Blog Tausiyah275

Agustus 2, 2014

Hukum Berhubungan Suami Istri Di Siang Hari Saat Bulan Ramadhan

Bismillah,

Ramadhan sudah berlalu beberapa waktu lalu. Semoga amal ibadah kita selama Ramadhan kemarin dicatat sebagai kebajikan dan bisa dilakukan secara istiqomah di 11 bulan mendatang. Insya ALLOH kita termasuk pada orang-orang yg kembali suci. Aamiin.

Beberapa hari lalu ada yg bertanya kepada saya mengenai hukum jima’ (berhubungan suami istri) di siang hari pada bulan Ramadhan. Nampaknya saudara kita ini ‘keceplosan’ dan tidak bisa menahan syahwatnya terhadap istrinya.

Wajar dan normal saja hal ini. Syahwat terhadap suami/istri bisa muncul kapan saja, tidak saja malam hari, bahkan pagi ataupun siang juga bisa muncul. Oleh karenanya, salah 1 hal yg mesti dikontrol pada saat Ramadhan adalah tidak berhubungan suami istri, baik terhadap istri yg sah apalagi terhadap selingkuhan ataupun lawan jenis yg tidak halal.

Lantas, jika sudah terjadi, apa yg mesti dilakukan?

Mari kita simak hadits yg seringkali dijadikan rujukan/referensi.

“Suatu hari kami duduk-duduk di dekat Rasululloh SAW kemudian datanglah seorang pria menghadap beliau. Lalu pria tersebut mengatakan, “Wahai Rasululloh, celaka aku.” Rasululloh SAW berkata, “Apa yang terjadi padamu?” Pria tadi lantas menjawab, “Aku telah menyetubuhi istri, padahal aku sedang puasa.” Kemudian Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah engkau memiliki seorang budak yang dapat engkau merdekakan?” Pria tadi menjawab, “Tidak”. Lantas Rasululloh SAW bertanya lagi, “Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?” Pria tadi menjawab, “Tidak”. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Apakah engkau dapat memberi makan kepada 60 orang miskin?” Pria tadi juga menjawab, “Tidak”. Abu Hurairah berkata, Rasululloh SAW lantas diam. Tatkala kami dalam kondisi demikian, ada yang memberi hadiah satu wadah kurma kepada Rasululloh SAW. Kemudian beliau berkata,“Di mana orang yang bertanya tadi?” Pria tersebut lantas menjawab, “Ya, aku.” Kemudian beliau mengatakan, “Ambillah dan bersedakahlah dengannya.” Kemudian pria tadi mengatakan, “Apakah akan aku berikan kepada orang yang lebih miskin dariku, wahai Rasululloh? Demi ALLOH, tidak ada yang lebih miskin di ujung timur hingga ujung barat kota Madinah dari keluargaku. ” Rasululloh SAW lalu tertawa sampai terlihat gigi taringnya. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Berilah makanan tersebut pada keluargamu.” (HR. Bukhari no. 1936 dan Muslim no. 1111).

Dari hadits di atas, maka apabila ada suami/istri yg ‘kelepasan’, maka untuk menebusnya dia harus:
1. Memerdekakan 1 orang budak.
Mengingat jaman sekarang sudah sulit menemukan seorang budak (seperti jaman dulu), maka poin ini bisa diabaikan.

2. Melakukan puasa 2 bulan berturut-turut.
Puasa selama 2 bulan ini dilakukan setelah Ramadhan selesai. Sepemahaman saya, puasa selama 2 bulan berturut-turut ini berarti TIDAK BOLEH DISELINGI/BATAL walau sekali/seharipun.

Pendapat saya pribadi, jika Ramadhan yg 1 bulan saja dia bisa ‘bobol’, apalagi saat puasa 2 bulan berturut-turut? Pendapat saya ini bukan untuk melemahkan ataupun menganggap enteng, namun sebagai pengingat agar suami/istri bisa mengendalikan syahwatnya selama Ramadhan mengingat cukup berat untuk menebusnya.

3. Memberi makan kepada 60 orang fakir miskin.
Untuk melakukan hal ini, saya hendak memberikan sedikit gambaran dan menjelaskan berdasarkan pemahaman yg saya ketahui. Memberi makan 60 orang fakir miskin ini bukan berarti sebanyak 3 kali sehari. Namun 1 kali makan untuk 60 orang. Saya belum menemukan dalil apakah bisa melakukan konversi pemberian makan, dari 1 kali untuk 60 orang menjadi 3 kali untuk 20 orang.

Namun apabila hendak memberi makan kepada fakir miskin yg berstatus suami istri, maka 1 pasangan suami istri tersebut akan dianggap sebagai 2 orang fakir miskin. Sehingga apabila hendak memberi makan pasutri fakir miskin, bisa dilakukan/diberikan pada 20 orang pasutri fakir miskin.

Mengenai biaya makan, maka anda cek dengan biaya makan anda sekali makan. Rata-rata biaya makan di Jakarta sekitar Rp 20 ribu untuk makanan yg sehat dan komplit. Dengan demikian maka dibutuhkan biaya sekitar Rp 1.2 juta untuk memberi makan 60 orang fakir miskin.

Sebagai tambahan ketiga hal di atas hanya berlaku bagi yg melakukan hub suami istri. Sementara apabila melakukan onani di siang hari saat bulan Ramadhan, maka ketiga hal tersebut tidak berlaku. Sepemahaman saya, untuk onani cukup mengganti puasanya di lain hari.

Semoga bermanfaat.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: