Blog Tausiyah275

Januari 16, 2010

Kisah Pencuci Piring

Filed under: Dari Inboxku,Hikmah — Tausiyah 275 @ 5:44 pm

Bismillah,

Saya lupa darimana artikel ini saya dapatkan. Yang jelas bukan tulisan saya. Semoga berguna.

Siapa yang paling berbahagia saat pesta pernikahan berlangsung? Bisa jadi kedua mempelai yang menunggu detik-detik memadu kasih. Meski lelah menderanya namun tetap mampu tersenyum hingga tamu terakhir pun. Berbulan bahkan hitungan tahun sudah mereka menunggu hari bahagia ini. Mungkin orang tua si gadis yang baru saja menuntaskan kewajiban terakhirnya dengan mendapatkan lelaki yang akan menggantikan perannya membimbing putrinya untuk langkah selanjutnya setelah hari pernikahan. Atau bahkan ibu pengantin pria yang terlihat terus menerus sumringah, ia membayangkan akan segera menimang cucu dari putranya. “Aih, pasti segagah kakeknya,” impinya.

Para tamu yang hadir dalam pesta tersebut tak luput terjangkiti aura kebahagiaan, itu nampak dari senyum, canda, dan keceriaan yang tak hentinya sepanjang mereka berada di pesta. Bagi sanak saudara dan kerabat orang tua kedua mempelai, bisa jadi momentum ini dijadikan ajang silaturahim, kalau perlu rapat keluarga besar pun bisa berlangsung di sela-sela pesta. Sementara teman dan sahabat kedua mempelai menyulap pesta pernikahan itu menjadi reuni yang tak direncanakan. Mungkin kalau sengaja diundang untuk acara reuni tidak ada yang hadir, jadilah reuni satu angkatan berlangsung. Dan satu lagi, bagi mereka yang jarang-jarang menikmati makanan bergizi plus, inilah saatnya perbaikan gizi walau bermodal uang sekadarnya di amplop yang tertutup rapat.

Nyaris tidak ada hadirin yang terlihat sedih atau menangis di pesta itu kecuali air mata kebahagiaan. Kalau pun ada, mungkin mereka yang sakit hati pria pujaannya tidak menikah dengannya. Atau para pria yang sakit hati lantaran primadona kampungnya dipersunting pria dari luar kampung. Namun tetap saja tak terlihat di pesta itu, mungkin mereka meratap di balik dinding kamarnya sambil memeluk erat gambar pria yang baru saja menikah itu. Dan pria-pria sakit hati itu hanya bisa menggerutu dan menyimpan kecewanya dalam hati ketika harus menyalami dan memberi selamat kepada wanita yang harus mereka relakan menjadi milik pria lain.

Apa benar-benar tidak ada yang bersedih di pesta itu? Semula saya mengira yang paling bersedih hanya tukang pembawa piring kotor yang pernah saya ketahui hanya mendapat upah sepuluh ribu rupiah plus sepiring makan gratis untuk ratusan piring yang ia angkat. Sepuluh ribu rupiah yang diterima setelah semua tamu pulang itu, sungguh tak cukup mengeringkan peluhnya. Sedih, pasti.

Tak lama kemudian saya benar-benar mendapati orang yang lebih bersedih di pesta itu. Mereka memang tak terlihat ada di pesta, juga tak mengenakan pakaian bagus lengkap dengan dandanan yang tak biasa dari keseharian di hari istimewa itu. Mereka hanya ada di bagian belakang dari gedung tempat pesta berlangsung, atau bagian tersembunyi dengan terpal yang menghalangi aktivitas mereka di rumah si empunya pesta. Mereka lah para pencuci piring bekas makan para tamu terhormat di ruang pesta.

Bukan, mereka bukan sedih lantaran mendapat bayaran yang tak jauh berbeda dengan pembawa piring kotor. Mereka juga tidak sedih hanya karena harus belakangan mendapat jatah makan, itu sudah mereka sadari sejak awal mengambil peran sebagai pencuci piring. Juga bukan karena tak sempat memberikan doa selamat dan keberkahan untuk pasangan pengantin yang berbahagia, meski apa yang mereka kerjakan mungkin lebih bernilai dari doa-doa para tamu yang hadir.

Air mata mereka keluar setiap kali memandangi nasi yang harus terbuang teramat banyak, juga potongan daging atau makanan lain yang tak habis disantap para tamu. Tak tertahankan sedih mereka saat membayangkan tumpukan makanan sisa itu dan memasukkannya dalam karung untuk kemudian singgah di tempat sampah, sementara anak-anak mereka di rumah sering harus menahan lapar hingga terlelap.

Andai para tamu itu tak mengambil makanan di luar batas kemampuannya menyantap, andai mereka yang berpakaian bagus di pesta itu tak taati nafsunya untuk mengambil semua yang tersedia padahal tak semua bisa masuk dalam perut mereka, mungkin akan ada sisa makanan untuk anak-anak di panti anak yatim tak jauh dari tempat pesta itu. Andai pula mereka mengerti buruknya berbuat mubazir, mungkin ratusan anak yatim dan kaum fakir bisa terundang untuk ikut menikmati hidangan dalam pesta itu.

August 20, 2006 @ 14:50

Iklan

12 Komentar »

  1. sungguh pemikiran yang tanggap sekali akan jiwa kesosialannya!
    moga2 bisa sampai di telinga orang2 yg tak sadarkan dirinya akan kemubazirannya?

    Komentar oleh ovunk — Januari 22, 2010 @ 4:44 pm | Balas

  2. Hm, like this….

    Komentar oleh tierainrie — Februari 1, 2010 @ 2:05 pm | Balas

  3. D negri maju sprti jerman,saya malah tertenguh mlihat org jerman mnyantap mkanan ga prnh bersisa,mrka mngambil mkana sbyk mrka prlu,mrka mkn hingga piring mrka bersih,bahkan hngga mnjilat tngan mrka.

    Komentar oleh rere — Februari 3, 2010 @ 3:51 am | Balas

  4. innal mubadziriina kaanuu ikhwaanasysyayathiin

    Komentar oleh ordinarypoeple — Februari 5, 2010 @ 3:43 pm | Balas

  5. Terima kasih. semoga kita lebih peduli dengan sesama. hakikat ibadah adalah pngabdian….

    Komentar oleh alifachrudin — Februari 13, 2010 @ 11:29 pm | Balas

  6. andaikan semua orang kaya di negeri ini punya kepekaan sosial seperti yang dimiliki oleh tukang cuci piring itu, pasti negara ini akan menjadi negara yang makmur, sesuai dengan hadits nabi yang menyatakan bahwa negeri ini akan makmur apabila salah satunya dermawannya para aghniya’.

    Komentar oleh nurul huda — Februari 20, 2010 @ 7:40 am | Balas

  7. kita semua berharap agar setiap orang sadar akan hukum mubadzir, tapi kita juga harus berusaha agar segala sesuatu yang ada di sekililing kita tidak menjadi hal yang mubadzir. Mungkin jika para pencuci piring berpikir lagi untuk tidak membuang makanan tersebut ke tempat sampah melainkan mengawetkan makanan sisa tadi dengan cara mengeringkannya (dijadikan karak -nasi kering bhs jawa-) atau diberikan pada hewan ternak, nasi sisa yang semula mubadzir bisa lebih berguna.

    semoga kita semua tidak banyak berharap pada kebaikan seseorang melainkan kita harus selalu berusaha untuk menjadi baik dan berguna bagi orang lain.

    Komentar oleh cavendis — Februari 23, 2010 @ 1:33 pm | Balas

  8. Memang kita prihatin dengan kenyataan itu. Padahal mereka adalah orang-orang islam juga

    Komentar oleh mariya — Februari 25, 2010 @ 8:02 pm | Balas

  9. kirimkan info terbaru

    Komentar oleh anharil — Maret 20, 2010 @ 10:06 pm | Balas

  10. Salam kenal kisah yang memberikan pelajaran berharga bagi kita semua

    Komentar oleh Mawardi — April 2, 2010 @ 10:15 am | Balas

  11. cerita yg sangat bagus,..ijin share

    Komentar oleh WATI — April 4, 2010 @ 2:57 pm | Balas

  12. aku jadi ingat waktu kecil, kalo makan masih tersisa dipiring beberapa butir nasi, Ortu selalu ngingatkan, “kasihan nasinya nangis tuh ga kemakan….”

    Komentar oleh arif — Agustus 26, 2010 @ 10:02 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: