Blog Tausiyah275

September 29, 2013

Dipimpin Oleh Non Muslim (Atau Perempuan), Apakah Aib?

Bismillah,

*artikel ini sebenarnya sudah saya buat sejak tahun lalu, namun baru saya muat dengan beberapa tambahan untuk menyesuaikan kondisi terbaru*
Alhamdulillah, pada tanggal 20 September 2012 lalu telah dilakukan pemilihan kepala daerah (Gubernur) DKI Jakarta. Hasilnya, terpilih pemimpin Jakarta yang baru, yakni Jokowi dan Basuki (yang kerap dipanggil Ahok). Menyikapi kemenangan Jokowi dan Ahok ini, saya langsung tertegun dengan komentar yang dilontarkan oleh Rhoma Irama.

Komentar Rhoma Irama Mengenai Terpilihnya Jokowi Dan Ahok Menjadi Gub-Wagub DKI 2012-2017

Membaca komentar2 di artikel saya ini sebelumnya, ditambah dengan komentar Rhoma Irama seperti terlihat di atas, yang menunjukkan ketidaksukaan mereka terhadap terpilihnya Ahok sebagai Wagub Jakarta (yg otomatis berarti memimpin Jakarta), saya melihat adanya kontradiksi. Kontradiksi yang saya maksud adalah seringkali kaum muslim di Indonesia berpendapat terhadap sesuatu atas dasar suka/tidak suka terhadap pribadi seseorang, bukan terhadap kinerjanya. Kemudian, dalam berpendapat (terutama jika tidak suka) seringkali mereka mencomot sebagian ayat-ayat Al Qur’an ataupun Hadits/sunnah yang bisa mendukung pernyataan mereka. Yang terakhir, dan menurut saya paling penting, dalam berpendapat mereka seringkali merasa benar dan tidak melakukan instrospeksi (muhasabah) terhadap diri mereka.

Menanggapi komentar para haters (pembenci) yang tidak menyukai adanya non muslim yg menjadi pemimpin, saya jadi berpikir dan bertanya-tanya kenapa para haters itu tidak berkaca (muhasabah) pada diri mereka sendiri, dalam hal ini ke kelompok mayoritas Islam?

Pertama, jika seorang (pemimpin) non muslim memperoleh kemenangan dibandingkan (yang mengaku) pemimpin dari Islam, maka PERHATIKAN DAHULU KINERJA/LATAR BELAKANG/PRESTASI mereka. Tentunya kita mesti fair dan sportif dalam menilai prestasi dari masing-masing pemimpin tersebut. Tidak sulit mencari dan menemukan prestasi dari masing-masing pemimpin tersebut, terlebih lagi dengan adanya Google, yang menyimpan begitu banyak informasi dari (hampir) setiap aksi/kegiatan yang dilakukan seseorang. Untuk kasus ini, anda bisa cek prestasi yang telah dilakukan oleh Jokowi dan Ahok ketika mereka memimpin daerahnya masing-masing.

Anda takut Google mengelabui anda? Atau anda takut bahwa media massa terlalu berpihak pada Jokowi dan Ahok sehingga ada manipulasi?

Jika anda mengalami kedua hal di atas, paling gampang ya anda datang saja ke daerah asal dari Jokowi dan Ahok. Tanya saja pada masyarakat di sana tentang kinerja. Yang saya perhatikan, selama kampanye kemarin banyak juga orang2 yg memberitakan hal2 negatif tentang Jokowi dan Ahok, termasuk data bahwa Solo tambah miskin sejak dipimpin Jokowi. Padahal jika dicek, data yg digunakan adalah data usang dan menggunakan referensi ataupun tolok ukur yang berbeda.

Toh, walau mereka tahu data yg digunakan untuk menyerang Jokowi dan Ahok tidak valid, mereka akan selalu gunakan itu karena yaa mereka tidak punya data lain yg (valid) bisa digunakan untuk menyerang Jokowi dan Ahok. Walhasil, justru pada akhirnya mereka yg melakukan manipulasi.😉

Kedua, semestinya terpilihnya pemimpin non muslim membuat mereka berpikir apakah tidak ada orang Islam yg berkualitas sehingga mesti mencalonkan non muslim? Untuk kasus di DKI ini, terlihat jelas bahwa pemimpin2 Islam yang diajukan ternyata tidak bisa memenuhi harapan masyarakat akan kualitas pemimpin yg mereka inginkan. Contoh paling mudah, ada pemimpin (beragama) Islam (sebut saja X) yg saat kampanye kemarin melarang masyarakat Jakarta memilih pemimpin (beragama) Islam lain (Y) karena Y diduga korupsi dan sempat diperiksa KPK. Namun setelah X gagal maju di putaran berikutnya, lalu si X ini malah bekerjasama dengan kelompoknya Y.

Dari sikap dan tindakan ini jelas sekali terlihat kualitas X, yang semula melarang orang memilih Y yang diduga korupsi, namun kemudian malah berbalik arah (mendukung) Y di putaran berikutnya. Semestinya, tindakan paling aman, ya X tidak perlu terang2an mendukung Y. Biarkan saja masyarakat yg memilih. Blunder yg dilakukan X membuat X dan kelompoknya dicap munafik karena menjilat ludahnya sendiri.

Ketiga, apabila pemimpin yg terpilih adalah seorang perempuan, maka semestinya hal yg sama dilakukan pemimpin2 Islam, yakni mengoreksi diri sendiri (dalam kelompok Islam) apakah tidak ada pria muslim yg punya kualitas seperti itu sampai2 mesti perempuan yg terpilih? Sayangnya hal ini tidak dilakukan. Malah jika anda perhatikan, kelompok2 Islam yg semula menentang Megawati menjadi presiden RI akhirnya malah menempatkan Hamzah Haz sebagai wapresnya. So, sama seperti poin kedua, ada yg menjilat ludahnya sendiri.😦

Artikel ini menurut saya layak untuk dibaca. Saya tulis ulang di sini untuk memudahkan.

7 Kesamaan Jokowi dengan Umar bin Khatab

Umar bin Khatab tentu saja jauh lebih Mulia dan Jokowi tidak bisa dibandingkan 100% dengan Beliau, tapi di diri Jokowi saya melihat bahwa Jokowi menjalankan amanah pemerintahan mencontoh apa yang dilakukan Khalifah Umar.

1. Umar bin Khatab mengunjungi rakyat di pasar dan rumah-rumah mereka secara langsung, bukan diwakili, begitu juga Jokowi.
2. Saat mengunjungi rakyat, Umar bin Khatab tidak membawa orang untuk mengawalnya karena alasan keamanan disebabkan rasa takut. Begitu juga dengan Jokowi, karena dengan keadilannya memimpin, rakyat mencintai bukan membenci.
3. Umar bin Khatab pernah lakukan perjalanan dengan pembantunya, dengan 1 unta yang ditunggangi bergantian. Saat giliran pembantunya naik unta, mereka tiba di kota tujuan, dan orang menyangka pembantunya adalah Khalifah. Sama dengan Jokowi yang punya ajudan yang orang sangka dia yang jadi Walikota, bukan Jokowi.
4. Umar bin Khatab biasa memakan makanan/menu yang dimakan oleh rakyat miskin, Jokowi biasa makan di warteg apa adanya.
5. Umar bin Khatab biasa dikelilingi orang miskin hingga berdempetan mereka dalam duduk, Jokowi biasa berdesakan dengan rakyat dalam transportasi yang penuh sesak (kalo yang laen mah mana berani, dilingkar pertama selalu pengawal dan orang-orangnya, bukan rakyat).
6. Umar bin Khatab sebagai khalifah disediakan gaji dari Baitul Maal, tapi tidak mengambilnya. Jokowi juga begitu.
7. Umar bin Khatab memegang jabatan Khalifah bukan karena keinginan pribadi, tapi karena diajukan oleh orang lain, Jokowi maju jadi CaGub juga bukan karena ambisi pribadi mencalonkan diri, tapi karena diajukan oleh orang lain.

Ini pemimpin yang saya pribadi harapkan bisa memimpin Jakarta!!

[Update 29 September 2013]
Belakangan ini ramai diberitakan adanya gelombang protes dari ‘masyarakat’ Lenteng Agung (LA) terkait lurah yang memimpin wilayah itu. Sebagaimana diketahui, Jokowi dan Ahok melakukan seleksi untuk mencari pemimpin yg akan membantu kerja mereka dalam mengelola Jakarta. Dari hasil seleksi itu, terpilih Susan Jasmin Zulkifly, seorang perempuan beragama Kristen (non muslim) yang ditempatkan di LA sejak beberapa bulan lalu.

Alasan protes yg dilakukan oleh ‘masyarakat’ LA sebenarnya masih terkait dengan poin-poin yang saya tulis di atas, namun kali ini sifatnya ‘combo’ yakni gabungan antara perempuan dan non muslim. ‘Mantap’ kan?😉 Dari sini terlihat bahwa dari sekian banyak laki-laki muslim calon lurah yang ikut seleksi, ternyata mereka tidak memenuhi syarat sebagai seorang pemimpin sehingga ‘harus’ kalah oleh perempuan non muslim.

Saya melihat protes yg dilakukan kaum muslim sebenarnya lebay (dan tidak perlu) jika mereka mau berpikir sedikiiiiit saja serta membuka wawasan. Sebagaimana artikel saya yang lalu dan poin satu di artikel ini, mengapa mereka lebih memilih pemimpin yg (cuma) beragama Islam tapi perilakunya tidak Islami? Malah bisa dibilang tidak ada prestasi?

Jika mereka berpatokan bahwa Al Qur’an dan hadits yg menyuruh kita untuk memilih pemimpin yg Islam dan melarang memilih pemimpin non muslim, semestinya mereka mereka menyadari kriteria pemimpin Islam yg disebutkan Al Qur’an dan hadits itu seperti apa. Bukan hanya gara2 agama Islam lalu kita membabi buta memilihnya hanya karena kita menafsirkan dan memahami agama secara sepotong-sepotong.

Jika pemimpinnya beragama Islam tapi suka korupsi apakah layak dipilih? Apakah mereka memilih pemimpin seperti itu karena selama ini mereka mendapat bagian dari hasil korupsi yg dilakukan? Bagian yg dimaksud di sini tentu saja tidak langsung disebutkan bahwa uang/fasilitas yg diterima adalah hasil korupsi, tapi dengan ‘kedok’ sumbangan/hibah/hadiah, bla bla bla.

Silakan anda baca kembali artikel saya sebelumnya, bahwa ‘label’ Islam saja tidak bisa dijadikan sandaran utama seseorang dipilih, terutama di Indonesia. Hal ini dikarenakan, label Islam seringkali dijadikan pembenaran ataupun sandaran untuk melakukan hal2 yg sebenarnya bertentangan dengan Islam itu sendiri. Berapa banyak takbir yg dikumandangkan seraya merusak rumah ibadah? Atau membunuh orang-orang yg tidak sepaham?

Bahkan saya tersenyum membaca alasan yg dikemukakan para pendemo seperti pada berita ini, yang terlalu mengada-ada dan dipaksakan. Masa seorang non muslim mesti ‘dipaksa’ mengucapkan salam? Bukankah seorang muslim dilarang membalas ucapan salam dari non muslim? Saya sih melihat alasan ini bentuk halus untuk mengganti Susan, meski caranya yg saya tidak suka, (lagi-lagi) dengan menggunakan agama sebagai pembenaran.

Di artikel ini saya lebih banyak lagi memasang senyum di wajah. Susan ‘dipaksa’ ikut pengajian, dengan alasan ibu2 (pengajian) bisa ngobrol. Ya jika ingin ngobrol dengan lurah, ya datang saja ke kelurahan, ga usah (maksa) dibalik-balik. Jika anda perhatikan, jaman dahulu ulama yg datang ke Istana Presiden, meski ada juga kisah-kisah para pemimpin Islam yg tidak sungkan untuk datang dan mengunjungi para ulama. Ya, perhatikan situasi dan kondisi lah, ga usah kaku, saklek, dan lebay seperti itu. Adapun alasan bahwa Susan tidak membuat warga sejahtera, saya juga tersenyum saja. Memangnya lurah mesti bagi2 uang ke warga atau lurah mesti menyediakan lapangan kerja? Sejahtera atau tidak, ya itu mesti jadi tanggung jawab masing-masing keluarga. Sebenarnya gampang saja ‘membalikkan’ alasan ini. SBY yg Islam dan presiden toh ternyata tidak bisa membuat masyarakat Indonesia sejahtera. Masih banyak orang miskin di Indonesia. Ganti saja SBY, jika kita menggunakan logika yg sama.🙂

Saya sebenarnya penasaran dengan orang2 yg demo minta Susan mundur. Jika logika itu yg dipakai, apabila orang2 yg demo itu punya pemimpin non muslim (entah itu laki-laki/perempuan) di kantornya, apakah mereka berani demo untuk mengganti? Hehehe…

Kesimpulan dari artikel ini, jika ada orang non muslim (baik laki-laki ataupun perempuan) yg terpilih menjadi pemimpin di sebuah daerah yg mayoritas Islam mestinya disikapi dengan bijak, tidak perlu dianggap sebagai aib. Jikapun hendak dianggap aib, maka itu mesti dijadikan bahan pemikiran dan koreksi terhadap kualitas (pemimpin) laki-laki muslim yang ada. Cek kualitas, kinerja, dan akhlak pemimpin muslim yg ada. Jika dirasa ada pemimpin muslim yg bisa menandingi, maka kalahkan pemimpin non muslim di pemilihan mendatang, bukan dengan demo-demo ga jelas dengan alasan yg lebay.

Semoga bermanfaat.

2 Komentar »

  1. Mesti ngaca dulu sebelum ngritik orang lain, gituh.

    Komentar oleh Raf — September 29, 2013 @ 7:59 pm | Balas

  2. […] Lalu saya teringat dengan artikel saya mengenai wartawan ini dan artikel mengenai pemimpin muslim-non muslim (artikel ini dan ini). […]

    Ping balik oleh Dilarang Suudzon Dan Membuka Aib Sesama Muslim? | Blog Tausiyah275 — Desember 26, 2013 @ 1:27 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: