Blog Tausiyah275

Maret 5, 2008

Kita Semua Pelit dan Tidak Adil!!

Filed under: Hikmah,Seri Kesalahan2 — Tausiyah 275 @ 8:45 am

Kecaman di atas terlontar dari benakku usai menyaksikan beberapa kejadian belakangan ini yg kian ‘mengganggu’ku. Anda tidak perlu tersinggung dahulu sebelum membaca artikel ini hingga usai.

Aku tahu, banyak dari anda sudah bersedekah, sudah berinfaq, berbagi kebahagiaan dan rejeki dengan banyak orang yg tidak beruntung. Aku juga tahu, anda tidak segan untuk mengeluarkan uang dari dompet untuk memberikannya kepada pengemis, menekan tombol-tombol di atm untuk mentransfer saldo di rekening untuk membantu saudara2 kita yg mengalami musibah.

Insya ALLOH, anda, yg membaca artikel di blog ini, termasuk manusia2 yg dermawan, tidak pelit, dan adil

Hanya saja, yg aku maksud pelit dan tidak adil di sini adalah perilaku kita yg MENAWAR BARANG KEPADA PEDAGANG ASONGAN SEMENTARA SAAT MEMBELI DI SUPERMARKET TIDAK AMBIL PUSING MASALAH HARGA!

“Lho, kok dibilang pelit?”
“Iya, saya juga tidak terima dibilang pelit!!”
“Definisi pelit yg aneh…!”
“Ah, yg punya blog ini memang suka ngawur…masa seperti itu dibilang pelit?”

Mungkin itu sebagian komentar yg muncul. It’s ok. Aku katakan pelit dan tidak adil karena seringkali kita, terutama ibu2 (maaf ya bu), menawar harga barang yg dijual di pasar2 tradisional (ataupun oleh pedagang yg lewat) dengan sangat rendah. Sementara, jika kita ke supermarket, tanpa ba bi bu, kita masukkan barang2 belanjaan ke dalam keranjang.

“Lho, itu kan wajar? Supermarket sudah menetapkan harga!”
“Iya..betul…harga di supermarket kan sudah fix, mana bisa kita tawar lagi!”
“Ah, yg punya blog ini sedang ngelindur, masa kita nawar harga di supermarket!”

Memang, harga2 di supermarket itu sudah ditetapkan. Namun sebenarnya para pedagang di pasar ataupun pedagang keliling sebenarnya juga sudah menetapkan harga, namun dasar kita yg pelit dan tidak adil, kita malah menawar habis2an harga tersebut!

“Apakah perbuatan menawar itu salah?”
“Iya…harga pedagang di pasar itu lebih mahal daripada di supermarket! Makanya saya tawar”

Hmmm…aku tidak menyalahkan perilaku menawar. Sah-sah saja. Sudah menjadi hukum ekonomi, bahwa manusia ingin berkorban sesedikit mungkin untuk meraih laba (keuntungan) sebesar mungkin. Tapi, Islam adalah agama yg adil, maka hendaknya umat Islam pun mesti berlaku adil juga.

Kita lihat, seorang pedagang di pasar tradisional/pedagang keliling tidaklah punya modal yg cukup besar. Sehingga dia tidak bisa membeli barang dagangan dalam jumlah besar. Belum lagi biaya transport yg mesti dia keluarkan. Jadi, wajar dia menjual lagi barang dagangannya dengan harga yg lebih mahal dibandingkan dengan supermarket.

Anda bisa bayangkan, terutama ibu2 yg tinggal di komplek perumahan, betapa lelahnya para pedagang keliling menjajakan barang dagangannya. Menyusuri jalan dari satu komplek ke komplek lain, dari satu gang ke gang lain. Bukan keuntungan yg dia raih, malah aksi menawar harga barang yg mungkin membuatnya bisa jantungan, saking rendahnya tawaran harga yg diajukan ibu2 komplek.

“Lalu…saya mesti bagaimana?”

Solusinya mudah. Beli langsung barang yg dijual si pedagang, TANPA MENAWAR!

“Aduh, sulit dong…”

Jika memang sulit, SILAKAN MENAWAR HARGA DENGAN WAJAR! Biarkan para pedagang itu mendapat haknya, menikmati keuntungan sebagai hasil jerih payahnya. Terlebih lagi jika pedagang itu muslim juga, tidak ada ruginya kita membantu saudara kita (yg berdagang) untuk memperoleh keuntungan. Apabila suatu saat kita ketahui bahwa harga yg kita bayar ternyata lebih mahal, ikhlaskan saja. Anggap saja sebagai sedekah.

Inti dari artikel ini sebenarnya adalah sebaiknya kita banyak berbelanja di pasar tradisional, karena uang yg kita belanjakan BENAR2 DIBUTUHKAN oleh para pedaganga itu untuk menyambung hidupnya. ‘Berbeda’ dengan para pemilik supermarket, keuntungan mereka yg sudah sedemikian berlimpah, aku yakin keuntungan itu akan cukup untuk makan sekian belas tahun.

Mari kita berbelanja di pasar tradisional/pedagang keliling, TANPA MENAWAR ATAU TAWARLAH SEMINIMAL MUNGKIN, agar roda perekonomian bisa bergulir dg lebih baik!!

Iklan

3 Komentar »

  1. Itu tidak berlaku sama ibu saya, ibu saya kalau di supermarket harganya jauh lebih mahal dari pada pasar tradisional, beliau tidak mau beli. Kata beliau, masih murahan sama pasar tradisional. Terus juga, beliau tidak percaya sama pencahayaan di supermarket, suka menipu mata, kelihatannya bagus-bagus saja. Dan yang penting boleh nawar di pasar tradisional walaupun ga begitu ngotot. Hehehehe

    Kalau saya tidak bisa nawar, kalau harganya Rp. 10.000 ya … 10 ribu. Kalau pun nawar, ya … kalau pedagangnya sekali ga mau harga yang ditawarkan saya langsung OK aja, menurut saya penawaran basa-basi. Pertama, saya sudah suka barang itu, kedua, saya males nyari, ketiga, menghemat waktu, mulut, dan emosi. Mungkin bagi ibu-ibu saya bukan istri yang bisa menghemat. Seperti pendapat bapak, saya tahu bagaimana susahnya berdagang apalagi zaman sekarang, untung berdagang kecil sekali.

    Saya berharap, masyarakat Indonesia, dalam seumur hidupnya, satu kali aja berdagang, menjajakan barang dagangan, jadi bisa merasakan jadi pedagang. Jadi kalau nawar terlalu ngotot dan minta harga terlalu rendah, bisa mikir seribu kali yeeee …

    Komentar oleh auliahazza — Maret 6, 2008 @ 7:40 pm | Balas

  2. wah kalo ga ditawar bisa dosa juga, karena pedagangnya mengambil untung terlalu besar(riba) kerena tanpa ditawar keuntunganya bisa lebih dr 100 persen

    Komentar oleh kiki — Maret 19, 2008 @ 4:18 am | Balas

  3. @1
    lha kok sama kayak ibu saya (ato ibu2 kayak gini)
    ke supermarket/swalayan cuma buat survey barang dan harga. habis itu langsung cari ke pasar tradisional ato toko2 yang bisa ditawar :))

    Komentar oleh paydjo — April 1, 2008 @ 4:31 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: