Blog Tausiyah275

April 7, 2014

Jangan Menolak Rejeki!

Filed under: Hikmah — Tausiyah 275 @ 9:20 am

Bismillah,

Saya pernah bertemu dengan orang-orang yg menolak rejeki. Seorang sopir taksi yang tidak mau mengangkut saya ke sebuah lokasi karena si sopir merasa jaraknya dekat sehingga dia merasa rugi jika mengantar saya. Seorang tukang cuci mobil (bukan pemilik jasa cuci mobil) yg menolak membersihkan mobil karena pegawainya hanya 2 orang, padahal saat itu mereka hanya mengerjakan 2 mobil dan sudah nyaris selesai dikerjakan serta tidak ada lagi mobil yg mengantri.

Teman saya bertemu dengan kuli bangunan yg menganggur dan saat ditawari pekerjaan membersihkan (kebun jika tidak salah), dia menolak dan lebih memilih menganggur seharian.

Kenalan saya yg lain bertemu dengan pengemis yang saat diberi uang recehan, si pengemis malah melempar dan membuang uang tersebut.

Terus terang, saya tidak paham dengan pikiran orang-orang tersebut. Mereka menolak rejeki (yang nominalnya kecil) dan lebih memilih menganggur serta menunggu (dengan ikhtiar minimal) datangnya rejeki yang (mereka harapkan) jumlahnya lebih besar.

Padahal sesungguhnya ALLOH SWT sudah menyatakan bahwa jika umat Islam bersyukur dengan nikmat (rejeki) yg dia terima, seberapapun besarnya, maka ALLOH SWT maka akan melipatgandakan nikmat (rejeki) untuknya. Sedangkan yg tidak bersyukur dengan nikmat yg diterimanya, maka azab yg pedih sudah siap diberikan-Nya.

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.” (QS Ibrahim(14):7)

Di satu waktu yg lain, saya pernah bertemu dg orang yg menolak rejeki (materi) yg cukup lumayan. Seorang tukang ojek, katakanlah berpenghasilan 30ribu/hari, ditawari pekerjaan (sambilan) di sebuah tempat penyimpanan barang di dekat rumahnya dengan kompensasi Rp 2 juta untuk 1 minggu. Secara matematis, nilai 2 juta utk 1 minggu jauh lebih besar dari penghasilannya sehari-hari. Bisa dikatakan 10x lebih besar. Namun tukang ojek ini menolak tawaran tersebut dan lebih memilih menunggu orang menggunakan jasanya (meski tidak jelas juga frekuensinya).

Seorang teman bercerita. Alkisah, dia hendak pulang dari sebuah tempat. Beruntung dia, ketika dia keluar gedung datanglah taksi sehingga dia tidak menunggu lama. Usai masuk, dia terlibat perbincangan dengan sopir taksi tersebut.

Teman:”wah, pas sekali Bapak datang, saya tidak perlu menunggu lama.”
Sopir Taksi(ST):”ya begitulah, Pak. Kalo namanya rejeki.”

Teman saya tergelitik ketika ST menyinggung rejeki.

Teman:”Ngomong2 soal rejeki, kalo ada yg minta diantar jarak dekat, apakah Bapak mau ambil?”
ST:”Ya tentu saja, Pak. Penumpang sebelum Bapak ini tadi saya antar dari gedung X.” (gedung X ini jaraknya cukup dekat dari lokasi teman saya)

Teman:”Wah, tumben ada ST yg mau mengantar meski jaraknya dekat. Pengalaman saya, jarang sekali ST yg mau karena rugi kata mereka.”
ST:”Beberapa teman memang ada yg begitu, Pak. Tapi saya tidak. Meski kecil, rejeki itu jangan ditolak. Jika untuk rejeki kecil saja kita menolak, bagaimana ALLOH SWT mau memberi rejeki yg besar/banyak?”

Terus terang, saya terharu saat mendengar cerita teman saya ini. Betapa bertolak belakangnya sikap ST ini dibanding dengan cerita saya di awal artikel ini. Dan masuk akal juga, jika untuk hal yg kecil saja kita tidak bisa menghargai bagaimana hal yg besar mau ‘datang’?

So, janganlah pernah kita menolak rejeki, sekecil apapun itu. Bisa jadi rejeki yg kecil itu merupakan kunci untuk membuka pintu rejeki yg besar.

Semoga bermanfaat.

3 Komentar »

  1. Musuh terbesar umat manusia = kemalasan.
    Selain menghambat kemajuan, juga membuat orang cari jalan pintas yang merugikan.
    Misalnya mencuri, merampok, plagiarism, menjelekkan orang untuk naik pangkat, menjelekkan produk lain supaya produk sendiri laku.
    Mencuri mulai dari mencuri ide, korupsi, mencuri pencapaian orang untuk diakui sendiri…..

    Komentar oleh yogi — April 7, 2014 @ 10:14 am | Balas

    • betul sekali, mas yogi!

      saya sepakat dengan anda.

      Komentar oleh Tausiyah 275 — April 8, 2014 @ 5:08 am | Balas

  2. kalo menilik faktor finansial, bisa jadi ditolak karena secara hitung akan merugi.

    Komentar oleh snydez — April 16, 2014 @ 1:32 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: