Blog Tausiyah275

April 12, 2013

Adab Di Masjid

Filed under: Ensiklopedia Islam,Hikmah,HOT NEWS,masjid,Seri Kesalahan2 — Tausiyah 275 @ 5:39 pm

Bismillah,

Beberapa waktu lalu, saya pernah membahas etika di masjid, melalui twitter dan facebook. Anda bisa baca detailnya dari tautan di atas.

Di artikel ini, saya akan menjelaskan lebih rinci mengenai beberapa etika yg mesti kita ikuti/patuhi pada saat di masjid (ataupun di lingkungan masjid).

Pertama, gunakan pakaian yg pantas. Pakaian yg pantas di sini adalah pakaian yg terbaik yg kita miliki. Saya pernah menulis artikel mengenai gunakan baju terbaik saat ibadah (sholat).

Pengalaman teman saya, saat sholat di sebuah masjid dia temui seorang makmum yg menggunakan kaos yg bolong-bolong di beberapa tempat. Sayangnya, teman saya tidak sempat berbincang dengannya mengenai penyebab org tersebut menggunakan pakaian yg kurang indah dipandang mata. Jika dia memang tidak punya baju yg layak untuk dipakai sholat, tidak sulit bagi teman saya untuk memberikan beberapa bajunya yg masih layak pakai.

Jangan juga menggunakan pakaian dengan gambar atau tulisan yg aneh, misalnya kaos dengan tulisan “F*uck” atau kaos dg gambar perempuan telanjang atau gambar2 tidak senonoh lainnya.

Kedua, jangan bersuara terlalu keras di lingkungan masjid, terlebih lagi di dalam masjid. Dalam ‘kultwit’ saya mengenai etika di masjid, yg muncul di awal artikel, saya ceritakan pengalaman saya tentang seorang ibu yg menelpon dan berbicara terlalu keras saat di dalam masjid dan ada yg sedang sholat.

Barangkali ibu tersebut belum tahu tentang beberapa hal berikut:

Hadits dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahuanhu dia berkata, Ketika Rasulullah SAW beri’tikaf di dalam masjid, beliau mendengar para shahabat membaca al-Qur’an dengan suara keras, maka beliau bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya masing-masing dari kalian sedang bermunajat kepada Rabbnya, maka janganlah sebagian dari kalian mengganggu yang lain, dan janganlah sebagian mengeraskan suara di atas yang lain dalam membaca al-Qur’an, atau beliau bersabda, “di dalam shalat.” (HR.Ahmad dan Abu Dawud)

– Syaikhul Islam (Ibnu Taimiyah) berkata, “Tidak boleh bagi siapa pun mengeraskan suara ketika membaca baik di dalam shalat maupun di luar shalat, terutama ketika di dalam masjid karena hal itu dapat mengganggu orang lain.” Dan ketika ditanya tentang mengeraskan bacaan al-Qur’an di dalam masjid, beliau menjawab, “Segala perbuatan yang bisa mengganggu orang yang berada di dalam masjid atau yang mengarah pada perbuatan itu maka hal itu terlarang, wallahu a’lam” (al-Fatawa 23/61)

Ketiga, jangan membawa barang yg berlebihan (dan mahal) ke dalam masjid. Ada kalanya kita pergi dan membawa beberapa barang, lalu terdengar adzan. Nah, pada saat kita masuk masjid hendak sholat, hendaknya tidak membawa barang2 yg kita bawa tadi karena akan membuat kita dan orang lain tidak khusyuk sholatnya.

Kita tidak khusyuk karena khawatir dengan barang2 milik kita, sementara orang lain juga terganggu dengan barang2 yg kita bawa, apalagi jika menyita sebagian ruang dia untuk sholat. Solusinya ada beberapa, pertama simpan dahulu barang2 kita di mobil; kedua menyimpan di ruang penyimpanan.

Seringkali sholat kita bisa tidak khusyuk karena kita kepikiran sandal/sepatu kita yg disimpan di pintu masuk masjid. Saya pernah tulis artikel mengenai seseorang yg tidak mau sholat di masjid karena takut sandal/sepatunya hilang. Hal ini tentu saja menggelikan, bukan?

Keempat, meletakkan sandal/sepatu sembarangan. Seringkali saya lihat sepatu dan sandal yang berantakan di pintu masjid. Bisa saja ini terjadi karena si jama’ah terburu-buru, takut ketinggalan raka’at. Apapun itu, hal ini tentu saja kurang indah dilihat mata.

Hingga saat ini, saya masih kagum jika sholat di masjid Daarut Tauhid (DT), karena posisi sandal dan sepatu akan selalu rapi (meski karena ada yg merapikan).

Kelima, berbicara/beraktivitas lain (yg tidak bermanfaat) saat khutbah (Jum’at). Kita sudah ketahui bersama, bahwa berbicara saat khatib sedang khutbah Jum’at sangat dilarang, sebagaimana hadits berikut,“Jika kamu berkata “diamlah” pada hari jum’at, saat khutbah sedang berlangsung, maka engkau telah melakukan hal yang sia-sia.” (HR Muslim no.851)

Hadits di atas menjelaskan bahwa orang yg berbicara untuk menyuruh diam saja dianggap telah melakukan hal yg sia-sia, apalagi yg berbicara.

Aktivitas lain yg tidak bermanfaat, seperti twitteran, juga sebaiknya dihindari karena itu berarti anda berpeluang tidak menyimak khutbah. Dan juga termasuk perbuatan yg sia-sia dan tercela, sebagaimana hadits berikut,“Barangsiapa yang berwudhu, lalu memperbagus wudhunya kemudian ia mendatangi (shalat) Jum’at, kemudian (di saat khutbah) ia betul-betul mendengarkan dan diam, maka dosanya antara Jum’at saat ini dan Jum’at sebelumnya ditambah tiga hari akan diampuni. Dan barangsiapa yang bermain-main dengan tongkat, maka ia benar-benar melakukan hal yang batil (lagi tercela) ” (HR. Muslim no. 857)

Lalu, bagaimana dengan orang yg mencatat khutbah Jum’at? Di sini yg perlu diperhatikan adalah, insya ALLOH orang tsb melakukan aktivitas yg tidak sia-sia karena pada dasarnya orang yg mencatat khutbah berarti (sebagaimana hadits di atas) dia sedang menyimak khutbah.

Keenam, bau badan atau bau mulut. Mari kita simak hadits berikut,“Berkata Abdullah bin Umar: ‘Pada saat peperangan Khaibar, Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa memakan dari pohon ini – yakni bawang putih, maka janganlah dia mendekati masjid kami“. (HR Bukhari-Muslim).

Simak juga hadits berikut Rasulullah SAW bersabda,“Barangsiapa makan bawang putih atau bawang merah, maka janganlah ia mendekati masjid kami dan hendaklah ia shalat di rumahnya, karena sesungguhnya para malaikat itu juga terganggu dengan apa-apa yang mengganggu manusia.” (HR Al-Bukhari, kitab Adzan 854, Muslim, kitab Al Masajid 564)

Dari kedua hadits di atas terlihat bahwa seseorang yg mempunyai bau-bauan yg mengganggu orang lain hendaknya tidak masuk masjid. Bau-bauan yg mengganggu orang lain tidak sekedar bawang putih atau bawang merah seperti hadits di atas, tapi juga bau rokok, bau badan, bau pete, bau jengkol, dan lainnya.

Saat anda hendak ke masjid, pastikan mulut dan badan anda tidak bau sehingga mengganggu jama’ah lain. Sikat gigi (dengan pasta gigi) dan menyemprotkan wangi2an (selama tidak berlebihan) bisa menjadi solusi.

Ketujuh, duduklah dengan sopan. Duduk di sini bisa bersila atau selonjor (asalkan tidak mengganggu jama’ah lain). Saat di dalam masjid hendaknya jangan tiduran (apalagi tidur, perkecualian mungkin di pojok2 masjid), atau berguling-guling, atau tengkurap (utk keperluan yg tidak jelas).

Kedelapan, mengambil ‘space’ (ruang) terlalu berlebihan. Ada kalanya kita temui ada jama’ah (atau jangan2 termasuk kita) yg mengambil space terlalu lebar untuk sholat. Kaki dibentangkan seluas mungkin, sajadah yg dipasang adalah sajadah yg ukurannya besar. Padahal ruang untuk sholat cukup selebar bahu kita, insya ALLOH cukup.

Saya pernah muat artikel terkait sajadah di sini.

Kesembilan, bergosip/ghibah. Bergosip (ghibah) termasuk hal yg dilarang, apalagi jika dilakukan di dalam masjid.

Kesepuluh, berdua-duaan dengan bukan mahram. Percaya atau tidak, ada yg menggunakan masjid sebagai sarana pacaran. Mungkin mereka berpikir pacaran di masjid tergolong pacaran yg Islami? Hehehe… Dan percaya atau tidak, pengurus masjid Islamic Center di Bandung pernah memasang tulisan “Dilarang pacaran di masjid” di tembok2 masjid.

Kesebelas, menggunakan baju ketat. Jika di poin 1 dibahas mengenai baju yg pantas, maka di sini akan dibahas baju ketat. Baik laki-laki maupun perempuan hendaknya tidak menggunakan baju ketat pada saat di masjid. Bagi perempuan, jelas baju yg ketat akan memperlihatkan lekuk2 tubuh yg bisa menimbulkan syahwat bagi laki2 yg melihatnya.

Sementara bagi laki2, baju yg ketat bisa mengakibatkan aurat terbuka pada saat ruku’ dan/atau sujud karena saat sujud/ruku maka bagian belakang baju akan terangkat sehingga memperlihatkan daerah antara pusar dan lutut, yg notabene merupakan aurat bagi laki2.

Keduabelas, berlebihan dalam berhias. Di poin 6, saya tulis mengenai orang2 yg punya bau badan atau bau mulut yg bisa mengganggu jama’ah lain. Nah, berlebihan dalam berhias pun sebaiknya dihindari. Parfum/wewangian yg terlalu menyengat juga bisa mengganggu konsentrasi jama’ah lain. Sementara bagi perempuan, memakai kosmetik yg berlebihan bisa membuat orang bertanya-tanya apakah dia akan main lenong? Hehehe..

Ketigabelas, mencuri atau menukar sandal/sepatu. Poin ini sudah clear, tidak perlu dijelaskan lebih detail lagi!🙂

Saya temukan video clip ini. Cukup lucu penyampaiannya.🙂

5 Komentar »

  1. bolehkah kita merencanakan untuk makan bersama di dalam mesjid ?

    Komentar oleh nurjanah — Agustus 22, 2013 @ 11:38 am | Balas

    • mbak Nurjanah, jika yg dimaksud makan bersama utk buka puasa bersama, saya rasa masih boleh karena terkait dg ibadah.

      Tapi jika makan bersama utk hal lain,sebaiknya dihindari. Tidak ada larangan sebenarnya, jadi sebenarnya boleh2 saja, asal jgn membuat keributan karena tiap orang usul tempat🙂

      Demikian

      Komentar oleh Tausiyah 275 — Agustus 22, 2013 @ 2:11 pm | Balas

  2. buka bersama boleh asalkan tidak mengotori masjid kasian pengurus masjidnya

    Komentar oleh ahmad — September 14, 2013 @ 6:49 am | Balas

  3. […] pernah menulis artikel tentang adab di masjid. Nampaknya saya ‘terlewat’ untuk poin kasus seperti ini. Terus terang, saya tidak […]

    Ping balik oleh Ketika Posisi Motivator Lebih Tinggi Dari ALLOH SWT & Rasululloh SAW | Blog Tausiyah275 — Maret 8, 2014 @ 6:09 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: