Blog Tausiyah275

April 21, 2008

Kerancuan Kisah Menjelang Wafatnya Rasulullah SAW

Filed under: Hikmah,Seri Kesalahan2,Tidak Jelas Juntrungannya — Tausiyah 275 @ 4:35 pm

Bismillah,

Saya dapatkan dari inbox, semoga bermanfaat.

Dec 15, ’05 2:15 PM
for everyone

Assalamu’alaikum wr wb

Beberapa bulan yang lalu ketika saya sedang surfing di belantara internet, saya pernah menemukan satu artikel menarik disuatu website. Artikel itu ada yang berjudul “Detik Terakhir” atau ada judul versi lain yaitu “Detik-Detik Menjelang Wafatnya Rasulullah”, atau juga “Air Mata Rasulullah saw”. Mungkin beberapa dari kita ada yang familiar dengan kisah di dalam artikel tersebut. Silahkan search di Google dengan tiga keyword diatas, maka akan anda temukan kisah itu banyak di posting di berbagai macam website. Bahkan kisah itu sering bertebaran di bulletin board friendster, juga pernah saya lihat di multiply ini. Ya, kisah yang menggambarkan suasana wafatnya manusia mulia di hadapan Fatimah dan Ali itu berhasil membuat orang yang membacanya terharu biru dan rindu dengan sosok Rasulullah saw.

***Saya berhasil mendapatkan artikel yang dimaksud. Berikut adalah isi artikel tersebut***

AIR MATA RASULLULAH SAW

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?” “Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.

Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

“Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi. “Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah
berada di dalamnya,” kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.”

Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. “Badan Rasulullah mulai ding! in, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.

Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku – peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.” Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii?” – “Umatku, umatku, umatku”

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

Tapi ada yang janggal di kisah itu. Didalam artikel itu tidak dijelaskan siapa yang menceritakan kisah itu. Juga tidak jelas diambil dari riwayat-riwayat manakah kisah itu, padahal kisah itu menceritakan momentum wafatnya Nabi kita yang mulia yang sudah seharusnya kisah itu bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. Kalau dalam ilmu hadits, perkara seperti ini dinamakan laa asla lahu (tidak ada sandarannya) karena tidak adanya kejelasan siapa perawi yang meriwayatkan kisah itu dan dari kitab apa kisah itu diambil.

Jadi apakah suasana Rasulullah saw ketika beliau wafat sama seperti artikel tersebut. Saya coba untuk mencarinya didalam buku Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yang ditulis oleh KH Moenawar Chalil terbitan PT. Bulan Bintang Cetakan ke-7, tahun 1994. Buku ini berjumlah delapan jilid dan kisah tentang wafatnya Nabi Muhammad saw ada didalam buku ini di jilid ke tujuh halaman 193. Saya tidak menemukan kisah seperti artikel diatas dalam buku ini. Gema Insani Press juga telah menerbitkan kembali buku ini tahun 2001 dengan jumlah enam jilid.

Lalu siapakah yang ada disisi Rasulullah saw ketika beliau wafat, Fatimah dan Ali, ataukah Aisyah ?. Didalam buku rujukan saya tadi jillid ke tujuh hal. 193 dikisahkan ketika Nabi saw kesehatannya mulai terlihat membaik, para sahabat seperti Abu Bakar, Umar dan Ali meminta izin kepada Nabi saw untuk bisa pergi mengerjakan urusannya masing-masing karena hampir setengah bulan mereka selalu sibuk merawat Nabi saw sehingga banyak keperluan mereka sehari-hari yang terbengkalai. Maka Abu Bakar pergi ke rumah istrinya, Kharijah di Sunuh (nama suatu kampung di pinggir kota Madinah) dan dua sahabat lain, Umar dan Ali pun pergi meninggalkan rumah Rasulullah. Yang tinggal hanyalah Aisyah lalu kemudian datang Abdurahman bin Abi Bakar saudara laki-laki Aisyah. Dan ketika itulah Rasulullah saw wafat. Rasulullah saw wafat diwaktu matahari sedang terang-terangnya, pada hari Senin tanggal 13 Rabi’ul awwal tahun ke XI Hijriah, atau pada tanggal 8 Juni 632 Masehi [hal.196]. Para ulama ahli tarikh ada yang berselisih pendapat tentang tanggal wafatnya Nabi saw. Tapi bukan itu yang akan dibahas disini.

Mungkin hadits berikut akan lebih menjawab dipangkuan siapakah Nabi saw wafat. Dari hadits Abdullah bin Aun dari Ibrahim at-Taimi dari al-Aswad, dia berkata, Ditanyakan kepada Aisyah, mengenai perkataan orang-orang yang menerangkan bahwa Rasulullah saw telah memberikan wasiat kepada Ali maka ia berkata, “Apa yang diwasiatkan Rasulullah kepada Ali ?” Aisyah menjawab, “Beliau (Rasulullah) menyuruh agar bejana tempat buang air kecil dibawakan, kemudian ia bersandar dan akulah yang menjadi tempat sandarannya, tak lama kepala beliau terkulai jatuh dan ternyata beliau telah wafat tanpa aku ketahui. Jadi bagaimana mungkin orang-orang itu mengatakan bahwa Rasulullah saw memberikan wasiat kepada Ali ?” [Shahih al-Bukhari, kitab al-Wasaya 5/356 dari Fathul Baari, dan Muslim, kitab al-Wasiyah hadits no.1637]. Hadits tersebut ada didalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah yang ditulis oleh Ibnu Katsir, terbitan Darul Haq, Jakarta, Cetakan pertama tahun 2004 halaman 58.

Entah apa motivasi si pembuat artikel tanpa riwayat tersebut, yang jelas ada penyimpangan sejarah yang terjadi dan kalau dirunut dengan serius dan teliti tentang siapa yang berada di balik pembuatan kisah berbau propaganda tersebut, maka akan dengan mudah terjawab dan dengan mudah pula akan terlihat ada motivasi apa dibalik pembuatan kisah itu. Kelihatannya perkara ini hanyalah hal yang kecil bagi beberapa orang. Tapi dalam konteks ini kita sedang membicarakan sosok manusia mulia yang menjadi teladan bagi seluruh umat Islam di dunia, yang tentu dalam menceritakan setiap gerak-geriknya haruslah mempunyai dasar atau dalil yang shahih dan bisa dipertanggung jawabkan.

Dan yang lebih menyedihkan dibandingkan isi dari artikel itu sendiri adalah biasanya diakhir artikel yang laa asla lahu itu selalu dinstruksikan untuk disebar ke teman-teman yang lain. Harapan dengan disebarnya artikel itu mungkin ingin membuat temannya untuk ikut terharu dan lebih mencintai Rasulullah saw dan itu adalah niat yang sungguh baik. Sayangnya cara yang ditempuh kurang tepat. Padahal Al Quran telah jelas melarang hal tersebut, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.” [QS. 17:36].

Dan hendaknya kita juga selalu ingat hadits yang satu ini agar lebih berhati-hati dalam meriwayatkan kisah atau hadits yang berhubungan dengan Rasulullah saw. Hadits yang diriwayatkan dari Salamah bin Akwa, ia berkata. Aku telah mendengar Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa yang mengatakan atas (nama)ku apa-apa (perkataan) yang tidak pernah aku ucapkan, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka”. [HR Bukhari (1/35) dll, HR. Imam Ahmad (4/47)].

Wassalamu’alaikum wr wb

Iklan

23 Komentar »

  1. Setuju mas… artikel cerdas

    Komentar oleh Jauhari — April 22, 2008 @ 2:24 pm | Balas

  2. Saya yang baru belajar agama ini (alhamdulillah..) prihatin dengan kondisi beragama orang2 saat ini. Mudah sekali orang menilai2 agama dengan cara yang tidak bijaksana. Dan itu terasa didalam hati pendengar atau pembaca tulisan2. Padahal sering sekali kita mendengar kalimat “jika ada benarnya itu pasti datangnya dari Allah, dan jika ada kesalahan itu pasti karena kebodohan saya sendiri…”.
    Sekedar masukan, ada pernah ustadz yang menjelaskan tentang hadits dhoif, kata ustadz tersebut kepada saya, bisa jadi haditsnya benar tetapi si_perawi pernah dalam hidupnya, sekali saja kencing berdiri atau dia pernah melakukan sebuah kesalahan dimasa hidupnya sehingga orang menganggap hadits tersebut dhoif. Demikian pendapat saya yang bodoh ini. Mudah2an pendapat saya tidak mengganggu artikel diatas.

    Komentar oleh budi — April 23, 2008 @ 10:10 am | Balas

  3. assalamu’alaikum Wr Wb
    Terima kasih
    Tetapi karena kita sama-sama tidak mengetahui sebenarnya apa tidak sebaiknya qta ambil posotif dan manfaatnya, tidak perlu mempermasalahkan yang nantinya akan berdampak tidak baik.
    Wassalamu’alaikum Wr Wb

    Komentar oleh riris — Mei 15, 2008 @ 3:47 pm | Balas

  4. Assalamu’alaikum.
    Bagus, kritik yg benar seperti ini bukan untuk memperkeruh suasana tapi untuk mendidik dan membersihkan agama Islam agar kita selamat dan tdk tertipu dari segala muslihat syaithan. Afwan tdk setuju dg kalimat Riris: “kita sama-sama tidak mengetahui sebenarnya”, kita bisa mengetahui yg benar dan yg salah dg kaidah-kaidah yg telah disepakati umat ini. Jika ada yg tdk terjangkau kaidah, maka bukan tanggung jawab kita, karena “Hakim” tdk diminta untuk mengadili yg bathin (tdk nyata).
    Wassalamu’alaikum.

    Komentar oleh Irham — September 19, 2008 @ 11:26 am | Balas

  5. MasyaAlloh… artikel ini benar cerdas… alhamdulillah dengan adanya artikel –berkonteks dan berwawasan seperti– ini, syubhat-syubhat (keraguan) terhadap masalah apapun insyaAlloh akan terselesaikan. Wallohu’alam… Jazakumllah khoir

    Komentar oleh Radensun — Januari 30, 2009 @ 11:05 am | Balas

  6. Assalamu’alaikum WR.WB
    saya setuju..,artikel ini bagus sekali

    Komentar oleh reza — Januari 30, 2009 @ 6:13 pm | Balas

  7. Good job, Mas…!!! Terus jadi orang yang kritis yach…! Kita butuh generasi islam seperti anda. Briliant….

    Komentar oleh Lia Ratna — Maret 10, 2009 @ 4:08 pm | Balas

  8. salam..
    betul.. kita membutuhkan generasi islam seperti anda.
    saya juga bingung, beberapa penulis menceritakan bahwa Nabi SAW wafat ketika sedang berada dipangkuan Siti Aisyah ra, ada juga penulis yang menceritakan Nabi SAW wafat ketika berada dipangkuan sahabat Ali kw.ada riwayat;

    Pada suatu hari, Ka’ab Akhbar bertanya kepada Khalifah ‘Umar, “Apa yang dikatakan Nabi tepat menjelang wafatnya?” Khalifah ‘Umar menunjuk kepada ‘Ali, yang juga hadir dalam pertemuan itu, seraya berkata, “Tanyakan kepadanya.” ‘Ali berkata, “Sementara kepala Nabi bersandar ke bahu saya, beliau berkata,’Salat, salat!’” Ka’ab Akhbar lalu berkata, “Ini pula cara nabi-nabi sebelumnya.”
    ( Thabaqat al-Kubra, II h. 254)

    lalu dipangkuan siapa sebenarnya Nabi SAW wafat?
    wassalam

    Komentar oleh heri h — Maret 26, 2009 @ 2:22 am | Balas

  9. Numpang copy mas ya

    Komentar oleh alif — September 26, 2009 @ 9:10 pm | Balas

  10. Tadinya saya juga mau copas cerita itu. Tapi kok tidak ada sumber cerita dari mana oleh siapa gitu. Akhirnya ketemu artikel ini. Jika berkenan saya mau ijin copas ya. Maturnuwun

    Komentar oleh dimasje — Desember 21, 2009 @ 11:51 pm | Balas

  11. mas artikelnya bagus banget dan aku jadi sedih bgt.bang aku mw minta izin mangopi artikel ini ya??

    Komentar oleh ARRY ALIANSYAH — Maret 26, 2010 @ 8:46 pm | Balas

  12. Nampaknya artikel aslinya ada disini :

    http://indrayogi.multiply.com/journal/item/74

    terima kasih informasinya 🙂

    Komentar oleh Anonym — April 4, 2010 @ 10:44 pm | Balas

  13. Tentang meninggalnya Nabi Muhammad saw ada 2 versi. Yang versi Buchari dari A’isyah, nabi meninggal di rumah ‘Aisyah dalam pelukannya. Yang versi Imam Al-Hakim, dari Ummu Salamah, Nabi meninggal di rumah Fatimah ditunggui oleh Ali bin Abi thalib berikut haditsnya yang disahihkan oleh Adz-Dzahabi:

    أخبرنا أحمد بن جعفر القطيعي ثنا عبد الله بن أحمد بن حنبل حدثني أبي ثنا عبد الله بن محمد بن شيبة قال : ثنا جرير بن عبد الحميد عن مغيرة عن أبي موسى عن أم سلمة رضي الله عنها قالت : والذي أحلف به إن كان علي لأقرب الناس عهدا برسول الله صلى الله عليه و سلم غداة و هو يقول : جاء علي جاء علي مرارا فقالت فاطمة رضي الله عنها كأنك بعثته في حاجة قالت فجاء بعد قالت أم سلمة فظننت أن له إليه حاجة فخرجنا من البيت فقعدنا عند الباب و كنت من أدناهم إلى الباب فأكب عليه رسول الله صلى الله عليه و سلم و جعل يساره و يناجيه ثم قبض رسول الله صلى الله عليه و سلم من يومه ذلك فكان علي أقرب الناس عهدا

    هذا حديث صحيح الإسناد و لم يخرجاه
    تعليق الذهبي قي التلخيص : صحيح

    (المستدرك على الصحيحين للحاكم مع تعليقات الذهبي في التلخيص hadits no: 4671

    Komentar oleh rachmadi — Juni 29, 2010 @ 1:34 pm | Balas

  14. @rachmadi. Boleh tahu, di buku apa Imam Adz-Dzahabi telah menta’liq hadits ini?

    Komentar oleh Taufiq — Juli 27, 2010 @ 3:48 pm | Balas

  15. Maaf, maksdu saya: di buku apa, jilid berapa, no/halaman berapa?

    Komentar oleh Taufiq — Juli 27, 2010 @ 3:53 pm | Balas

  16. ass.wr.wb.
    maaf yaa, apakah saya boleh mngcopy datanya ?
    walaikum salam wr.wb.

    wa’alaykumsalam wr wb.silakan.semoga berguna

    Komentar oleh sumala dewa — Agustus 17, 2010 @ 7:43 am | Balas

  17. ass.wr.wb.
    terima kasih yaa atas (boleh mengcopy datanya)
    soalnya saya sedih dalam membacanya.
    walaikumsalam.wr.wb.

    Komentar oleh sumala dewa — Agustus 21, 2010 @ 9:50 pm | Balas

  18. ALLAH berfirman dalam Al-Qur’an surat AL-An’am ayat 159 :
    “Sesungguhnya org-org yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada ALLAH, kemudian ALLAH akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.”

    Komentar oleh muhammad rizka fajri — Desember 22, 2010 @ 3:54 am | Balas

  19. Kisah tentang kedatangan malaikat Jibril dan Izrail ini tidak bisa dipertanggungjawabkan. Apalagi tentang dialog antara Jibril, Izrail dan Nabi Muhammad saat sakaratul maut. Sebuah kebohongan besar! Tidak ada yang bisa mendengar dan berdialog dg Jibril kecuali Nabi SAW. Tidak mungkin ada yang bisa melihat Izrail melakukan tugas dalam mencabut nyawa. Apalagi pada saat wafatnya Nabi sendiri sedang payah karena sakitnya dan tidak mungkin bisa menceritakan hal tsb.
    Berhati-hatilah dalam menyebarluaskan cerita bohong semacam ini.
    Salam
    Satria

    Komentar oleh Satria Dharma — Januari 13, 2011 @ 6:57 am | Balas

  20. ass.wr.wb.
    “Lalu siapakah yang ada disisi Rasulullah saw ketika beliau wafat, Fatimah dan Ali, ataukah Aisyah ?. Didalam buku rujukan saya tadi jillid ke tujuh hal. 193 dikisahkan ketika Nabi saw kesehatannya mulai terlihat membaik, para sahabat seperti Abu Bakar, Umar dan Ali meminta izin kepada Nabi saw untuk bisa pergi mengerjakan urusannya masing-masing karena hampir setengah bulan mereka selalu sibuk merawat Nabi saw sehingga banyak keperluan mereka sehari-hari yang terbengkalai. Maka Abu Bakar pergi ke rumah istrinya, Kharijah di Sunuh (nama suatu kampung di pinggir kota Madinah) dan dua sahabat lain, Umar dan Ali pun pergi meninggalkan rumah Rasulullah. Yang tinggal hanyalah Aisyah lalu kemudian datang Abdurahman bin Abi Bakar saudara laki-laki Aisyah. Dan ketika itulah Rasulullah saw wafat. Rasulullah saw wafat diwaktu matahari sedang terang-terangnya, pada hari Senin tanggal 13 Rabi’ul awwal tahun ke XI Hijriah, atau pada tanggal 8 Juni 632 Masehi [hal.196]. Para ulama ahli tarikh ada yang berselisih pendapat tentang tanggal wafatnya Nabi saw. Tapi bukan itu yang akan dibahas disini.”

    “Mungkin hadits berikut akan lebih menjawab dipangkuan siapakah Nabi saw wafat. Dari hadits Abdullah bin Aun dari Ibrahim at-Taimi dari al-Aswad, dia berkata, Ditanyakan kepada Aisyah, mengenai perkataan orang-orang yang menerangkan bahwa Rasulullah saw telah memberikan wasiat kepada Ali maka ia berkata, “Apa yang diwasiatkan Rasulullah kepada Ali ?” Aisyah menjawab, “Beliau (Rasulullah) menyuruh agar bejana tempat buang air kecil dibawakan, kemudian ia bersandar dan akulah yang menjadi tempat sandarannya, tak lama kepala beliau terkulai jatuh dan ternyata beliau telah wafat tanpa aku ketahui. Jadi bagaimana mungkin orang-orang itu mengatakan bahwa Rasulullah saw memberikan wasiat kepada Ali ?” [Shahih al-Bukhari, kitab al-Wasaya 5/356 dari Fathul Baari, dan Muslim, kitab al-Wasiyah hadits no.1637]. Hadits tersebut ada didalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah yang ditulis oleh Ibnu Katsir, terbitan Darul Haq, Jakarta, Cetakan pertama tahun 2004 halaman 58.”

    Apakah Hadist yang nasabnya atau jelas sumbernya tergolong kuat?

    bagaimana kalau isinya melemahkan keimanan kita?

    apakah suatu hadist yang melemahkan ke imanan kita dapat di sebut kuat?

    mana yang benar?

    bagi saya, yang saudara katakan tidak jelas periwayatnya, namun menguatkan dan menambah keimanan saya, maka hadist itu kuat.

    “Dan orang-orang yang berusaha dengan maksud menentang ayat-ayat Kami dengan melemahkan (kemauan untuk beriman); mereka itu adalah penghuni-penghuni neraka. (QS: Al-Hajj ayat 51)”

    jangan lupa, ada hadist yang tidak tercatat dan hanya di wariskan secara turun temurun.

    seorang ahli tasawuf mengatakan hati yang senantiasa di isi dengan dzikrullah akan lebih sensitif terhadap hal yang melemahkan bahkan menghancurkan iman.

    Komentar oleh kang haris — Januari 19, 2011 @ 3:50 pm | Balas

  21. Dalam mengomentari sebuah artikel hendaklah kita memiliki dasar yang kuat, jangan hanya karena kurangnya referensi yg kita baca sehingga kita langsung menyatakan sebuah artikel itu lemah dan tidak bisa dipertanggung jawabkan. sebaiknya perbanyak referensi dan pilih dalil terkuat diantara dalil2 yg ada.

    Komentar oleh ismed — Agustus 1, 2011 @ 9:01 am | Balas

  22. Sungguh menarik, menurut saya..tidak ada yg namanya hadist akan melemahkan iman.
    Perlu diingat bahwa, Al-Qur’an dan hadits shahih tidak mungkin bertentangan selama-lamanya, sebab hadits atau sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah pentafsir atau sebagai penjelas dari al-Qur’an.

    Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    “Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi Al-Qur’an dan (sesuatu) yang serupa dengannya yakni As-Sunnah (hadits).”
    (HR. Abu Dawud no.4604 dan Ahmad dalam al-Musnad IV/130, dengan sanad yang shahih)

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata :
    Rasulullah shallalaahu ‘alaihi wa ssalam bersabda,
    “Aku tinggalkan ditengah-tengah kalian dua perkara. Selama kalian berpegang teguh dengan keduanya tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah (al-Qur’an) dan Sunnahku (hadits).” (HR. Malik, derajat hadits ini hasan)

    Dan bagi kita pembaca yg sebelumnya hanya menerima mentah2 cerita di atas yg telah beredar tanpa ada dasarnya (termasuk saya), harus juga menerima ketika hadist sahih tentang hal itu telah disebutkan.
    Seperti sabda Rasulullah SAW: “Katakanlah / sampaikanlah kebenaran walaupun itu pahit.” (HR. Bukhari)

    Jadi akan sangat baik sekali jika yang menulis cerita di atas (yg tanpa dasar), menyertakan dalilnya..seperti yg disarankan rekan2 semua diatas,
    Wallahu alam..

    Komentar oleh Fauzan — Oktober 22, 2011 @ 1:28 am | Balas

  23. maaf saya ga suka ketika dikatakan Rasulullah ‘mengaduh’ (sambat) ktka dicabit izrail.. mustahil itu pelecehan.

    Komentar oleh Abdullah Bani Adam — Maret 21, 2017 @ 5:23 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: