Blog Tausiyah275

Oktober 23, 2011

Apakah Mesti Istilah Arab?

Filed under: Hikmah,Seri Kesalahan2 — Tausiyah 275 @ 6:23 am

Bismillah,

Siang ini saya dibuat tersenyum dengan ‘debat kusir’ masalah istilah di ranah twitter. Awal mulanya adalah ungkapan (teguran?) seseorang (katakan A) kepada si B terkait dengan tweet si B yg isinya lebih kurang “RIP Marco Simoncelli” sebagai ungkapan bela sungkawa terhadap pebalap motor Marco Simoncelli yg meninggal dunia usai mengalami tabrakan pada saat Moto GP di Sepang, Malaysia, hari Minggu sore.

Si A menyatakan bahwa ungkapan RIP itu tidak pantas diberikan kepada Marco, karena menurut si A, Marco yg notabene beragama Kristen tidak akan bisa beristirahat dengan tenang karena dia akan disiksa oleh malaikat kubur. Si A juga menyatakan bahwa tulisan RIP itu sering muncul di nisan kubur orang2 Kristen sehingga RIP tidak cocok dengan Islam.

Well, seperti saya pernah tulis di sini, mengenai campur aduk dan salah kaprah mengenai arab dan Islam, ternyata kian terbukti dengan pernyataan si A.

RIP atau rest in peace, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah semoga istirahat dengan tenang/damai, adalah SALAH SATU BENTUK PERNYATAAN DUKA CITA. Apakah dalam duka cita kita mesti harus membedakan agama atau istilah atau bahkan bahasa?

Lalu, kenapa RIP banyak di nisan kubur orang Kristen di Barat ya wajar, lah wong RIP itu kata/bahasa yg bersifat umum. Dan orang Barat banyak yg menggunakan bahasa Inggris, jadi ya (sekali lagi) wajar jika ditulis RIP.

Rest in peace, menurut saya, hanya sebagai ungkapan bahwa orang yg sudah mati tidak akan diributkan lagi dg urusan2 dunia yg selama ini membuatnya lelah. Seperti sakit, kemiskinan, kondisi ekonomi yg kacau balau, politik yg berantakan, dan hal2 lain. Terkadang (atau malah sering) kita istirahat (entah itu tidur siang atau tidur malam) juga tidak bisa tenang karena otak kita tetap sibuk bekerja dan berpikir. Maka, tidaklah salah jika kematian disebut sebagai istirahat yg damai dan tenang.

Masalah dia bukan Islam, sehingga akan disiksa oleh malaikat, ya buat apa kita memusingkan hal itu dan mengaitkannya dg bahasa? Benar2 tidak ada kerjaan!🙂

Menurut saya, banyak muslim di Indonesia yg seringkali lebih ‘memihak’/memilih hal2 yg berbau Arab daripada berpikir lebih global atau menyeluruh. Efeknya, orang lebih senang untuk bergamis, ataupun jilbab menutup seluruh tubuh. Padahal, bagi saya pribadi, gamis dan jilbab seluruh tubuh lebih ke arah BUDAYA. Insya ALLOH di lain waktu, saya akan usahakan bahas mengenai hal ini.

Bukankah ALLOH SWT menyatakan Islam turun SEBAGAI RAHMATAN LIL ‘ALAMIN atau rahmat untuk ALAM SEMESTA, bukan hanya untuk orang Arab?

Memang, ada hadits yg menyatakan bahwa bahasa Arab adalah bahasa pengantar para penghuni surga. Tapi apa kita mesti telan mentah2 hadits itu?

Menurut saya, meributkan RIP adalah hal yg tidak penting. Sama tidak pentingnya dengan permasalahan sholat dan sembahyang. Bagi beberapa orang Islam, mereka melarang penggunaan kata sembahyang karena bagi mereka kata sembahyang berasal dari kata sembah hyang, yg notabene berasal dari Hindu. Jika mereka memang meributkan kata sembahyang, setahu saya tidak banyak kaum muslim dari negara2 Barat yg meributkan kata PRAY dengan sholat.

Bagi mereka, tidak ada kata sembahyang dalam Al Qur’an dan Hadits. Jelas ini pernyataan yg menggelikan. Karena, seperti saya katakan tadi, kata sembahyang adalah TERJEMAHAN atau dengan kata lain BAHASA LOKAL (INDONESIA) untuk kata ganti sholat (bahasa Arab). Memang, kata sembahyang digunakan lebih luas, tidak hanya untuk kaum muslim, namun juga digunakan untuk kegiatan beribadah kaum beragama di Indonesia.

Apa karena tidak ada di Al Qur’an dan Hadits lantas mesti dilakukan Arabisasi? Padahal setahu saya, selama TIDAK BERTENTANGAN DENGAN AKIDAH ATAUPUN BID’AH, maka ISLAM TIDAK MELARANG.

Hal lain yg sering menjadi bahan ‘keributan’ adalah puasa dan shiyam. Dan masih banyak hal2 yg menjadi bahan diskusi tidak kunjung usai, yg cenderung ke debat kusir yg tidak bermanfaat. Ujung2nya, kaum muslim habis waktu dan tenaganya untuk hal2 yg (sekali lagi, menurut saya) tidak bermanfaat dan tidak penting.

Artikel yg ada hubungannya dengan ini, bisa dibaca di Innalillah VS RIP.

Semoga bermanfaat.

1 Komentar »

  1. […] pernah menulis artikel yg serupa, ttg tulisan RIP di sini. Karenanya saya sebenarnya ‘malas’ utk mengulang cerita saya, karena ujung2nya akan […]

    Ping balik oleh Innalillah VS RIP « Blog Tausiyah275 — Januari 6, 2013 @ 6:21 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: