Blog Tausiyah275

Februari 5, 2014

(Ber)Apa Mahar Terbaik Untuk Pernikahan?

Bismillah,

Salah satu yang mesti disiapkan (dan juga dibicarakan) oleh pasangan yang hendak menikah adalah mahar pernikahan. Secara singkat, mahar atau mas kawin adalah sejumlah harta yg diberikan oleh (calon) pengantin pria kepada (calon) pengantin wanita pada saat pernikahan. Nominal dan jenis mahar disampaikan/diucapkan pada saat ijab kabul dan biasanya diserahkan usai prosesi ijab kabul selesai.

Pertanyaannya, berapa/apa mahar yg terbaik yg mesti disiapkan untuk pernikahan?

Mari kita rujuk beberapa referensi berikut mengenai mahar.
”Sebaik-baik perempuan adalah yang paling murah maharnya.” (HR. ibnu Hibban, Hakim, Baihaqi, Ahmad)

“Tiada sah pernikahan kecuali dengan (hadirnya) wali dan dua orang saksi dan dengan mahar (mas kawin) sedikit maupun banyak.” (HR. Ath-Thabrani)

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Di antara kebaikan wanita adalah mudah meminangnya, mudah maharnya dan mudah rahimnya.” ‘Urwah berkata, “Yaitu mudah rahimnya untuk melahirkan.” (HR. Ahmad)

“dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (An Nisa(4):24)

Dari referensi2 di atas, tidak ada rujukan resmi mengenai apa atau berapa besar mahar yg mesti disiapkan. Bahkan Rasululloh SAW mengijinkan sahabatnya, yg kekurangan materi, untuk menggunakan hafalan Al Quran sebagai mahar, sebagaimana referensi berikut:

Hadits riwayat Sahal bin Sa`ad Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
“Seorang wanita datang kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dan berkata: Wahai Rasulullah, aku datang untuk menyerahkan diriku kepadamu. Lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam memandang perempuan itu dan menaikkan pandangan serta menurunkannya kemudian beliau mengangguk-anggukkan kepala. Melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam tidak memutuskan apa-apa terhadapnya, perempuan itu lalu duduk.

Sesaat kemudian seorang sahabat beliau berdiri dan berkata: Wahai Rasulullah, jika engkau tidak berkenan padanya, maka kawinkanlah aku dengannya. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bertanya: Apakah kamu memiliki sesuatu? Sahabat itu menjawab: Demi Allah, tidak wahai Rasulullah! Beliau berkata: Pulanglah ke keluargamu dan lihatlah apakah kamu mendapatkan sesuatu? Maka pulanglah sahabat itu, lalu kembali lagi dan berkata: Demi Allah aku tidak mendapatkan sesuatu! Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Cari lagi walaupun hanya sebuah cincin besi! Lalu sahabat itu pulang dan kembali lagi seraya berkata: Demi Allah tidak ada wahai Rasulullah, walaupun sebuah cincin dari besi kecuali kain sarung milikku ini!

Sahal berkata: Dia tidak mempunyai rida` (kain yang menutupi badan bagian atas). Berarti wanita tadi hanya akan mendapatkan setengah dari kain sarungnya. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bertanya: Apa yang dapat kamu perbuat dengan kain sarung milikmu ini? Jika kamu memakainya, maka wanita itu tidak memakai apa-apa. Demikian pula jika wanita itu memakainya, maka kamu tidak akan memakai apa-apa. Lelaki itu lalu duduk agak lama dan berdiri lagi sehingga terlihatlah oleh Rasulullah ia akan berpaling pergi.

Rasulullah memerintahkan untuk dipanggil, lalu ketika ia datang beliau bertanya: Apakah kamu bisa membaca Alquran? Sahabat itu menjawab: Saya bisa membaca surat ini dan surat ini sambil menyebutkannya satu-persatu. Rasulullah bertanya lagi: Apakah kamu menghafalnya? Sahabat itu menjawab: Ya. Lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Pergilah, wanita itu telah menjadi istrimu dengan mahar mengajarkan surat Alquran yang kamu hafal.”
(Shahih Muslim no:1425)

Bahkan, dalam salah satu riwayat, disebutkan bahwa mahar pernikahan Ummu Sulaim adalah suaminya masuk Islam, sebagaimana saya kutip dari sini.

Ummu Sulaim juga tidak menerima lamaran-lamaran yang datang kepadanya sehinggalah Anas berusia cukup dewasa. Beliau kemudiannya dilamar oleh Abu Talhah Al-Anshary yang ketika mengajukan lamaran tersebut masih seorang musyrik. Ummu Sulaim dituntut untuk mempertimbangkan lamaran lelaki tersebut kerana Abu Talhah merupakan seorang yang berpengaruh di dalam masyarakat. Ketika Abu Talhah menemui beliau buat kali kedua untuk tujuan yang sama, Ummu Sulaim menjawab lamaran tersebut dengan berkata

“Wahai Abu Talhah, lelaki seperti engkau tidak layak untuk ditolak. Tetapi engkau seorang kafir, sementara aku wanita Muslimah dan tidak mungkin bagiku untuk menikahi engkau”

“ Apa yang perlu kulakukan untuk tujuan itu?” tanya Abu Talhah.

“Hendaklah engkau menemui Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam” Jawab Ummu Sulaim.

Abu Talhah segera beranjak untuk menemui Rasulullah yang ketika itu sedang duduk di tengah-tengah para sahabat. Ketika melihat kehadiran Abu Talhah, baginda Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Abu Talhah mendatangi kalian, dan tanda-tanda keislaman tampak di antara kedua matanya”. Abu Talhah memberitahu Rasulullah apa yang dikatakan Ummu Sulaim. Akhirnya, Abu Talhah memeluk Islam di hadapan baginda dan para sahabat. Beliau juga bersetuju menikahi Ummu Sulaim dengan mahar keIslamannya. Ummu Sulaim berkata kepada anaknya, “ Wahai Anas, bangkitlah dan nikahkanlah Abu Talhah”.

Tentang kisah pernikahan yang diberkati ini, Tsabit bin Aslam Al-Banany, salah seorang Tabi’in berkata, “Kami tidak pernah mendengarkan mahar yang lebih indah dari maharnya Ummu Sulaim, iaitu Islam!” (Shifatush Shafwah, 2/66; Siyar A’lamin-Nubala’, 2/29)

Referensi lain:

“Seandainya seseorang tidak memiliki sesuatu untuk membayar mahar, maka ia boleh membayar mahar dengan mengajarkan ayat Al-Qur’an yang dihafalnya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Namun, seiring perjalanan waktu dan budaya serta adat istiadat setempat, mahar bukanlah sesuatu yg se-sederhana dan se-simple seperti jaman dulu. Bahkan, konon mahar Muhammad (beliau belum menjadi Rasul dan Nabi) saat melamar Siti Khadijah pun tidaklah sesimple dan sesederhana yg beliau ajarkan dan sampaikan sebagaimana referensi2 di atas. Hewan unta sebanyak 100 ekor (dari referensi lain 20 ekor unta) diserahkan Muhammad untuk mempersunting dan menikahi Siti Khadijah.

Saya sendiri sempat tersenyum ketika ada yg mengatakan bahwa 100 (atau 20) ekor unta itu mahar Rasululloh SAW yg mesti diteladani. Dalam artian, mahar mestilah harta yg banyak. Mengapa saya tersenyum? Pertama, karena seperti saya tulis di atas, saat Rasululloh SAW menikahi Siti Khadijah, beliau BELUM menjadi Rasul dan Nabi. Dengan demikian, mahar beliau BUKAN KEWAJIBAN (ataupun sunnah) yg mesti diikuti. Kedua, Rasululloh SAW sendiri sudah memberikan referensi ttg kriteria mahar sebagaimana saya tulis di atas.

Meski demikian, saya tetap menghormati para (calon) pengantin pria yg hendak memberikan mahar yg nilainya banyak kepada istrinya.

Yang mesti diperhatikan adalah:
1. Mahar = hak istri. Apabila maharnya berbentuk harta, suami tidak boleh (dilarang) menggunakan mahar tanpa persetujuan istrinya. Kecuali mahar berbentuk sajadah atau Al Quran, suami boleh2 saja menggunakan untuk sholat atau membaca Quran.

2. Apabila suami istri bercerai dikarenakan tuntutan perceraian dari sang istri, maka istri mesti mengembalikan mahar yg pernah dia terima.
Rasulullah SAW bersabda,”Bahwa ketika istri Tsabit bin Qais Al-Anshari r.a menyatakan tidak bisa melanjutkan rumah tangga dengannya karena tidak mencintainya, dan ia bersedia menyerahkan kembali kebun kepadanya yang dulu dijadikan sebagai mahar pernikahannya. Beliau menyuruh Tsabit untuk menceraikannya, maka Tsabit pun melaksanakannya.” (HR. AL-BUKHARI).

3. Besaran mahar bisa disepakati (calon) pengantin pria dan (calon) pengantin perempuan. Intinya yg bisa dipenuhi oleh cp pria namun mengangkat harga diri dan harkat martabat cp perempuan.🙂

4. Mahar JANGAN dijadikan beban atau alasan untuk menunda pernikahan (seperti halnya resepsi).

5. Saya pernah menemui berita mengenai mahar seorang perempuan = perusahaan dan harta benda yg cukup besar. Mahar ini digunakan untuk berbisnis dan mengembangkan usahanya.

Semoga berguna.

33 Komentar »

  1. Assalamu’alaikum wr.wb pa ustadz
    Saya menikah sudah 4 tahun, namun hingga saat ini ada hal yg mengganjal dihati saya pa ustadz,mohon dibantu ya pa ustadz
    1.Untuk pernikahan kami,saya dan suami sepakat bahwa mahar yang akan diberikan oleh suami saya nantinya adalah sejumlah 40 gram emas. Uang yg sedianya akan digunakan untuk membeli emas sebanyak 30 gram (10 juta rupiah) sudah disiapkan suami,namun pada saat itu kami sedang membutuhkan biaya utk keperluan lainnya juga (seperti sewa tenda dll), kami sepakat akan membiayai pernikahan ini bersama2 antar kedua belah pihak keluarga tanpa dirinci satu persatu keluarga saya membiayai apa saja dan keluarga suami membiayai apa saja,jadi sambil berjalan sambil dibayar seadanya uang.suami saya menanyakan lewat telpon akan diapakan uang untuk mahar tersebut? Krn keperluan sewa tenda mendesak maka saya ikhlas menggunakan uang mahar untuk menyewa tenda (anggapan saya itung2 membantu meringankan biaya pernikahan dgn uang mahar yg akan saya terima).pada saat ijab kabul,suami saya menyebutkan jumlah mahar sebesar 40 gram yg terdiri dari 30 gram (senilai/setara 10 juta namun uangnya sudah digunakan duluan) ditambah 10 gram cincin kawin (dan saat ini kedua cincinnya menjadi hak saya).yang ingin saya tanyakan.
    1.apakah pernikahan saya sah pak ustadz sebab nilai mahar yang disebutkan 40 gram emas, sesungguhnya barangnya yg benar2 ada hanya sebesar 10 gram cincin kawin, sedangkan nilai 30 gram (tidak jd dibelikan emas tp uangnya 10 juta digunakan sebelum nikah untuk sewa tenda).
    2.saya benar telah merelakannya pa ustadz namun apakah adakah kewajiban suami saat ini untuk mengganti yg 30 gram emas tersebut (saya tidak menuntutnya pa ustadz).
    3.Haruskah ijab kabulnya di ulang pa ustadz,karena lafadz 40 gram tidak sama dengan jumlah real barangnya yg ada saat ijab kabul?
    Mohon pencerahannya pa ustadz agar pernikahan saya bisa saya jalankan dengan hati yang tentram. Terimakasih banyak sebelumnya pak ustadz semoga kehidupan pa ustadz sekeluarga bertambah berkah dan bermanfaat.amin
    Assalamualaikum wr.wb

    Komentar oleh nia — Februari 7, 2014 @ 8:53 pm | Balas

    • wa’alaykumsalam wr wb.

      mbak Nia, saya akan coba bantu semampu saya.

      mahar yg sah adalah mahar yg diucapkan oleh suami mbak Nia.
      apabila hasil kesepakatan (sebelum menikah/ijab kabul) adalah 40 gram, namun ternyata hanya bisa menyediakan 10 gram, maka coba diingat2 lagi, apa yg diucapkan suami anda saat ijab kabul.

      jika menyebutkan mahar sebesar 40 gram emas, maka suami anda MESTI memenuhi mahar tersebut.
      masalah anda tidak menuntut, itu hal lain lagi. namun, dari sisi rukun menikah, suami mesti memenuhi/menyamakan antara mahar dengan ucapan dia saat ijab kabul.

      tidak perlu dilakukan ijab kabul ulang, selama suami anda bisa memenuhi sisa mahar.

      demikian, semoga anda dan suami bisa membentuk keluarga yg sakinah ma waddah wa rahmah, aamiin.
      terima kasih doanya, semoga keluarga anda juga demikian.

      wa’alaykumsalam wr wb

      Komentar oleh Tausiyah 275 — Februari 12, 2014 @ 8:52 am | Balas

    • Assalamualaikum waroh matullah pak ustad
      Saya mau bertanya,maharkan yang menentukan tapi dri pihak cp laki laki ada niatan menambhkan mahar dengan bacaan al quran gimana hukum secara islam pak ustad.terimakasih sebelumnya
      Wasalamualaikum wr.wb

      Komentar oleh arifin — Mei 15, 2016 @ 10:58 am | Balas

    • Assalamualaikum waroh matullah pak ustad
      Saya mau bertanya,maharkan yang menentukan dri pihak cp perempuan tapi dri pihak cp laki laki ada niatan menambhkan mahar dengan bacaan al quran gimana hukum secara islam pak ustad.terimakasih sebelumnya
      Wasalamualaikum wr.wb

      Komentar oleh arifin — Mei 15, 2016 @ 11:13 am | Balas

  2. Ass. Wr,wb Pak ustad

    Pak saya sdh menikah 3bln
    Dan pd saat menikah mahar yg digunakan saya yg membeli na,, dan menggunakan uang pribadi saya sendiri,,
    Yg saya mw tanyakan apa pernikahan saya sah pak ustad,,
    Krn menurut sebagian orang yg saya tanya itu tdk sah…

    Mohon pencerahan na pak ustad

    Komentar oleh lia — September 1, 2014 @ 8:27 am | Balas

    • wa’alaykumsalam wr wb.

      mbak Lia, sebenarnya mahar itu kesepakatan anda dg suami. jika anda tidak keberatan membeli mahar dg uang anda, ya tidak masalah.

      sepemahaman saya, tidak ada kaitan asal mahar dg sah/tidaknya pernikahan.

      namun, memang lebih baik apabila laki2 yg memberi mahar,seberapapun besarnya asal hasil sendiri. kecuali, seperti saya tulis di atas, anda ikhlas utk membantu dia menyiapkan mahar.

      demikian.

      Komentar oleh Tausiyah 275 — September 1, 2014 @ 5:23 pm | Balas

  3. Sya mau bertanya..
    Seandainya mahar yang diberikan kepada calon pria terhadap calon wanita sebesar 1 juta.
    Maka apakah setelah sah menjadi suami istri.,
    Sang suami wajib nafkah sang istri senilai 30 juta setiap bulannya.
    Catatan
    Berarti dalam 1 hari suami harus memberi nafkah seharga mahar tersebut….???
    Mohon diberi tahu jawabannya

    Komentar oleh chandra — September 8, 2014 @ 5:46 pm | Balas

    • mas Chandra,

      mahar itu TIDAK ADA hubungannya dg besar/nilai nafkah suami ke istri🙂

      bisa saja ada yg memberi mahar sebesar 100 gram emas + uang tunai Rp 10 juta + peralatan sholat, namun nafkah (gaji) yg diberikan ke istri tiap bulan ternyata Rp 5 juta.

      tapi ada juga yg memberi mahar ‘hanya’ Rp 17 ribu, namun ternyata memberi nafkah sebesar Rp 20 juta/bulan. (ini benar-benar terjadi)

      jadi, TIDAK ADA HUBUNGAN mahar dengan nafkah yg diberikan.

      demikian

      Komentar oleh Tausiyah 275 — September 9, 2014 @ 5:08 am | Balas

  4. Assalamu’alaikum Ustad, saya ingin bertanya tentang mahar. Apabila saya menginginkan mahar berupa barang dan non-barang [bacaan al qur’an], kapankah mahar beupa bacaan al qur’an tersebut ditunaikan? apakan setelah ijab qobul atau sebelumnya? apakah pembacaannya di hadapan semua orang yang hadir pada saat ijab qobul, atau hanya di hadapan saya? Mohon penjelasannya. Syukron.🙂

    Komentar oleh Conny Mulia — September 25, 2014 @ 6:18 am | Balas

    • wa’alaykumsalam wr wb.

      mbak Conny, untuk bacaan Al Qur’an sebagai mahar bisa dilakukan saat ijab qabul ataupun setelahnya.

      jika ayatnya pendek/sedikit bisa dilakukan saat ijab qabul, seperti yg saya lakukan pada saat menikah dulu.

      namun jika ayatnya panjang/banyak,terlebih bila maharnya minta suami membacakan 1 Al Qur’an (mengkhatamkannya) jelas tidak mungkin dilakukan pada saat ijab qabul.🙂

      yg mesti diperhatikan, pastikan sang suami memenuhi mahar membaca ayat ini.

      demikian

      Komentar oleh Tausiyah 275 — September 25, 2014 @ 6:22 am | Balas

  5. Assalamu’alaikum wr.wb pa ustadz

    Saya ingin bertanya, saya ingin melakukan pernikahan INSHAALLAH feb tahun depan, dan mahar nya beruba uang 1.022.014 yang di hias. dan harga setelah di hias menjadi -+ Rp 2.500.00
    Pertanyaan saya, pada saat ijabkobul nanti jumlah mana kah yang seharusnya di sebutkan oleh calon suami saya? jumlah uang yg di hias atau harga keseluruhan pada saat membeli mahar yg di hias tersebut. mohon penjelasnnya ya pak🙂
    Terimakasih.

    Komentar oleh Maya Renya — Oktober 28, 2014 @ 9:48 am | Balas

    • Wa’alaykumsalam wr wb.

      mbak Maya, saya ikut bersuka cita dengan rencana pernikahan anda.
      Semoga anda dan suami bisa membangun keluarga dan rumah tangga yang sakinah ma waddah wa rahmah. aamiin.

      mahar yg disebut oleh suami anda adalah yang 1.022.014, bukan yg setelah dihias.

      Demikian

      Komentar oleh Tausiyah 275 — Oktober 31, 2014 @ 3:06 pm | Balas

  6. boleh tidak jika maskawin d pakai oleh suami

    Komentar oleh nanda — November 3, 2014 @ 1:59 pm | Balas

    • boleh, asal seijin dan diikhlaskan oleh istrinya (penerima mahar).

      demikian

      Komentar oleh Tausiyah 275 — Maret 3, 2015 @ 2:26 am | Balas

  7. […] (ber)apa mahar terbaik untuk pernikahan? | blog tausiyah275 […]

    Ping balik oleh Hijab Qobul | Harzan Blog — November 4, 2014 @ 7:03 am | Balas

  8. Assalamualaikum Pak,,,,jika mahar yang diberikan suami kepada istri adlah sebuah motor berarti suami tidak boleh memakai motor tersebut?

    Komentar oleh Ahmad Kanan — Desember 12, 2014 @ 5:34 pm | Balas

    • Assalamu’alaikum

      Saya mau bertanya Pak. Apakah boleh mahar yg diberikan kepada saya di minta oleh org tua atau keluarga saya untuk kepentingan mereka setelah ijab qobul? Apa hukumnya?

      Komentar oleh funny2402 — Januari 6, 2015 @ 4:33 am | Balas

      • Kalau Setahu sya mbak tergantung mbaknya ihklas gax

        Komentar oleh isg92ad — Januari 6, 2015 @ 4:29 pm

      • wa’alaykumsalam wr wb

        boleh jika diijinkan (dan diikhlaskan) oleh penerima mahar.

        jika tidak diijinkan/dibolehkan,tapi tetap memaksa, maka hukumnya dzalim.

        demikian

        Komentar oleh Tausiyah 275 — Maret 3, 2015 @ 2:19 am

    • Wa’alaykumsalam wr wb,

      Tentu saja diperbolehkan memakai motor tersebut. Yang tidak boleh, mengakui motor tersebut sebagai milik anda lalu menjual kepada orang lain tanpa sepengetahuan/keikhlasan istri anda.

      Demikian

      Komentar oleh Tausiyah 275 — Maret 3, 2015 @ 2:22 am | Balas

  9. assalamualaikum pak ustad,,, tahun ini saya merencanakan akan menikah. yang saya mau tanyakan apakah boleh kalau seserahan itu dibeli pakai berdua?

    Komentar oleh siti — Januari 15, 2015 @ 3:32 pm | Balas

    • wa’alaykumsalam wr wb

      untuk seserahan boleh dibeli menggunakan uang anda berdua,Mbak Siti.

      demikian

      Komentar oleh Tausiyah 275 — Maret 3, 2015 @ 2:17 am | Balas

  10. assalamualikum pak ustad sebagai pria,sebaiknya, berapa saya memberi mahar kepada calon saya?

    Komentar oleh Elya Titiez Oktora — Maret 31, 2015 @ 7:02 pm | Balas

  11. Ass ustadz…
    Saya ingin bertanya…
    Rencana nya pacar saya ingin melamar saya ditahun ini…… tetapi… dalam lamaran calon saya membawakan uang dan barang seseraham laiNnya.. yg saya tanyakan… uang lamaran itu dipakai untuk kluarga saya acara resepsi pernikahan atau untuk saya (calon pengantin Perempuan) sebagai membeli barang-barang keperluan setelah menikah nanti?
    Tetapi… calon saya tidak ingin uang lamaran untuk dipakai acara resepsi.. bahkan untuk membeli keperluan nanti setelah menikah… dan uang acara resepsi iti diperoleh dr orangtua saya… calon saya maunya seperti itu… bagaimana ustadz sebaiknya…
    Tolong di jawab ya… trims…
    Walaikumsalam wr.wb.

    Komentar oleh Desi — April 5, 2015 @ 6:55 pm | Balas

  12. Assalammualaikum Pak Ustadz,
    Saya ingin bertanya dengan perumpamaan.
    Jika ada lelaki memberikan mahar kepada perempuan 30 gram emas NAMUN 10gram emas tersebut 24 karat dan sisanya (20gram emas) dibawah 24 karat. Dalam pengucapan “dengan mas kawin…..” apakah diucapkan totalnya saja (30 gram) atau dirincikan dengan karatnya (10gram 24 karat dan 20 gram 23 karat)?
    Lalu misalnya 10 gram tersebut dijadikan cincin untuk perempuan, apakah harus dijelaskan juga bahwa 10 gram tersebut berupa cincin?
    mohon pencerahannya.

    Terima Kasih

    Komentar oleh destrisaydi — April 13, 2015 @ 11:42 am | Balas

  13. ASSALAMUALAIKUM
    Pak ustadz saya ingin menanyakan perkara mahar. Calon suami saya hanya mampu 20juta sementara orang tua saya maunya 30 juta. Apakah saya durhaka kepAda orang tua kalau saya ikhlas dengar mahar 20 juta?
    Saya dari suku batak, karena mahar merupakan.sesuatu hal yg penting di adat.Kami makanya orang ibu saya bersikeras mahar saya harus 30juta.
    Pak ustadz mohon nasihatnya,
    Apakah saya durhaka kalau saya terima mahar 20juta?
    Apakah pernikahn kami berkah ?
    Mohon di balas ustadz.

    ASSALAMUALAIKUM warohmatullah hiwabarohkatuh

    Komentar oleh yanthi — Juni 9, 2015 @ 9:27 pm | Balas

  14. Saia dan calon suami udh sepakat dg mahar 15 mayam berhubung Kmi tggl d aceh dsni emas tidak d sebut per gram tp per mayam. Tp org tua saia tidak setuju dg mahar yg kami sepakati, dikarenakan org tua saia memikirkan omongan orang. Malu jika maharnya cuma 5 mayam yg saya pakai, krn rncn org tua saya yg 10 mayam lagi mau org tua saia jual utk biaya pernikahan. Disisi lain pihak dr calon suami keberatan jika maharny harus d tambah. Karena persoalan mahar ini saya dan calon suami bingung, sehingga utk menuju pernikahan kami masih terhambat. Orang tua saya sangat2 keras, tidak bisa kita ajak utk berdiskusi. Dia hanya ingin didengar pendapatnya saja. Apa yg harus saya perbuat agar masalah ini segera selesai, dan menemukan solusi terbaikny.
    Trims

    Komentar oleh Widya — Oktober 14, 2015 @ 9:27 am | Balas

  15. Assalamualaikum pak Ustad
    Saia dan calon suami udh sepakat dg mahar 15 mayam berhubung Kmi tggl d aceh dsni emas tidak d sebut per gram tp per mayam. Tp org tua saia tidak setuju dg mahar yg kami sepakati, dikarenakan org tua saia memikirkan omongan orang. Malu jika maharnya cuma 5 mayam yg saya pakai, krn rncn org tua saya yg 10 mayam lagi mau org tua saia jual utk biaya pernikahan. Disisi lain pihak dr calon suami keberatan jika maharny harus d tambah. Karena persoalan mahar ini saya dan calon suami bingung, sehingga utk menuju pernikahan kami masih terhambat. Orang tua saya sangat2 keras, tidak bisa kita ajak utk berdiskusi. Dia hanya ingin didengar pendapatnya saja. Apa yg harus saya perbuat agar masalah ini segera selesai, dan menemukan solusi terbaikny.
    Trims

    Komentar oleh Widya — Oktober 14, 2015 @ 9:29 am | Balas

  16. Asalamualaikum,, klo istri apakah boleh menjual mahar tanpa seijin suami / tidak ijinkan suami

    Komentar oleh elma — Maret 2, 2016 @ 11:58 am | Balas

  17. Assalamualaikum pak ustad
    Mau tanya..
    Saya belom nikah,tp mau lamaran dulu,nah ketika saya lamar hendak membawa apakah saya ? Uang? Emas? Atau apa pak ustad? Mohin penjelasannya,terimakasih..

    Komentar oleh Tio — April 16, 2016 @ 2:45 pm | Balas

  18. Assalamu’alaikum wr.wb. Pak Ustadz saya mau bertanya. Apakah sah pernikahan jika mahar yang di sebutkan sa’at akad lebih sedikit dari realnya. Misalnya yang di sebutkan 100 ribu akan tetapi bentuk mahar realnya lebih dari 100 ribu. Karena waktu itu maharnya akan di bentuk model gambar. Belum selesai membentuknya tetapi sudah di tanyain nominalnya sama Petugas KUA buat di tulis di buku nikah. Yg saya tanyakan apakah sah pernikahan saya jika lebih besar realnya dari pada yg di sebutkan. Terima kasih Pak ustadz semoga niat ibadah (menikah) saya di lancarkan Insya Allah tgl 16 Mei 2016, dan di beri kebahagiaan dan buat Pak ustadz juga semoga selalu di beri keberkahan Amin. Wa’alaikum salam wr.wb.

    Komentar oleh Depy — Mei 1, 2016 @ 9:39 pm | Balas

  19. bikin cincin perak,paladium,platina dan emas buat pernikahan pertunangan
    http://www.cincinkawinsan950.com/

    Komentar oleh cincinkawincustom — Juni 6, 2016 @ 6:43 pm | Balas

  20. F*ckin’ awesome things here. I’m very happy to look your article. Thank you so much and i’m looking forward to contact you. Will you please drop me a mail?

    Komentar oleh Shanice Nolin — November 28, 2016 @ 5:40 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: