Blog Tausiyah275

Oktober 31, 2014

Jadwal Puasa Sunnah 1436H / 2014-2015M

Filed under: Ensiklopedia Islam,Fiqh,HOT NEWS,Puasa — Tausiyah 275 @ 10:46 am

Bismillah,

Berikut ini jadwal puasa sunnah untuk 1436 H dan 2015-2015 M. Maaf terlambat untuk membuat dan menyusun karena kesibukan saya belakangan ini. Semoga bermanfaat dan kita semua bisa mengamalkannya. Aamiin.

1. Puasa sunnah tiap hari Senin dan Kamis (kalender Hijriyah/Masehi).

2. Puasa Tiga Hari Setiap Bulan (Tanggal 13,14,15 di kalender Hijriyah)
– 6, 7, 8 November 2014/Muharram 1436 H
– 5, 6, 7 Desember 2014/Shafar 1436 H
– 4, 5, 6 Januari 2015/Rabi’ul Awwal 1436 H
– 2, 3, 4 Pebruari 2015/Rabi’ul Akhir 1436 H
– 4, 5, 6 Maret 2015/Jumadil Awwal 1436 H
– 2, 3, 4 April 2015/Jumadil Akhir 1436 H
– 2, 3, 4 Mei 2015/Rajab 1436 H
– 31 Mei, 1, 2 Juni 2015/Sya’ban 1436 H
– Puasa (wajib) Ramadhan 1436 H – 18 Juni – 16 Juli 2015***t275: dengan demikian, tidak ada puasa sunnah 3 hari di bulan Ramadhan..***
– 29, 30, 31 Juli 2015/Syawwal 1436 H
– 28, 29, 30 Agustus 2015/Dzulqa’idah 1436 H
– 26, 27, 28 September 2015/Dzulhijjah 1436 H. ***tgl 26 September = hari terakhir Tasyriq, tidak boleh berpuasa***

3. Puasa Sepertiga Bulan – Yakni di bulan Dzulhijjah (antara 14 September – 13 Oktober 2015).
Puasa tanggal 9 Dzulhijjah (Arafah) bagi selain orang yang melaksanakan haji. Tanggal 22 September 2015.
Puasa dilakukan antara tanggal 14 September – 13 Oktober 2015, terputus dengan idul Adha dan hari Tasyrik, dilanjutkan lagi tgl 27 September 2015.

Tidak boleh berpuasa :
Hari Idul Adha – 10 Dzulhijjah / 23 September 2015.
Hari tasyriq 11, 12, 13 Dzulhijjah / 24, 25, 26 Oktober 2015.

4. Puasa Bulan Muharram – ‘Asyura’ selama 3 hari – 9, 10, 11 Muharram (2, 3, 4 November 2014).
Sangat dianjurkan puasa tanggal 9 dan 10 Muharram (Tasu’a dan ‘Asyura). Bisa juga dilakukann tgl 10 dan 11. Intinya: TIDAK BOLEH KHUSUS (HANYA) PUASA TGL 10 MUHARRAM! “Puasalah pd hari Asyura dan berpuasalah sehari sebelum dan setelahnya, dan janganlah kalian menyerupai orang Yahudi.” (HR Ath Thahawi)

5. Puasa pada sebagian bulan Sya’ban
Antara 19 Mei – 17 Juni 2015.

6. Puasa pada bulan Syawal – 6 hari
Tidak diperkenankan puasa pada 1 Syawal (17 Juli 2015)
Bisa dilakukan antara 19 Juli – 15 Agustus 2015.

7. Puasa Daud – berpuasa selang seling
Berpuasa satu hari lalu berbuka satu hari. *kecuali hari2 yang dilarang berpuasa*

Semoga bermanfaat.

Silakan diperbanyak jika anda membutuhkan dan dirasa berguna untuk saudara-saudara kita yang lain.

Catatan tambahan: usai Idul Fitri, ada kemungkinan ada pergeseran tanggal puasa sunnah, tergantung dari keputusan pemerintah.

Iklan

Agustus 2, 2014

Hukum Berhubungan Suami Istri Di Siang Hari Saat Bulan Ramadhan

Bismillah,

Ramadhan sudah berlalu beberapa waktu lalu. Semoga amal ibadah kita selama Ramadhan kemarin dicatat sebagai kebajikan dan bisa dilakukan secara istiqomah di 11 bulan mendatang. Insya ALLOH kita termasuk pada orang-orang yg kembali suci. Aamiin.

Beberapa hari lalu ada yg bertanya kepada saya mengenai hukum jima’ (berhubungan suami istri) di siang hari pada bulan Ramadhan. Nampaknya saudara kita ini ‘keceplosan’ dan tidak bisa menahan syahwatnya terhadap istrinya.

Wajar dan normal saja hal ini. Syahwat terhadap suami/istri bisa muncul kapan saja, tidak saja malam hari, bahkan pagi ataupun siang juga bisa muncul. Oleh karenanya, salah 1 hal yg mesti dikontrol pada saat Ramadhan adalah tidak berhubungan suami istri, baik terhadap istri yg sah apalagi terhadap selingkuhan ataupun lawan jenis yg tidak halal.

Lantas, jika sudah terjadi, apa yg mesti dilakukan?

Mari kita simak hadits yg seringkali dijadikan rujukan/referensi.

“Suatu hari kami duduk-duduk di dekat Rasululloh SAW kemudian datanglah seorang pria menghadap beliau. Lalu pria tersebut mengatakan, “Wahai Rasululloh, celaka aku.” Rasululloh SAW berkata, “Apa yang terjadi padamu?” Pria tadi lantas menjawab, “Aku telah menyetubuhi istri, padahal aku sedang puasa.” Kemudian Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah engkau memiliki seorang budak yang dapat engkau merdekakan?” Pria tadi menjawab, “Tidak”. Lantas Rasululloh SAW bertanya lagi, “Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?” Pria tadi menjawab, “Tidak”. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Apakah engkau dapat memberi makan kepada 60 orang miskin?” Pria tadi juga menjawab, “Tidak”. Abu Hurairah berkata, Rasululloh SAW lantas diam. Tatkala kami dalam kondisi demikian, ada yang memberi hadiah satu wadah kurma kepada Rasululloh SAW. Kemudian beliau berkata,“Di mana orang yang bertanya tadi?” Pria tersebut lantas menjawab, “Ya, aku.” Kemudian beliau mengatakan, “Ambillah dan bersedakahlah dengannya.” Kemudian pria tadi mengatakan, “Apakah akan aku berikan kepada orang yang lebih miskin dariku, wahai Rasululloh? Demi ALLOH, tidak ada yang lebih miskin di ujung timur hingga ujung barat kota Madinah dari keluargaku. ” Rasululloh SAW lalu tertawa sampai terlihat gigi taringnya. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Berilah makanan tersebut pada keluargamu.” (HR. Bukhari no. 1936 dan Muslim no. 1111).

Dari hadits di atas, maka apabila ada suami/istri yg ‘kelepasan’, maka untuk menebusnya dia harus:
1. Memerdekakan 1 orang budak.
Mengingat jaman sekarang sudah sulit menemukan seorang budak (seperti jaman dulu), maka poin ini bisa diabaikan.

2. Melakukan puasa 2 bulan berturut-turut.
Puasa selama 2 bulan ini dilakukan setelah Ramadhan selesai. Sepemahaman saya, puasa selama 2 bulan berturut-turut ini berarti TIDAK BOLEH DISELINGI/BATAL walau sekali/seharipun.

Pendapat saya pribadi, jika Ramadhan yg 1 bulan saja dia bisa ‘bobol’, apalagi saat puasa 2 bulan berturut-turut? Pendapat saya ini bukan untuk melemahkan ataupun menganggap enteng, namun sebagai pengingat agar suami/istri bisa mengendalikan syahwatnya selama Ramadhan mengingat cukup berat untuk menebusnya.

3. Memberi makan kepada 60 orang fakir miskin.
Untuk melakukan hal ini, saya hendak memberikan sedikit gambaran dan menjelaskan berdasarkan pemahaman yg saya ketahui. Memberi makan 60 orang fakir miskin ini bukan berarti sebanyak 3 kali sehari. Namun 1 kali makan untuk 60 orang. Saya belum menemukan dalil apakah bisa melakukan konversi pemberian makan, dari 1 kali untuk 60 orang menjadi 3 kali untuk 20 orang.

Namun apabila hendak memberi makan kepada fakir miskin yg berstatus suami istri, maka 1 pasangan suami istri tersebut akan dianggap sebagai 2 orang fakir miskin. Sehingga apabila hendak memberi makan pasutri fakir miskin, bisa dilakukan/diberikan pada 20 orang pasutri fakir miskin.

Mengenai biaya makan, maka anda cek dengan biaya makan anda sekali makan. Rata-rata biaya makan di Jakarta sekitar Rp 20 ribu untuk makanan yg sehat dan komplit. Dengan demikian maka dibutuhkan biaya sekitar Rp 1.2 juta untuk memberi makan 60 orang fakir miskin.

Sebagai tambahan ketiga hal di atas hanya berlaku bagi yg melakukan hub suami istri. Sementara apabila melakukan onani di siang hari saat bulan Ramadhan, maka ketiga hal tersebut tidak berlaku. Sepemahaman saya, untuk onani cukup mengganti puasanya di lain hari.

Semoga bermanfaat.

Juli 26, 2014

Salah Kaprah: Mengenai Imsak

Bismillah,

Sekian tahun menghirup udara dunia dan menjalani kehidupan di bulan Ramadhan, tiap kali itu pula saya melihat masih adanya salah kaprah terhadap istilah imsak.

Salah kaprah yg saya maksud adalah: jika sudah masuk imsak itu berarti kita DILARANG makan dan minum.

Padahal makna imsak sebenarnya bukan MELARANG makan dan minum, tapi lebih ke arah MEMPERSIAPKAN+MENGINGATKAN diri untuk berhati-hati makan dan minum karena adzan Subuh, yg menjadi PENANDA MULAINYA PUASA, akan masuk. Dengan kata lain, PUASA DIMULAI SEJAK ADZAN SUBUH (TERBIT FAJAR), BUKAN IMSAK.

Bahkan Rasululloh SAW sendiri masih membolehkan orang untuk menyelesaikan minumnya meski adzan Subuh sudah berkumandang. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu; dia berkata,“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Jika seseorang di antara kalian telah mendengar panggilan (adzan, pen.) sedangkan bejana masih di genggaman tangannya maka janganlah dia letakkan bejana itu sampai dia menyelesaikan keperluannya.” (HR Abu Daud)

Bejana di atas bisa juga diasumsikan sebagai gelas.

Karenanya saya sering heran dengan teman-teman saya yg masih buru2 makan (dan minum) menjelang imsak dan lalu berhenti secara total saat ada sirine atau info imsak sudah tiba. Dan mereka justru heran dg saya yg masih menyantap makanan dan minum meski sudah ada tanda imsak.

Saat saya jelaskan hal ini, ada yg masih ngotot dan ada yg bisa menerima (meski masih suka menjalankan salah kaprah ini juga, hehe).

Semoga ke depannya salah kaprah ini bisa menghilang dari pemahaman kaum muslim/ah.

Semoga bermanfaat.

Laman Berikutnya »