dalam pendistribusian. Dalam beberapa kesempatan, aku melihat langsung, adanya pemberian ganda pada seorang mustahik.

‘Parahnya’, gandanya dana/zakat yg diterima oleh mustahik, cenderung ‘dipelihara’ oleh mustahik tersebut. Bahkan, aku melihat kecenderungan para mustahik di Indonesia berlaku ‘curang’, yakni dia mendaftarkan dirinya di beberapa tempat. Sementara database lembaga zakat sendiri terbatas, sehingga mereka tidak tahu bahwa mustahik yg mereka ‘santuni’ menerima dana ganda.

Belum lagi ada orang2 kaya yg membagikan zakatnya tanpa koordinasi dg lembaga zakat. Di beberapa tayangan televisi, sudah ada muzakki yang membagikan zakatnya (zakat harta?) kepada orang2. Banyak sekali orang tidak mampu (yg menganggap dirinya layak sebagai mustahik, meski pada tayangan terlihat ada beberapa orang yg cukup sehat dan ‘tidak layak’ sebagai mustahik) antri dan berdesak-desakan. Akibatnya banyak yg jatuh pingsan dan menimbulkan kehebohan.

2. Pengelolaan zakat yg kurang mengena. Kurang mengena di sini, maksudnya adalah zakat yg diberikan berfungsi sebagai ‘ikan’…bukan sebagai ‘kail’. Dengan kata lain, yg diberikan kepada para mustahik adalah uang dan barang semata. Bukan tindakan yg salah, terlebih lagi karena kita sendiri tidak bisa memperkirakan kebutuhan para mustahik. Namun, output zakatnya nyaris tidak bersisa…alias, para mustahik tahun ini bisa diperkirakan akan menjadi mustahik lagi tahun depan.

Menurutku, alangkah lebih baiknya bila zakat2 tersebut didistribusikan menjadi suatu bentuk yg memberdayagunakan para mustahik. Dengan demikian, harapanku, para mustahik di tahun ini akan menjadi muzakki di tahun depan.

Sayangnya, dari beberapa informasi dan obrolan yg aku dapatkan, paradigma distribusi dan pengelolaan zakat masih banyak yg terpaku ke pembagian uang dan barang. Sedikit sekali lembaga zakat yg mengolah perolehan zakat ke dalam bentuk yg lebih bermanfaat.

Padahal, setahuku, Rasululloh SAW tidak mencontohkan dana zakat habis begitu saja. Manajemen keuangan/ekonomi yg dilakukan beliau, beserta keempat khalifah pertama memperlihatkan bahwa dana zakat (terutama yg masuk ke baitul mal) bisa digunakan untuk keperluan lain.

Salah satu keberhasilan pengolahan dana zakat telah ditunjukkan oleh Baznas (bekerjasama dengan beberapa organisasi lain seperti Dompet Dhuafa dan Yayasan Masjid Sunda Kelapa), dengan mendirikan Rumah Sehat Mesjid Agung Sunda Kelapa.

Harapanku, di tahun2 mendatang lebih banyak lagi rumah2 sehat yg berdiri.

3. Data kekayaan para muzakki yg kurang akurat. Sudah selayaknya kaum Muslim (Indonesia), terutama yg mampu, didata harta kekayaannya. Salaah satu manfaatnya, terkait dengan artikel ini, adalah untuk mempermudah lembaga zakat (yg profesional) menghitung berapa besar zakat yg mesti dikeluarkan.

Selama ini, zakat yg dikeluarkan ‘hanya’ sebatas uang Rp 12.500 (atau lebih sedikit), yg notabene hanya zakat diri. Sementara untuk zakat harta, cenderung ‘diabaikan’…jika tidak dibilang ‘seikhlasnya’. Penyebabnya jelas, si muzakki tidak punya data yg pasti mengenai harta yg dia miliki.

Jikapun sudah punya data harta yg pasti, sudah menjadi sifat manusia, untuk mendapatkan ‘keringanan’ dalam beramal. Misalnya, zakat harta yg seharusnya dia keluarkan sebesar Rp 20 juta, tapi dia merasa berat hati untuk mengeluarkannya…walhasil, dia berusaha mencari-cari cara/muslihat untuk mengeluarkan uang yg lebih kecil/sedikit dari jumlah itu.

Dengan adanya pendataan kekayaan yg cukup komprehensif, diharapkan kaum Muslim lebih berhati-hati dalam mengumpulkan uang. Mudahnya, tidak korupsi.

Poin 3 ini juga akan membantu mengumpulkan dan mendistribusikan zakat harta dg lebih baik. Seperti kita ketahui, zakat harta WAJIB dikeluarkan jika sudah memenuhi nasab dan sudah berumur 1 tahun (atau lebih). Kenyataannya, aku yakin, banyak yg tidak menghitung nasab dan umur hartanya.

Walhasil, seperti aku tulis di atas, zakat hartanya cenderung seikhlasnya.

Mudah2an artikel singkat ini bisa mencerahkan dan bermanfaat kelak di satu hari nanti…
*untuk menghitung zakat, filenya bisa diambil di sini.*

Iklan

6 Komentar »

  1. sedikit mau nanya nih, sebenarnya kalau dari pendapatan/gaji yg kita terima kita sudah dikenakan pajak penghasilan yg bisa jadi besarnya diatas 10% apakah masih ada kewajiban terhadap pajak yg 2.5%, karena sepengetahuan saya pajak = zakat, wassalam.

    Komentar oleh ridwan — Oktober 15, 2007 @ 8:43 pm | Balas

  2. saya sangat setuju malah seharusnya pemerintah membuat UU tentang zakat (bisa diberlakukan untuk non muslim juga toh manfaatnya untuk kebaikan seluruh warga negara)seperti halnya UU tentang pajak penghasilan. Serta harus ada hukuman/denda bagi yang melalaikannya.

    Komentar oleh andriansyah — November 20, 2007 @ 1:37 pm | Balas

  3. uu tentang zakat udah ada cuma pelaksanaannya saja yg belum maksimal. kira2 untuk menanni mpng tindih distii, amil harus puya datase yg bgmn ya? lengkapnya apa ajyang perl ikeloa ya

    Komentar oleh azeenar — Januari 7, 2008 @ 11:40 am | Balas

  4. Yayasan Al Amir yang bergerak dibidang Da’eah dan Sosial sangat membutuhkan bantuan dana Pondok Romadlon yang diikuti oleh kl 100 peserta dari berbagai tingkat pendidikan di kab. Sumenep yang mayoritas dari keluarga tak punya/lemah ekonomi dan pihak Yayasan tidak memungut biaya sedikitpun kepada mereka. Bagi para dermawan kami memohon kiranya bisa menyisihkan sedikit harta kekayaannya kepada Yayasan kami. hubungi kami di :
    Emil: dadduwi@gmail.com atau Hp. 081931563000
    Terimakasih atas p[erhatiannya

    Komentar oleh Drs. H. Mohammad Muhsin Amir — Juli 21, 2010 @ 4:10 pm | Balas

  5. […] Sebelumnya, saya pernah ‘menggugat’ mengenai ke-termanfaat-an zakat, sebagai sebuah potensi (teramat besar) yg dilupakan dan belum dimanfaatkan s…. […]

    Ping balik oleh Tragedi Zakat, Salah Siapa? « Blog Tausyiah275 — Desember 2, 2011 @ 6:47 pm | Balas

  6. […] pernah saya tulis, dengan kondisi sekarang (umat Islam di Indonesia belum terlalu banyak yg kaya) zakat sudah punya potensi yg cukup besar dan mestinya bisa dijadikan untuk pengembangan dan kemaslahatan umat. Dengan demikian, […]

    Ping balik oleh Umat Islam HARUS KAYA, Tapi… | Blog Tausiyah275 — Agustus 11, 2013 @ 9:47 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: