Blog Tausiyah275

Desember 20, 2007

Kericuhan Pembagian Daging Qurban

Filed under: Fiqh,HOT NEWS,Qurban,Seri Kesalahan2 — Tausiyah 275 @ 5:37 pm

Hari ini, mayoritas umat Islam di Indonesia merayakan Idul Adha. Di berbagai tempat kita bisa saksikan banyak orang menyembelih hewan qurban, baik qurban miliknya maupun bekerja sebagai tukang jagal dadakan.

Sementara para bapak sibuk ‘membunuhi’ para hewan qurban, di sisi lain para ibu dengan sigap memotong-motong dan membungkus daging qurban ke dalam paket2 kecil yang akan dibagikan kepada para orang yang berhak.

Di luar pagar, orang2 yg merasa dirinya berhak mendapat bagian sudah menunggu. Mulai anak kecil usia 5 tahun (bahkan kurang) hingga nenek-nenek berusia 80 tahunan sudah mengantri, bersiap menunggu dimulainya pembagian daging qurban.

Begitu pembagian daging qurban mulai dibagikan oleh panitia, para mustahiq tersebut langsung merangsek maju. Berbondong-bondong mereka berusaha mendapatkan daging qurban lebih dahulu. Antrian dan aturan yang ditetapkan panitia sudah tidak dipedulikan lagi.

Cap tangan, tiket, dan berbagai metode pembagian serta antrian sudah tidak dipedulikan. Akibatnya terjadi aksi saling dorong, saling sikut, dan ujung2nya jatuh korban.

Ya ALLOH…demi daging yang (maaf) tidak seberapa, mereka begitu tega ‘mengorbankan’ saudara mereka. Sudah tidak ada kamus saudara dalam benak mereka. Apapun cara akan mereka lakukan demi mendapatkan daging, tidak ada lagi rasa untuk berbagi.

Padahal, SEMANGAT BERBAGI TIDAK HANYA BERLAKU BAGI ORANG YANG BERQURBAN. SEMANGAT BERBAGI MESTINYA JUGA BERLAKU BAGI KALANGAN PENERIMA DAGING QURBAN.

Sulit? Tentu saja..karena selama ini para penerima daging qurban merasa mereka ‘berhak’ atas daging qurban, TITIK. Tidak peduli dg kondisi sekitar, sauadara2 mereka.

Bahkan yang lebih parah, para penerima daging qurban cenderung memonopoli daging qurban. Berbagai cara mereka lakukan:
– mengantri kembali
– menyuruh anak2nya untuk ikut mengantri

Namun, dari sekian hal, ada hal yang lebih memalukan, yakni ada orang/keluarga yg ‘memiskinkan’ dirinya demi sekerat daging. Padahal sebenarnya keluarga tersebut masih berkecukupan, tidak terlalu miskin. ‘Kasar’nya, keluarga mereka masih bisa membeli daging.

Tapi apa daya, demi sekerat daging qurban, harga diri dan rasa malu mereka gadaikan. Mereka buang itu semua.

Ya ALLOH…sedemikian hinakah kelakuan para saudaraku?
Ya ALLOH…bukakan hati para saudaraku.

Dampak dari tindakan mereka, terutama para penyerobot dan keinginan monopoli daging qurban, sering terjadi jatuh korban. Nenek-nenek pingsan, anak kecil hilang dari pelukan ibunya, dan masih banyak kejadian lainnya.

Sayangnya, para panitia masih belum banyak belajar, padahal kejadian ini tidak terjadi baru2 ini. Sudah terjadi tahunan dan hal yang sama terjadi juga saat pembagian zakat.

Ayo…ayo…saudaraku yang sering menjadi panitia (Zakat dan Qurban), sudah saatnya kita memanage pembagian zakat dan qurban.

Iklan

5 Komentar »

  1. itulah realita yang ada
    teori berbeda dengan kenyataan
    ada 100 orang
    berarti 100 pemikiran berbeda
    perlu waktu membuat semua menjadi lebih baik
    meski hanya sekerat daging
    tapi itu memiliki makna tersendiri
    ga peduli pemaknaan orang
    yang pasti setiap individu memaknainya
    hingga akhirnya hal seperti itu terjadi dan terjadi lagi
    semoga aja tahun yang akan datang ga akan seperti itu lagi

    🙂

    Komentar oleh lilis — Desember 21, 2007 @ 11:50 am | Balas

  2. Saya blom pernah melihat sendiri situasi orang-orang mengantri sampai berdesakan dan berebutan dalam menerima daging kurban, tapi sudah bisa dibayangkan, dan gak terlalu heran pula. Alhamdulillah pelaksanaan pembagian daging kurban di kampung saya cukup ‘aman dan terkendali’. Namun tidak juga berarti tidak ada kejadian2 yang mirip dengan situasi yang diceritakan di atas. Mirip yang saya maksud adalah pola pemikiran ‘aji mumpung’ dan (maaf) ‘ngongso’ yang begitu membudaya.

    Saya jadi teringat cerita seorang Ustad tentang kejadian gempa Yogya 2006 yang lalu. Ustad tersebut bilang kalo selama itu warga Bantul banyak yang ‘berdoa supaya dimiskinkan’. Betapa tidak, ternyata beberapa bulan lamanya sebelum kejadian gempa, banyak warga Bantul yang mendaftarkan diri sebagai penerima dana BOS, padahal di antara mereka banyak yang berkecukupan. “Kalau sudah kaya masih bilang miskin, kan berarti seperti berdoa agar miskin” kata Ustad tersebut. Ya akhirnya terkabullah doa mereka, dengan adanya gempa.

    Yah, itu sekedar anekdot saja. Semoga kita semua dijauhkan dari sifat tamak, sehingga bisa menjadi teladan bagi yang lain.

    Komentar oleh Guntur — Desember 22, 2007 @ 10:41 am | Balas

  3. Ini artinya yang korban sedikit so at next we,you,everybody must search cow,goat,camel etc. to neckcut

    Komentar oleh Eva — Januari 4, 2008 @ 10:48 pm | Balas

  4. Dengan pola Qurban atau sedekah setahun sekali atau sekali-sekali setahun :), memang banyak orang miskin menganggap mereka yang membagikan daging tersebut sebagai sedang ‘mencuci harta yang diperoleh dari harta yang harusnya menjadi hak si miskin’.
    Ini membuat mereka lalu merasa ‘ber-hak’ atas daging-daging tadi, sehingga tidak lagi melihatnya sebagai Karunia Allah, yang harus disyukuri dengan bahagia.

    Mungkin salah satu jalan adalah kita mengubah pola ‘sedekah atau mempedulikan orang lain’ ini bukan sebagai aktifitas sekali-sekali ‘jegerrrr’, tapi lebih sebagai kebiasaan sehari-hari. Perut mereka memang juga laper saben hari kok. Maksud saya sih tidak cuma pakai duit lah. Kan bisa duit or waktu or tenaga or perhatian or ketrampilan or anything sesuai kesanggupan aja. Biasanya ketangkep kok maksud baik yang begitu. Kayanya si penerima dan pemberi juga menjadi sama-sama hepi dan bersyukur…

    Komentar oleh Satya — Januari 20, 2008 @ 4:25 pm | Balas

  5. […] Oya, kasus lain yg ‘kadang’ terlupakan adalah kisruhnya pembagian hewan qurban. […]

    Ping balik oleh Masjid dan Lingkunganku Bau Hewan Qurban! « Blog Tausiyah275 — Desember 24, 2012 @ 12:39 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: