Blog Tausiyah275

Agustus 19, 2013

Apakah Benar Banyak Wartawan Yang (Akan) Masuk Neraka?

Filed under: Fiqh,Hadits,Hikmah,HOT NEWS,Lain-lain,Seri Kesalahan2,Tarbiyah — Tausiyah 275 @ 10:33 am

Bismillah,

Membaca berita yang dimuat di media online ini, saya terus terang cukup takjub dengan isi khutbah Idul Fitri (jika memang benar demikian isi khutbahnya). Saya kutip isi khutbahnya sebagai berikut:

Di antara isi khotbah yang disampaikan Muzakir adalah “wartawan semuanya penghuni neraka karena menulis aib orang lain, seperti orang yang korupsi atau keburukan lainnya”.

“Kecuali jika wartawan yang menulis keburukan orang lain itu meminta maaf kepada orang dibongkar aibnya tersebut,” kata Muzakir Samidan dalam khotbahnya tersebut.

Saya tidak berhasil mendapatkan isi khutbah secara lengkap, namun dari hasil googling, rata2 kutipannya sama seperti yang saya kutip di atas. Apabila memang benar demikian isi khutbahnya, maka saya sangat menyayangkan pernyataan Rektor Universitas Islam Tamiang tersebut. Apa sebab?

Pertama, menyampaikan atau memberitakan korupsi yg dilakukan orang, bukanlah termasuk menuliskan aib. Karena korupsi termasuk kejahatan dan sesungguhnya setiap muslim punya KEWAJIBAN melakukan amar ma’ruf nahyi munkar.

“Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (Luqman(31):17)

“Hendaklah kamu beramar ma’ruf (menyuruh berbuat baik) dan bernahi mungkar (melarang berbuat jahat). Kalau tidak, maka Allah akan menguasakan atasmu orang-orang yang paling jahat di antara kamu, kemudian orang-orang yang baik-baik di antara kamu berdo’a dan tidak dikabulkan (do’a mereka).” (HR. Abu Zar)

“Wahai segenap manusia, menyerulah kepada yang ma’ruf dan cegahlah dari yang mungkar sebelum kamu berdo’a kepada Allah dan tidak dikabulkan serta sebelum kamu memohon ampunan dan tidak diampuni. Amar ma’ruf tidak mendekatkan ajal. Sesungguhnya para robi Yahudi dan rahib Nasrani ketika mereka meninggalkan amar ma’ruf dan nahi mungkar, dilaknat oleh Allah melalui ucapan nabi-nabi mereka. Mereka juga ditimpa bencana dan malapetaka.” (HR. Ath-Thabrani)

Perlu diperhitungkan dan dipikirkan juga, bahwa amar ma’ruf nahi munkar ini mesti ditegakkan sesuai dengan kemampuan masing-masing, sebagaimana hadits Rasululloh SAW berikut,“Dari Abu Sa’id Al Khudry -radhiyallahu ‘anhu- berkata, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah (mengingkari) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia mengubah (mengingkari) dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia mengubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah.” (HR. Muslim no. 49).

Wartawan, sesuai dengan profesinya, dia mesti memberitakan kejadian2 yg terjadi di sekitarnya. Dalam hal ini, dia WAJIB melaporkan/memberitakan adanya (dugaan) kejahatan korupsi utk selanjutnya mesti ditindaklanjuti oleh aparat keamanan. Jika dia tidak menginformasikan hal ini serta menyembunyikannya, atau malah bekerja sama dengan koruptor utk menutupi kasus ini, maka wartawan seperti ini yang justru lebih layak masuk neraka!

Kedua, mengenai aib. Seperti saya jelaskan di atas, kejahatan korupsi (ataupun tindakan pidana lain) bukanlah aib karena itu murni akibat kelakuan manusia. Yang dimaksud aib, dari sisi pemahaman saya, adalah segala sesuatu (selain tindakan kejahatan) yg membuat si pelaku merasa enggan atau jengah untuk membahas. Misalnya kasus perceraian, atau hamil di luar nikah.

Wartawan yg memberitakan aib2 seperti ini justru yg saya setuju untuk masuk neraka, karena perbuatannya termasuk dalam kategori ghibah (bergosip). Saya pernah juga menuliskan himbauan dan saran kepada para wartawan/wati yg beragama Islam untuk menjauhi pekerjaan sebagai wartawan tukang ngerumpi (tukang gossip) karena faktor ghibah itu tadi. Entahlah, apakah ada yg masih mau berpikir dg jernih mengenai hal tersebut, karena utk mendapat keuntungan duniawi, jangankan bergosip, jilbab/hijab saja berani dilepas kok.😦

Kesimpulannya, isi khutbah Idul Fitri yg disampaikan Muzakir, terkait dg banyak wartawan yg masuk neraka karena melaporkan korupsi, jelas tidak bisa diterima oleh akal sehat berdasar penjelasan saya di atas (lihat poin 1). Lalu ada generalisasi wartawan yg masuk neraka. Yang ‘lebih berhak’ masuk neraka ya wartawan tukang gossip, bukan yg melaporkan kejahatan.

Semoga bermanfaat.

1 Komentar »

  1. […] saya teringat dengan artikel saya mengenai wartawan ini dan artikel mengenai pemimpin muslim-non muslim (artikel ini dan […]

    Ping balik oleh Dilarang Suudzon Dan Membuka Aib Sesama Muslim? | Blog Tausiyah275 — Desember 26, 2013 @ 1:27 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: