Blog Tausiyah275

November 6, 2011

Hukum Menyembelih Hewan Tidak Sadar

Filed under: Fiqh,HOT NEWS,Qurban,Seri Kesalahan2 — Tausiyah 275 @ 6:20 am

Bismillah,

Idul Adha (Idul Qurban) tahun ini saya menemukan fenomena yg menarik, yakni adanya pernyataan bahwa menyembelih hewan seperti yg selama ini dilakukan oleh Islam dan Yahudi, yakni menyembelih hewan yg sadar, adalah perbuatan yg menyakitkan.

Bahkan di Belanda sendiri, hal ini masuk ke ranah perdebatan yg serius hingga perlu dibuatkan undang-undang. Hal ini dikarenakan adanya desakan kepada parlemen Belanda, dari para penyayang binatang, yg menganggap cara2 penyembelihan yg dilakukan Islam dan Yahudi cenderung menyiksa binatang.

Di Islam sendiri sudah ada aturan2 yg cukup tegas mengenai proses penyembelihan hewan, entah itu hewan untuk konsumsi sehari-hari ataupun hewan qurban. Aturan-aturan disusun berdasar contoh Rasululloh SAW dan kesepakatan para ulama.

Aturan-aturan tersebut antara lain:
1. Membaca basmalah.
2. Menghadapkan hewan ke arah kiblat
3. Hewan ditidurkan
4. Gunakan senjata yg tajam. “Sesungguhnya ALLOH SWT menetapkan ihsan (kebaikan) pada segala sesuatu. Maka jika kalian membunuh hendaklah kalian berbuat ihsan dalam membunuh, dan apabila kalian menyembelih, maka hendaklah berbuat ihsan dalam menyembelih. (Yaitu) hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya agar meringankan binatang yang disembelihnya.” (H.R. Muslim)
5. Diarahkan ke titik-titik vital hewan, yakni urat tenggorokan, urat pencernaan, dan dua urat nadi (istilah kedokterannya: arteri karotis danvena jugularis). Hal ini disampaikan madzab Hanafi dan Maliki.

Yang menjadi persoalan adalah definisi penyiksaan atau perasaan tersiksa yang dialami atau diderita oleh si hewan. Karenanya banyak dilakukan pembiusan terhadap binatang2 yg hendak disembelih, terutam dilakukan di negara2 Barat.

Metoda pembiusannya ada beberapa macam:
1. Palu, dipukulkan ke hewan hingga tidak sadarkan diri.
2. Senapan, ditembakkan ke tengkorak hewan sehingga hewan pingsan.
3. Pistol, serupa dengan poin 2, ditembakkan ke kepala hewan untuk merusak jaringan otaknya (yg berakibat hewannya pingsan)
4. Disetrum dengan listrik.

Saya melihat poin 1-3 merupakan cara pembiusan yg cukup ekstrim resikonya dan bisa mengarah ke keharaman hewan ternak tersebut dikonsumsi. Yang saya maksud, jika poin 1-3 dilakukan dan ternyata hewannya MATI SEBELUM DISEMBELIH, maka status hewan tersebut adalah BANGKAI dan TIDAK BOLEH DIKONSUMSI!

Metode setrum sendiri bisa dikatakan resiko terendah, karena memang hanya membuat hewan tersebut tidak sadar. Namun, tidak tertutup kemungkinan kondisi hewan yg kurang siap mengakibatkan kematian bagi hewan tersebut. Ujung2nya si hewan adalah bangkai dan tidak boleh dikonsumsi.

Saat saya mencari referensi di internet, saya temukan hasil penelitian yg menarik. Yakni mengenai perbandingan penyembelihan menurut syariah Islam (dan Yahudi) dengan metode barat.

Saya copy paste saja ke sini untuk memudahkan pembaca dari sumber aslinya di sini.

Di bawah ini adalah tulisan yang disadur dan diringkas oleh Usman Effendi AS.,dari makalah tulisan Nanung Danar Dono, S.Pt., M.P., Sekretaris Eksekutif LP.POM-MUI Propinsi DIY dan Dosen Fakultas Peternakan UGM Yogyakarta:

Melalui penelitian ilmiah yang dilakukan oleh dua staf ahli peternakan dari Hannover University, sebuah universitas terkemuka di Jerman. Yaitu: Prof.Dr. Schultz dan koleganya, Dr. Hazim. Keduanya memimpin satu tim penelitian terstruktur untuk menjawab pertanyaan: manakah yang lebih baik dan paling tidak sakit, penyembelihan secara Syari’at Islam yang murni (tanpa proses pemingsanan) ataukah penyembelihan dengan cara Barat (dengan pemingsanan)?

Keduanya merancang penelitian sangat canggih, mempergunakan sekelompok sapi yang telah cukup umur (dewasa). Pada permukaan otak kecil sapi-sapi itu dipasang elektroda (microchip) yang disebut Electro-Encephalograph (EEG). Microchip EEG dipasang di permukaan otak yang menyentuh titik (panel) rasa sakit di permukaan otak, untuk merekam dan mencatat derajat rasa sakit sapi ketika disembelih. Di jantung sapi-sapi itu juga dipasang Electro Cardiograph (ECG) untuk merekam aktivitas jantung saat darah keluar karena disembelih.

Untuk menekan kesalahan, sapi dibiarkan beradaptasi dengan EEG maupun ECG yang telah terpasang di tubuhnya selama beberapa minggu. Setelah masa adaptasi dianggap cukup, maka separuh sapi disembelih sesuai dengan Syariat Islam yang murni, dan separuh sisanya disembelih dengan menggunakan metode pemingsanan yang diadopsi Barat.

Dalam Syariat Islam, penyembelihan dilakukan dengan menggunakan pisau yang tajam, dengan memotong tiga saluran pada leher bagian depan, yakni: saluran makanan, saluran nafas serta dua saluran pembuluh darah, yaitu: arteri karotis dan vena jugularis.

Patut pula diketahui, syariat Islam tidak merekomendasikan metoda atau teknik pemingsanan. Sebaliknya, Metode Barat justru mengajarkan atau bahkan mengharuskan agar ternak dipingsankan terlebih dahulu sebelum disembelih.

Selama penelitian, EEG dan ECG pada seluruh ternak sapi itu dicatat untuk merekam dan mengetahui keadaan otak dan jantung sejak sebelum pemingsanan (atau penyembelihan) hingga ternak itu benar-benar mati. Nah, hasil penelitian inilah yang sangat ditunggu-tunggu!

Dari hasil penelitian yang dilakukan dan dilaporkan oleh Prof. Schultz dan Dr. Hazim di Hannover University Jerman itu dapat diperoleh beberapa hal sbb.:

Penyembelihan Menurut Syariat Islam

Hasil penelitian dengan menerapkan praktek penyembelihan menurut Syariat Islam menunjukkan:

Pertama

pada 3 detik pertama setelah ternak disembelih (dan ketiga saluran pada leher sapi bagian depan terputus), tercatat tidak ada perubahan pada grafik EEG. Hal ini berarti bahwa pada 3 detik pertama setelah disembelih itu, tidak ada indikasi rasa sakit.

Kedua

pada 3 detik berikutnya, EEG pada otak kecil merekam adanya penurunan grafik secara bertahap yang sangat mirip dengan kejadian deep sleep (tidur nyenyak) hingga sapi-sapi itu benar-benar kehilangan kesadaran. Pada saat tersebut, tercatat pula oleh ECG bahwa jantung mulai meningkat aktivitasnya.

Ketiga

setelah 6 detik pertama itu, ECG pada jantung merekam adanya aktivitas luar biasa dari jantung untuk menarik sebanyak mungkin darah dari seluruh anggota tubuh dan memompanya keluar. Hal ini merupakan refleksi gerakan koordinasi antara jantung dan sumsum tulang belakang (spinal cord). Pada saat darah keluar melalui ketiga saluran yang terputus di bagian leher tersebut, grafik EEG tidak naik, tapi justru drop (turun) sampai ke zero level (angka nol). Hal ini diterjemahkan oleh kedua peneliti ahli itu bahwa: “No feeling of pain at all!” (tidak ada rasa sakit sama sekali!).

Keempat

karena darah tertarik dan terpompa oleh jantung keluar tubuh secara maksimal, maka dihasilkan healthy meat (daging yang sehat) yang layak dikonsumsi bagi manusia. Jenis daging dari hasil sembelihan semacam ini sangat sesuai dengan prinsip Good Manufacturing Practise (GMP) yang menghasilkan Healthy Food.

Penyembelihan Cara Barat

Pertama

segera setelah dilakukan proses stunning (pemingsanan), sapi terhuyung jatuh dan collaps (roboh). Setelah itu, sapi tidak bergerak-gerak lagi, sehingga mudah dikendalikan. Oleh karena itu, sapi dapat pula dengan mudah disembelih tanpa meronta-ronta, dan (tampaknya) tanpa (mengalami) rasa sakit. Pada saat disembelih, darah yang keluar hanya sedikit, tidak sebanyak bila disembelih tanpa proses stunning (pemingsanan).

Kedua

segera setelah proses pemingsanan, tercatat adanya kenaikan yang sangat nyata pada grafik EEG. Hal itu mengindikasikan adanya tekanan rasa sakit yang diderita oleh ternak (karena kepalanya dipukul, sampai jatuh pingsan).

Ketiga

grafik EEG meningkat sangat tajam dengan kombinasi grafik ECG yang drop ke batas paling bawah. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan rasa sakit yang luar biasa, sehingga jantung berhenti berdetak lebih awal. Akibatnya, jantung kehilangan kemampuannya untuk menarik dari dari seluruh organ tubuh, serta tidak lagi mampu memompanya keluar dari tubuh.

Keempat

karena darah tidak tertarik dan tidak terpompa keluar tubuh secara maksimal, maka darah itu pun membeku di dalam urat-urat darah dan daging, sehingga dihasilkan unhealthy meat (daging yang tidak sehat), yang dengan demikian menjadi tidak layak untuk dikonsumsi oleh manusia. Disebutkan dalam khazanah ilmu dan teknologi daging, bahwa timbunan darah beku (yang tidak keluar saat ternak mati/disembelih) merupakan tempat atau media yang sangat baik bagi tumbuh-kembangnya bakteri pembusuk, yang merupakan agen utama merusak kualitas daging.

Bukan Ekspresi Rasa Sakit! (t275: ini yg patut disorot)

Meronta-ronta dan meregangkan otot pada saat ternak disembelih ternyata bukanlah ekspresi rasa sakit! Sangat jauh berbeda dengan dugaan kita sebelumnya! Bahkan mungkin sudah lazim menjadi keyakinan kita bersama, bahwa setiap darah yang keluar dari anggota tubuh yang terluka, pastilah disertai rasa sakit dan nyeri. Terlebih lagi yang terluka adalah leher dengan luka terbuka yang menganga lebar…!

Hasil penelitian Prof. Schultz dan Dr. Hazim justru membuktikan yang sebaliknya. Yakni bahwa pisau tajam yang mengiris leher (sebagai syariat Islam dalam penyembelihan ternak) ternyata tidaklah ‘menyentuh’ saraf rasa sakit. Oleh karenanya kedua peneliti ahli itu menyimpulkan bahwa sapi meronta-ronta dan meregangkan otot bukanlah sebagai ekspresi rasa sakit, melainkan sebagai ekspresi ‘keterkejutan otot dan saraf’ saja (yaitu pada saat darah mengalir keluar dengan deras). Mengapa demikian? Hal ini tentu tidak terlalu sulit untuk dijelaskan, karena grafik EEG tidak membuktikan juga tidak menunjukkan adanya rasa sakit itu.

Informasi mengenai Wilhelm Schulze bisa dibaca di sini. Sementara hasil penelitiannya semestinya bisa dibaca di sini, namun saat saya kunjungi ternyata filenya tidak ditemukan.

Memang baru informasi ini yg saya dapat mengenai perbandingan cara penyembelihan. Bisa dikatakan masih dibutuhkan referensi2 tambahan untuk mendukung pernyataan bahwa metode penyembelihan secara Islam dan Yahudi sudah merupakan yg terbaik. Namun setidaknya sudah ada penelitian ILMIAH yg mencoba membedah secara terperinci mengenai cara penyembelihan ini.

Jika hendak didebat, ya silakan mengajukan bukti2 yg mendukung/menyanggah penelitian tersebut. 🙂

Jadi, menurut saya, TIDAK PERLU metode pemingsanan hewan, KECUALI DENGAN SETRUM (jika masih ngotot ingin metode pemingsanan), dengan pertimbangan yg saya tulis di atas yakni resikonya masih lebih kecil, dalam artian tidak akan sampai membunuh si hewan sebelum disembelih yg mengakibatkan statusnya menjadi bangkai yg jelas2 haram dimakan!

Tambahan: ayat terkait dengan artikel ini adalah “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Maidah(5):3)

Semoga bermanfaat.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: