Blog Tausiyah275

Maret 22, 2014

Pengertian Masa Iddah

Filed under: Ensiklopedia Islam,Fiqh,Munakahat — Tausiyah 275 @ 11:39 am

Bismillah,

Jika pernikahan adalah cara untuk mempertemukan dan menyatukan 2 insan (berbeda kelamin), maka sudah sunnatullah, tentu ada perceraian/talak/perpisahan.

Saya sudah pernah menulis tentang perceraian di Islam. Saat itu saya belum sempat memberikan penjelasan tambahan terkait dengan perceraian, yakni masa iddah. Di artikel ini, saya akan berusaha menjelaskan hal tersebut.

Yang dimaksud masa iddah adalah rentang waktu tertentu yg mesti dijalani oleh seorang perempuan, sebelum dia bisa/boleh menikah lagi dengan laki-laki lain. Rentang waktu masa iddah tidak sama, bergantung pada penyebab/jenis perceraian yg terjadi.

Beberapa dalil menyatakan bahwa masa iddah MESTI dilakukan oleh seorang perempuan yg baru bercerai.
Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) itu menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al Baqarah(2):228)

“Dari Ummu Salamah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya seorang wanita dari Aslam bernama Subai’ah ditinggal mati oleh suaminya dalam keadaan hamil. Lalu Abu Sanâbil bin Ba’kak melamarnya, namun ia menolak menikah dengannya. Ada yang berkata, “Demi Allâh, dia tidak boleh menikah dengannya hingga menjalani masa iddah yang paling panjang dari dua masa iddah. Setelah sepuluh malam berlalu, ia mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menikahlah!” (HR al-Bukhâri no. 4906)

Sebenarnya, apa sih manfaat ada masa iddah?
Bagaimana jika si istri sudah (maaf) tidak tahan menyendiri dan sudah ada calon pengganti?

Islam menetapkan masa iddah adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri. Manfaat masa iddah:
1. Untuk tahu apakah perempuan tsb hamil/tidak setelah bercerai. Jika ya, maka ketahuan ayah biologisnya. Jangan lupa, jika anaknya ternyata perempuan, maka (jika masih hidup) dia mesti menjadi wali saat anaknya menikah. Selain itu untuk mencegah terjadinya incest, pernikahan sedarah (dari ayah yg sama).

2. Pernikahan adalah hal yg suci. Meski sudah punya calon suami pengganti, hendaknya bersabar dan tidak tergesa-gesa. Apalagi jika perpisahan terjadi karena bercerai, lalu menikah buru2 dan ternyata bercerai lagi. Repot kan?

3. Perempuan yg hamil saat bercerai, maka dia mesti mendapat nafkah dari mantan suaminya, hingga si anak lahir.

Berikut ini rincian rentang waktu masa iddah.

1. Apabila suami meninggal.
a. Jika perempuan tersebut hamil, maka masa iddahnya = hingga bayi melahirkan.
“Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya) maka iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu idah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (Ath-Thalaq(65):4)

b. Sedangkan apabila tidak hamil, maka masa iddahnya = 4 bulan 10 hari.
Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (beridah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis idahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (Al Baqarah(2):234)

2. Apabila bercerai, dibagi menjadi cerai yg bisa rujuk (talak 1& talak 2) serta cerai yg tidak bisa rujuk (talak 3). Inipun dibagi lagi menjadi yg masih haid ataupun sudah tidak haid (tua).
a. Untuk kasus bisa rujuk dan masih haid, masa iddahnya = 3 kali haid.
Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) itu menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al Baqarah(2):228)

b. Kasus bisa rujuk dan tidak haid, masa iddah = 3 bulan.
Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya) maka iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu idah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (Ath-Thalaq(65):4)

c. Bisa rujuk dan sedang hamil, masa iddah = melahirkan bayi.
“Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya) maka iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu idah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (Ath-Thalaq(65):4)

d. Tidak bisa rujuk (talak 3), maka masa iddahnya hanya 1 kali haid (~ 1 bulan).

e. Jika istri yg menggugat cerai, maka masa iddahnya = 1 bulan (~ 1 bulan).
Dari Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu bahwa istri Tsabit bin Qais menggugat cerai dari suaminya pada zaman Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk menunggu sekali haidh. (HR Abu Dâud dan at-Tirmidzi dan dishahihkan oleh syaikh al-Albâni dalam Shahîh Sunan Abu Dâud no.1 950).

Demikian, semoga bermanfaat.

6 Komentar »

  1. […] Rujuk usai talak 1 dan 2 bisa dilakukan dengan cara: 1. Suami menyatakan/berbicara ingin rujuk kepada istri. Demikian juga sebaliknya. 2. Berhubungan badan (hanya berlaku jika masih DALAM MASA IDDAH) […]

    Ping balik oleh Bagaimana Cara Rujuk? | Blog Tausiyah275 — Juli 7, 2014 @ 11:55 am | Balas

  2. Bagaimana jika sudah ditalak 1, lalu suami ingin mengajak rujuk akan tetapi sudah lewat dari masa iddah (karena tugas di luar kota) ?
    Terima kasih.

    Komentar oleh Susi Widyawati — Juli 24, 2014 @ 12:24 am | Balas

    • jika sudah lewat masa iddah, maka mesti akad nikah ulang, mbak Susi.

      demikian

      Komentar oleh Tausiyah 275 — Juli 24, 2014 @ 8:41 am | Balas

  3. Jika suami brkata..ya sudah skrg kita sndri” saja apa itu sudah termasuk talak?

    Komentar oleh hamba allah — Januari 19, 2015 @ 3:28 am | Balas

  4. jika suami meninggal istrinya tanpa ada alasan yang jelas (pergi dari rumah) maka apa itu sudah termasuk talak?

    Komentar oleh hamba allah — Februari 14, 2015 @ 1:15 pm | Balas

  5. Ass. Pak Ustad…saya mau tanya banyak hal tentang keluarga saya…
    1. Suami saya pernah marah besar kesaya saat dia minta saya untuk pinjam uang ke kantor untuk beli mobil..kalau tidak dipinjamkan saya diancam diceraikan. padahal kondisi saya sedang hamil.
    2. Setelah saya pinjam kantor.cicilan kita bayar ber-2. dan mobil sudah dibeli akan tetapi suami saya karena orangnya lagi emosi dia main gila dengan pelacur dan membawa pelacur itu tidur di rumah saya sendiri (zina) sedangkan waktu itu saya lagi ke rumah orang tua saya.
    3. Setelah dia ketahuan sselingkuh saya selalu emosi dan saya selalu minta cerai dan suami saya slalu blg iya…saya ribut terus terus dan terus…sampai sekarang juga saya ribut minta cere….sampai suami dan saya emosi minta cere…

    yang saya tanyakan itu sah gak yah pak’ karena saya minta cerai dalam keadaan emosi bgt karena terpukul atas kelakuan suami saya dan suami saya juga tertekan dengan omelan saya…

    Komentar oleh lia — September 22, 2016 @ 4:35 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: