Blog Tausiyah275

Agustus 12, 2008

Ketika Tawakal Salah Dipahami

Filed under: Ensiklopedia Islam,Hikmah,HOT NEWS,Seri Kesalahan2 — Tausiyah 275 @ 6:05 pm

Bismillah,

Tawakal adalah sebuah kata yg cukup akrab di telinga kita, terutama karena tawakal ini cukup sering dilontarkan para khatib Jum’at dalah khutbah2 mereka. Bahkan, tawakal sudah menjadi kosa kata dalam percakapan sehari-hari.

“Sudah bu, tawakal saja…”
“Yg tawakal ya pak?”
*dan masih banyak percakapan sejenis lainnya*

Sebenarnya, apakah tawakal itu? Jangan-jangan pemahaman tawakal kita selama ini salah karena kita cenderung mencari mudahnya saja? Atau malahan kita sama sekali tidak mengerti apa itu tawakal?

Tawakal, berdasar penuturan Rasululloh SAW, adalah BERSERAH DIRI KEPADA ALLOH SWT SETELAH SEBELUMNYA BERIKHTIAR DAN BERUSAHA SEMAKSIMAL MUNGKIN.

Sebuah kisah yg menunjukkan arti tawakal, saya cukil dari sebuah hadits riwayat Ibnu Hibban. Seorang sahabat hendak beribadah, namun tidak mengikat untanya. Ketika Rasululloh SAW menegurnya, sang sahabat menjawab bahwa dia bertawakal kepada ALLOH SWT. Lantaran jawaban itu, Rasululloh SAW menjawab,”IKATLAH unta itu, baru bertawakal kepada ALLOH SWT.”

Tawakal semodel ini berarti tawakal yg mempunyai hubungan sebab akibat.

Sementara itu, ada juga tawakal ‘jenis’ lain, yakni kebalikan tawakal di atas, tawakal tanpa sebab akibat. Contoh dari tawakal ini adalah kematian atau musibah.

Untuk tawakal jenis kedua, tentu saja kita tidak bisa menghindar atau menyalahkan orang lain (apalagi kepada ALLOH SWT) atas kejadian yg kita alami. Terlebih misalnya, rumah kita kebakaran akibat kecerobohan tetangga kita. Di saat seperti inilah, tawakal mesti dilakukan.

Ucapkan “Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun.” disertai dengan penghayatan yg sungguh2 sehingga keikhlasan akan menyelimuti batin kita.

Celakanya, masyarakat kita cenderung salah memahami tawakal. Tawakal yg seharusnya terkait sebab akibat dianggap sebagai tanpa sebab akibat. Akibatnya jelas, masyarakat kita mempunyai mental yg parah.

Contoh dari salah memahami tawakal:
“Ah, saya sudah miskin…tawakal saja saya sih.”

“Besok saja hendak ujian nih.”
“Sudah belajar?”
“Tidak…saya kan tawakal kepada ALLOH SWT.”

“Pak, kita punya hutang. Kapan kita mau bayar?”
“Sebentar…saya hendak berdoa kepada ALLOH SWT dulu. Minta petunjuk.”
*usai berdoa*
“Bagaimana pak, kapan kita lunasi hutang?”
“Saya bertawakal saja kepada ALLOH SWT.”
“Lho, jadi ga kerja cari uang?”
“Lha, saya kan sudah bertawakal?”

Demikianlah secuplik dialog yg terjadi di masyarakat kita. Anda mungkin tahu dialog2 di atas, baik yg mirip ataupun bahkan sama persis. Atau barangkali anda sendiri termasuk di antaranya?

Saudara-saudaraku, kesalahan memahami tawakal seperti yg terjadi di atas itu, yg membuat kita tidak pernah bisa maju. Padahal masyarakat muslim merupakan mayoritas di negeri ini, padahal Islam mengajarkan kemajuan (progresivitas), namun itu semua tidak nampak dan seakan tidak pernah ada.

Lantas, apa yg mesti kita lakukan?

Pertama, apabila ada suatu persoalan, kita cermati dahulu. Apakah persoalan ini termasuk yg ada sebab akibat, ataukah memang yg benar2 tidak ada kaitan sebab akibat?

Kedua, jika memang termasuk persoalan tanpa sebab akibat, maka sudah selayaknya kita benar2 berserah kepada ALLOH SWT. Sebaliknya, jika persoalannya adalah persoalan ‘duniawi’, maka KITA WAJIB BERIKHTIAR.

Ketiga, selama kita berikhtiar, iringi ikhtiar kita dengan doa. Panjatkan doa-doa yg menunjang. Misalnya kita berikhtiar mencari rejeki, maka iringi dengan doa minta rejeki yg halal dan banyak. Jika ikhtiar mendapatkan keturunan, maka perbanyak doa Nabi Zakaria as dan Nabi Ibrahim as, selain berusaha dengan melakukan hubungan suami istri dengan sehat.

Keempat, yg terakhir, setelah poin 1-3 sudah kita kerjakan, nah…barulah kita bertawakal. Serahkan semuanya pada ALLOH SWT. Karena DIA-lah yg berhak menentukan apakah semua ikhtiar dan doa kita akan dikabulkan. Jika belum dikabul, jangan menyerah untuk berdoa, karena doa merupakan salah satu senjata kaum Muslim.

Semoga artikel ini berguna.

Iklan

7 Komentar »

  1. […] Dalam kajian tasawuf, syukur merupakan salah 1 kunci sukses hidup di dunia dan akhirat. Malah ada yg menyebutkan kedudukannya jg lbh tinggi dari sabar dan tawakal. […]

    Ping balik oleh Khutbah Jum’at – 20130111 « Kumpulan Khutbah Jum’at — Februari 5, 2013 @ 7:44 pm | Balas

  2. […] juga pernah menulis bahwa ada salah kaprah mengenai tawakal. Hal yg serupa juga berlaku untuk ibadah. Ngaji belasan ayat, sholat puluhan raka’at BELUM […]

    Ping balik oleh Salah Kaprah Tentang Ibadah | Blog Tausiyah275 — April 6, 2013 @ 5:35 pm | Balas

  3. […] seringkali kaum muslim menjadikan agama sebagai ‘pelarian’. Ikhtiar belum maksimal, lantas berserah diri (tawakal) kepada ALLOH SWT. Dan jika tidak ada perubahan dalam hidupnya, lantas ALLOH SWT disalahkan dan menjadi kambing hitam […]

    Ping balik oleh Sholat Tidak Membuat Anda Kaya! | Blog Tausiyah275 — Juni 27, 2013 @ 9:52 am | Balas

  4. […] Tujuan2 di atas (bahagia di dunia dan akhirat) hanya bisa diraih dengan ikhtiar, usaha, ditambah dengan doa. Ikhtiar yang maksimal dan diiringi dengan doa yang banyak selanjutnya berserah diri kepada ALLOH SWT. Inilah yang disebut dengan tawakal. Jangan sampai salah kaprah dengan tawakal. […]

    Ping balik oleh Khutbah Jum’at – 20130503 | Kumpulan Khutbah Jum'at — Juli 8, 2013 @ 10:47 am | Balas

  5. […] mereka menganggap kemiskinan adalah sesuatu yg mesti diterima dan disikapi dengan tawakal (yang salah)! Akibatnya, mereka cenderung adem ayem dan berdiam diri, atau malah hanya memperbanyak ibadah saja […]

    Ping balik oleh Umat Islam HARUS KAYA, Tapi… | Blog Tausiyah275 — Agustus 11, 2013 @ 9:47 am | Balas

  6. […] akhirnya mas Bowo mendapat lagi pelajaran hidup mengenai sabar, sedekah, dan tawakal. Sabar untuk menjalani hidup dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Bersedekah sebagai tindakan […]

    Ping balik oleh Pelajaran Hidup Mengenai Sabar, Sedekah, Dan Tawakal | Blog Tausiyah275 — April 2, 2014 @ 7:36 am | Balas

  7. […] kita selalu bersabar dan tawakal (yang benar) dengan segala musibah/peristiwa duka yg kita alami. Cobalah untuk berpikir positif, mengikuti […]

    Ping balik oleh Selalu Ada Hal Positif Di Balik Musibah | Blog Tausiyah275 — Mei 18, 2014 @ 6:15 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: