Blog Tausiyah275

September 25, 2013

Membisniskan Agama – Makam Yang Mahal

Filed under: Aqidah,Ensiklopedia Islam,Fiqh,Hikmah,HOT NEWS,Lain-lain,Seri Kesalahan2 — Tausiyah 275 @ 7:25 pm

Bismillah,

Beberapa waktu saya mendapat informasi mengenai keberadaan pemakaman umum yang mahal. Semula saya tidak terlalu tertarik, mengingat pemakaman umum yang mahal sudah cukup lama muncul di Indonesia, terutama di sekitar Jakarta. Namun, usai tahu bahwa ada embel2 ‘Islami’, saya menjadi tergerak untuk mengetahui lebih lanjut.

Dari kicauan (tweet) saya di atas, anda bisa lihat lebih rinci mengenai informasi pemakaman umum mahal dengan embel2 Islami tersebut.

Saya lalu berbagi sedikit ilmu yang saya miliki terkait dengan pemakaman/kuburan/makam. Anda bisa baca uraian singkatnya di sini, mengingat keterbatasan media dan karakter yang bisa saya tampilkan. Oleh karenanya, saya berniat berbagi yang lebih mendalam melalui artikel di blog ini.

Pertama, mengenai pengaplingan. Dalam Islam, atau jika ingin lebih nyata anda bisa cek di Arab Saudi, kuburan tidak dikapling-kapling berdasar ukuran tertentu. Tanah pekuburan semua rata, tidak ada batas ini kuburan si A, si B. Bahkan jika anda lihat di pekuburan para pejuang Islam yang berjuang saat perang Uhud, anda akan terheran-heran melihat hanya SATU-DUA nisan saja yang tampak. Selebihnya rata.

Bahkan, Islam membolehkan 1 lubang kubur/makam diisi 2 jenazah, seperti pada hadits berikut. “Jabir bin Abdullah r.a. berkata, “Rasulullah mengumpulkan antara dua orang laki-laki yang terbunuh dalam Perang Uhud dalam satu helai kain. Kemudian beliau bersabda, ‘Siapakah yang lebih banyak mengambil (hafal) Al-Qur’an?’ Ketika ditunjukkan kepada salah satunya, maka beliau mendahulukannya ke dalam liang kubur (sebelum yang satunya. Jabir berkata, ‘Maka, ayah dan paman dikafani dengan selembar kain bergaris’ 2/94) dan beliau bersabda, ‘Aku akan menjadi saksi bagi mereka pada hari kiamat nanti.’ Beliau menyuruh untuk menguburkan mereka dengan darah mereka tanpa dimandikan (Dan dalam satu riwayat, kuburkanlah mereka dengan darah mereka.’ Beliau tidak memandikan mereka) dan tidak pula mereka dishalati.” (HR Bukhari).

Sementara perintah meratakan kuburan bisa kita cek dari hadits berikut,“Dari Abul Hayyaj Al Asadi, ia berkata, “‘Ali bin Abi Tholib berkata kepadaku, “Sungguh aku mengutusmu dengan sesuatu yang Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah mengutusku dengan perintah tersebut. Yaitu jangan engkau biarkan patung (gambar) melainkan engkau musnahkan dan jangan biarkan kubur tinggi dari tanah melainkan engkau ratakan.” (HR. Muslim no. 969).

Kedua, Rasululloh SAW sudah menyatakan LARANGAN membuat bangunan permanen untuk kuburan. “Dari Jabir, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari memberi semen pada kubur, duduk di atas kubur dan memberi bangunan di atas kubur.” (HR. Muslim no. 970).

Sementara dari sumber lain, saya dapatkan “Kubur itu mesti diratakan, kubur tidak boleh dibangun bangunan di atasnya dan tidak boleh kubur tersebut diberi kapur (semen).” (Mukhtashor Abi Syuja’, hal. 83 dan At Tadzhib, hal. 94). Hal serupa “Meratakan kubur dengan tanah lebih afdhol daripada meninggikannuya karena demikianlah yang ada pada kubur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu juga yang terlihat pada kubur para sahabat Nabi.” (Tuhfatul Labib, 1: 367).

Sementara dari pengamatan saya, pengelola kuburan ‘Islami’ menawarkan bentuk makam yg tidak saja diberi semen ataupun SEDIKIT ditinggikan, tapi makamnya sudah dijadikan bangunan permanen serta (bisa jadi) tingginya mencapai 1/2 meter atau lebih. Jelas ini merupakan pelanggaran dari larangan yang disampaikan Rasululloh SAW.

Fenomena bangunan permanen untuk makam sebenarnya tidak saja terjadi di kuburan mahal ini, tapi juga bisa kita lihat di taman makam pahlawan, lalu di makam ulama (apalagi yg dianggap wali), ataupun tokoh-tokoh terkenal. Khusus untuk kuburan wali/ulama yg dijadikan permanen, BISA JADI hal ini perlu dilakukan karena dengan banyaknya peziarah yg datang maka dikhawatirkan makamnya rusak. Hanya saja pendapat seperti ini bisa dibantah/dicegah dengan melakukan pemagaran di sekitar makam, seperti di makam Hamzah, paman Rasululloh SAW. Para peziarah cukup mendoakan dari luar, tidak perlu menginjak-injak makam.

Pembuatan bangunan permanen pada makam seringkali disalahgunakan dengan dijadikan praktik syirik. Banyak peziarah yg datang bukan untuk mendoakan ulama/wali, namun malah minta (sesuatu) pada ulama/wali tersebut.

Ketiga, harga tanah pekuburan yang mahal. Inipun sebenarnya termasuk dalam pemborosan. Dalam Islam, seperti saya tulis di bagian pertama, dalam 1 kubur bisa diisi lebih dari 1 jenazah. Lalu makam tidak perlu diberi tanda. Maksudnya, usai beberapa saat, tanah makam tersebut bisa digunakan untuk mengubur jenazah lain. Dengan demikian tidak perlu mencari lokasi makam yang baru karena lokasi yang lama sudah penuh.

Namun tentu saja tidak semua orang bisa menerima pendapat ini, terutama di Indonesia, yang masyarakatnya cukup sentimentil dan butuh simbol-simbol. Mereka tidak ingin jenazah orang2 yg mereka cintai bercampur dengan jenazah orang lain. Untuk hal seperti ini, saya berharap masyarakat (muslim) Indonesia bisa berpikir lebih strategis lagi untuk ke depannya.

Semoga artikel ini bermanfaat.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: