Blog Tausiyah275

Mei 27, 2014

Bagaimana Cara Anak Berbakti Pada Orang Tua?

Filed under: Ensiklopedia Islam,Fiqh,Keluarga,Lain-lain,Tarbiyah — Tausiyah 275 @ 12:42 am

Bismillah,

Sebuah pertanyaan masuk di gadget saya sore ini, dari seorang teman. Intinya, dia bertanya bagaimana caranya seorang anak berbakti pada orang tuanya, terutama jika sang anak sudah menikah.

Terus terang, saya merasa ini adalah sebuah pertanyaan menarik, terlebih BARANGKALI (SAYA BERHARAP TIDAK TERJADI) ada sebagian dari kita MUNGKIN sudah melupakan orang tua kita, sengaja atau tidak sengaja. Melalui artikel ini, saya berharap saya bisa mengingatkan diri saya sendiri serta mengajak saudara2 lain (terutama pembaca blog) untuk mulai memperbaharui pemikiran kita serta mempraktikkan kembali upaya2 untuk berbakti pada orang tua.

Menurut saya pribadi, bakti anak pada orang tua bisa dibedakan menjadi:
A. anak yg belum menikah.
B. anak yg sudah menikah.
B.1. anak laki-laki
B.2. anak perempuan

Pengertian dan definisi berbakti sendiri adalah: MENGIKUTI/MENURUT PERINTAH SELAMA TIDAK BERTENTANGAN DENGAN AGAMA.

Dengan demikian, apabila seorang ibu meminta anaknya untuk berbuat sesuatu yg bertentangan dengan perintah agama, maka permintaan tersebut TIDAK PERLU diikuti. Penolakan yg dilakukan si anak pun BUKAN tanda anak tersebut DURHAKA/TIDAK BERBAKTI.

Contoh dari larangan anak untuk mengikuti perintah ortu yg bertentangan dg agama bisa dilihat pada kisah Sa’ad Bin Abi Waqqash berikut ini. Diceritakan bahwa Sa’ad bin Abi Waqqash adalah salah satu orang yg memeluk Islam di awal.

Setelah memeluk Islam, keadaannya tidak jauh berbeda dengan kisah keislaman para sahabat lainnya. Ibunya sangat marah dengan keislaman Sa’ad. “Wahai Sa’ad, apakah engkau rela meninggalkan agamamu dan agama bapakmu, untuk mengikuti agama baru itu? Demi Allah, aku tidak akan makan dan minum sebelum engkau meninggalkan agama barumu itu,” ancam sang ibu.

Sa’ad menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan meninggalkan agamaku!”

Sang ibu tetap nekat, karena ia mengetahui persis bahwa Sa’ad sangat menyayanginya. Hamnah mengira hati Sa’ad akan luluh jika melihatnya dalam keadaan lemah dan sakit. Ia tetap mengancam akan terus melakukan mogok makan.

Namun, Sa’ad lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya. “Wahai Ibunda, demi Allah, seandainya engkau memiliki 70 nyawa dan keluar satu per satu, aku tidak akan pernah mau meninggalkan agamaku selamanya!” tegas Sa’ad.

Akhirnya, sang ibu yakin bahwa anaknya tidak mungkin kembali seperti sedia kala. Dia hanya dirundung kesedihan dan kebencian.

ALLOH SWT mengekalkan peristiwa yang dialami Sa’ad dalam ayat Al-Qur’an, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman(31):15).

Mari kita telaah lebih lanjut untuk bakti kepada orang tua.

Bagi anak yg belum menikah, maka SEMESTINYA tidak ada kesulitan untuk berbakti kepada orang tua. Membantu pekerjaan orang tua bisa menjadi salah satu cara untuk berbakti. Apabila sudah bekerja dan punya uang sendiri, maka membelikan barang2 yg disukai orang tua (termasuk makanan) merupakan salah satu cara untuk berbakti kepadanya.

Sementara bagi anak laki-laki yg sudah menikah, dia masih bisa berbakti kepada orang tuanya dg lebih leluasa dibandingkan dengan anak perempuan yg sudah menikah (menjadi istri).

Hal ini dikarenakan suami tidak ada halangan untuk berbakti kepada orang tuanya. Sedangkan apabila seorang perempuan sudah menjadi istri, maka kewajiban dia terhadap suami lebih besar daripada kepada orang tuanya.

Islam tidak adil dong?

Eits, jangan dulu berkesimpulan seperti itu. Pernyataan di atas belum selesai.

1. Meski anak laki-laki bisa ‘bebas’ berbakti pada orang tuanya, namun bukan berarti dia boleh/bisa mengabaikan keluarganya. Dengan kata lain, kepentingan keluarganya juga mesti diperhatikan karena saat dia menjadi suami (apalagi menjadi ayah) maka keluarga adalah tanggung jawab dia. Orang tua pun semestinya maklum dan tidak berlebihan menuntut anak laki-lakinya mesti berbakti seperti dahulu kala (saat masih bujangan).

2. Suami tidak boleh menghalangi istrinya yg hendak berbakti pada orang tuanya (dari pihak istri), selama bakti yg dilakukan sang istri (juga) tidak mengabaikan keluarganya. Maksud dari pernyataan ini, adalah tidak adil jika sang istri mengirimi orang tuanya makanan yg enak-enak tapi untuk suami dan anaknya dia hanya memberi sayur dan makanan (sisa) yg dihangatkan.

Salah satu cara lain untuk berbakti adalah dengan MENGIRIM UANG kepada orang tua. Hal ini bisa dilakukan oleh anak yg masih single (bujangan) ataupun yg sudah menikah.

Sekali lagi, bagi yg belum menikah mungkin tidak menjadi masalah mengirim uang seberapa besarnya. Bahkan jika semuanya dikasih, BISA JADI si anak tidak ada masalah.

Namun, apabila sudah menikah, maka mengirim uang kepada orang tua bisa menjadi salah satu hal yg memicu pertengkaran antara suami dan istri. Beberapa pemicu pertengkaran:
1. jumlah yg diterima orang tua laki2 dan perempuan dirasa tidak adil
2. nilai uang yg dikirim tidak menentu
3. siapa yg mesti memberi?

Saya coba membantu memberikan solusi untuk 3 pertanyaan di atas.

Untuk jumlah yg diterima, cek dahulu kondisi masing-masing ortu. Apakah ortunya memang dalam keadaan serba kekurangan? Apakah ortunya punya hutang? Apakah ortunya masih ada tanggungan (adik yg masih sekolah)?

Misal kondisi ekonomi ortu suami agak sulit karena masih ada tanggungan 2 adik yg masih kuliah. Sedangkan ortu istri punya hutang yg mesti segera dilunasi. Dari situ, buat kesepakatan mengenai jumlah yg mesti dikirim. Saya pribadi akan memberikan porsi kiriman uang yg lebih besar pada ortu istri yg punya hutang karena berhutang itu sungguh tidak enak dan memberatkan hidup.

Untu biaya adik yg masih kuliah, dia bisa mencari tambahan sendiri.

Berikutnya, apabila nilai uang yg dikirim tidak menentu maka mesti disampaikan juga kepada pasangan dan ortu. Katakan bahwa saat ini kondisi keuangan sedang kurang baik (barangkali ada cicilan kredit atau pengeluaran tak terduga) sehingga uang yg dikirim dirasa tidak mencukupi.

Saran saya, berikan/kirim dahulu uang kepada orang tua dahulu baru bayar hutang/cicilan. Lalu sampaikan pada mereka bahwa anda minta berkah dari rejeki yg anda terima. Insya ALLOH sisa uang anda akan dicukupkan ALLOH SWT, asalkan anda yakin serta uang yg anda beri adalah uang HALAL.

Bagian terakhir, siapa yg memberi bisa dibuat kesepakatan bahwa suami akan memberi uang pada ortu istri, dan sebaliknya istri akan memberi uang pada ortu suami. Tujuan dari ‘subsidi silang’ ini adalah agar tidak terjadi kecurigaan bahwa pasangannya akan memberi lebih ortunya (tidak adil). Selain itu, insya ALLOH suami akan kian disayang ortu istri dan ortu suami juga akan kian sayang pada sang istri.

Orang tua anda kaya sehingga anda merasa tidak perlu mengirim uang? Ok, tidak ada masalah. Anda bisa cari solusi lain untuk berbakti padanya. Seperti saya tulis di awal artikel ini, mengirimi makanan atau membelikan makanan yg disuka, bisa menjadi solusi.

Oya, apabila anda sudah (merasa) melakukan hal2 di atas (‘kasarnya’ sudah merasa berbakti), ingatlah bahwa bakti anda kepada orang tua itu BUKAN BERARTI anda sudah bisa membalas kasih sayang dan pengorbanan orang tua anda.

Dalam banyak kisah disebutkan seorang sahabat (di cerita lain hanya disebut anak laki2) yg berhaji dengan ibunya dengan cara menggendongnya. Ketika dia bertanya apakah perbuatan dia menggendong ibunya saat berhaji sudah bisa membalas kebaikan ibunya, dia mendapat jawaban bahwa tindakannya itu tidak akan pernah bisa membalas kebaikan ibunya sedikitpun.

Apa artinya? Artinya, anda JANGAN PERNAH BERPIKIR bahwa anda bisa membalas kebaikan2 yg anda terima dari kedua orang tua anda.

Semoga bermanfaat.

7 Komentar »

  1. Assalamualaikum wr wb
    Bagaimana sikap seorang istri trhdap suami yg krn menjadi tulang punggung keluarga a(2 adik dan ortu pensiun), demi untuk mencukupi semua kebutuhan itu tidak ada waktu untuk istrinya terlwbih suami istri ini berbeda kota. Trim’s. Wassalam

    Komentar oleh er — Juni 1, 2014 @ 4:36 am | Balas

    • wa’alaykumsalam wr wb.

      mas/mbak Er, seperti yg saya tuliskan di artikel ini, diskusikan dg istri mengenai nominalnya.

      sebagai suami,maka urutan tanggung jawabnya:
      1. keluarga (istri dan anak)
      2. orang tua
      3. adik-adik

      ingatkan suami agar dia tidak berlaku DZALIM kepada keluarga, karena itu merupakan amanah yg tidak boleh disia-siakan.

      demikian

      Komentar oleh Tausiyah 275 — Juni 1, 2014 @ 9:10 pm | Balas

  2. assalamu’alaikum,
    saya hanya ingin bertanya.
    apakah bisa dikatakan durkaha, anak yang meninggalakan kedua orang tuanya untuk kuliah misalnya ke luar kota? segingga ia tidak bisa membantu pekerjaan kedua orang tuanya

    bagaimana cara berbakti kepada orang tua kita bagi kita yang kuliah di luar kota?

    terimakasih, assalamu’alaikum

    Komentar oleh muhammad — September 22, 2014 @ 4:07 pm | Balas

    • wa’alaykumsalam wr wb,

      mas Muhammad, tentu saja perbuatan si anak BUKAN termasuk perbuatan durhaka karena dia menuntut ilmu sesuai dengan harapan ortunya.

      MUNGKIN bisa dikategorikan durhaka, jika si anak tidak kuliah dg serius, malah melakukan tindakan2 yg membuat kuliahnya berantakan.😦

      bagi yg kuliah di luar kota, dia bisa berbakti dengan cara:

      1. senantiasa mendoakan kedua ortunya, minimal usai sholat wajib

      2. menjalin silaturahim, via telpon

      3. jika ada uang,sesekali membeli barang kesukaan ortu dan mengirimnya ke rumah

      4. kuliah dg serius dan mencapai hasil terbaik

      semoga bermanfaat.

      wa’alaykumsalam wr wb

      Komentar oleh Tausiyah 275 — September 22, 2014 @ 5:00 pm | Balas

  3. Assalmualaikum wr.wb

    Saat ini sy sedang dlm situasi yg teramat tdk menyenangkan.
    Sy baru saja melahirkan,tp tdk berselang lama kebahagiaan itu dtg,sy mndpt kabar ibu mertua saya sakit,dan trnyt beliau didiagnosa terkena Leukemia.
    Sejak itu,suami sj hny berfokus pada kesembuhan ibunya.
    Hampir seluruh waktunya hanya ia curahkan untuk ibunya,membeli buah,menjenguknya seblm dan sepulang kerja,sllu menyempatkan wktu utk ngobrol dgnya,berbagai cara ditempuh utk mndptkan dokter terbaik,sampai2 dirinya sendiripun sakit dan kami,istri dan anaknya yg masih sangat kecil (2bln),jarang sekali punya wkt dg ayahnya.
    Mngkn anak sy tdk hafal akan suara ayahnya.

    Apa tindakan suami sy sudah benar?
    Jk mmg tindakan suami sy sdh benar,bgmn sy harus bersikap? Krn sjjurny sy ingin skli melihat dy bisa bermain dg darah dagingnya sndri..

    Ataukah dy termasuk sudah mendzalimi dirinya sndri dan juga keluarganya??
    Lantas bgmn sy menasehatinya,adakah ayat qur’an yg bisa menegaskan bhw tindakannya tdk dianggap benar? Krn setiap kali sy ingatkan dy, bhw dirmh dy punya anak yg masih bayi,dy sllu berucap ‘kapan lagi bisa berbakti pada org tua’??

    Terimakasih jk berkenan dijawab..
    Wassalam

    Komentar oleh key — Oktober 1, 2014 @ 3:45 pm | Balas

    • wa’alaykumsalam wr wb.

      maaf saya baru jawab dan respon.

      sebenarnya tindakan suami anda tidak salah karena sebagai seorang anak dia mesti berbakti pada orang tuanya.
      akan tetapi, sebagai seorang suami, dia juga punya kewajiban terhadap keluarganya yg tidak boleh ditinggalkan begitu saja.

      ada baiknya anda nasehati suami anda bahwa dia punya tugas yg tidak kalah penting dari berbakti sebagai anak, yakni mesti menjaga dan memimpin keluarganya.

      pertanyaan saya,apakah memang tidak ada orang lain yg bisa menggantikan suami anda?
      jika ada orang lain yg bisa membantu/menggantikan suami anda, katakan bahwa jika dia dzalim terhadap keluarganya, termasuk pada anaknya, jangan salahkan siapapun jika anaknya kelak tidak peduli dengan ayahnya.

      demikian.

      Komentar oleh Tausiyah 275 — Oktober 31, 2014 @ 3:38 pm | Balas

  4. Assalmualaikum wr.wb

    Nama saya Beby [cowok] sejak kecil selalu diejek dan malu kenalan dgn org lain karena nama ini karena itu sampai sekarang saya hanya punya 3 teman baik aja. dan itu sudah cukup bagi saya.
    Saya saat ini sangat bingung karena selama ini saya merasa saya adalah anak yg paling baik dibanding keempat saudara saya. sebelumnya saya ingin memberi tahu, saya mempunyai 4 saudara [ 2 abang, 1 kakak dan 1 adik].
    Sejak kecil saya sudah melihat keluarga saya berantakan, 1 papa saya suka main cewek [berselingkuh], 2 mama saya suka minum alkohol dan mabuk2an terus tengkar dgn papa saya. sedangkan kedua abang saya suka berjudi dan mengambil uang rumah termasuk uang tabungan saya yg saya tabung sedikit demi sedikit tp saya tdk pernah marah dgn mereka. mama saya selalu melunasi utang kedua abang saya dan ikut berjudi dengan mereka termasuk memakai narkoba. dan di keluarga saya, cuma saya yg berbeda dgn yg lain. saya tidak merokok, berjudi dan minum alkohol. jadi selama ini saya merasa telah menjadi anak yg baik.
    sebelum saya menikah, saat berumur 17 tahun saya pts sekolah [2 smk] dan mulai membantu usaha di rumah selama 2 tahun. dan saya mulai bertanya apakah saya telah menjadi anak yg ga berguna yg tidak pergi keluar untuk kerja. dan pada umur 19, saya pertama x berangkat ke singapore dan bekerja sebagai pengangkat barang2 berat. saya bertubuh kurus [49kg] dan tidak ada pengalaman kerja berat membuat semua org sekitar manganggap saya tidak akan mampu tetapi berkat mereka membuat niat untuk membuktikan saya pasti akan bisa mengangkat sebanyak mereka menjadi lebi kuat. dan saya berhasil sampai sekarang saya masi bekerja sebagai pengangkat barang2 berat.
    Dari 17-22thn setengah gaji saya [minimal 200-800 dolar sg], saya kasi ke mama saya dan sebagian saya nitip ke mama saya sebagai tabungan saya. saya hanya butuh sedikit uang untuk main game di warnet karena jika ada kerja saya harus berangkat ke singapore lagi. memang pekerjaan ga tetap dan penghasilan juga ga tetap, tp minimal ada 400dlr sebulan. bagi saya itu sudah melebihi cukup.
    selama ini saya tahu uang yg saya kasi itu sebagian selalu dihabiskan untuk judi, melunasi hutang2 abang saya yg kalah judi dll. tp menurut saya yg saya kasi berarti milik mama saya. dia mau ngapain kan itu urusan dia. papa saya dan kedua abang saya mempunyai gaji yg lebih tggi dibanding saya [keluarga kami bs dibilang lebi dr cukup tetapi kedua abang saya semua hanya untuk judi]
    Saat umur 23thn saya mulai pacaran, dan pacar saya itu hidup sendirian jadi saya merasa harus jaga dia dengan menanggung kebutuhan dia. Karena saya saat bepergian jadi saya memilih membawa pacar saya untuk tgl dengan mama saya karena merasa mereka bs saling berteman dan berkomunikasi. tetapi dari situlah masalah mulai muncul.

    Karena telah berpacaran maka pacar saya mulai bertanya apakah saya punya tabungan untuk masa depan seperti untuk membeli rumah dll. Pertanyaan itu mulai membingungkan saya karena selama ini sebagian gaji yang saya nitip ke mama itu udah habis terpakai oleh mama saya. dan saya juga ga berani minta makanya saya jawab saya ga punya tabungan apapun. Jadi saya harus mulai dari 0 untuk masa depan saya. Kini gaji saya harus saya ke kebutuhan idup saya+pacar, tabungan masa dpn, dan untuk org tua maka masalah menjadi rumit. pemberian uang ke mama saya tidak sebanyak dulu lagi jadi mama saya mulai cemburu ama pacar saya. Selalu aja ada tengkaran yg ga masuk akal. Dan mama saya suka sekali ngomong ke tetangga2 kalo kami makan di rumah dan ga mau bantu ini itu sedangkan didepan kami baik2 aja.
    Dan saat umur 25thn saya diusir keluar rumah oleh mama saya karena dibilang saya membela istri, padahal selama ini saya hanya mau punya keluarga yang damai dan sejahtera. Saya ga bisa membela siapa pun karena menjelek jelekan org dibelakang itu memang salah, saya juga ga bisa mengusir pacar saya karena mama saya tidak suka, Saya merasa serba salah dan tidak tau harus gimana. Karena telah diusir dari rumah maka semua gaji saya, saya gunakan untuk kebutuhan saya. saat umur 27 saya berhasil credit 1 rumah dengan cicilan 10thn. sekarang saya berumur 29thn dan telah menjadi papa dengan seorang anak perempuan 8bln. walaupun tetap ada komunikasi dgn mama saya tetapi sampai sekarang saya masi bingung saya harus bersikap gimana??
    karena dia tetap menjelek jelekan kami dimanapun termasuk tetangga dan saudara2 jauh, bisa dibilang saya telah menjadi anak durhaka dipandangan orang lain. tetapi dihati saya, saya merasa saya tidak bersalah. Dan saya juga bangga karena sampai sekarang keluarga saya tidak kekurangan.
    Hanya saya telah kehilangan bagaimana cara berbakti lagi, gmana pun saya telah menjadi anak durhaka baginya. sedangkan abang2 saya yg selama ini trus menghabiskan uang dia itu anak yg berbakti. saya sungguh tidak mengerti……

    Komentar oleh Beby — Januari 13, 2015 @ 2:07 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: