Blog Tausiyah275

Juni 7, 2014

Islam Dan Politik

Filed under: Dari Inboxku,Fiqh,HOT NEWS,Lain-lain,Politik,Tarbiyah — Tausiyah 275 @ 6:14 am

Bismillah,

Artikel ini sebenarnya sudah cukup lama tercetus dan hendak dipublikasikan, namun karena banyak hal mengakibatkan tertunda. Saat ini saya pikir adalah waktu yg tepat untuk menyelesaikan artikel ini dan memuatnya.

Politik.

Kata tersebut seringkali diidentikkan dengan kecurangan, keculasan, kelicikan, dan berbagai tindakan buruk lainnya. Akibatnya umat Islam seringkali ‘ditakut-takuti’ dan menjadi phobia untuk ikut serta dan berkecimpung dalam dunia politik. Padahal dengan menjauh dari dunia politik maka umat Islam akan kian terpinggirkan dan malah memberikan ‘panggung’ kepada musuh-musuh Islam untuk mengambil alih kekuasaan dan mengontrol semua kegiatan kaum muslim.

Padahal, sebenarnya apa yg dimaksud dengan (ber)politik?

Jika kita merujuk pada wikipedia, politik identik dengan kekuasaan dan rakyat (atau warga negara). Saya sendiri punya definisi sendiri tentang politik. Menurut saya, yg dimaksud dengan politik adalah suatu tujuan yg hendak dan mesti dicapai. Tujuan di sini sangat luas maknanya. Namun intinya butuh usaha untuk mewujudkannya dan waktu yg mesti dikorbankan.

Well, saya pribadi bebas saja dengan pendapat/definisi anda sendiri. Tidak masalah.🙂

Kembali ke topik mengenai politik.

Islam dan politik sebenarnya tidak ada pertentangan selama umat Islam berpolitik dengan cara-cara yg baik. Sangat banyak contoh mengenai cara berpolitik yg Islami. Saya tuliskan beberapa di antaranya.

Pertama, Nabi Yusuf as saat dipenjara karena difitnah dengan dituduh merayu istri pejabat. Lalu apa tindakan Nabi Yusuf as? Beliau tetap sabar dan tawakal serta ikhtiar untuk memperjuangkan kebebasannya. Kita ketahui bersama beliau pernah mentakwilkan mimpi tukang roti dan tukang anggur serta minta bantuan mereka untuk membebaskan dirinya jika salah satu dari mereka selamat. Kenyataannya, beliau malah dilupakan dan terus dipenjara.

Lalu ketika beliau akhirnya bebas, apakah lantas beliau balas dendam kepada tukang anggur yg melupakannya? Jawabnya tidak!

Kedua, ketika Nabi Yusuf as ‘minta’ dijadikan menteri ekonomi di pemerintahan Mesir. Beliau berhasil meyakinkan bahwa dirinya merupakan pribadi yg baik dan bisa dipercaya karena mempunyai pengetahuan di bidang itu.

Ini bisa dikatakan politik juga, termasuk kategori lobi, saya pikir. Hasilnya beliau dipercaya menjadi menteri ekonomi dan akhirnya menjadi pemimpin Mesir.

Ketiga, Nabi Musa as dan Nabi Harun as saat bertemu dg Firaun, memintanya agar mengakui adanya ALLOH SWT dan tidak lagi meninggikan dan memperlakukan dirinya layaknya Tuhan. Di akhir perdebatan terjadi clash antara Nabi Musa as dengan para penyihir Firaun yg diakhiri dengan berimannya para tukang sihir Firaun.

Keempat, Nabi Sulaiman as mengutus burung Hud Hud untuk mengirim surat kepada Ratu Bilqis (atau Ratu Balqis). Ini jelas merupakan pergerakan politik berupa diplomasi.

Kelima, perjanjian Hudaibiyah antara kaum Muslim dengan kaum kafir Quraisy. Ini merupakan taktik politik tingkat tinggi yg tidak pernah terpikirkan oleh para sahabat.

Dari kelima contoh (ber)politik di atas nampak jelas bahwa Islam mempunyai cara-cara yg elegan dan ‘keren’ untuk berpolitik. Bisa dikatakan saat itu umat Islam (yg dipandu para Rasul-Nya) selalu beberapa langkah di depan lawan-lawan politik mereka.

Namun semua ini berubah sejak peristiwa pembunuhan Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib yg akhirnya membuat citra politik menjadi identik dengan pertumpahan darah ataupun, seperti saya sebut di awal artikel, hal-hal negatif lainnya.

Bagaimana di Indonesia?

Ternyata kaum muslim di Indonesia terbagi menjadi beberapa kelompok:
1. Kelompok yg anti politik. Mereka beranggapan politik itu kotor sehingga tidak mau ikut campur.

2. Kelompok yg berpolitik dengan santun. Kelompok ini berusaha menerapkan cara berpolitik yg berlaku di negara seraya perlahan-lahan berusaha memberikan dan menjadi contoh bagaimana cara berpolitik yg baik.

3. Kelompok yg berusaha berkuasa dengan cara apapun. Jika mau jujur, kaum muslim di Indonesia (masih) banyak yg termasuk dalam kelompok ini.

Mari kita telaah lebih lanjut.

Efek menjadi kelompok pertama adalah mesti mau menerima segala konsekuensinya, termasuk menerima jika ada kebijakan2 yg merugikan umat Islam. Mau menyuarakan pendapatnya, tidak ada cara/wakil di pemerintahan atau di lembaga2 lain. Akhirnya umat Islam lebih banyak menjadi ‘penonton’ daripada menjadi ‘pemain’

Sementara untuk yg kedua, jumlahnya bisa dikatakan sedikit (sekali). Banyak orang2 Islam yg baik justru tersingkir. Saya malah heran, cara kedua ini justru (‘lebih mudah’) ditemukan di negara-negara Barat. Jika anda googling, anda akan temukan banyak walikota dan pemimpin kota yg sekarang dijabat oleh kaum Muslim.

Apabila anda teliti lagi kehidupan para politikus Islam(i) ini, anda akan menemukan bahwa mereka tidak melabrak aturan yg ada dan semena-mena (berusaha) mengganti dengan khilafah. Bahkan mereka pun tidak membuat ‘perda syariah’, peraturan yg menggunakan label agama. Hal ini dilakukan karena masyarakat di sana masih phobia dg hal2 yg berkaitan dg agama. Dan sebenarnya peraturan2 masyarakat di sana (meski dicap liberal) sudah mengakomodir kebutuhan masyarakat, termasuk masalah keamanan.

Yang repot adalah kelompok ketiga. Jika anda perhatikan, berapa banyak partai Islam yg ada di Indonesia? Jika memang sama2 memperjuangkan Islam, kenapa mesti ada banyak partai Islam? Bahkan saat usai pileg dan hendak masuk proses pilpres, ada wacana koalisi partai Islam.

Saya sempat tweetkan hal2 tersebut.

Lalu, apa penyebab mesti ada banyak parpol Islam? Jawabnya adalah tweet di bawah ini.

Syahwat politik yg demikian besar menjangkiti banyak muslim yg akhirnya malah membuat mereka menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Sikut kiri kanan, hantam lawan politik dengan isu-isu negatif, mempercayai dan menyebarkan FITNAH bahkan kepada SESAMA MUSLIM!

Selagi sedang hangat-hangatnya pilpres di sini, saya jadikan sebagai contoh bahwa kelompok ketiga ini mesti diwaspadai karena jumlahnya banyak dan masih cukup banyak masyarakat (baca: muslim) yg mudah terpengaruh dan taklid (menurut) buta.

Fitnah terhadap Jokowi yg dituduh beragama Kristen dilontarkan oleh salah satu kelompok (yg mengaku) Islam. Ketika ada bukti foto Jokowi dan keluarga di depan Ka’bah pun, para pendukung fanatik ini pun tidak mau mengakuinya, bahkan dianggap sebagai foto hasil edit.

Muncullah pernyataan seperti ini.

Dari komentarnya, saya yakin ybs belum pernah pergi ke tanah suci!😉
*update: akun ini sekarang diprotect. mungkin ybs malu.😉

Lalu muncul isu Jokowi belum berhaji karena dianggap Kristen. Bahkan Jokowi dianggap keturunan Cina,eh, Tiongkok dengan nama Joko Oei.

Lalu ketika ada yg menulis H Jokowi untuk menyatakan Jokowi sudah berhaji, malah disebut H adalah Herbertus.

Untunglah ada klarifikasi bahwa Jokowi itu benar2 MUSLIM dan SUDAH PERNAH BERHAJI.

Yang menyedihkannya, kaum muslim pendukung Jokowi pun kadang terpancing. Mereka lantas menyerang Prabowo dengan isu-isu negatif juga. Entah status dia yg duda, lalu keluarganya yg berantakan (ada perceraian), dan isu-isu lain.

Tadi malam saya melihat dan membaca beberapa tweet ramai membahas mengenai Jum’atannya Jokowi dan absennya Prabowo dari sholat Jum’at.

Yang pro Jokowi menyerang Prabowo dengan mengatakan bahwa Prabowo tidak mau sholat Jum’at. Sementara para hater Jokowi mengatakan bahwa Jokowi ‘sengaja’ sholat Jum’at untuk pencitraan, sok soleh, dst dst.

Menyaksikan debat kusir para pro dan hater seperti di atas jelas tidak produktif. Padahal sebenarnya keduanya benar. Prabowo memang BOLEH tidak sholat Jum’at karena sedang musafir. Sementara tindakan Jokowi untuk sholat Jum’at pun TIDAK SALAH.

Saya sudah bisa bayangkan apabila Prabowo sholat Jum’at sedangkan Jokowi tidak sholat Jum’at. Maka Prabowo akan dipuji-puji sbg muslim yg taat sedangkan Jokowi memang orang yg suka meninggalkan syariat agama.

Karenanya, meladeni orang-orang yg memang fanatik buta dan/atau kurang ilmunya, seperti saya bilang, merupakan hal yg sia-sia.

Yang cukup mengesalkan adalah masih banyak kaum muslim yg fanatik buta dengan partai politik yg berlabel Islam. Apa kata pimpinan parpol mereka nurut tanpa mau berpikir sedikiittt saja.

Penyebab mereka (tidak mau) berpikir karena para pemimpin parpolnya memanipulasi ulama-ulama yg kompeten di bidang agama untuk mendukung setiap gerakan dan tindakan politiknya dengan merujuk pada ajaran Islam. Pada lawan politik, mereka tidak segan untuk memfitnah seperti saya tulis di atas. Dan gerakan memfitnah ini dilakukan secara masif dan diikuti oleh banyak muslim yg fanatik itu.

Lalu ketika ternyata fitnah mereka tidak mempan karena memang tidak terbukti, maka fitnah dan jurus mengeles mereka lakukan. Bahkan tidak jarang mereka menjilat ludah sendiri. Naudzubillah.

Padahal apabila mereka memfitnah Jokowi kafir/bukan muslim dan ternyata buktinya adalah sebaliknya, maka sesungguhnya mereka sendiri yg telah menjadi kafir!

Mari perhatikan hadits Rasululloh SAW berikut ini:
“Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya, “hai orang kafir,” maka kata itu akan menimpa salah satunya. Jika benar apa yang diucapkan (berarti orang yang dituduh menjadi kafir); jika tidak, maka tuduhan itu akan menimpa orang yang menuduh.” (HR Muslim)

“Tahanlah dari kalian (jangan menyerang) orang ahli La ilaha ilallah (yakni orang muslim) janganlah kalian mengkafirkan mereka karena suatu dosa” pada versi yang lain “janganlah kalian mengeluarkan mereka dari Islam karena suatu perbuatan”(Dari Abdullah bin Umar, HR Ath Thabrahiy)

Hal yg memalukan lainnya, jika tuduhan fitnah tersebut tidak terbukti, apakah lantas mereka meminta maaf? Rasa-rasanya saya tidak pernah mendapati para pelempar fitnah itu minta maaf jika fitnah mereka tidak terbukti. Sebaliknya, jika mereka difitnah orang (baca: orang yg bersebrangan pendapat) dan ternyata fitnah ini tidak terbukti, maka mereka mendesak dg berbagai upaya agar pelaku minta maaf.

Jika demikian caranya, buat apa mereka mengaji, beribadah? Lalu ke mana Islam yg rahmatan lil ‘aalamiin?

Dengan perilaku-perilaku yg saya tulis di atas, tidak heran jika banyak orang ingin memisahkan agama dari politik. “Jangan bawa-bawa agama di politik karena politik itu kotor..!” merupakan jargon yg sering disampaikan.

Padahal jika mau memahami dan melaksanakan ajaran Islam dg baik dan benar, maka (ber)politik pun tidak masalah.

Sekali lagi, blog ini TIDAK MEMIHAK salah satu capres, hanya berusaha menginformasikan dan memberikan pendapat yg berimbang.

Artikel yg berkorelasi: Mencari Dan Memilih Pemimpin Dari Kacamata Islam

Semoga artikel ini bermanfaat.

6 Komentar »

  1. […] Padahal, Islam tidak mengharamkan politik. Justru Islam sudah memberikan panduan mengenai cara berpolitik yg baik. […]

    Ping balik oleh Foto Jokowi Berihram, Editan Atau Asli? | Blog Tausiyah275 — Juli 16, 2014 @ 8:35 am | Balas

  2. ustadz Wijayanto yang di acara Hitam-Putih? Masa iya beliau mengatakan seperti itu, barangkali akun anonim saja numpang nama beliau? #fans nih

    Komentar oleh yogi — Juli 16, 2014 @ 2:40 pm | Balas

    • saya cek, bukan anonim, mas Yogi.
      itu memang akun ‘asli’ beliau. saya ikuti dan amati sejak beberapa waktu lalu.

      too bad…

      Komentar oleh Tausiyah 275 — Juli 16, 2014 @ 5:01 pm | Balas

  3. […] Meski demikian, tidak sedikit ulama yg terjebak dalam konflik, terutama ketika terlibat dalam politik. Sangatlah mengherankan ketika seorang ulama mesti melakukan tindakan2 tercela ketika dia membela salah satu partai ataupun calon presiden tertentu, padahal Islam sudah memberikan panduan dalam berpolitik. […]

    Ping balik oleh Imam @shamsiali2, Ulama Dari Timur Ke Barat | Blog Tausiyah275 — Juli 19, 2014 @ 6:38 am | Balas

  4. […] sedikit lebih dalam, kita akan temukan bahwa Islam memberikan panduan untuk ibadah, bertetangga, berpolitik, pernikahan, perceraian, bahkan untuk urusan bersendawa dan menguap. Begitu banyak hal, terkait […]

    Ping balik oleh Islam Dan Sekulerisme (Islam Menjadi Penyebab Sekuler?) | Blog Tausiyah275 — September 2, 2014 @ 3:11 pm | Balas

  5. artikelnya cukup membantu untuk UTS kuliah AGAMA saya. terimakasih atas postinganya

    Komentar oleh Alfianto Nandya Prakoso — Oktober 10, 2014 @ 7:40 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: