Blog Tausiyah275

Februari 23, 2008

Bacaan Di Akhir Pekan – Siapa Yang Ndeso?

Filed under: Dari Inboxku,Hikmah — Tausiyah 275 @ 2:13 pm

“NDESO”

Deso (baca : ndeso) itulah sebutan untuk orang yang norak, kampungan, udik, sock culture, Countrified dan sejenisnya. Ketika mengalami atau merasakan sesuatu yang baru dan sangat mengagumkan, maka ia merasa takjub dan sangat senang, sehingga ingin terus menikmati dan tidak ingin lepas, kalau perlu yang lebih dari itu. Kemudian ia menganggap hanya dia atau hanya segelintir orang yang baru merasakan dan mengalaminya. Maka ia mulai atraktif, memamerkan dan sekaligus mengajak orang lain untuk turut merasakan dan menikmatinya, dengan harapan orang yang diajak juga sama terkagum-kagum sama seperti dia.

Lebih dari itu ia berharap agar orang lain juga mendukung terhadap langkah-langkah untuk menikmatinya terus-menerus. Hal ini biasa, seperti saya juga sering mengalami hal demikian, tetapi kita terus berupaya untuk terus belajar dari sejarah, pengalaman orang lain, serta belajar bagaimana caranya tidak jadi orang norak, kampungan alias deso.

Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda, tak terkecuali dekan atau bahkan Rektorpun ada yang naik sepeda datang ke kampus. Sementara si Pemilik perusahaan Honda tinggal di sebuah apartemen yang sederhana. Ketika beberapa pengusaha ingin memberi pinjaman kepada pemerintah Indonesia mereka menjemput pejabat Indonesia di Narita. Dari Tokyo naik kendaraan umum, sementara yang akan di jemput, pejabat Indonesia naik mobil dinas Kedutaan yaitu mercy.

Ketika saya di Australia berkesempatan melihat sebuah acara ceremoni dari jarak yang sangat dekat, dihadiri oleh pejabat setingkat menteri, saya tertarik mengamati pada mobil yang mereka pakai Merk Holden baru yang paling murah untuk ukuran Australia. Yang menarik, para pengawalnya tidak terlihat karena tidak berbeda penampilannya dengan tamu-tamu, kalau tidak jeli mengamati kita tidak tahu mana pengawalnya.

Di Sidney saya berkenalan dengan seorang pelayan restoran Thailand. Dia seorang warga negara Malaysia keturunan cina, sudah selesai S3, sekarang lagi mengikuti program Post Doc, Dia anak seorang pengusaha yang kaya raya. Tidak mau menggunakan fasilitas orang tuanya malah jadi pelayan. Dia juga sebenarnya dapat beasiswa dari perguruan tingginya.

Satu bulan saya di jepang tidak melihat orang pakai hp komunikator, mungkin kelemahan saya mengamati. Dan setelah saya baca koran ternyata konsumen terbesar hp komunikator adalah Indonesia. Sempat berkenalan juga dengan seorang yang berada di stasiun kereta di Jepang, ternyata dia anak seorang pejabat tinggi negara, juga naik kereta. Yang tak kalah serunya saya juga jadi pengamat berbagai jenis sepatu yang dipakai masyarakat Jepang ternyata tak bermerk, wah ini yang deso siapa yaa?

Sulit membedakan tingkat ekonomi seseorang baik di Jepang atau di Australia, baik dari penampilannya, bajunya, kendaraannya, atau rumahnya. Kita baru bisa menebak kekayaan seseorang kalau sudah tahu pekerjaan dan jabatannya di perusahaan. Jangan-jangan orang Jepang diajak ke Pondok Indah bisa pingsan melihat rumah segitu gede dan mewahnya. Rata-rata rumah disana memiliki tinggi plafon yang bisa dijambak dengan tangan hanya dengan melompat. Sehingga duduknyapun banyak yang lesehan.

Sampai akhir hayatnya Rasulullah tidak membuat istana negara dan Benteng Pertahanan (khandaq hanyalah strategi sesaat, untuk perang ahzab saja), padahal Rasulullah sudah sangat mengenal kemawahan istana raja-raja negara sekelilingnya, karena Beliau punya pengalaman berdagang. Ternyata Beliau tidak menjadi silau terus ikut-ikutan latah ingin seperti orang-orang. Lalu dimana aktivitas kenegaraan dilakukan? Mengingat beliau sebagai kepala negara. Jawabannya ya di masjid.

Beliau punya banyak jalan yang legal untuk bisa membangun istana. Di mekkah nikah dengan janda kaya, di madinah jadi kepala negara, punya hak prerogative dalam mengatur harta rampasan perang, dan ada jatah dari Allah untuk dipergunakan sekehendak beliau, belum hadiah dari raja-raja. Tetapi mengapa beliau sering kelaparan, ganjal perut dengan batu, puasa sunnah niatnya siang hari, shalat sambil duduk menahan perih perut dan seterusnya.

Ketika Indonesia sedang terpuruk, hutang lagi numpuk, rakyat banyak yang mulai ngamuk, negara sedang kere, banyak yang antri beras, minyak tanah, minyak goreng dll. Maka harga diri kita tidak bisa diangkat dengan medali emas turnamen olah raga, sewa pemain asing, banyak ceremonial yang gonta-ganti baju seragam, baju dinas, merek mobil, proyek mercusuar, dll, dsb, dst

Bangsa ini akan naik harga dirinya kalo utang sudah lunas, kelaparan tidak ada lagi, tidak ada pengamen dan pengemis, tidak ada lagi wts, angka kriminal rendah, korupsi berkurang, punya posisi tawar terhadap kekuatan global. Maka orang Deso (alias norak) tidak mampu mengatasi krisis karena tidak bisa menjadikan krisis sebagai paradigma dalam menyusun APBD dan APBN. Nah karena yang menyusun orang-orang norak maka asumsi dan paradigma yang dipakai adalah negara normal atau bahkan mengikut negara maju. Bayangkan ada daerah yang menganggarkan Sepak Bola 17 Milyar sementara anggaran kesranya 100 juta,wiiieh!

Akhirnya penyakit norak ini menjadi wabah yang sangat mengerikan dari atas sampai bawah:
-Orang bisa antri raskin sambil pegang hp
-Pelajar bisa nunggak SPP sambil merokok
-Orang tua lupa siapkan SPP, karena terpakai untk beli tv dan kulkas
-Orang kampung mabok patungan, orang bule mabuk kelebihan uang
-Lagi mabok muntah keluar kangkung, genjer toge
-Pengemis bisa pake walkman sambil goyang kepala
-Para pengungsi bisa berjoged dalam tendanya
-Orang mo beli Gelar akademis di ruko-ruko tanpa kuliah
-Ijzah S3 luar negeri bisa dibeli sebuah rumah petakan gang sempit di cibubur
-Kelihatannya orang sibuk ternyata masih intensive keluar masuk Mc Donald
-Kelihatannnya orang penting, ternyata sangat tahu detail dunia persepakbolaan. Jadi masih sempat ngurusin kulit bulat diisi angin
-Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu untuk mencetin hp
-62 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan kerupuk saja
-Agar rakyat tidak kelaparan maka para pejabatnya dansa dansi di acara tembang kenangan.
-Agar kampanye menang harus berani sewa bokong-bokong bahenol ngebor
-Agar masyarakat cerdas maka sajikan lagu goyang dombret dan wakuncar
-Agar bisa disebut terbuka maka harus bisa buka-bukaan
-Agar kelihatan inklusif maka harus bisa menggandeng siapa saja, kalo perlu jin tomang bisa digandeng

Yang lebih mengerikan adalah supaya kita tidak terlihat kere, maka harus bisa tampil keren. Makin kiamatlah kalo si kere tidak tahu dirinya kere. (*)

Tulisan ini dibuat oleh: Abdulllah Muadz

Iklan

7 Komentar »

  1. Orang Indonesia semakin pintar menyatukan yang hak dan yang batil….

    Komentar oleh agorsiloku — Februari 24, 2008 @ 6:30 am | Balas

  2. Jadi inget sama guyonan dosen gue dulu. “Tahu ngga mengapa Australia itu hebat? Lha yang jadi pelayannya aja udah S2 ato S3” .. .hihihihi.. =))

    oh iya koh.. kok captcha nya ribet ya? angkanya gak jelas.. jadi salah terus nih 😦

    Komentar oleh Iang — Februari 24, 2008 @ 2:27 pm | Balas

  3. Salut ama Tulisannya 😉 mantep mantep

    Komentar oleh Jauhari — Februari 25, 2008 @ 9:30 am | Balas

  4. Article Hebat…Bos saya orang Jepang, di Indonesia kerja naik high class mobil, di sono kerja cuma bawa sepeda buntut. Sadar sadar sadar…

    Komentar oleh Nano — Februari 25, 2008 @ 10:36 am | Balas

  5. Tulisannya bagus dan kritik membangun. Saya selalu berharap suatu saat pemerintah dari atas sampe bawah menjadi sadar dan tidak aji mumpung manfaatkan jabatannya. Berharap boleh ya?

    Saya beropini bahwa negara kita mungkin terlihat buruk (banyak negara lain under estimate) namun sebenarnya mulai bagus masyarakatnya. Terlihat buruk governmentnya, issue terorisnya, issue masyarakat noraknya dll. Namun juga sudah mulai banyak masyarakat yang pinter2, sadar, tak bisa lagi dibohongi, peduli, dan professional. Sayangnya belum didukung oleh kebijakan yang menghargai orang2 pintar.

    Saya salut dengan keberadaan sebuah Rumah Zakat, memiliki program rumah bersalin gratis dan mobil jenazah gratis. Dan saya yakin akan ada banyak program lainnya yang dapat membantu masyarakat miskin. Masyarakat yang kaya dan peduli lah yang memberikan dukungan pada rumah zakat.

    Tidak ada salahnya menjadi kaya, rasulullah pun menganjurkan agar umat muslim berusaha menjadi kaya. Tidak lain agar dapat saling membantu. Memberikan zakat pada tempat yang tepat dan penyaluran yang tepat dapat membantu masyarakat miskin. Mengurangi kemiskinan, karena miskin berarti dekat dengan kekufuran, dan identik dengan kebodohan.

    Makanya ayo menjadi pintar dan kaya, dan setelah kaya jangan Ndeso..

    Komentar oleh Dini — Februari 25, 2008 @ 12:13 pm | Balas

  6. Good Article. Itulah Indonesia….

    Komentar oleh Azhisz — Februari 27, 2008 @ 9:57 am | Balas

  7. Tulisannya bagus. Jadi nyadarin kita-kita yang “deso-deso” ini agar gak keterusan kena sindrom tsb. Ngomong2, boleh dong saya posting di milis yg saya ikutin, biar manfaatnya bisa menyebar luas (nama penulis dan pranala ke artikel ini akan dicantumkan). Syukran jazilan dan salam kenal, salam ukhuwah. Terus munculkan artikel sejenis ini, agar saya bisa belajar terus.

    Komentar oleh Mursalin — Maret 2, 2008 @ 3:17 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: