Blog Tausiyah275

Juni 23, 2014

Apakah Da’i Seleb Dan Ulama Gaul Itu Diperlukan?

Bismillah,

Beberapa waktu lalu saya berdiskusi dengan beberapa teman. Awalnya diskusi mengenai politik lalu pembicaraan melebar ke arah dakwah. Beberapa teman saya menyatakan ketidaksukaannya dengan da’i dan ulama yg sering muncul di televisi memberikan tausiyah, ceramah, atau apapun itu. Mereka dinilai terlalu lebai karena seringkali media menyorot tingkah laku dan perilaku mereka sehari-hari yg dinilai teman2 saya kurang Islami karena lebih menonjolkan hidup bermewah-mewah.

Beberapa teman juga meng-amin-i hal tersebut seraya menambahkan (tepatnya mengeluhkan) bahwa materi dakwah yg disampaikan para ulama dan dai seleb itu terlalu dangkal. ‘Parahnya’ lagi, materi disampaikan dengan lebih banyak canda dan tawa dibandingkan esensi materi itu sendiri.

Hmm…saya merenungi ucapan dan pendapat yg dilontarkan teman2 saya itu. Dan menjelang Ramadhan tiba, nampaknya apa yg disampaikan teman2 saya itu tidak ada salahnya. Ada kebenaran di sana. Karenanya saya jadikan tulisan untuk memperkaya pengetahuan kita bersama.

Sebagaimana kita ketahui bersama, saat Ramadhan tiba, maka tayangan ‘Islami’ akan banyak muncul menemani kita saat sahur, meski isi acaranya masih sedemikian menyedihkan dan memprihatinkan. Tidak jarang isinya haha hihi semata. Jikapun ada ulama atau da’i yg memberikan materi, masih juga ada haha hihi yg membuat saya seringkali tidak habis pikir lagi jika sang ulama/da’i ternyata malah ikut2an.😐

Itu baru dari sisi haha hihi, belum dari sisi materi yg dirasa (teman saya) terlalu dangkal. Kutip ayat sana sini, lalu ‘dicocokkan’ dengan kondisi yg dihadapi. Sudah, selesai. Rasa-rasanya tidak ada bekas ataupun tertanam di ingatan kita mengenai isi tausiyah.

Belum lagi jika ada pertanyaan, maka pertanyaan yg diajukan selalu yg itu-itu juga. “Apakah boleh makan saat imsyak?” “Jika belum mandi besar, apakah bisa puasa?” “Apakah menangis itu membatalkan puasa?” “Berbohong itu membatalkan puasa atau tidak?” Dan pertanyaan2 yg selalu berulang dari Ramadhan ke Ramadhan, tanpa ada tambahan bobot dari pertanyaan yg dilontarkan.

Saya tidak bermaksud menyalahkan orang-orang yg bertanya. Saya malah bertanya-tanya pendidikan agama yg diajarkan oleh guru-guru itu seperti apa sehingga hal2 mendasar seperti ini kok banyak yg tidak tahu?

Kembali ke judul topik ini.

Saya melihat ada salah kaprah dengan istilah ulama gaul dan da’i seleb ini. Salah kaprah ini juga dibentuk oleh perilaku para ulama dan dai, namun secara keseluruhan, media yg seringkali memberitakan dan membentuk opini yg ‘salah’.

Tidak perlu media memberitakan kehidupan pribadi para ulama dan da’i itu, apalagi tidak terkait dengan tugasnya utk berdakwah. Walhasil karena mengejar berita, seringkali kita disajikan berita ‘tidak penting’ terkait ulama dan da’i. Misalnya tentang kisruh rumah tangganya, atau hasil belanja dia, atau apapun itu yg ujung2nya, menurut saya, bisa menurunkan kredibilitas ulama dan da’i itu sendiri.

Malah menurut saya, sebenarnya ada manfaat dari keberadaan da’i seleb dan ulama gaul. Pertama, materi bisa dibawakan dengan cukup luwes. Dalam artian, biasanya para ulama gaul dan da’i seleb ini sudah tahu poin2 dan ‘kelemahan2’ dari hadirin. Jadi bisa dengan mudah mereka diajak untuk beribadah. Banyak para ulama dan dai yg selalu bermuka serius sehingga membuat orang merasa sungkan dan takut untuk bertanya.

Kedua, apabila ulama, ustad, dan da’i bisa berlaku dengan baik (plus memberi materi yg mudah dicerna serta dipraktikkan) maka bukan tidak mungkin banyak anak yg bercita-cita menjadi pendakwah Islam. Meski saya tidak tahu persis, apakah cita-cita ini benar2 Lillahi Ta’ala atau karena ingin beken dan/atau ingin bisa kaya seperti para ulama, ustad, dan da’i. Saya berpikir positif saja, mereka ingin berkontribusi menyebarkan Islam dengan mengharap ridho dari ALLOH SWT semata.

Ketiga, sebagai yg gaul dan seleb, merujuk pada poin 1 dan 2, insya ALLOH para pendakwah Islam ini bisa lebih mudah menyampaikan pesan serta diikuti oleh banyak orang (terutama yg mengidolakan mereka).

Keempat, pemberian materi (yg dangkal) mesti ditindaklanjuti dengan mengajarkan materi dakwah yg lebih mendalam dan rinci.

Para pendakwah seperti ini, setahu saya, seringkali mendekati orang/target dengan cara yg halus. Yang saya maksud, ketika mereka mendekati para pelacur (dengan tujuan menyadarkan mereka), para pendakwah ini tidak langsung mencap si pelacur dengan atribut2 yg mengerikan. “Eh, kamu pelacur ya? Neraka tempat kamu nanti di akhirat!” atau “Pelacur itu haram, ga akan pernah dimaafkan dosa orang yg berzina.” atau kalimat2 lainnya.

Mereka justru mendekati dg cara2 mengajak selalu ingat ALLOH SWT, lalu mencek juga kondisi keluarganya dan hal2 lain yg dirasa bisa menunjang dakwah mereka dalam mengajak para pelacur itu utk bertobat dan keluar dari lembak maksiat.

Ingat, Rasululloh SAW sendiri tidak serta merta mengharamkan dan mengancam para konsumer minuman keras (khamr) dengan neraka. Melainkan dengan berangsur-angsur, setahap demi setahap.

Yang mesti diperhatikan, pendakwah gaul dan funki ini TIDAK MESTI BERKECIMPUNG dalam kemaksiatan juga.

Maksud saya, jika hendak menyadarkan pelacur bukan berarti harus mengajak tidur si pelacur. Demikian juga apabila hendak menyadarkan orang yg suka mabok bukan berarti mesti ikut minum-minum.🙂

Pendapat saya ini bisa pro dan kontra, tergantung dari sisi anda melihat. Tapi, sekali lagi, untuk kondisi masyarakat seperti sekarang, pendakwah yg gaul dan funki serta menyandang predikat seleb bisa-bisa saja dibutuhkan, tentunya dengan syarat-syarat yg saya tulis di atas.

Meski funki, gaul, seleb, tapi seorang ulama mesti tetap memperlihatkan dia punya wibawa (selama dia berada di jalur yg benar). Karenanya saya tidak suka jika ada yg mengolok-olok ulama dan menjadikan agama sebagai lelucon.

Update: saya baru temukan artikel ttg ulama (meski tidak gaul dan tidak seleb) yg berdakwah di kompleks pelacuran. Silakan dibaca di sini.

Demikian, semoga bermanfaat.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: