Blog Tausiyah275

Februari 7, 2014

Imlek, Antara Tradisi (Budaya) Atau Ritual (Agama)

Filed under: Aqidah,Ensiklopedia Islam,Fiqh,Hikmah,HOT NEWS,Lain-lain,Seri Kesalahan2 — Tausiyah 275 @ 8:02 pm

Bismillah,

Jadi, sekarang di Indonesia muncul lagi 1 topik zombie (yg akan selalu bangkit dan muncul lagi) tiap tahun. Topik zombie yg saya maksud adalah mengenai Imlek. Tidak sedikit terjadi adu argumen antar tokoh agama Islam, yg sama2 mengklaim dirinya lebih benar dari tokoh yg lain. Ujung2nya umat dibuat bingung, apalagi umat muslim yg keturunan Cina.

Perbedaan dan adu argumen terjadi karena masing2 pihak menggunakan referensi yg berbeda. Jadi wajar ada perbedaan.🙂

Bagi yg anti perayaan Imlek, referensi yg digunakan adalah pernyataan bahwa imlek terkait agama (Kong Hu Cu), sebagaimana pernyataan di bawah ini (saya kutip dari sini).

“Hari permulaan tahun (Liep Chun) jadikanlah sebagai Hari Agung untuk bersembahyang besar kehadirat Thian, karena Maha Besar Kebajikan Thian. Dilihat tiada nampak, didengar tiada terdengar, namun tiap wujud tiada yang tanpa Dia” (Tiong Yong XV : 1-5).
(Lihat Hendrik Agus Winarso, Mengenal Hari Raya Konfusiani, [Semarang : Effhar & Dahara Prize, 2003], hal. 60-61).

Penulis buku tersebut lalu menyimpulkan Imlek adalah bagian ajaran Khonghucu. Beliau mengatakan :

“Dengan demikian, menyambut Tahun Baru bagi umat Khonghucu Indonesia mengandung arti ketakwaan dan keimanan.” (ibid.,hal. 61).

Yang anehnya, mereka justru menolak dan tidak mau menerima pendapat dari Perhimpunan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) yg hendak merayakan imlek karena BUKAN dan TIDAK ADA kaitan dengan agama Kong Hu Cu. Karena sebenarnya imlek berkaitan dengan tradisi orang Tionghoa dalam memperingati pergantian musim.

Saya awalnya termasuk yg tidak peduli dg perayaan imlek terkait agama atau tidak, sehingga cenderung tidak ambil pusing bahkan lebih memilih hati-hati dengan menghindari perayaan imlek karena takut ada unsur akidah terkait di dalamnya. Namun, jika kita merujuk pada kebudayaan dan adat orang Cina/Tionghoa yg begitu menghormati adat istiadat leluhur, maka upaya ‘mencabut’ orang Cina/Tionghoa dari akar budayanya dg melarang dan mengharamkan imlek jelas bukan cara yg bijak juga.

Bisa dibayangkan jika kaum ulama lantas mengharamkan juga wayang kulit dan wayang golek karena tidak sesuai dengan ‘Islam’ (baca: budaya Arab) karena tidak ditemukan atau dicontohkan Rasululloh SAW, para sahabat, dan ulama2 terdahulu. Padahal dengan wayang kulit dan wayang golek, para Wali Sanga bisa menyebarkan Islam dengan cara yg baik (tidak frontal/adu fisik).

Dengan analogi seperti di atas, beberapa ulama menyatakan bahwa perayaan imlek bukanlah suatu bentuk ritual sehingga umat Islam (terutama yg keturunan Cina) boleh saja merayakannya. Apalagi jika imlek dirayakan dengan cara yg selaras (tidak menyimpang) dari akidah, sebagaimana yg dilakukan kaum muslim Tionghoa di Semarang ini.

Bahkan saya pernah temui sebuah acara perayaan imlek yg diisi dengan menyanyikan lagu2 bertema Islami dan menampilkan grup nasyid.

Dalam pandangan beberapa ulama, ini adalah salah satu cara dakwah, sebagaimana yg pernah dilakukan oleh Wali Sanga. Dakwah yg dilakukan adalah dakwah mengajak masyarakat sekitar (terutama orang Cina) untuk masuk ke Islam dengan baik. Anda bisa baca mengenai hal ini di situs ini. Anda juga bisa mengunjungi situs PITI DKI untuk mendapatkan informasi yg lebih lengkap mengenai sepak terjang kaum muslim Tionghoa di Indonesia.

Sebagaimana saya pernah bahas di sini, umat muslim Indonesia terlalu berkiblat ke Arab dan menjadikan (budaya) Arab di atas segala2nya. Padahal sudah jelas2 ALLOH SWT menyatakan “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al Hujurat(49):13).

Sepengetahuan saya, tidak pernah ALLOH SWT dan/atau Rasululloh SAW menyatakan semua muslim mesti menyerupai orang Arab, termasuk budayanya.🙂

Saya berpendapat bahwa merayakan imlek menjadi haram/terlarang (bagi umat muslim) jika mereka melakukan hal-hal berikut:
– mempercayai shio atau astrologi atau ramalan, karena haram hukumnya umat muslim percaya zodiak/shio/astrologi.
– ikut serta ibadah di klenteng
– melakukan judi (yg memang salah satu budaya orang Cina)
– mabuk-mabukan (ini juga termasuk dalam budaya Cina)
– terlalu asyik mengikuti dan merayakan imlek sehingga melupakan/meninggalkan waktu sholat wajib

Anda juga bisa membaca karya ilmiah mengenai perayaan imlek oleh komunitas Cina Muslim di Surabaya serta penjelasan ustad Surya Madja ttg imlek di sini.

Semoga bermanfaat.

1 Komentar »

  1. Lima belas hari sesudah Imlek dilakukan sebuah perayaan yang disebut dengan Cap Go Meh. Masyarakat keturunan Cina di Semarang merayakannya dengan menyuguhkan lontong Cap Go Meh yang terdiri dari lontong, opor ayam, lodeh terung, telur pindang, sate abing, dan sambal docang. Sementara di Jakarta, menunya adalah lontong, sayur godog, telur pindang, dan bubuk kedelai.

    Komentar oleh Lupe Battle — Februari 8, 2014 @ 3:45 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: