Blog Tausiyah275

Juli 6, 2012

Ibadah Di Momen/Waktu Tertentu Saja

Filed under: Ensiklopedia Islam,Fiqh,Hikmah,HOT NEWS,Lain-lain,Seri Kesalahan2 — Tausiyah 275 @ 5:23 am

Bismillah,

Dalam Islam, banyak ibadah yg dilakukan berdasar momen/waktu tertentu. Contoh paling mudah adalah sholat. Waktu sholat sudah ditentukan. Subuh dari jam 4.30 – 5.30 pagi misalnya. Lalu dhuhur, ashar, magrib, dan isya juga sudah ada waktunya masing2. Ibadah lain yg butuh momen antara lain ibadah haji, shaum romadhon.

Nah, saya melihat umat Islam di Indonesia seringkali beribadah karena momentum2/waktu2 tertentu selain yang saya sebut di atas. Contoh momentum/waktu yg saya maksud adalah seperti saat maulud, lalu saat Isra’ Mi’raj, kemudian rajaban, belum lagi tahlilan, yasinan di malam Jumat, bermaaf-maafan menjelang Ramadhan dan Lebaran, dan masih banyak contohnya.

Pada momen2 tersebut, barulah kaum muslim di Indonesia tergerak hatinya untuk beribadah, entah itu mengaji, sholat, sedekah. Kemudian setelahnya mereka malas untuk beribadah. Dengan kata lain, ibadahnya sifatnya reaktif. Padahal SEMESTINYA, ibadah itu hendaknya dilakukan dengan konsisten (istiqomah), sebagaimana sabda Rasululloh SAW berikut “Amal (kebaikan) yang disukai ALLOH SWT ialah (ibadah) yang langgeng meskipun sedikit.” (HR. Bukhari)

Kemudian ada yg mengatakan,”ah, yg penting kan ibadah, daripada tidak sama sekali.”

Bagi saya, pernyataan di atas justru yg membuat orang2 ‘terlena’ dan dijadikan pembenaran untuk beribadah pada saat2 tertentu saja. Dampaknya, akan kian banyak ‘pengikut’ aliran ibadah yg berdasar momen tertentu.

Melalui artikel ini, saya justru mengajak para pembaca untuk beribadah secara kontinyu (terus menerus/istiqomah) seperti yg dianjurkan Rasululloh SAW dalam haditsnya di atas. Jika saat ini anda senang membaca yasin di malam Jum’at, maka hendaknya dilakukan juga di malam2 lain. Kenapa? Selain agar ibadah anda bersifat kontinyu, maka (menurut saya) anda tidak melakukan bid’ah, yakni yasinan hanya di malam Jum’at karena Rasululloh SAW dan para generasi terbaik muslim tidak mencontohkannya. Yang mereka contohkan membaca Al Qur’an, tanpa mengkhususkan (sengaja saya pertebal di bagian mengkhususkan) di surat Yaasiin saja.

Lalu anda sebaiknya segera meminta maaf jika melakukan kesalahan, tidak mesti menunggu Ramadhan/Lebaran yg akan datang. Syukur2 jika umur anda dan orang yg telah anda sakiti masih panjang sehingga bisa bermaaf2an saat lebaran nanti. Bagaimana jika ternyata anda/orang tersebut meninggal besok atau siang nanti dan anda belum sempat minta maaf?

Semoga bermanfaat.

Iklan

1 Komentar »

  1. […] bermaafan di malam nisfu Sya’ban saja, menurut saya, kurang sreg, sebagaimana saya tulis di artikel ini. Ini ditambah dengan menyebarluaskan hadits yg belum tentu benar dan […]

    Ping balik oleh Bermaafan Di Malam Nisfu Sya’ban Dan Hadits Palsu « Blog Tausyiah275 — Juli 6, 2012 @ 10:54 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: