Blog Tausiyah275

April 2, 2014

Pelajaran Hidup Mengenai Sabar, Sedekah, Dan Tawakal

Filed under: Hikmah,HOT NEWS — Tausiyah 275 @ 7:36 am

Bismillah,

Sebuah cerita yang menarik saya terima beberapa waktu lalu dari seseorang, sebut saja namanya mas Bowo.

Mas Bowo sudah berencana untuk pindah pekerjaan sejak beberapa bulan lalu. Di tempat kerjanya sekarang, mas Bowo sudah cukup nyaman bekerja. Lokasi kantor cukup dekat dengan rumah dan melawan arah sehingga tidak perlu ‘mencicipi’ kemacetan seperti kebanyakan penduduk DKI Jakarta. Selain itu, dia punya rekan kerja yang menyenangkan dan kooperatif. Namun faktor ekonomi menjadi penyebab utama mas Bowo berikhtiar mencari tawaran yg lebih baik.

Singkat kata mas Bowo memasukkan cv dan wawancara di beberapa tempat. Ada satu kantor yg menarik bagi dia. Selain memberikan tawaran yg lebih baik, juga suasana kerjanya cukup menyenangkan, setidaknya menurut dia. Dia pun lantas memperbanyak doa agar diterima di kantor (sebut saja kantor D).

Usai wawancara di D, mas Bowo ditelpon HRD-nya, bahwa mereka akan mengabari dan mengkonfirmasi penerimaan mas Bowo dalam waktu 1 minggu. Kian senanglah mas Bowo, hatinya kian senang dan berharap diterima di kantor D.

Namun ternyata nasib berkata lain. Setelah seminggu dilalui, tidak ada kabar dari HRD dari kantor D. Dua minggu…1 bulan pun berlalu tanpa kabar dari kantor D.

Tak heran mas Bowo langsung pasrah dengan kondisi ini. Dia yakin bahwa ALLOH SWT akan memberikan hal terbaik baginya. Dan kali ini diapun yakin dengan hal itu. Meski dia senang dengan kondisi&tawaran kantor D, tapi jika menurut ALLOH SWT memang bukan terbaik, maka tidak akan diberikannya.

Mas Bowo cerita, bahwa dia tetap terus berdoa dan berdoa, meski saat berdoa seringkali berganti perasaannya, antara (masih) berharap diterima di kantor D, sedih karena tidak ada kabar dari kantor D, berharap mendapat pengganti yg lebih baik dari kantor D. Berdoa-nya pun kadang semangat, kadang agak malas2an.

Hingga suatu waktu, mas Bowo sarapan bubur di dekat kantornya. Seraya makan bubur, mas Bowo berbincang dg tukang bubur (TB) yg belakangan ini jarang berjualan. Ternyata menurut TB, penyebab dia jarang berjualan adalah dia mesti pulang kampung dikarenakan istrinya sakit tumor di dekat rahim. Diperlukan operasi, yang mas Bowo yakin butuh biaya tidak sedikit. Diangkatlah tumor seberat 5 kg lebih. Saat ini kondisi istrinya sudah membaik dan sudah pulang. Itu sebabnya TB bisa berjualan kembali.

Saat berbincang dengan TB, mas Bowo diingatkan kembali peran dan manfaat SABAR. “Saya selalu sabar, mas, dengan kondisi istri saya. Saya yakin segala sesuatunya sudah diatur ALLOH SWT dan kita tidak perlu tergesa-gesa untuk memintanya.”

Ucapan ini mengingatkan mas Bowo bahwa dirinya perlu lebih banyak bersabar dengan kondisi yg dia terima dan jalani, se-tidak suka apapun kondisinya. Perbincangan ini juga menggerakkan hati mas Bowo untuk memberikan sebagian hartanya, bersedekah kepada TB, meski istrinya sudah pulang dari rumah sakit, toh dia yakin TB sudah keluar biaya yg tidak sedikit utk pengobatan istrinya.

Selang beberapa hari kemudian, mas Bowo meneguhkan hati untuk memberikan sedekah. Sejumlah uang dia masukkan ke dalam amplop.

Seperti biasa, dia sarapan bubur. Namun kali ini usai makan bubur dan membayar 1 mangkuk bubur, mas Bowo menyelipkan amplop kepada TB. “Pak, saya titip sebagian harta saya untuk membantu istri Bapak. Mungkin tidak banyak, tapi semoga bermanfaat.” Sebelum TB sadar dari kekagetannya, mas Bowo bilang dia segera pergi menjauh.

Kehidupan terus berlalu. Mas Bowo menjalani aktivitasnya seperti biasa. Pergi ke kantor dan menyelesaikan tugas2nya. Di sore hari, ada telpon masuk dari nomor yg tidak dikenal. Meski agak malas, karena takut telemarketer yg menelpon dan dia sedang tidak ingin beramah tamah, toh mas Bowo mengangkat panggilan itu.

Usai bercakap-cakap sejenak, raut muka mas Bowo langsung berubah. Ternyata telpon itu berasal dari kantor D! HRD-nya menelpon mas Bowo, menginformasikan bahwa kantor D menerima dia sebagai pegawai di kantor itu!

Mas Bowo cerita, usai percakapan dg HRD yg mendebarkan hatinya itu, dia langsung pecah tangisnya. Air mata meleleh dari sudut matanya. Teringat dia dengan interaksi dengan TB, mengenai sabar dan sedekah yg dia lakukan.

Ternyata dia memang sedang diuji kesabarannya oleh ALLOH SWT. Disuruh-Nya mas Bowo untuk bersabar hingga pada batas yg mas Bowo sendiri tidak bisa bayangkan. Dan ALLOH SWT gerakkan hati mas Bowo untuk bersedekah, yang ternyata dibalas dengan uang gaji yg besarnya puluhan kali lipat dari nilai sedekahnya.

Dan akhirnya mas Bowo mendapat lagi pelajaran hidup mengenai sabar, sedekah, dan tawakal. Sabar untuk menjalani hidup dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Bersedekah sebagai tindakan nyata membantu sesamanya. Dan tawakal (dengan berusaha sebenar-benarnya tawakal) sebagai langkah nyata sebagai hamba ALLOH SWT untuk berikhtiar secara maksimal, berdoa secara khusyuk dan segenap jiwa, serta menyerahkan hasilnya kepada ALLOH SWT.

Semoga cerita mas Bowo ini bisa menjadi hikmah bagi kita semua. Aamiin.

1 Komentar »

  1. […] kita selalu bersabar dan tawakal (yang benar) dengan segala musibah/peristiwa duka yg kita alami. Cobalah untuk berpikir […]

    Ping balik oleh Selalu Ada Hal Positif Di Balik Musibah | Blog Tausiyah275 — Mei 18, 2014 @ 6:15 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: