Blog Tausiyah275

Januari 6, 2013

Innalillah VS RIP

Filed under: Ensiklopedia Islam,HOT NEWS,Seri Kesalahan2 — Tausiyah 275 @ 6:21 pm

Bismillah,

Salah satu salah kaprah yg melanda/dilakukan kaum muslim adalah terkait dengan ucapan innalillahi dan RIP.

Saya awali artikel ini dengan sebuah berita kematian seseorang, katakan si X. Saya baca komentar-komentar yg masuk, ada yg menulis “RIP (Rest In Peace, beristirahat dengan damai) X, semoga bla 3x”. Nah, tulisan ini dikomentari oleh orang lain dengan isi lebih kurang (maaf, saya lupa redaksi lengkapnya) “Hei, RIP itu ucapan orang kafir! elo mesti tulis innalillahi bla 3x”.

Dan sayapun tertegun dengan komentar ini. Menurut saya, apa yg salah dengan RIP? Dan apakah memang innalillahi itu hanya untuk diucapkan saat mendapat berita kematian?

RIP, seperti yg telah saya tulis, jelas berasal dari bahasa Inggris dan lazim diucapkan apabila ada orang yg mati. Tujuannya jelas, semoga orang yg mati tersebut bisa beristirahat dengan damai (meski dalam ajaran Islam, orang yg mati belum tentu akan bisa beristirahat dg damai. insya ALLOH akan saya bahas di lain waktu mengenai hal ini), setelah (barangkali) menempuh/mengalami hal yg tidak menyenangkan di dunia. Bisa berupa sakit, hutang, ataupun penderitaan lain.

Saya pernah menulis artikel yg serupa, ttg tulisan RIP di sini. Karenanya saya sebenarnya ‘malas’ utk mengulang cerita saya, karena ujung2nya akan sama.

Namun toh demikian, mengingat masih begitu banyak kaum muslim di Indonesia yg sebegitu terpukaunya dg hal2 yg berbau Arab (yg BELUM TENTU Islami), maka saya merasa saya masih perlu utk menuliskan artikel ini.

Ucapan innalillahi sendiri sebenarnya salah kaprah juga di kalangan muslim di Indonesia. Hal ini karena ucapan ini seringkali identik dg orang yg meninggal.

“Eh, pak X meninggal dunia tadi pagi.”
“Innalillahi…”

Padahal, jika kita merujuk ke ayatnya, yakni Al Baqarah(2):155 dan 156,tertulis,“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, — (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”

Musibah tidak hanya berupa peristiwa kematian. Bagi kaum muslim, kematian bisa jadi bukan musibah, melainkan sesuatu yg sudah mereka tunggu, apalagi jika mereka menemui kematian dg cara berjihad.

Ucapan Innaa lillaahi SEMESTINYA diucapkan untuk SETIAP musibah/cobaan yg diterima, entah itu ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, dst.

So, bagi saya, RIP adalah salah satu bentuk ucapan berduka cita yg memang sudah dituangkan dalam bahasa Inggris. Jika dibandingkan dg Innaa lillaahi, bisa kita lihat jelas bahwa RIP lebih kecil dan spesifik scopenya. Innaa lillaahi sendiri punya wawasan yg lebih luas dan bisa digunakan untuk hal2 (musibah dan cobaan) lain.

Lalu, apakah RIP mesti dilarang diucapkan oleh seorang muslim? Saya akan bertanya kepada anda, dalil mana yg melarangnya? Apakah karena tasyabuh/menyerupai yg dijadikan acuan? Wallahualam.

Semoga bermanfaat.

36 Komentar »

  1. […] Ucapan innalillah utk menghibur orang2 yg ditinggalkan. “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” (Al Baqarah(2):156). Apakah ada perbedaan ucapan innalillahi dan RIP? Silakan baca di sini. […]

    Ping balik oleh Khutbah Jum’at – 20130308 | Kumpulan Khutbah Jum'at — Maret 14, 2013 @ 11:10 am | Balas

  2. Ya, salah kaprah. Kita suka sekali menciptakan friksi, menciptakan masalah bagi diri kita sendiri. Tapi ya namanya beda pemikiran, beda latar belakang, beda pergaulan tentunya beda isi kepala. Berpendapat, itu utk temukan kebenaran, jangan mencari pembenaran. Sila klik link ini, menarik utk jadi referensi. by @SudjiwoTedjo http://t.co/f67yD9A0bl
    Salam simpel.
    Simplicious System.

    Komentar oleh awankricardo — April 26, 2013 @ 10:00 am | Balas

  3. Kalo Muslim malah tuntunan doanya lebih panjang,ucapan innalillahi bukan doa…kalo niat ngucapin RIP itu doa ya irit sih,ga terlalu salah juga,cuma kurang pas

    Komentar oleh danik — April 26, 2013 @ 10:13 am | Balas

  4. Apa susahnya ngomong Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un yang termasuk ayat alquran dan lebih berkah daripada RIP yang gk jelas asalnya dari mana.

    Komentar oleh ismail — April 26, 2013 @ 1:36 pm | Balas

    • RIP lebih gampang

      Komentar oleh asep — April 26, 2013 @ 4:36 pm | Balas

      • iya, iqro itu artinya baca .. bukan belajar.🙂

        Komentar oleh Tia — November 21, 2013 @ 11:52 am

    • Apa susahnya buat menerima RIP? Tahu artinya RIP? Link’nya sudah di provide diatas. Silahkan click dan baca. Reading does wonder and in fact, di quran ajaran pertama adalah: iqroh. Yg artinya belajar.
      Anda mendewakan yg berbau Arab ya? Apakah anda tahu orang Arab itu seperti apa?
      Type anda itu “hollier than thou”, yg artinya sok suci.

      Komentar oleh LMroadwarrior — April 26, 2013 @ 7:03 pm | Balas

      • Iqra artinya baca kali

        Komentar oleh salma syakirah — April 26, 2013 @ 7:19 pm

      • Kita ini orang muslim Indonesia… La ngapa pkai bahasa inggris segala …..

        Komentar oleh antok — Juni 11, 2015 @ 2:36 pm

      • Iqro bukan iqroh,iqro artinya bacalah

        Komentar oleh rr — Juli 23, 2015 @ 7:31 pm

      • assalamualaikum wr wb.
        Untuk saudaraku LMroadwarrior
        Saya ingin memperbaiki kalimat saudara
        Bukan iqroh tapi iqro
        Dan artinya Bacalah bukan belajar
        Jangan salah mengartikan ayat,surat dalam sebuah kitab suci, karna kalau salah mengartikan sama seperti yang saudara katakan diatas “sok suci”

        Menurut saya itu kembali ke pribadi masing” karna ingat, kita masing” akan diminta pertanggung jawabannya. Dan untuk saya pribadi saya tidak akan mengunakan RIP karna rasul pun mengajari kita “inalilahi wainalilahi rojiun” ketika umat muslim terkena musibah/bencana dan menurut saya sepenggal kata itu tidak sulit di ketik kok, tangan pun gk begitu pegal mengetiknya .
        Nah bagi saya, tidak salah orang mengingatkan ketika ada seseorang muslim mengucapkan RIP itu, karna dia mengingatkan, bukan kah kita saudara semuslim dianjurkan untuk saling mengingatkan satu sama lain?
        Tapi, jika ada yang tidak setuju jg tidak apa-apa kembali ke masing” individu. Semua kembali ke niat.
        Dan hindarilah perdebatan jika itu berdampak permusuhan. 🙏
        Itulah yang diajarkan di agama saya.
        Terimakasih
        waalaikumsalam wr wb

        Komentar oleh Refki mudasir widyansyah — Oktober 25, 2015 @ 3:37 pm

    • Setuju bos

      Komentar oleh salma syakirah — April 26, 2013 @ 7:18 pm | Balas

  5. Aku juga tidak tahu mengapa sekarang bisa jadi seperti itu
    Rata-rata orang seperti itu, yg bilang RIP hanya untuk orang kafir, adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan dangkal mengenai agama Islam.
    Bisa juga mereka itu hanya orang-orang kolot dan tidak mau melihatnya secara global.
    Saya yakin apabila lagi berdebat dengan orang2 yang seperti itu pasti mereka mau menangnya sendiri tanpa melihat sumber sumber lain. Pasti mereka bilang “kalo A ya A, bukan B”

    Komentar oleh Jasa Penulis Artikel — April 26, 2013 @ 6:55 pm | Balas

  6. 1. Apa indikator sesuatu disebut kafir?
    2. Siapa yg berhak menentukan suatu hal itu kafir atau tidak?

    RIP berarti rest in peace, maksudnya adalah untuk mendoakan supaya yg meninggal istirahat dengan damai. Apakah berdoa harus selalu dengan bahasa Arab? Saya percaya Tuhan baca isi hati kita, bukan bahasa yg kita ucapkan.

    Komentar oleh Noname — April 28, 2013 @ 5:16 am | Balas

  7. Tu gan link diatas dari blog sebelah . Nah menurut lu yg pada pintar gimana ?
    Apakah mau ngutamain RIP atau inalillahi..?

    Komentar oleh Reiivanka — April 28, 2013 @ 10:58 am | Balas

  8. gue kira ada penjelasan asal mula RIP itu sendiri. tsk.

    Komentar oleh neishu — Mei 1, 2013 @ 2:50 pm | Balas

  9. […] Artikel yg ada hubungannya dengan ini, bisa dibaca di Innalillah VS RIP. […]

    Ping balik oleh Apakah Mesti Istilah Arab? | Blog Tausiyah275 — Mei 8, 2013 @ 8:34 am | Balas

  10. ya udah jelas salah kaprah….arti dan maksudnya aja dah beda….

    Komentar oleh amsus — Agustus 22, 2013 @ 9:03 am | Balas

  11. “Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) dan orang-orang musyrik (akan masuk) neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluq.” [Al-Bayyinah: 6]

    perkara ini kan yg mati si kafir buat apa si muslim ikut2 mengucapkan “istirahatlah dalam damai” sudah jelas ayat diatas jadi gmn mau istrahat dengan damai.
    So gak usah ada doktrin pembenaran yg menyesatkan akidah-akidah umat islam

    Komentar oleh ismail — Desember 14, 2013 @ 6:19 am | Balas

  12. Saya setuju broo !!!

    Komentar oleh bebijuna — Maret 13, 2014 @ 5:58 am | Balas

  13. Dalilnya jelas dan amat jelas:

    “Tidaklah dibenarkan bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, meminta ampun bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang itu kaum kerabat sendiri, sesudah nyata bagi mereka bahawa orang-orang musyrik itu adalah ahli neraka” – al taubah ayat 113

    Komentar oleh adznee — April 8, 2014 @ 12:34 pm | Balas

  14. Ikh aneh…..

    kata RIP aja bangga

    Ngapain seorang muslim ikut2i ajaran lain..

    blog aneh.

    Komentar oleh melany — April 25, 2014 @ 12:42 am | Balas

  15. Istilah RIP (Requiescat in pace) merupakan
    bagian dari aqidah Katholik, biasa terdapat
    pada epitaf dan disenandungkan saat Misa
    Requiem. Keyakinan ini juga terdapat pada
    agama Yahudi. Epitaf RIP ditemukan pada
    nisan Bet Shearim, Yahudi, meninggal 1 Abad
    Sebelum Masehi.
    Variasi lain Requiescat in pace atau Rest in
    Peace dalam bahasa Inggris adalah
    penambahan kata “may (semoga)”. Ini terkait
    keyakinan dosa ditebus. Ungkapan RIP dalam
    bentuk ringkas maupun panjang digunakan
    pada upacara pemakaman tradisional Yahudi.
    Pijakannya adalah Talmud kuno. RIP dalam
    bahasa Inggris, yakni rest in peace, tidak
    ditemukan pada kuburan sebelum abad VIII
    Masehi. Meluas penggunaannya setelah abad
    XVIII.
    Ungkapan RIP pada agama Katholik terdapat
    dalam Misa Requiem (Missa pro Defunctis)
    yang merupakan bagian dari ritus Tridente.
    Paus (Emeritus) Benediktus XVI menyatakan
    Ritus Tridente (Tridentin) merupakan bentuk
    misa yang luar biasa. Ia keluarkan surat edaran
    tahun 2007. Ini merupakan surat pribadi (motu
    proprio) kepada seluruh gereja untuk
    menggunakan Misa Tridentin. Surat ini
    bermakna penegasan bahwa ungkapan RIP
    merupakan bagian tak terpisahkan.
    Motu proprio (surat pribadi dengan tanda-
    tangan pribadi) Paus Benediktus XVI (sekarang
    emeritus) menegaskan kedudukan misa yang
    melembaga sejak 1570 tersebut. RIP
    merupakan bagian penting sebagai semacam
    “pembersihan dosa secara keseluruhan”.
    Dalam hal ini kedudukan RIP saat misa serupa
    dengan ungkapan ” Allahummaghfirlahu…”.
    Jadi, ini merupakan bagian dari prosesi ibadah.
    Tentu saja tak sama persis. Dalam Islam,
    seorang syaikh tak memiliki otoritas
    penghapusan dosa dan penentuan nasib
    seseorang jadi ahli surga.
    Orang yang sudah diupacarai dengan misa
    dimana pernyataan RIP ada di dalamnya,
    dianggap sudah “bersih” dari dosa. Sudah
    ditebus. Jadi, ungkapan RIP memang tidak
    dapat dibenturkan dengan kalimat istirja’ ( ﺇِﻧَّﺎ ﻟِﻠﻪِ
    ﻭَﺇِﻧَّﺎ ﺇِﻟَﻴْﻪَ ﺭَﺍﺟِﻌُﻮﻥَ ) karena memang sangat berbeda
    kedudukannya. Ungkapan yang berdekatan,
    tapi amat berbeda konsep dasarnya dengan
    istirja’ adalah “telah berpulang ke rumah
    bapa…”. Cermati ini agar tak gegabah
    menyama-nyamakan!
    Orang yang tak mengimani RIP sekaligus tak
    percaya kepada otoritas gereja maupun pastor,
    tidak gunakan istilah RIP. Cukup passed away
    (telah berpulang) atau serupa itu. Ini
    menunjukkan bahwa RIP adalah masa
    keimanan pada agama mereka.
    Apakah RIP merupakan ucapan belasungkawa
    semata? Tidak. Belasungkawa biasa gunakan
    ungkapan “in my deepest condolence (pada
    duka cita yang amat dalam)…” atau serupa itu.
    Apakah RIP merupakan produk budaya
    semata? Tidak. Menilik sejarah yang lebih rinci,
    ini merupakan konsekuensi iman & bagian dari
    peribadatan.
    Lalu apa sebutan untuk orang yang sudah mati
    pada umumnya? Secara budaya, biasa disebut
    late (mendiang) begitu saja. Mohon maaf
    sekiranya saya tidak santun dalam bertutur.
    Nasehatilah saya. Semoga catatan sederhana
    tentang RIP ini bermanfaat dan barakah.

    Komentar oleh akhi — Mei 17, 2014 @ 7:54 am | Balas

    • Makasih bro ilmunya jadi agak paham sayanya. Jadi rip itu ucapan khusus buat org kristen yang digunakan dlm acara pembersihan dosa buat jenazah.

      Komentar oleh Sodara — Februari 22, 2015 @ 8:03 am | Balas

  16. sesungguhnya manusia yg dilahirkan itu dalam keadaan islam..
    jd mau kaum nasrani kaum yahudi atau kaum2 lain selain kaum muslim itu pada dasarnya meraka lahir dalam keadaan islam..
    innalillahi atau RIP ? itu pertanyaan yg gk mesti diperdebatkan, semua sama saja, hanya saja perbedaan dikalimatnya karna dunia ini baanyak negara dan negara itu beda2 bahasanya .
    klo orang indonesia bilang ‘beristirahat dengan damai’ tanpa menggunakan bhs. inggris, apa masih disalahkan ?

    yang penting itu niat mas broohhhh ..
    semua itu berawal dari niat !!!

    Komentar oleh Asri Ari Wibowo — September 26, 2014 @ 1:56 pm | Balas

  17. Ya alangkah baiknya yg muslim mengucapkan innalillahi wainna illaihi rajiun , kan artikel di atas udah ada surat al baqarah yg mangnjrkan kalimat itu ketika ada musibah ,
    Trus artikel diatas bilang “belum tentu kematian itu musibah, tpi hal yg ditunggu, apalagi klo jihad” itu kan bagi yg mati , klo bgi orang lain atau kerabtnya kan musibah bro
    Mending cari tau arti innalillahi wainna illaihi rajiun , pantas mna dengan arti rip
    Disini saya tdk menyalahkan rip , cma alangkah baiknya yg muslim menggunakn kata yg mana

    Komentar oleh fais — Maret 21, 2015 @ 12:32 pm | Balas

  18. bismillaah,… Sebagai muslim terang dan jelas jalan hidup kita berbeda dengan…..apabila mengaku cinta kepada Allah sudah semestinya mengikut apa yg di bw rasul Muhammad shalallaahu alaihi wassalaam. Akhir kata memang do’a tak harus pakai bhs arab tapi …. Contoh mudah waktu sholat bukankah dalam sholat sendiri ada banyak do’a lalu bolehkah kita ganti dgn bhs ibu sprti do’a tasyahud akhir… BUKANKAH HARUS…. Wallahu a’lam

    Komentar oleh joko — Maret 22, 2015 @ 5:14 pm | Balas

  19. Wah pikiran anda terlalu sempit dlm mengambil kptsan sob..terlalu cpt menjust masyarakat indonesia..mgkin itu di daerah penulis sja..d daerah sya sangat paham ttg hal trsbt..bhkn ilmu ini saya dapat pada saat saya msh tk dan skrng saya sdh hmpir slesai kuliah S1..

    Komentar oleh Munawir — Maret 27, 2015 @ 9:58 pm | Balas

  20. RIP dg Innalillah itu sudah pembeda bahwa yg meninggal non muslim dan MUSLIM ……..simpel to warnanya jelas bukan abu2

    Komentar oleh imron Natamuda — Maret 27, 2015 @ 11:44 pm | Balas

  21. Maaf akhi, kita menempatkan sebagai muslim yg berhati-hati dalam menjalankan syariat, tidak ada salahnya kalau kita memfilter tidak menggunakan RIP karena RIP sendiri banyak digunakan kalangan non muslim maka lebih baik gunakan istilah yg menurut islam dahulu.

    Komentar oleh irman — Maret 28, 2015 @ 12:02 am | Balas

  22. Istilah RIP (Requiescat in pace) merupakan bagian dari aqidah Katholik, biasa terdapat pada epitaf dan disenandungkan saat Misa Requiem. Keyakinan ini juga terdapat pada agama Yahudi. Epitaf RIP ditemukan pada nisan Bet Shearim, Yahudi, meninggal 1 Abad Sebelum Masehi.

    Variasi lain Requiescat in pace atau Rest in Peace dalam bahasa Inggris adalah penambahan kata “may (semoga)”. Ini terkait keyakinan dosa ditebus. Ungkapan RIP dalam bentuk ringkas maupun panjang digunakan pada upacara pemakaman tradisional Yahudi. Pijakannya adalah Talmud kuno. RIP dalam bahasa Inggris, yakni rest in peace, tidak ditemukan pada kuburan sebelum abad VIII Masehi. Meluas penggunaannya setelah abad XVIII.

    Ungkapan RIP pada agama Katholik terdapat dalam Misa Requiem (Missa pro Defunctis) yang merupakan bagian dari ritus Tridente. Paus (Emeritus) Benediktus XVI menyatakan Ritus Tridente (Tridentin) merupakan bentuk misa yang luar biasa. Ia keluarkan surat edaran tahun 2007. Ini merupakan surat pribadi (motu proprio) kepada seluruh gereja untuk menggunakan Misa Tridentin. Surat ini bermakna penegasan bahwa ungkapan RIP merupakan bagian tak terpisahkan.

    Motu proprio (surat pribadi dengan tanda-tangan pribadi) Paus Benediktus XVI (sekarang emeritus) menegaskan kedudukan misa yang melembaga sejak 1570 tersebut. RIP merupakan bagian penting sebagai semacam “pembersihan dosa secara keseluruhan”. Dalam hal ini kedudukan RIP saat misa serupa dengan ungkapan “Allahummaghfirlahu…”. Jadi, ini merupakan bagian dari prosesi ibadah. Tentu saja tak sama persis. Dalam Islam, seorang syaikh tak memiliki otoritas penghapusan dosa dan penentuan nasib seseorang jadi ahli surga.

    Orang yang sudah diupacarai dengan misa dimana pernyataan RIP ada di dalamnya, dianggap sudah “bersih” dari dosa. Sudah ditebus. Jadi, ungkapan RIP memang tidak dapat dibenturkan dengan kalimat istirja’ (إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهَ رَاجِعُونَ) karena memang sangat berbeda kedudukannya. Ungkapan yang berdekatan, tapi amat berbeda konsep dasarnya dengan istirja’ adalah “telah berpulang ke rumah bapa…”. Cermati ini agar tak gegabah menyama-nyamakan!

    Orang yang tak mengimani RIP sekaligus tak percaya kepada otoritas gereja maupun pastor, tidak gunakan istilah RIP. Cukup passed away (telah berpulang) atau serupa itu. Ini menunjukkan bahwa RIP adalah masa keimanan pada agama mereka.

    Apakah RIP merupakan ucapan belasungkawa semata? Tidak. Belasungkawa biasa gunakan ungkapan “in my deepest condolence (pada duka cita yang amat dalam)…” atau serupa itu. Apakah RIP merupakan produk budaya semata? Tidak. Menilik sejarah yang lebih rinci, ini merupakan konsekuensi iman & bagian dari peribadatan.

    Lalu apa sebutan untuk orang yang sudah mati pada umumnya? Secara budaya, biasa disebut late (mendiang) begitu saja. Mohon maaf sekiranya saya tidak santun dalam bertutur. Nasehatilah saya. Semoga catatan sederhana tentang RIP ini bermanfaat dan barakah.

    link:https://www.facebook.com/notes/mohammad-fauzil-adhim/patutkah-seorang-muslim-berkata-rip/496873133695153

    Komentar oleh Arek AE — Maret 28, 2015 @ 10:30 pm | Balas

  23. ini lah dia org begok… mending ente jangan bikin blog aja… ane tanya dulu ente muslim atau kafir???
    sebenarnya simple aja… sebelum menulis ente harus tahu dulu dari mana asalnya kalimat rip itu???
    kalo ente jawab pakai logikanya ente… ya begitu jadinya… kayak bener tapi salah besar…
    cth : didalam islam kita dilarang untuk mengucapkan kata selamat bagi org kafir…
    kalo ente mau jawab ini dg logika.. maka hasilnya ente pun pasti ngebantah hal serupa…
    sama halnya dengan kalimat RIP…
    kalimat Rip ini berasal dari budaya katolik… sedangkan kita.. sudah ada istirja’ yg di anjurkan di dalam islam untuk diucapkan ketika mendengar org muslim lainnya dalam musibah…
    pertanyaan ane simple aja boss???
    ente muslim atau katolik???
    trus kalo ente ngenyamain makna RIP dan Istirja’, itu sama aja dengan ente membolehkan shalat dengan bahasa inggris…. toh makna nya kan sama saja…. tapi pada kenyataannya, shalat mesti harus dg bahasa yg sudah ditetapkan al quran… begitu juga kita sebagai umat muslim yg berpedoman ke al quran. sudah ada istirja’ yg di anjurkan untuk diucapkan ketika kita kena musibah, kenapa mau cari cari yg laen…???
    hehehehe

    Komentar oleh deni rachmat — Maret 29, 2015 @ 12:13 pm | Balas

  24. مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia bagian dari mereka.” [HR. Abu Daud dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, Al-Irwa’: 1269]

    Komentar oleh nona — Maret 31, 2015 @ 9:36 pm | Balas

  25. Udah jujur aja, ♈ªϞƍ buat RIP tu krn males ngetik panjang2…

    Komentar oleh yani — April 4, 2015 @ 3:22 am | Balas

  26. Asslmualaikum…. Akhi….. Memang benar kematian bukanlah suatu musibah bagi si mayyit…. Tapi bagi keluarganya kira2 musibah nggak???? Tnyakan pda dri sndri…..

    Komentar oleh mujahid al-faritsi — Juni 5, 2015 @ 6:15 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: