Blog Tausiyah275

November 1, 2012

Saat Dilamar, Perempuan Mesti Diam Atau Boleh Bicara?

Bismillah,

Pada saat acara lamaran, yang dilakukan oleh (pihak) pria kepada (pihak) perempuan, seringkali kita temui salah satu kesalahan (salah kaprah) yg terjadi di masyarakat Indonesia.

Salah kaprah yg saya maksud adalah mengenai diamnya pihak perempuan, terutama yg masih gadis. Saya melihat salah kaprah ini terjadi karena para ulama, ustad mengajarkan hadits-hadits berikut secara ‘mentah2’.

“Janganlah menikahkan seorang janda sebelum meminta persetujuannya & janganlah menikahkan anak gadis sebelum meminta izin darinya. Mereka bertanya; Wahai Rasululloh SAW, bagaimana mengetahui izinnya? Beliau menjawab: Dia diam.” Dan telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Abi Utsman. Dan diriwayatkan dari jalur lain, telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Musa telah mengabarkan kepada kami Isa yaitu Ibnu Yunus dari Al Auza’i. Dan diriwayatkan dari jalur lain, telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Syaiban. Dan diriwayatkan dari jalur lain, telah menceritakan kepadaku Amru An Naqid & Muhammad bin Rafi’ keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq dari Ma’mar Dan diriwayatkan dari jalur lain, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdurrahman Ad Darimi telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Hasan telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah semuanya dari Yahya bin Abi Katsir seperti makna hadits Hisyam beserta isnadnya. Lafazh hadits ini juga sesuai dgn hadits Hisyam, Syaiban & Mu’awiyah bin Salam. (HR Muslim 2543)

“Ya, dia dimintai izin. ‘Aisyah berkata; Lalu saya berkata kepada beliau; Sesungguhnya dia malu (mengemukakannya). Maka Rasululloh SAW bersabda: Jika dia diam, maka itulah izinnya.” (HR Muslim 2544)

“Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan anak gadis harus dimintai izin darinya & izinnya adalah diamnya? Dia (Rasululloh SAW) menjawab; Ya.” (HR Muslim 2545)

“Aisyah berkata; “Saya bertanya kepada Rasululloh SAW mengenai seorang gadis yang dinikahkan oleh keluarganya, apakah harus meminta izin darinya atau tidak?” Rasululloh SAW bersabda kepadanya: “Ya, dia dimintai izin.” ‘Aisyah berkata; Lalu saya berkata kepada beliau; “Sesungguhnya dia malu (mengemukakannya).” Maka Rasululloh SAW bersabda: “Jika dia diam, maka itulah izinnya.” (H.R. Muslim)

Dari Ibnu Abbas bahwasannya Rasululloh SAW bersabda: “Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan perawan (gadis) harus dimintai izin darinya, dan diamnya adalah izinnya.” Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Umar telah menceritakan kepada kami Sufyan dengan isnad ini, beliau bersabda: “Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan perawan (gadis), maka ayahnya harus meminta persetujuan atas dirinya, dan persetujuannya adalah diamnya.” Atau mungkin beliau bersabda: “Dan diamnya adalah persetujuannya.” (H.R. Muslim)

“Dari Abu Hurairah dari Rasululloh SAW, bersabda: “Gadis tidak boleh dinikahi hingga dimintai izin, dan janda tidak bleh dinikahi hingga dimintai persetujuannya.” Ada yang bertanya; ‘ya Rasululloh SAW, bagaimana tanda izinnya? ‘ Nabi menjawab: “tandanya diam.” (H.R. Bukhari)

‘Kesalahan’ pengajaran yg saya maksud adalah jika seorang gadis setuju utk dilamar, maka dia MESTI diam!

Saya menemukan beberapa kasus, beberapa di antaranya teman saya yg menikah karena terpaksa. Ketika saya tanya bagaimana sikap mereka saat dilamar, mereka menjawab diam.

Yang lebih ‘mengerikan’ lagi adalah pendapat beberapa ulama yg mengatakan bahwa jika seorang gadis saat dilamar dia menjawab “Mau” (atau sejenisnya) yg menyatakan ekspresi/persetujuan dia untuk dilamar, maka lamaran tersebut BATAL!

Kesalahan yg hendak saya soroti adalah:
1. Sikap orang tua yg tidak mengerti (tidak bisa membaca) sikap diam anak gadisnya saat dilamar.
2. Diamnya si gadis adalah persetujuan.

Orang tua MESTINYA bisa mengetahui sikap anak gadisnya pada saat dilamar seorang laki2, apakah diamnya adalah tanda setuju (seperti hadits) ataukah tidak kuasa menolak (dengan alasan apapun, terutama takut dituduh tidak berbakti pada orang tua).

Sementara itu, jika seorang gadis menyetujui lamaran yg dilakukan pihak pria dg berkata-kata, maka LAMARAN SAH! Lha wong diamnya saja sudah dianggap setuju, maka apalagi dengan berkata-kata (menyatakan persetujuannya). 🙂

Jadi:
– bagi pihak laki2, kapan anda melamar perempuan pujaan anda? 😉
– bagi pihak perempuan, jangan ragu untuk mengungkapkan persetujuan anda apabila dilamar. terlebih oleh laki2 yg memang anda inginkan untuk menjadi pendamping hidup.

Semoga bermanfaat

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: