Blog Tausiyah275

September 17, 2013

Umroh: 4. Madinah

Filed under: Ensiklopedia Islam,Fiqh,Haji & Umroh,Hikmah,HOT NEWS,Kegiatan Ramadhan — Tausiyah 275 @ 11:47 am

Bismillah,

Kami tiba di Madinah menjelang tengah malam, seingat saya. Usai menyimpan koper di kamar, lalu mandi, saya segera berangkat menuju masjid Nabawi yg lokasinya tidak jauh dari hotel. Hanya berjalan kaki tidak sampai 5 menit, tibalah saya di masjid Nabawi yg begitu megah.

Sontak saya merasa diri saya begitu kecil, terlebih ketika saya masuk dan melihat luasnya masjid Nabawi ini. Dan saat saya sholat tahiyyatul masjid, terus terang, bergetar hati saya dan air mata langsung bercucuran tanpa bisa saya cegah. Beragam perasaan campur aduk dalam hati saya.

Selama beberapa hari saya beribadah di masjid Nabawi, diselingi pergi ke kebun kurma untuk membeli kurma ajwa (atau kurma ajwah) yg dikenal dengan kurma Nabi. Disebut kurma Nabi (Muhammad SAW) dikarenakan kurma jenis ini yang paling sering dimakan beliau dan tertulis dalam hadits. “Barangsiapa mengkonsumsi tujuh butir kurma Ajwah pada pagi hari, maka pada hari itu ia tidak akan terkena racun maupun sihir” (HR Al-Bukhari (no. 5769) dan Muslim (no. 2047) (155)).

Di masjid Nabawi, ibadahnya nyaman sekali. Selain karena faktor AC, juga karpet yg dijadikan sajadah utk sholat sangat empuk dan nyaman, juga bersih. Tidak seperti karpet2 di mushola2 dan masjid2 di Indonesia yg seringkali basah dan bau kaki karena jarang dibersihkan.😦

Di masjid Nabawi pula saya juga temukan bahwa egoisme beribadah ternyata terjadi di sini. Egoisme yg saya maksud adalah orang2 berebut mencari dan menempati raudhah, yakni satu tempat doa dimakbulkan (diijabah) oleh ALLOH SWT. Jadi, pada waktu2 tertentu ada petugas yg membersihkan raudhah. Semua orang akan diusir dan dilarang beribadah hingga tempat itu selesai dibersihkan. Nah, ketika kain pembatas dibuka sebagai tanda raudhah sudah dibersihkan, saya lihat banyak kaum muslim yg berlari2 berebut menempati posisi strategis di raudhah. Well, saya mengerti bahwa raudhah merupakan tempat makbulnya doa, tapi dengan berlari-lari (cukup kencang), saya khawatir ada yg terluka dan alih-alih mencari ridho-Nya malah terluka dan tidak bisa beribadah.

“Antara rumahku dengan mimbarku adalah Raudhah di antara taman-taman surga” (HR. Bukhari no. 1196)

Egoisme berikutnya (masih terkait raudhah) adalah jama’ah yg enggan berbagi tempat dengan jama’ah lain. Mereka diam saja di sana, padahal masih banyak kaum muslim lain yg ingin sholat dan berdoa di sana. Saya menilai ini adalah bentuk egoisme. Apa sedemikian sulitnya kaum muslim untuk berbagi tempat untuk ibadah? Masya ALLOH.

Egoisme lainnya adalah banyak orang yg menyerobot atau memaksakan masuk ke shaf, padahal sudah tidak ada ruang lagi yg tersisa. Walhasil, saya sempat melihat terjadinya ketegangan dan keributan antar jama’ah. Sialnya, sayapun ‘kebagian’ didesak-desak oleh jama’ah yg berbadan besar (saya perkirakan dia dari Afrika). Tak ayal, badan saya langsung tergeser dan lumayan tergencet, hahaha.

Buka puasa di masjid Nabawi bisa dikatakan istimewa. Makanannya enak2 dan jumlahnya banyak, jika dibandingkan dengan makanan di hotel, hahaha. Beberapa kali saya buka puasa dengan nasi kebuli dengan daging ayam. Porsinya cukup besar meski rasanya tidak seperti nasi kebuli yg pernah saya makan di Indonesia dan India, kurang bumbunya.

Alhamdulillah, di masjid Nabawi ini saya tidak pernah kehilangan sandal. Teman sekamar saya sudah mengalami 2kali kehilangan sandal. Padahal saya simpan sandal saya di ruang penitipan di dekat pintu masuk masjid. Solusi lainnya, sediakan tas plastik untuk membawa dan menyimpan sandal anda.

Di masjid Nabawi yg luas ini, anda sebenarnya tidak perlu sampai tersesat. Banyak petunjuk lokasi berupa nomor yg bisa anda hapalkan agar tidak sampai tersesat.

Anda juga bisa wakaf Al Qur’an. Di pintu masuk masjid Nabawi akan anda temui 2 orang duduk (kadang berdiri) dan di depannya ada meja berisi Al Qur’an. Nah, anda beli saja Al Qur’an dari situ, harganya 20 riyal (sekitar Rp 70 ribu), yg akan dicap sebagai tanda wakaf. Selanjutnya anda bawa ke dalam dan simpan saja di tempat2 Al Qur’an. Insya ALLOH, pahala ‘pasif’ akan mengalir ke anda setiap kali ada jama’ah yg membaca Al Quran yg anda wakafkan itu.

Di bagian awal tulisan ini, saya tulis mengenai air mata yg bercucuran pada saat saya sholat (pertama kali) di masjid Nabawi. Dan air mata saya kian deras ketika saya mengunjungi makam Rasululloh SAW. Pada saat saya mendekati makam beliau, timbul rasa kerinduan yg teramat dalam terhadap beliau, padahal bertemu pun belum pernah. Namun entah kenapa rasa rindu itu begitu meluap.

Di samping rasa rindu, muncul rasa malu. Malu karena sebagai umat beliau, saya kok rasa2nya belum bisa mengikuti sunnah2 yg beliau lakukan. Dengan minimnya amal dan sunnah Rasululloh SAW yang saya lakukan, kok yaaa saya masih berani dan nekat utk minta shalawat dari beliau di hari Akhirat kelak ya?🙂

Oya, selama di Madinah tidak perlu banyak belanja. Lebih baik anda wakaf Al Quran saja sebagai investasi akhirat. Jikapun hendak belanja, cukup makanan/minuman, jika dirasa suplai dari hotel tidak memadai. Tidak perlu belanja baju/sajadah,dll, karena tujuan anda adalah umroh. Sementara anda di Madinah ini belum mulai umroh. Ibadahnya saja belum dilakukan kok malah belanjanya duluan? Begitulah kira-kira.

Perkecualian mungkin untuk belanja kurma dan coklat karena harga kurma (ajwah) dan coklat (yg terbuat dari kurma) di Madinah relatif lebih murah daripada di Mekkah.

Di sela-sela ibadah di masjid Nabawi, saya dan rombongan berkesempatan mengunjungi bukit Uhud, tempat terjadinya perang Uhud, perang yg seharusnya dimenangkan oleh kaum muslim namun karena mereka tidak mengindahkan perintah Rasululloh SAW, maka kekalahan yg diterima.

Hari terakhir saya di Madinah, saya diminta untuk bersiap mengenakan baju ihrom (menjadi muhrim) karena akan miqot dalam perjalanan menuju Mekkah.

Bismillah, usai berniat saya kenakan baju ihrom dan bersiap menuju Mekkah untuk menuaikan umroh.

1 Komentar »

  1. […] Di cerita sebelumnya saya tulis, bahwa saya bersiap menuju Mekkah dari Madinah. Dari hotel, saya sudah diminta untuk menggunakan baju ihram agar lebih mudah. […]

    Ping balik oleh Umroh: 5. Miqat menuju Mekkah | Blog Tausiyah275 — Juli 3, 2014 @ 4:20 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: