Blog Tausiyah275

Agustus 5, 2013

Adakah Zakat Penghasilan (Zakat Profesi) Dalam Al Qur’an Dan Hadits?

Bismillah,

Seingat saya, sudah lebih dari 5 tahun saya mendengar zakat profesi atau zakat penghasilan. Hingga kini, banyak pihak yg menyuarakan zakat ini, tidak saja ulama, ustad, namun saya juga melihat beberapa perencana keuangan demikian getol dan semangat dalam mensosialisasikan ini.

Dalam mensosialisaikan zp ini, saya melihat adanya ‘ancaman’ secara halus kepada kaum muslim, bahwa jika anda tidak melakukan zp maka keislaman anda diragukan! Bahkan bisa jadi anda akan diperangi, seperti halnya yang dilakukan Abu Bakar kepada muslim ‘pembelot’ yg ogah membayar zakat.

Terus terang, saya merasa terganggu juga dengan ‘ancaman’ tersebut, karena itu berarti saya termasuk ‘boleh’ (atau malah wajib?) untuk diperangi, karena saya punya keyakinan bahwa ZP itu TIDAK ADA! Karenanya, sejak 5 tahun lebih itu pula saya mencari tahu lebih dalam mengenai asal muasal zp ini.

Dan akhirnya, saya kian meyakini bahwa ZP ITU TIDAK ADA DALAM ISLAM! Minimal dalam Al Qur’an dan hadits2 shahih! Rujukan zp yg saya peroleh, semuanya mendasarkan pada qiyas (ijtihad) para ulama.

Mengapa saya meyakini bahwa zp tidak ada dalam Islam? Simpel saja. Seperti yg saya tulis di atas, tidak ada rujukan di Al Qur’an dan hadits! Dan menurut saya, qiyas yg dilakukan para ulama sebenarnya tidak perlu (jika tidak dikatakan lemah).

Apa sebabnya?

Al Qur’an, bagi saya, sudah menjelaskan zakat dengan rinci lho! Coba anda cek ayat2 terkait zakat, sangat detail penjelasannya. Tidak hanya jenis zakatnya, tapi juga perhitungannya dan orang2 yg berhak mendapatkan zakat!

Adapun dalil2 berikut, yang sering dijadikan landasan zakat profesi:
“dan pada harta-harta mereka ada hak untuk oramng miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak dapat bagian” (Adz Dzariyat(51):19)
“Wahai orang-orang yang beriman, infaqkanlah (zakat) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik.” (Al Baqarah(2):267)
“Bila zakat bercampur dengan harta lainnya maka ia akan merusak harta itu” (HR. AL Bazar dan Baehaqi)

Sebenarnya referensi2 di atas sifatnya umum, tidak merujuk pada zakat profesi. Jika anda lihat rujukan kedua, jelas disebut INFAQ (meski ada yg menafsirkan sebagai zakat, tapi jika merujuk pada kata “anfiqu” lebih cocok ke infaq).

Saya berpendapat, adanya zp justru berkesan bahwa Al Qur’an tidak lengkap memberikan penjelasan tentang zakat sehingga perlu ditambahi. Astaghfirulloh..!! Berani sekali menambahkan sesuatu hal yg baru, apalagi di Al Qur’an! Padahal ALLOH SWT sudah berfirman,“….Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Maidah(5):3).

Pada ayat di atas, ALLOH SWT sudah menjelaskan bahwa agama Islam sudah sempurna, berarti termasuk kitabnya, Al Qur’an. Adapun hadits/sunnah Rasululloh SAW, semuanya mesti merujuk pada Al Qur’an sebagai pedoman. Dan saya sudah cari di berbagai sirah nabawiyyah, tidak pernah ada yg namanya zp di zaman Rasululloh SAW!

“Lho, kan zamannya berbeda pak? Sekarang profesi dokter, pengacara, dan banyak profesi lain mudah sekali menghasilkan uang? Enak sekali mereka tidak perlu mengeluarkan zakat!”

Saudaraku, yg namanya agama (apalagi syariat/hukum terkait ibadah, terlebih sudah dituangkan dalam Al Qur’an dan hadits) tidak boleh berubah karena zaman. Apakah karena zaman sekarang kita sibuk bekerja, maka sholat boleh diubah aturannya menjadi hanya 3x sehari? Atau karena susah mengerti bahasa Arab maka sholatnya pakai bahasa Indonesia.

“Lantas bagaimana dg handphone, internet, pesawat terbang? Itu kan tidak ada di zaman Rasululloh SAW, sehingga anda juga tidak boleh pakai dong!”

Ah, salah kaprah seperti ini yang seringkali membuat saya geleng2 kepala. Jelas sekali perbedaan antara TEKNOLOGI (duniawi) dengan SYARIAT/HUKUM (agama). Apabila teknologi tidak boleh digunakan dalam kehidupan beragama, itu berarti umat Islam menjadi umat yg terbelakang dan tidak beradaptasi dengan perkembangan zaman. Dan sekali lagi, seperti saya tulis di atas, hanya syariat/hukum terkait ibadah yg tidak boleh diubah/disesuaikan dengan zaman. Insya ALLOH lain kali akan saya tulis artikel mengenai hal ini.

‘Kesalahan’ lain dalam penetapan zp adalah analogi yg digunakan dan besaran (nisab) zp itu sendiri.

Analogi yg sering digunakan para pendukung zp adalah (profesi) pertanian, peternakan, atau perdagangan. Yang saya pertanyakan, apakah zaman dulu tidak ada profesi lain, misalnya dokter/tabib? Janggal sekali jika ada yg mengatakan zaman itu tidak ada dokter/tabib, karena ilmu kedokteran sudah ada jauh sebelum Islam ada. Jika memang profesi dokter/tabib mesti dikenai zakat, saya yakin Al Qur’an akan mencantumkan rinciannya.

“Ya pak, zaman itu kan gaji dokter/tabib kecil, jadi mungkin tidak diperhitungkan!”

Jika ada yg berpendapat seperti itu, maka saya akan berkata,”berarti anda mengatakan Al Qur’an tidak lengkap? Atau Rasululloh SAW tidak menyampaikan semua ajaran dari ALLOH SWT?” Hehehe…

Berikutnya, nisab/besaran zakat yg dipakai zp adalah nishab/besaran zakat pertanian, peternakan, atau perdagangan. Jika demikian, maka seharusnya besaran zp mengikuti zakat pertanian sebesar 1/10 (10%) atau 1/20 (5%), bukan 1/40 (2.5%). Nilai 1/40 (2.5%) adalah besaran untuk zakat maal (zakat harta) yg LEBIH DARI 85 GRAM EMAS DAN MENGENDAP SETELAH 1 TAHUN!

Yang mengherankan juga, angka 2.5% tersebut dikenakan dari penghasilan kotor (gross). Padahal zakat pertanian saja, setahu saya, diambil dari nilai bersih (setelah dikurangi biaya pupuk dan keperluan pertanian lainnya).

Dari penjelasan saya di atas, semestinya sudah terlihat bahwa argumen dan dalil serta penentuan zakat profesi itu sebenarnya sangat lemah! Kok bisa? Ya bisa, lah wong memang ketentuannya tidak ada petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknisnya.🙂

Kembali ke pernyataan bahwa pengacara, dokter, dll punya harta yg banyak, maka zakat yg paling tepat (dan sesuai tuntunan Al Qur’an dan hadits) adalah ZAKAT MAAL (ZAKAT HARTA), BUKAN ZAKAT PROFESI (ZAKAT PENGHASILAN).

“Enak bener mereka ya pak, cuma bayar zakat maal saja?”

Tidak perlu iri dengan (‘keringanan’) aturan yg dikenakan pada umat muslim dg profesi2 di atas. Itu sama saja anda iri dengan musafir yg sholatnya di-qashar dan di-jamak.🙂

Sebenarnya ada jalan lain untuk mereka2 yg dianugerahi kelebihan harta oleh ALLOH SWT untuk membersihkan hartanya, yakni dengan melakukan shodaqoh, infaq, atau malah wakaf. Nilainya tidak ‘cuma’ 2.5% seperti zakat profesi/zakat penghasilan, anda bisa keluarkan lebih besar dari 2.5% atau malah anda bisa mencontoh Abu Bakar yang menyerahkan SELURUH HARTANYA untuk kepentingan agama Islam!

Saya sendiri melihat kemunculan zp ini adalah untuk ‘memaksa’ umat muslim (yg kelebihan harta) untuk mau berbagi rejeki dengan saudaranya. Tapi, hemat saya, caranya kurang ok karena referensi yg digunakan tidak cukup kuat! Mestinya shodaqoh, infaq, atau wakaf (yg aturannya sudah jelas) yg lebih disosialisasikan, bukannya mengadakan ‘aturan’ baru dengan zakat profesi/zakat penghasilan seperti ini.

Intinya: zakat profesi/zakat penghasilan = NO! Shodaqoh, infaq, waqaf = YES!

Semoga bermanfaat.

10 Komentar »

  1. hati2 pak bila berpendapat islam bukan agama pendapat tapi agama petunjuk Allah Swt,
    kita sebagai manusia ciptaan Allah hanya menjalankan perintah Allah Swt berdasarkan PetunjukNya

    Komentar oleh ariyanto — Oktober 29, 2013 @ 2:55 pm | Balas

    • mas Ariyanto,adakah perintah ALLOH SWT utk berdakwah dg media internet?😉

      Komentar oleh Tausiyah 275 — Oktober 30, 2013 @ 8:45 am | Balas

  2. sama seperti anda, pagi ini saya berniat memperkaya ilmu dan penasaran dengan zakat, dan muncul dengan keraguan dengan istilah zakat profesi (zp) yang sudah saya ikuti semenjak saya berpenghasilan tetap. bahkan istilah zakat sekarang sudah beragam sekali, dan tanpa dalil kuat, misal zakat saham, dll, seenaknya saja menambah2. kembali lagi kepada iman, kita yakinnya seperti apa, karena jika merasa bahwa apa yang kita percaya itu dhoif, malah menambah2 apa yg dulu tidak diajarkan, ujungnya sesat. tetapi kalau kita yakini apa yg ada sekarang ini semata demi kebaikan, kenapa tidak dibudayakan, dan tetap rajinlah bersedekah ketika mendapat rezeki. ingat, budaya, beda dengan inti ajaran agama, jangan dicampur adukan. mudah-mudahan ketika anda menjelaskan kepada orang lain selalu membedakan mana yang dalil mana yang tambahan/budaya.

    Komentar oleh bungwira — Juni 30, 2014 @ 2:44 pm | Balas

    • betul sekali, bungwira.

      menurut saya, lebih baik kita menggunakan term/istilah sedekah daripada ada ‘tambahan’ istilah zakat yg malah membuat kian rancu.
      terima kasih atas komentarnya.

      demikian

      Komentar oleh Tausiyah 275 — Juni 30, 2014 @ 5:20 pm | Balas

  3. Hanya saja terburu-buru memvonis bahwa zakat profesi adalah bid’ah hanya karena kita tidak menemukan contoh kongkritnya di masa Rasulullah SAW, tentu tidak sesederhana itu masalahnya. Sebab ketika kita mengatakan sebuah perbuatan itu sebagai bidah, maka konsekuensinya adalah kita memvonis bahwa pelakunya adalah ahli neraka. Masalahnya adalah apakah bisa disepakati bahwa semua fenomena yang tidak ada di masa Rasulullah SAW itu langsung dengan mudah bisa dijatuhkan ke dalam kategori bidah ?

    Sebab bila memang demikian, maka mengeluarkan zakat dengan beras pun tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Sedangkan kita semua di negeri ini dan di kebanyakan negeri muslim umumnya makan nasi dan zakat fitrahnya beras. Apakah kita ini pasti ahli bidah karena tidak berzakat dengan gandum ?
    Selanjutnya zakat profesi menurut mereka yang mencetuskannya sebenarnya bukan hal yang baru. Bahkan para ulama yang mendukung zakat ini mengatakan bahwa landasan zakat profesi atau penghasilan itu sangat kuat, yaitu langsung dari Al-Quran Al-Kariem sendiri.

    Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah sebagian dari kasabmu (PENGHASILANMU) yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu?. (QS al-baqarah.)

    Maka yang mewajibkan zakat profesi atau zakat penghasilan adalah Al-Quran Al-Kariem sendiri. Dan istilah kasab adalah istilah yang digunakan oleh Al-Quran Al-Kariem dan juga bahasa arabnya zakat profesi adalah kasab.

    Selain itu mereka juga mengatakan bahwa profesi di masa Rasulullah SAW itu berbeda hakikatnya dengan profesi di masa kini. Sebab sebenarnya yang terkena zakat itu pada hakikatnya bukan karena dia berprofesi apa atau berdagang apa, tetapi apakah seseorang sudah masuk dalam kategori kaya atau tidak.

    Dan memang benar bahwa zakat itu pada hakikatnya adalah memungut harta dari orang kaya untuk diserahkan kepada orang miskin. Persis seperti pesan Rasulullah SAW ketika mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman. Rasulullah SAW mengatakan bahwa beritahukan kepada mereka bahwa Allah SWT telah memfaridhahkan kepada mereka zakat yang diambil dari orang kaya mereka dan diberikan kepada orang miskin di antara mereka.

    Masih menurut kaalangan pendukung zakat profesi, maka meski di masa Rasulullah SAW ada beberapa jenis profesi, namun mereka tidaklah termasuk orang kaya dan penghasilan mereka tidak besar. Maka oleh Rasulullah SAW mereka pun tidak dipungut zakat.

    Sebaliknya, di masa itu yang namanya orang kaya itu identik dengan pedagang, petani atau peternak atau mereka yang memiliki simpanan emas dan perak. Maka kepada mereka inilah zakat itu dikenakan. Meski demikian, jelas tidak semua dari mereka itu pasti kaya, karena itu ada aturan batas minimal kepemilikan atau yang kita kenal dengan nisab. Oleh Rasulullah SAW, nisab itu lalu ditentukan besarnya untuk masing-masing pemilik kekayaan. Dan sudah bisa dipastikan bahwa kalangan pekerja profesional dimasa itu tidak akan pernah masuk dalam daftar orang kaya.

    Lain halnya dengan masa sekarang ini. Yang kita sebut sebagai profesional di masa kita hidup ini bisa jadi orang yang sangat kaya dan teramat kaya. Jauh melebih kekayaan para petani dan peternak. Bahkan di negeri kita ini, yang namanya petani dan peternak itu sudah bisa dipastikan miskin, sebab mereka tertindas oleh sistem yang sangat tidak berpihak kepada mereka.

    Kalau pak tani yang setiap hari mencangkul di sawah membanting tulang memeras keringat dan ketika panen, hasilnya tidak cukup untuk membayat hutang kepada rentenir itu diwajibkan membayar zakat, sementara tetangganya adalah seorang yang berprofesi sebagai pengacara kaya raya itu tidak wajib bayar zakat, dimanakah rasa keadilan kita ? Padahal pak pengacara itu sekali didatangi kliennya bisa langsung mengantungi 100 atau 200 juta.

    Di lain tempat ada peternak yang miskin hidup berdampingan dengan tetangganya yang konsultan ahli yang sekali memberi advise bisa mengantongi ratusan juta, tentu sekali rasa keadilan itu terusik.

    Benarkah Islam tidak mewajibkan zakat orang kaya yang nyata benar kekayaan berlimpah, hanya karena di masa Rasulullah SAW belum ada fenomena itu ? Dan wajarkah bila kita hanya memakai standar kekayaan dan jenis penghasilan yang ada di masa Rasulullah SAW saja ? Sedangkan pada kenyataannya, sudah banyak fenoimena itu yang sudah berubah ?

    Tidakkah kita bisa membedakan esensi dari zakat yang utama yaitu mengambil harta dari ORANG KAYA dan diberikan kepada orang miskin ? Ataukah kita terpaku pada fenomena sosial yang ada di masa Madinah saja ?

    Nah, argumentasi seperti itulah yang diajukan oleh para pencetus zakat profesi sekarang ini. Dan bila kita secara tenang memahaminya, argumen itu relatif tidak terlalu salah. Paling tidak kita pun harus sadar bahwa kalau At-Taubah ayat 60 telang menyebutkan dengan detail siapa sajakah yang berhak menerima zakat, maka untuk ketentuan siapa sajakah yang berkewajiban mengeluarkan zakat, Al-Quran Al-Kariem tidak secara spesifik menyebutkannya. Sehingga penentuan siapa sajakah yang wajib mengeluarkan zakat bisa atau mungkin saja berkembang sesuai karakter zamannya. Namun intinya adalah orang kaya.

    Kami bukan berarti menyalahkan pendapat yang mengatakan bahwa zakat profesi itu tidak ada dan bersikeras mengatakan bahwa zakat profesi itu ada. Sebab biar bagaimana pun, para ulama yang mendukung adanya zakat profesi itu pun tidak sepakat dalam menjabarkan tata aturannya dan juga cara penghitungannya. Mereka tetap masih berbeda-beda dalam hal itu meski sepakat atas adanya zakat profesi sesuai dengan dengan prinsip di atas.

    Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab

    Komentar oleh Linda Setyawati — Juli 2, 2014 @ 4:26 pm | Balas

    • mbak Linda,

      Terima kasih atas komentarnya.

      Komentar yg anda tulis sudah saya dapatkan pada saat saya bertanya pada orang2 yg pro ZP.

      Lagipula cara menafkahkan yg dimaksud tidak harus dalam bentuk zakat, yg notabene adalah cenderung ‘pemaksaan’. Coba anda lihat di (QS 2:245), di sana ada pinjaman yg baik adalah pinjaman kepada ALLOH SWT, yg ditulis sebagai menafkahkan harta di jalan ALLOH SWT.

      Yg saya pahami di sini,menafkahkan harta di jalan ALLOH SWT itu cenderung ‘bebas’ bentuknya, tidak berupa zakat. Termasuk ayat yg mbak Linda tuliskan, tidak ada ketentuan (nisab) ttg harta yg digunakan untuk bertransaksi dengan ALLOH SWT.

      Saya melihat ZP adalah upaya ‘memaksa’ kaum muslim yg seringkali merasa malas untuk mengeluarkan hartanya (kita harus akui ini) dibandingkan dengan sedekah.

      Jujur saja, coba anda lihat dan anda rasakan, berapa banyak uang yg anda sedekahkan dengan yg anda zakatkan (min dg zakat maal)? Jika anda yakin nominal sedekah anda >>> zakat maal, saya yakin anda termasuk muslim yg memang disebut di Al Quran.

      Mengenai bentuk beras atau gandum untuk berzakat, itu terkait dengan lokasi. Di Indonesia, beras lebih dikenal daripada gandum.🙂

      Hal lain, pertentangan ukuran nisab. Pengeluaran gross atau netto?

      Daripada repot membahas nisab, yg ujuung2nya menjadi alasan untuk tidak (mau) mengeluarkan hartanya, saya lebih suka berikan solusi sedekah. Tidak perlu nisab, bisa kapan saja, dan bisa lebih besar dari ZP.

      Wallahualam🙂

      Komentar oleh Tausiyah 275 — Juli 2, 2014 @ 4:41 pm | Balas

  4. Islam sudah sempurna dan paripurna ( QS. Al Anam : 115 ) jadi jangan ditambah-tambahi malah jadi rancu dan membingungkan. Kemudian Ro’yu / Akal kita dibawah / tunduk pada Syariat. Syukron.

    Komentar oleh SUBANDI — Desember 5, 2014 @ 1:58 pm | Balas

  5. Dalil dari alqur’an dan as-sunnah menunjukkan bahwa zakat profesi tdk dikenal serta orang berpendapat ada zakat profesi tdk memiliki dalil kecuali qiyas yang sangat lemah.

    Komentar oleh abu bilal — Mei 10, 2015 @ 9:15 pm | Balas

  6. saya pernah tau bahwa Untuk penghasilan bulanan (zakat profesi/zakat penghasilan), jumhur ulama menetapkan nisab Zakat Profesi senilai dengan 520 kg beras. Jika harga beras per kilogram Rp 8.500, maka nisab zakat profesi per bulan adalah 520 x Rp 8.500 = Rp 4.420.000 per bulan. Bagi mereka yang berpendapatan 4,4 juta per bulan itu, wajib mengeluarkan zakat sebesar 2,5%. Sekali lagi, dengan jaminan dari Allah SWT, harta tidak akan berkurang jika dizakati. bagaimana menurut saudara? krn saya blm tau sumbernya ijtihad ulama yg d maksud

    Komentar oleh adabina — Juni 29, 2015 @ 5:06 pm | Balas

  7. menurut ulama Yusuf Qardhawi perhitungan zakat profesi dibedakan menurut dua cara, yaitu:
    1. Secara langsung, zakat dihitung dari 2,5% dari penghasilan kotor secara langsung, baik dibayarkan bulanan atau tahunan. Metode ini lebih tepat dan adil bagi mereka yang diluaskan rezekinya oleh Allah. Contoh: Seseorang dengan penghasilan Rp 3.000.000 tiap bulan, maka wajib membayar zakat sebesar: 2,5% x 3.000.000 = Rp 75.000 per bulan atau Rp 900.000 per tahun.
    2. Setelah dipotong dengan kebutuhan pokok, zakat dihitung 2,5% dari gaji setelah dipotong dengan kebutuhan pokok. Metode ini lebih adil diterapkan bagi mereka yang penghasilannya pas-pasan. Contoh: Seseorang dengan penghasilan Rp 1.500.000,- dengan pengeluaran untuk kebutuhan pokok Rp 1.000.000 tiap 8 bulan, maka wajib membayar zakat sebesar : 2,5% x (1.500.000 – 1.000.000) = Rp 12.500 per bulan atau Rp 150.000,- per tahun.

    Komentar oleh adabina — Juni 29, 2015 @ 5:55 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: