Blog Tausiyah275

Juni 12, 2008

FPI-ku Sayang, FPI-ku Malang

Filed under: HOT NEWS,Seri Kesalahan2 — Tausiyah 275 @ 1:57 pm

Bismillah,

Beberapa hari terakhir ini, banyak sekali berita yg terkait dengan FPI yg beredar di media, baik di media online maupun di media cetak atau media2 lainnya. Hal ini terkait dengan aksi kerusuhan yg terjadi di Monas, 1 Juni 2008 lalu, yg melibatkan FPI dengan AKKBB.

Pada aksi tersebut, dari beberapa media yg menurut saya cukup netral, terjadi provokasi dari AKKBB, yg semestinya mereka hanya berdemo di sekitar Bunderan HI. Entah bagaimana caranya, mereka menuju sekitaran Monas, yg saat itu massa FPI sedang berdemo terkait dengan kenaikan harga BBM. Pihak AKKBB lantas menggelar aksi demo ‘tandingan’, dg membawa-bawa isu Ahmadiyah serta mengejek FPI dengan ucapan2 yg tidak layak. Buntutnya, terjadi bentrokan fisik antara FPI (yg merasa diprovokasi) dengan AKKBB.

Akibat ghazwul fikri yg cukup berhasil, terpedayalah mayoritas masyarakat Indonesia! Media-media yg sudah disetir dg kepentingan2 yg bertujuan mengadu domba dan merusak serta menghancurkan Islam, dengan ‘senang hati’ memberitakan hal2 yg tidak berimbang dan justru memutar balikkan fakta!

Dampaknya, timbul gelombang aksi di berbagai daerah, berisi tuntutan pembubaran FPI! Bahkan di beberapa tempat, FPI ‘terpaksa’ membubarkan diri, demi menghindari bentrok dengan masyarakat sekitar. Selain itu, dilakukan penangkapan terhadap anggota2 FPI, termasuk ketua FPI. Sementara itu, anehnya, tidak ada berita sama sekali mengenai penangkapan terhadap anggota AKKBB. Bahkan mereka ‘hanya’ diperiksa sekian waktu dan lalu dilepas lagi.

Bagaimana kita mesti menyikapi hal ini?

Saya sendiri menyayangkan aksi2 yg dilakukan FPI. Seringkali aksi2 yg mereka lakukan terkesan serabutan, brutal, tidak tahu etika, kasar, dan kata2 lain yg tidak enak didengar dan dibaca. Komentar ini tidak hanya dilontarkan oleh orang2 non muslim, tapi bahkan juga dari kalangan muslim.

Pernyataan di atas merupakan hal yg ‘wajar’ jika melihat aksi mereka. Membongkar dan merusak warung (yg dianggap maksiat), lalu melakukan penyerbuan terhadap kantong2/daerah2 yg dirasa tingkat kemaksiatannya tinggi merupakan beberapa aksi mereka. Aksi lain yg tingkat ketidaksetujuanku cukup tinggi adalah merazia orang yg tidak berpuasa!! Ya ALLOH, Rasululloh SAW saja tidak pernah merazia orang yg tidak berpuasa, terlebih lagi menutup warung orang2 yg berjualan di bulan puasa, lantas kenapa FPI melakukan hal itu?

Sebagai sebuah ormas Islam, saya yakin FPI mempunyai tujuan yg baik, yakni amar ma’ruf nahyi munkar, memberantas maksiat/keburukan dan mengajak kebaikan. Sayangnya, aksi yg mereka lakukan, terutama dalam memberantas keburukan/maksiat, menurutku terlalu berlebihan. Padahal, aksi2 FPI lainnya banyak yg bermanfaat, terutama ketika mereka membantu saudara2 kita di Aceh pada saat bencana tsunami, kemudian ikut terjun di Maluku (dengan Laskar Jihad, jika tidak salah) ketika pihak keamanan cenderung diam terhadap aksi brutal yg menimpa saudara muslim, dan masih banyak hal2 baik yg dilakukan FPI.

Pointnya, FPI sebenarnya tidak perlu melakukan tindakan/aksi kekerasan dalam sikap dan gerak mereka. Membantu saudara2 kita yg lain, dengan lebih fokus dan mengena, sebenarnya jauh lebih cocok, terlebih lagi FPI sudah memiliki banyak cabang. Koordinasi akan terlaksana lebih baik.

Namun, saya juga menyadari bahwa FPI berusaha menjadi muslim yg sebenar-benarnya. Tentu saja mereka tidak akan tinggal diam jika ada kejahatan/kemaksiatan terjadi di lingkungannya. Persangkaan baikku, FPI sudah melayangkan teguran kepada para pelaku maksiat itu, namun karena ‘tidak dianggap’, anggota2 FPI menjadi naik pitam dan kalap (serta cenderung berlebihan) ketika ‘membersihkan’ para pelaku maksiat itu.

Demikian pula halnya dengan kasus Ahmadiyah. FPI merupakan salah satu elemen Islam yg tidak setuju dengan keberadaan Ahmadiyah. Pemerintah sendiri sudah berulangkali menyatakan akan mengeluarkan SKB untuk ‘melarang’ kegiatan Ahmadiyah, namun hingga timbul bentrokan di Monas, yg terjadi adalah pemerintah mengulur-ulur terus. Akibatnya jelas, gesekan horizontal, terutama sesama elemen Islam, kian membuat gerah suasana. Terlebih dengan ucapan2 ngawur dari Abdurrahman Wahid tentang Ahmadiyah, yg jelas2 membela Ahmadiyah, membuat suasana kian panas. Walhasil, ketika ada sedikit saja trigger, ‘pecahlah’ kemarahan itu, yg terjadi di Monas.

Malangnya, FPI kini dianggap sebagai hal yg najis dan haram. Bahkan elemen2 Islam lain memperlakukan FPI tidak seperti saudara seiman. Saya sempat membaca, di Jawa Tengah dan Jawa Timur, beberapa elemen dari beberapa ormas Islam juga (baca: pasukan para militer) menuntut dan menyatakan akan membubarkan FPI! Lebih gilanya lagi, mereka melakukan sweeping terhadap anggota2 FPI!! Padahal, seperti diketahui, ketua FPI sudah menyatakan agar anggota FPI tidak melakukan perlawanan. Bahkan ketua FPI sendiri dengan sukarela ikut ke kantor polisi, meski saya yakin mereka semua merasa marah dengan perlakuan yg mereka terima.

Adalah suatu yg mengherankan, ketika sekelompok muslim yg berusaha menegakkan kebenaran berdasarkan syariah/hukum agama Islam (meski barangkali caranya dianggap keliru), mereka justru diburu-buru dan dikejar-kejar oleh kelompok muslim lain yg, menurut saya, tindakannya justru TIDAK ADA DASARNYA DALAM AL QUR’AN!! Mereka justru berhasil diprovokasi oleh pemimpin2 ormas mereka, yg sudah ndak jelas alur pikirannya. *geleng2*

Keheranan di atas akan berubah menjadi hal yg ‘wajar’ jika kita melihat pihak2 yg ada di belakang layar. Ditengarai dan diduga kuat, pihak-pihak yg tidak ingin Islam maju, memang bermain di dalam peristiwa2 tersebut. Dengan mengadu domba sesama muslim, mereka akan diuntungkan karena dengan demikian energi dan waktu kaum muslim akan terkuras habis, sehingga Islam tidak bisa berkembang dan sesama pemeluknya tidak bisa hidup dengan aman.

Saya yakin, aksi2 (anarkis) FPI, terutama terkait dengan kafe2 yg menjadi ajang maksiat, membongkar warung remang2, demo terkait dengan Ahmadiyah, dll, semua itu bisa dihindari dengan sikap pemerintah yg tegas serta tindakan nyata dari pihak keamanan. Sayangnya, pemerintah dan aparat keamanan kita cenderung adem ayem terhadap aspirasi dan kegelisahan yg melanda kaum muslim. Sebaliknya, jika non-muslim yg terkena aksi, wuiiihhh…cepat sekali aksinya, berupa penangkapan terhadap orang2 yg dianggap teroris.

Sebagai sebuah ormas Islam, menurut saya, hendaknya FPI memperlihatkan sikap yg lebih Islami dalam memberantas kemaksiatan. Sebagai warga negara, yg memiliki pemerintah dan pihak keamanan (meski kinerjanya, seperti saya tulis di atas, dirasa masih kurang memadai), tidak perlu sampai turun tangan dan melakukan aksi2 brutal.

Hadits Rasululloh SAW,“Barangsiapa melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan hatinya” jangan diartikan, dipahami, dan dilaksanakan dengan sempit.

Mengubah dengan tangan bukanlah melakukan aksi sweeping, pengeroyokan, ataupun tindakan pengrusakan. Berdasarkan ilmu yg saya miliki, hasil pembicaraan ataupun hasil belajar dengan orang2 yg lebih berilmu, mengubah dengan tangan ini dimaksudkan dan ditujukan kepada PENGUASA/PEMIMPIN, yg memiliki kuasa (power). Dengan kuasa dan wewenang yg mereka miliki, para pemimpin (termasuk pihak keamanan di dalamnya) bisa (bahkan wajib) bertindak dalam rangka menenangkan masyarakat serta menjaga kestabilan kondisi.

Bagi saya, tugas masyarakat umumnya adalah di bagian kedua, yakni berusaha mengubah dengan lisan. Banyak cara untuk melakukan hal ini, karena pengertian lisan di sini jangan dibuat sempit.
– Bagi para ulama, mereka senantiasa mendesak pemerintah untuk berbuat adil, serta menyerukan kepada masyarakat agar tetap menjaga ketertiban.

– Bagi wartawan atau bahkan blogger, mereka bisa menuliskan tentang ketidakadilan yg terjadi. Bisa juga mendesak pihak2 terkait, tentu saja dengan tulisan2.

– Bagi kaum muslim lainnya, mereka bisa melaporkan hal2 yg tidak sesuai dg agama (baca: kejahatan dan kemaksiatan) kepada kaum ulama. Nantinya kaum ulama akan melakukan poin di atas.

Tentu saja, bagi ulama dan wartawan (blogger), mereka hendaknya memberikan juga solusi atas masalah2 yg terjadi, selain menunjukkan bahwa kita tidak sekedar bisa mengkritik namun juga kita bisa memberikan solusi bagi kritik2 yg kita lontarkan. Ini menunjukkan bahwa kaum muslim tidak hanya ngomong tapi juga ikut berpikir.

Oleh karenanya, sikap ketua PPP yg mengajak ketua FPI untuk melakukan ‘transformasi’ dan revolusi terhadap cara berdakwah, merupakan tindakan yg begitu cerdas dan jitu. FPI yg merupakan aset umat Islam jangan sampai mubazir dan terbuang percuma.

Semoga FPI bisa menjadi lebih baik dalam bersikap dan bisa memperlihatkan Islam yg sesungguhnya. Dengan memperlihatkan sikap Islam yg rahmatan lil ‘aalamiin, lemah lembut kepada sesama muslim dan tegas terhadap orang2 yg mengganggu Islam, insya ALLOH akan menimbulkan simpati dan dukungan terhadap mereka.

Iklan

11 Komentar »

  1. Kita perlu bersikap keras terhadap kemaksiatan..tapi tidak harus selalu dengan kekerasan….

    Komentar oleh ilham — Juni 23, 2008 @ 12:20 am | Balas

  2. apa para pendukung fpi tidak sadar, fpi itu bentukan nugroho jayusman, wiranto dan habib-habib arab yang dapat dibeli. Awalnya mereka pamswakarsa pendukung suharto. Yang berteriak itu cuma elit, yang merusak cuma pengangguran. Nuduh pihak lain dibiayai asing, emangnya seragam, nasi bungkus, truk dan bus yang membawa laskar preman itu dari mana? mereka juga dibiayai asing. Kalau habib ya paling al qaeda atau taliban.

    Komentar oleh huda — Juni 25, 2008 @ 4:05 pm | Balas

  3. …….Subhanallah..mahabesar ya Allah….Maha Benar Kitabmu ya Allah……Apakah ini pertanda bahwa kiamat itu semakin mendekat….perpecahan dlm islam sudah mulai terlihat……sedikit demi sedikit Ilmu telah kau angkat….
    Bentrokan….Perang …Pembunuhan …Semakin sering Terlihat…Ya allah ampunilah Dosa hamba Dan saudara seiman hamba….Wahai muslimin Bersatulah…..Khoirunnas ‘Anfa ‘Uhum Linnas

    Komentar oleh Banyoe — Juni 26, 2008 @ 8:50 am | Balas

  4. makanya supaya akidah muslim tidak kacau balau,maka sepatutnya
    lah kita sebagai umat muslim untuk mencari tahu akidah muslim yang sebenarnya dengan mencari ilmu. untuk FPI teruskan perjuangan mu,saran saya gunakanlah cara yang halus semaksimal mungkin sebelum cara yang kasar.

    Komentar oleh yosef nugraha — Juli 12, 2008 @ 11:06 am | Balas

  5. “Saya cuna mengingatkan untuk saudara2ku yang berjajak pendapat di sini,bertabayun itu lebih baik dari pada mencari2 yang belum pasti kebenaranya,hati2 dalam mencari impormasi,sebaiknya
    kita gali dari sumbernya,dan sudah sepatutnya kita bangga terhadap saudara2 kita yang sudah berjuang,dan kita seharus
    seharunya malu,apa yang sudah kita lakukan untuk islam..??? “

    Komentar oleh iwan kohar — Juli 20, 2008 @ 9:45 am | Balas

  6. saudara-saudaraku,aku heran… ketika permasalahan kemaksiatan dihadapkan ke pemerintah, pemerintah malah adem dengan segala diplomasinya, ketika bertindak sendiri,dianggap brutal????

    Komentar oleh mujahid — Agustus 21, 2008 @ 12:39 pm | Balas

  7. bukankah sekalipun tuhan di hina,bahkan sekalipun tak ada lagi yang percaya dan menyembahnya, keagungannya tak kan pernah pudar?kenapa harus khawatir?

    Komentar oleh berryandi — Agustus 22, 2008 @ 7:34 pm | Balas

  8. Saya berterima kasih kepada FPI karena dengan aksi yang mereka lakukan justru menjadikan Ahmadiyah terkenal. Orang jadi tahu Ahmadiyah di Indonesia. Trim FPI.

    Komentar oleh tjahjowidodo — Agustus 26, 2008 @ 9:48 am | Balas

  9. kalau terjadi seperti itu kayaknya umat islam jangan lagi ada yang sok bener, sok jago, sok pintar. karena malahan mencoreng nama islam,,jadi ini sudah merupakan tanda2 kiamat karena sudah banyak terlihat setan berjenggot, berbahasa arab dan berjubah putih. bubar saja semua ormas islam yang merasa dirinya bener.ndak ada yang simpatik dengan semua aksimu !!!!kamu semau adalah wujud dari setan yang berjubah. jadi jangan berdakwah mengunakan jubahmu melainkan prilaku dan sikapmu. dan kalau masih tetep mau melakukan itu harus keluar terlebih dulu dari islam.

    Komentar oleh jack — September 1, 2008 @ 12:21 pm | Balas

  10. saya sarankan, fpi bubar ja!!! tapi jk utk mengurangi pengangguran…… ya tdk pa2lah. bs dpt mkn gratis dll.

    Komentar oleh notingfpi — September 6, 2008 @ 4:41 pm | Balas

  11. […] Sayangnya, hal terakhir ini yg jarang kita jumpai di Indonesia. Sebagai kaum mayoritas, seringkali kita merasa ‘diperbolehkan’ untuk menindak dan berlaku sewenang-wenang kepada umat lain. Bahkan kita bisa jumpai aksi-aksi organisasi masyarakat ‘Islam’ yg justru aksinya mencoreng Islam. […]

    Ping balik oleh Pluralitas VS Pluralisme « Blog Tausyiah275 — Juli 19, 2012 @ 8:55 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: