Blog Tausiyah275

November 30, 2011

Lebih Butuh Mana, Label Halal Atau Label Haram?

Bismillah,

Belakangan ini, kian marak masalah labelisasi (pemberian label) halal pada makanan dan/atau minuman. Tidak hanya pada makanan dan/atau minuman yg sudah jadi, tapi juga daging sembelihan termasuk pada hal yg sedang ramai dibicarakan. *beberapa orang menyebutnya sertifikasi halal. namun, menurut saya, sama2 saja, hanya beda istilah saja.*

Banyak orang yg mendukung dan mempromosikan produk2 berlabel halal, terutama di Indonesia. Bahkan jika kita melihat ke situs MUI, kita akan bisa mendapati daftar makanan&minuman yg sudah dilabeli halal yg beredar di Indonesia. Di sisi lain, kita juga bisa mendapati barang2 yg berlabel haram di supermarket ataupun toko2 makanan/minuman lainnya.

Untuk lebih memudahkan, saya cantumkan beberapa situs yang mencantumkan produk2 halal.
LPPOM MUI
Media Isnet
Halal Guide
Mungkin beberapa informasi yg tertera di situs2 di atas sudah tidak cukup valid. Barangkali adminnya sudah jarang mengupdate lagi isinya, hehehe.

Saya sendiri berpendapat, sebenarnya yg lebih diperlukan adalah sertifikasi haram! Lho, apa sebabnya? Barangkali anda berpikir seperti itu. Atau barangkali anda merasa aneh dg pendapat saya ini.

Baiklah, saya coba jelaskan.

Saya punya alasan mengapa saya mengeluarkan pendapat seperti ini. Alasan yg saya kemukakan malah berasal dari pendapat yg sangat kuat, bahkan tidak bisa dibantah, yakni Al Qur’an!

Saya yakin sebagian dari anda masih bingung dg alasan saya.

Baiklah. Mari kita perhatikan pada pendapat yg tertulis di Al Qur’an, pada surat-surat berikut:
– Al Baqarah(2):173,Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

– Al Baqarah(2):275,Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”

– Ali ‘Imran(3):93,Semua makanan adalah halal bagi Bani Israel melainkan makanan yang diharamkan oleh Israel (Yakub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah: “(Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia jika kamu orang-orang yang benar”.”

– Al Maidah(5):3,Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

– Al Maidah(5):87,“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

– Al Maidah(5):90-91,“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. – Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).”

– Al Maidah(5):96,Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. Dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya lah kamu akan dikumpulkan.”

– Al An’aam(6):119,Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.”

– Al An’aam(6):138,“Dan mereka mengatakan: “Inilah binatang ternak dan tanaman yang dilarang; tidak boleh memakannya, kecuali orang yang kami kehendaki” menurut anggapan mereka, dan ada binatang ternak yang diharamkan menungganginya dan binatang ternak yang mereka tidak menyebut nama Allah di waktu menyembelihnya, semata-mata membuat-buat kedustaan terhadap Allah. Kelak Allah akan membalas mereka terhadap apa yang selalu mereka ada-adakan.”

– Al An’aam(6):145,“Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barang siapa yang dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

– Al An’aam(6):146,Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan segala binatang yang berkuku; dan dari sapi dan domba, Kami haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu, selain lemak yang melekat di punggung keduanya atau yang di perut besar dan usus atau yang bercampur dengan tulang. Demikianlah Kami hukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka; dan sesungguhnya Kami adalah Maha Benar.”

– An Nahl(16):115-116,Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi barang siapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. – Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.”

– Al Hajj(22):30,“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.”

Jika anda perhatikan kata-kata yg saya tebalkan. SIMPLE DAN MUDAH sekali bukan ALLOH SWT mengatur dan menentukan makanan yg baik (halal) bagi manusia. Secara implisit, ALLOH SWT jelaskan bahwa SEMUA MAKANAN PADA DASARNYA HALAL, kecuali yg disebut pada ayat di atas. Bahkan, ALLOH SWT sendiri menyatakan TIDAK MENYUKAI ORANG2 YG MELAMPAUI BATAS, yg menurut pendapat pribadi saya adalah orang2 yg main cap halal haram dg kriteria yg melebihi ketentuan yg ditetapkan ALLOH SWT pada ayat2 di atas.

Di samping ayat2 Al Qur’an di atas, terutama Al Maidah(5):90 perlu diperhatikan adalah kandungan ALKOHOL (khamr) yg juga telah disampaikan Rasululloh SAW sebagai hal yg haram dalam hadits2 berikut:
Diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a, bahwasanya Rasululloh SAW bersabda,”Barangsiapa minum khamr semasa di dunia dan belum sempat bertaubat maka diharamkan untuknya minum di akhirat kelak,” (HR Bukhari [5575] dan Muslim [2003]).

Dalam riwayat lain tercantum,”Setiap yang memabukkan itu khamr dan setiap yang memabukkan itu haram. Barangsiapa minum khamr di dunia kemudian meninggal sementara ia pecandu khamr serta tidak bertaubat maka ia tidak akan meminumnya nanti di akhirat,” (HR Muslim [2003]).

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah r.a, bahwasanya seorang lelaki datang dari Jaisyan (negeri Yaman) lalu ia bertanya kepada Rasululloh SAW tentang hukum minuman dari jagung yang sering mereka minum di negeri mereka. Minuman tersebut bernama mirz. Lalu Rasululloh SAW bertanya, “Apakah minuman itu memabukkan?” Lelaki itu menjawab, “Benar.” Lalu Rasululloh SAW bersabda, “Setiap yang memabukkan itu haram hukumnya dan sesungguhnya ALLOH SWT telah berjanji bahwa orang yang minum minuman memabukkan akan diberi minuman thinah al-khahal.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasululloh, apa yang dimaksud dengan thinah al-khahal?” Beliau menjawab, “Keringat penghuni neraka atau air kotoran penghuni neraka,” (HR Muslim [2002]).

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a, ia berkata, “Rasululloh SAW bersabda, ‘Barangsiapa minum khamr, maka Allah tidak akan menerima shalatnya selama empat puluh hari. Namun jika ia bertaubat maka Allah akan menerima taubatnya. Apabila mengulanginya kembali maka Allah tidak akan menerima shalatnya selama empat puluh hari. Jika ia kembali bertaubat maka Allah akan menerima taubatnya. Apabila mengulanginya kembali maka Allah tidak akan menerima shalatnya selama empat puluh hari. Jika ia kembali bertaubat maka Allah akan menerima taubatnya. Apabila untuk yang keempat kalinya ia ulangi lagi maka Allah tidak akan menerima shalatnya selama empat puluh hari dan jika ia bertaubat Allah tidak akan menerima lagi taubatnya dan akan memberinya minuman dari sungai al-khahal’.” Ditanyakan, “Wahai Abu Abdurrahman apa yang dimaksud dengan sungai al-khahal?” Ia menjawab, “Sungai yang berasal dari nanah penghuni neraka,” (Shahih, HR at-Tirmidzi [1862]).

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a, ia berkata, aku pernah mendengar Rasululloh SAW bersabda, “Jibril mendatangiku dan berkata, ‘Ya Muhammad, sesungguhnya ALLOH SWT melaknat khamr, orang yang memerasnya, yang meminta peras, peminumnya, pembawanya, orang yang menerimanya, penjualnya, pembelinya, yang memberi minum dan yang diberi minum’,” (Shahih lighairihi, HR Ahmad [I/316] dan Ibnu Hibban [5356]).

Masih diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a, ia berkata, Rasululloh SAW bersabda, “Apabila pecandu khamr meninggal maka akan menemui Allah seperti penyembelih berhala,” (Shahih, lihat kitab ash-Shahihah [677]).

Masih diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a, ia berkata, Rasululloh SAW bersabda, “Khamr itu adalah induk dari segala kekejian dan dosa besar yang terbesar. Barangsiapa yang meminumnya berarti ia telah berbuat zina terhadap ibu dan bibinya,” (Hasan, lihat dalam kitab ash-Shahihah [1853]).

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr r.a, ia berkata, Rasululloh SAW bersabda, “Khamr itu induk segala kotoran, barangsiapa yang meminumnya Allah tidak akan menerima shalatnya selama empat puluh hari dan apabila ia meninggal sementara di dalam perutnya terdapat khamr berarti ia mati jahiliyyah,” (Hasan, lihat dalam kitab ash-Shahihah [1854]).

Diriwayatkan dari Abu Darda’ r.a, ia berkata, “Kekasihku telah berwasiat kepadaku, ‘Jangan kamu minum khamr sebab khamr adalah kunci dari segala keburukan,” (Shahih, HR Ibnu Majah [3371]).

Saya coba tuliskan dg lebih sederhana, apa2 saja yg diharamkan ALLOH SWT dan Rasul-Nya:
– bangkai,
– darah (yang mengalir),
– daging babi,
– binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah,
– makan (mengambil) riba (maksudnya: makanan yg dia makan dari hasil riba),
– yang tercekik,
– yang dipukul,
– yang jatuh,
– yang ditanduk dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya,
– (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala (maksudnya: sesajen),
– (meminum) khamar

Mudah bukan?

Bagi para fanboy sertifikat halal, mereka akan berpendapat bahwa dengan berkembangnya teknologi, maka otomatis kian beragam makanan, dan itu berarti lebih kompleks dan lebih membutuhkan label/sertifikat halal.

Pendapat itu saya bantah dengan alasan, bahwa keberagaman makanan&minuman, termasuk bahan pembuatnya janganlah membuat kita bingung. Apabila kita menjadi bingung karena hal itu, maka bisa jadi kita akan menjadi orang2 yg berlebihan dalam menentukan halal-haram sebuah makanan. Sebagai contoh, apakah semua rumah makan padang mesti mencantumkan label/sertifikat halal? Demikian juga tukang baso, mie ayam, gado2, dan lainnya. Padahal, untuk mendapatkan sertifikat/label halal, dibutuhkan dana yg tidak sedikit.

Lho, jadi label/sertifikat halal itu MESTI BAYAR (TIDAK GRATIS)?

Ya iya lah, memangnya untuk meneliti bahan2 dan kompiosisi penyusun makanan itu gratis? Alat2nya dapat cuma2? Yg meneliti tidak dibayar?

Walhasil, hanya produsen yg modalnya kuat yg bisa memberi sertifikat halal pada produk2nya. Sementara orang2 yg tidak punya uang utk mendapatkan sertifikat halal bagi produknya, ya kian pasrah karena masyarakat cenderung takut utk mengonsumsi makanan/minuman (dan kosmetik) yg tidak ada label/sertifikat halal.

Jika sudah begini, maka bisa2 kapitalisme merajalela dan label/sertifikat halal menjadi (salah satu) senjata andalan! ;-(

Saya sendiri selama ini berpedoman sebagai berikut:
– semua makanan adalah halal, sampai dibuktikan makanan tersebut haram.

– sertifikat/label halal akan lebih menenangkan, tapi jika tidak ada, ya jangan membuat diri sendiri susah😉

– perhatikan penjualnya. saya akan lebih menghindari penjual makanan yg cina dan batak. orang cina kadang menggunakan arak dalam makanannya, sementara orang batak ada yg menjual daging anjing.

– perhatikan asal makanan. jika makanan berasal dari padang, dan daerah2 yg mayoritas muslim, insya ALLOH halal. untuk masakan Jepang, sebaiknya lebih berhati-hati, terutama jika mereka menggunakan mirin (sejenis wine/anggur). makanan Cina&Korea juga harap lebih diperhatikan. untuk masakan dari Amerika Serikat dan Eropa, mesti dicek juga apakah bahan dasarnya sama. saya ambil contoh, menurut teman saya, McD di Amerika Serikat menggunakan daging babi (lard). nah, mesti dicek juga apakah McD di Indonesia menggunakan lard juga? jika tidak, ya silakan disantap.😉

– masak sendiri. ini yg paling aman…dan MURAH!🙂

Semoga bermanfaat

update 14 Januari 2013:
Berapa Tarif Membuat Sertifikat Halal di MUI? Saya copy paste beritanya:

Jakarta – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mempunyai wewenang mengeluarkan sertifikat halal suatu produk, obat-obatan maupun makanan yang beredar di Indonesia. Berapa tarif untuk buat sertifikat halal di MUI?

Seketaris Jenderal MUI, Ichwan Sam mengatakan mengurus sertifikat halal dan sertifikat syariah di MUI sudah ada patokan tarifnya yang sudah ditentukan. “Ada tarifnya yang sudah ditentukan sesuai aturan,” kata Ichwan di Kantor Pusat MUI, Senin (14/1/2013).

Dikatakan Ichwan, namun secara garis besar, tarif sertifikasi halal dan syariah di MUI mulai dari gratis alias cuma-cuma, Rp 250.000 sampai Rp 5 juta per produk.

“Tapi garis besarnya tarifnya mulai dari gratis, Rp 250.000 sampai Rp 5 juta per produk, Rp 5 juta itu tarif paling mahal,” ungkap Ichwan.

Besaran tarif tersebut kata Ichwan tergantung tingkat kompleksitas, kesulitan untuk diteliti dalam produk yang diajukan ke MUI.

“Tergantung tingkat kesulitannya untuk diteliti suatu produk yang diajukan, semakin sulit maka tarifnya semakin mahal, tapi paling mahal Rp 5 juta per produk,” jelasnya.

Namun kata Ichwan, tarif tersebut hanya untuk penelitian, sementara biaya transportasi, honorarium, dan lainnya semuanya ditanggung oleh yang mengajukan permohonan. “Tapi kalau tarif itu di luar biaya transportasi, honorarium, dan lainnya ditanggung oleh si pemohon,” tandas Ichwan.

5 Komentar »

  1. “Setiap yang memabukkan itu haram hukumnya” Klo khamar jelas hukumnya haram walau meminumnya tdk sampai memabukkan, krn jelas2 disebutkan barangnya (khamar itu haram), tp bgmn dg durian dan tape, apakah itu jg haram, walau memakannya hnya sedikit (dlm batasan yg tdk sampai memabukkan)? trims…

    Komentar oleh wulan — Mei 6, 2012 @ 10:42 am | Balas

    • insya ALLOH saya akan bahas di lain kesempatan.

      Komentar oleh Tausyiah275 — Januari 14, 2013 @ 2:36 pm | Balas

  2. […] artikel yg pernah saya buat, sebenarnya halal dan haram sebuah masakan (utk daging) bisa dibedakan dengan mudah. Selama TIDAK […]

    Ping balik oleh Masakan Setengah Matang, Halal Atau Haram? « Blog Tausyiah275 — Agustus 30, 2012 @ 5:48 am | Balas

  3. […] Anda bisa cek juga di artikel saya ini. […]

    Ping balik oleh Hati-hati Makan Bebek! | Blog Tausiyah275 — Desember 2, 2013 @ 5:26 pm | Balas

  4. […] yg halal. Namun, untuk di Indonesia, apa perlu diterbitkan sertifikat halal? Seperti saya tulis, yg dibutuhkan adalah sertifikat HARAM! Terutama untuk daerah2 yg memang non muslim […]

    Ping balik oleh Membisniskan Agama: Sertifikat (Dan Sertifikasi) Halal | Blog Tausiyah275 — Februari 23, 2014 @ 10:03 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: