Blog Tausiyah275

Juni 3, 2013

Khilafah Islam, Sebuah Utopia(?)

Filed under: Hikmah,HOT NEWS,Seri Kesalahan2,Tarbiyah — Tausiyah 275 @ 8:25 am

Bismillah,

Artikel ini sebenarnya sudah lamaa sekali ada di benak (pikiran) saya. Baru belakangan ini saya bisa menuliskan dan menerbitkannya dalam artikel, terutama dikarenakan ada momen yg tepat untuk itu.

Hari Minggu lalu, digelar muktamar (pertemuan) HTI, Hizbut Tahrir Indonesia, di stadion GBK Jakarta. Muktamar ini dihadiri oleh ratusan ribu umat muslim Indonesia (dan beberapa perwakilan dari negara lain?), setidaknya itu yg terlihat dari foto2 yang sempat saya lihat di twitter.

info akan digelarnya muktamar HTI, 2 Juni 2013

info muktamar HTI, 2 Juni 2013

HTI adalah sebuah organisasi (Islam) yang mempunyai cita-cita mendirikan negara Islam (khilafah). Silakan cek lagi apa itu khilafah, khalifah, dan khilaf di artikel ini.

Bukan pertama kalinya HTI mengadakan muktamar di Indonesia. Dan setiap kali muktamar ini digelar, saya seringkali teringat kembali diskusi saya dengan Bapak saya mengenai khilafah ini lebih dari 5 tahun lalu, jika tida salah. Dalam diskusi tersebut, Bapak saya menyetujui dengan niatan HTI tersebut, meski Bapak saya bukanlah anggota HTI. Alasan beliau simple, umat Islam sekarang sudah terpecah belah dan tidak punya pemersatu, sehingga akan sulit mengharapkan Islam bisa kembali berjaya.

Sebaliknya, saya tidak menyetujui pendirian negara Islam. Ada beberapa alasan mengapa saya tidak setuju.

Pertama, di Al Qur’an tidak disebutkan secara jelas bahwa Islam diturunkan dan Nabi Muhammad SAW diutus untuk mendirikan negara Islam. Islam diturunkan untuk menjadi rahmatan lil ‘aalamin, rahmat bagi sekalian alam. Rasululloh SAW pun diutus untuk menyempurnakan ajaran Islam dan untuk memperbaiki akhlak umat.

Memang, dalam perkembangannya Rasululloh SAW hijrah ke Madinah dan lalu membentuk tatanan masyarakat madani serta akhirnya terbentuklah negara Islam. Dalam Al Qur’an sendiri memang banyak disebut ayat-ayat yang terkait dengan hukum, misalnya hukum membunuh (17:33), (2:84), (4:30), lalu tentang zina (4:24-25), (5:5), (23:7), lalu ada hukum ttg mencuri (5:38), merampok (5:34).

Kita juga bisa lihat aturan tentang pemerintah dan pemimpin di (2:247), (4:139), ada juga tentang peradilan (4:58), (4:135), (5:42). Bahkan di Qur’an kita bisa temukan hukum tentang suap dan hadiah (2: 188) dan (27:36). Aturan main tentang berdagang juga bisa kita temukan di (106:2), (6:152), (55:9).

Toh, bagi saya, negara Islam akan terbentuk secara ‘otomatis’ apabila masyarakatnya sudah mempunyai TAUHID yg baik dan melaksanakan serta mengamalkan Al Qur’an dan Sunnah secara kaffah (menyeluruh) dalam kehidupan sehari-hari. Sementara yang diperjuangkan oleh HTI adalah (memaksakan) mengganti ideologi Pancasila, yg sekarang berlaku di Indonesia, dengan aturan Islam.

Kedua, katakanlah negara Islam (sedunia) terbentuk, maka siapa yang punya wewenang menetapkan khalifah? Saya yakin tiap negara akan mengajukan calon khalifahnya. Apabila digunakan sistem pemungutan suara sebagai dasar pemilihan khalifah, maka saya yakin khalifah-khalifah di masa depan akan banyak datang dari Indonesia karena mempunyai jumlah suara muslim terbanyak sedunia.

Sementara apabila digunakan sistem majelis, yang punya wewenang menunjuk dan memilih khalifah, maka akan timbul lagi pertanyaan, siapa yg berhak menjabat? Kriterianya apa? Jika sistem ini yang digunakan, maka akan muncul ulama-ulama radikal dari Timur Tengah, yang pendapatnya bisa saling bersebrangan. Ujung-ujungnya, akan terjadi perdebatan (bisa-bisa tanpa akhir yang jelas) dan akhirnya khalifah yang terpilih akan ‘dirongrong’ oleh majelis tersebut, terutama oleh ulama-ulama yang tidak menyetujui khalifah tersebut.

Sudah bukan rahasia lagi, para ulama sekarang mudah sekali menolak atau bahkan tidak menganggap ulama lain. Ulama salafi seringkali tidak menganggap Yusuf Qardhawi sebagai seorang ulama hanya karena beliau mempunyai sikap dan pendapat yang berbeda.

Ketiga, apabila khilafah Islam terbentuk, maka saya yakin akan terjadi clash langsung dengan Syiah dan Ahmadiyah. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Syiah dan Ahmadiyah adalah golongan yang tidak menyukai kelompok Ahlu Sunnah Wal Jama’ah. Dengan terbentuknya khilafah Islam (Sunni), maka akan muncul kekuatan (politik) baru yang bisa ‘merusak’ zona nyaman Syiah dan Ahmadiyah. Di satu sisi, saya setuju bahwa Syiah dan Ahmadiyah mesti ‘dibina’, namun dengan melihat catatan histori yang cukup panjang dan melihat kondisi saat ini, saya pesimis dengan hal ini.

Keempat, terjadi penyimpangan dari khilafah menjadi monarki. Menengok sejarah khilafah, maka kita hanya akan bisa mendapati bahwa khilafah yang ideal hanyalah terjadi di masa khulafaur rasyidin. Mengapa? Karena khilafah pada zaman mereka memang benar-benar khilafah yang ‘sebenarnya’, dipilih dan ditentukan dengan semangat Islam. Selebihnya, khilafah terjebak dengan monarki (kerajaan) yang khalifahnya dipilih berdasarkan keturunan.

Saya tidak menganggap khalifah-khalifah yang menjabat berdasar keturunan sebagai hal yang buruk. Khalifah Umar bin Abdul Azis merupakan salah satu khalifah yang tampil begitu cemerlang dan senantiasa dijadikan rujukan dan diidam-idamkan (muncul kembali) sebagai khalifah di khilafah Islam yang diharapkan muncul.

Namun, khalifah seperti beliau bisa kita hitung dengan jari. Tidak jarang khalifah malah berseteru dengan ulama-ulama besar di jamannya. Imam Hambali sebagai contoh. Beliau menghadapi khilafah Islam (Abbasiyah) yang mempunyai pemikiran-pemikiran sudah melenceng dari Islam. Sikap keras beliau (untuk menegakkan syariah Islam yang benar) malah berbuah perlakuan kasar dan tidak manusiawi, termasuk dipenjarakannya beliau.

Lalu, mana peran ulama-ulama di majelis? NOL BESAR! Ulama lebih tunduk pada penguasa dibandingkan dengan hukum ALLOH SWT.

Dan di jaman sekarang, sudah bukan menjadi rahasia lagi bahwa banyak ulama yang lebih takut kehilangan harta, jabatan, daripada menegur pemimpin yang berbuat salah.

Empat (4) alasan di atas merupakan ‘penyebab’ mengapa saya melihat khilafah Islam belum bisa terbentuk, menurut saya, dalam waktu 100 tahun ke depan. Saya yakin dalam 100 tahun ke depan, muktamar-muktamar yang digelar oleh HTI yaaa tidak lain dan tidak bukan hanya sebagai simbolisme dan pengumpulan massa semata.

Saya sendiri melihat ‘pemaksaan’ HTI untuk mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi Islam (secara ‘paksa’) seperti yang selalu didengung-dengungkan bisa dikategorikan sebagai makar (kudeta). Ucapan saya ini tidak mengada-ada. Coba lihat saja PKI dan DI/TII, mereka jelas sekali mempunyai tujuan yang sama dengan apa yg diperjuangkan HTI sekarang. Nasib mereka berakhir usai ditumpas pemerintah. Saya sendiri agak heran dengan sikap pemerintah Indonesia yang membiarkan HTI.

Di balik ‘penolakan’ saya terhadap khilafah Islam, sebagai seorang muslim saya juga punya mimpi bahwa satu saat kelak umat Islam punya pemimpin dunia yang bisa mempersatukan kaum muslim di dunia dan bisa dijadikan teladan yang baik. Untuk itu, menurut saya, usaha-usaha yang bisa dilakukan untuk memulai hal itu adalah dengan menanamkan agama Islam dengan baik dan menerapkannya di lingkungan sekitar. Tidak perlu rumit, cukup Al Qur’an dan Sunnah yang dijadikan rujukan. Lalu, hilangkan sikap saling memusuhi terutama terhadap ulama-ulama yang berbeda pendapat ataupun terhadap umat lain yang punya pemikiran berbeda.

Dari masyarakat yang sudah menerapkan ajaran Islam dengan baik, maka proses selanjutnya, yakni mendirikan majelis dan lalu memilih khalifah, saya yakin tidak akan sulit. Malah khalifah yang terpilih akan bisa lebih mudah dalam menjalankan pemerintahan karena tatanan masyarakatnya sudah ok.

Sekarang ya ‘get real’ saja. Ikuti aturan-aturan bernegara yang ada. Misalnya dengan ikut serta dalam partai politik, dengan tetap memperjuangkan khilafah Islam secara perlahan dan sedikit demi sedikit disertai dengan penerapan akhlak yang baik. Kebanyakan jama’ah HTI ogah untuk berpolitik, terutama ikut serta dalam pemilu, partai politik, dan instrumen politik yang ada, dengan alasan itu produk kafir dan tidak Islami.

Lah, sekarang bagaimana bisa menegakkan khilafah? Kudeta? Nanti seperti PKI dan DI/TII donk?😉

Ibarat kita ingin punya pohon yang baik, maka bibitnya mesti mempunyai kualitas yang baik. Setelah bibit ditanam, maka dipupuk, disiram dan dijaga dengan baik. Maka, insya ALLOH akan tumbuh pohon yang diharapkan.

Semoga berguna.

4 Komentar »

  1. terima kasih kang fahmi atas artikelnya ini. Saya pribadi juga sudah sejak lama memikirkan tentang ide khilafah ini. dan terus terang pesemisme saya selalu tentang masalah utamanya, yaitu siapa yang berhak menentukan khalifahnya? melihat perkembangan zaman seperti ini, rasanya memang terlalu utopis. betul seperti kata kang fahmi, lebih baik proses yang berjalan natural daripada dipaksakan. Jika umat muslim Indonesia dapat memahami Islam secara kaffah, insha Allah sistem negara madani seperti khilafah zaman Rasulullah dan khulafaur rasyidan eh, rasyidin, pasti akan terbentuk dengan sendirinya🙂

    Komentar oleh ziedhane — Juni 4, 2013 @ 2:55 am | Balas

  2. […] menemukan bahwa mereka tidak melabrak aturan yg ada dan semena-mena (berusaha) mengganti dengan khilafah. Bahkan mereka pun tidak membuat ‘perda syariah’, peraturan yg menggunakan label agama. […]

    Ping balik oleh Islam Dan Politik | Blog Tausiyah275 — Juni 7, 2014 @ 6:14 am | Balas

  3. […] ‘bikin pusing’ adalah ketika umat Islam Indonesia ngotot untuk menegakkan negara Islam (yg merupakan utopia) dan menganggap hukum yg berlaku tidak bisa mengikat (tidak berlaku) bagi mereka karena merupakan […]

    Ping balik oleh Islam Dan Sekulerisme (Islam Menjadi Penyebab Sekuler?) | Blog Tausiyah275 — September 2, 2014 @ 3:11 pm | Balas

  4. […] menemukan bahwa mereka tidak melabrak aturan yg ada dan semena-mena (berusaha) mengganti dengan khilafah. Bahkan mereka pun tidak membuat ‘perda syariah’, peraturan yg menggunakan label agama. Hal ini […]

    Ping balik oleh LahatOnline » POLITIK DILIHAT DARI PANDANGAN ISLAM — Juli 7, 2015 @ 4:34 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: