Blog Tausiyah275

April 20, 2013

Khutbah Jum’at Yang Baik Itu Seperti Apa?

Filed under: Ensiklopedia Islam,Fiqh,Hadits,HOT NEWS,Lain-lain,Seri Kesalahan2,Tarbiyah — Tausiyah 275 @ 10:02 am

Bismillah,

Artikel ini saya buat merujuk kepada beberapa pengalaman pribadi.

Bertahun-tahun mengikuti sholat, saya melihat, memperhatikan, dan merasa khatib Jum’at terbagi menjadi:
1. khutbah cepat, sholat cepat.
2. khutbah lambat, sholat cepat.
3. khutbah lambat, sholat lambat.
4. khutbah cepat, sholat lambat.

Saya yakin sebagian besar dari kita pasti suka dengan khatib no 1, terutama jika saat berangkat Jum’atan tidak sempat makan siang sehingga saat masuk masjid, perut terasa lapar.

Sebenarnya, khatib yg baik itu seperti apa? Mari kita simak beberapa hadits berikut:

- Rasulullah Saw memerintahkan para khotib untuk menyampaikan khotbah secara singkat dan memperlama sholat. Dari Abul Yaqdlan ‘Ammar bin Yasir r.a. berkata: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: ” Sesungguhnya lamanya shalat seseorang dan singkatnya khutbah itu adalah membuktikan mahirnya agama seseorang, oleh karena itu perpanjanglah shalat dan persingkatlah khutbah” (HR. Muslim)

- “Nabi Saw tidak memanjangkan nasihatnya pada hari Jumat. Beliau hanya memberikan amanah-amanah yang singkat dan ringkas” (H.R. Abu Dawud)

- “Sesungguhnya penjang shalat seseorang dan khutbahnya yang pendek menjadi tanda dari kedalaman pemahaman agamanya. Maka panjangkanlah shalat dan pendekkanlah khutbah. Sesungguhnya sebagian dari kata-kata itu ada yang bisa menjadi sihir.” (HR. Muslim no. 866, Ahmad 4/263, al-Darimi no. 1556, dan lainnya dari Amar bin Yasir)

- Jabir bin Samurah, ia berkata, ”Aku shalat bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, ternyata shalat beliau itu sederhana (tidak penjang) dan khutbah beiau juga sederhana.”

Dalam riwayat lain, “Beliau tidak memanjangkan khutbah pada hari Jum’at. Sesungguhnya khutbah beliau hanya ucapan-ucapan yang pendek saja.” (HR. Muslim no. 866, Abu Dawud no. 1107, al-Tirmidzi no. 507, al-Nasai no. 3/110, dan Ibnu Majah no. 1106)

Ternyata, jika para khatib ingin mencontoh Rasululloh SAW selaku suri tauladan terbaik, hendaknya mempersingkat khutbah dan memperlama sholatnya. Sementara itu, syarat2 menjadi khatib bisa dibaca di sini.

Kini, yg menjadi ‘persoalan’ seberapa cepat khutbah Jum’at dan seberapa lama sholatnya? Mari kita kaji lebih mendalam. Sebenarnya cepat-lambat itu relatif. Tapi saya punya pegangan dari Jum’atan yg pernah saya ikuti, khutbahnya tidak lebih dari 10 menit dan sholatnya sekitar 10 menit.

Dari sisi syar’i, khutbah Jum’at yg baik sudah disebutkan oleh Rasululloh SAW.

Namun, dari sisi norma, khutbah Jum’at yg baik adalah khutbah yg menggunakan bahasa setempat dan materi yg dibahas adalah materi yg mudah untuk diimplementasikan/diterapkan oleh para jama’ah. Berikut ini diskusi singkat mengenai hal ini di facebook.

Teman saya bercerita, dia pernah Jum’atan di sekitar Kelapa Gading Jakarta. Khutbahnya sangat singkat, hanya 5 menit. Tapi….disampaikan dalam BAHASA ARAB! Khutbah ini sudah menerapkan apa yg disarankan Rasululloh SAW, tapi…apakah khutbah seperti ini bermanfaat? Jika mayoritas/seluruh jama’ah mengerti bahasa Arab, ya tidak masalah. Tapi jika tidak ada yg mengerti sama sekali, bagaimana?

Saya membayangkan para jama’ah hanya duduk diam selama 5 menit, mendengarkan ceramah yg tidak mengerti, sholat Jum’at, lalu pulang. Tidak ada bekas/manfaat yg bisa diambil/dipraktikkan para jama’ah.

Di sisi lain, saya pernah Jum’atan di Bandung. Khatibnya berkhutbah dalam bahasa Sunda selama 30 menit. Khutbah seperti ini sudah mengena dari sisi sosial (menggunakan pendekatan bahasa yg dimengerti jama’ah), namun terlalu lama. Saat saya perhatikan sekitar, sudah banyak jama’ah yg menunduk (tidur).

Lah, jika para jama’ah tidur, lantas apa pula manfaat dari khutbahnya? Lha wong ga ada yg mendengar. ;-)

Memang, berkhutbah dalam bahasa Indonesia memang lebih netral, para jama’ah jadi lebih mudah mengerti materi yg disampaikan oleh khatib.

Kini mengenai materi khutbah. Ini juga termasuk kategori relatif.

Namun berdasar pengamatan saya, materi khutbah yg cocok adalah materi yg terkait peristiwa yg sedang hangat atau ajakan beribadah secara horizontal (tidak melulu secara vertikal). Saya yakin para jama’ah sudah tahu ibadah vertikal. Sholat, puasa, itu barangkali sudah mereka lakukan sejak kecil.

Tapi, bagaimana jika khatib menjelaskan implementasi sosial dari ibadah2 yg diajarkan di Islam? Misalnya, ibadah sholat mesti diimplementasikan dengan menahan diri untuk tidak berbuat jahat di lingkungan masyarakat karena orang yg sholatnya benar maka dia akan lebih mawas diri dan berhati-hati dalam bertindak/berbuat. Atau puasa diimplementasikan dengan lebih banyak bersedekah dan menyumbang kaum miskin, terutama panti asuhan ataupun badan-badan profesional yg mengurus sedekah.

Atau membahas mengenai pemilihan kepala daerah atau ajakan membantu saudara2 kita (dimulai yg terdekat) yg mengalami musibah dan bencana.

Bagi yg membutuhkan naskah khutbah Jum’at bisa menuju ke lokasi.

Demikian sharing singkat ini. Semoga berguna.

About these ads

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Rubric Theme. Blog pada WordPress.com.

%d bloggers like this: