Blog Tausiyah275

September 25, 2014

Umat Islam (Jakarta) Maunya Menang Sendiri & Sulit Diatur Untuk Urusan Idul Qurban?

Filed under: Ensiklopedia Islam,Fiqh,HOT NEWS,Qurban,Seri Kesalahan2 — Tausiyah 275 @ 6:40 pm

Bismillah,

Beberapa hari terakhir ini saya mendapati berita tentang surat edaran berisi ‘larangan’ (sengaja saya beri tanda kutip karena setelah saya baca ‘larangan’ ini sebenarnya berupa aturan-aturan yg sifatnya BAIK) yg dikeluarkan oleh Basuki TP terkait penyelenggaraan ibadah Qurban yg akan datang.

Beberapa ‘larangan’ bisa dibaca pada rincian aturan di atas, namun saya kutip beberapa gambar dari sini untuk memudahkan kita.




Melihat hal2 yg dianggap larangan di atas, saya jadi berpikir dan bertanya-tanya, apakah umat Islam (terutama di Indonesia atau pada saat menjadi mayoritas) memang maunya menang sendiri dan sulit diatur? Padahal selaku muslim, saya melihat poin-poin yg diajukan Basuki TP merupakan hal yg baik.

Mari kita perhatikan dengan baik (dan kepala dingin).

Pertama, adalah hal yg wajar jika ada larangan kegiatan penampungan dan penjualan hewan pada jalur hijau, taman kota, trotoar, dan fasilitas umum. KENYATAAN yg sering kita lihat, banyak pedagang/penjual hewan kurban menjual hewan kurban (sapi/kambing/domba) di sembarang tempat tanpa mengindahkan/mempedulikan estetika dan kenyamanan termasuk keselamatan masyarakat lain.

Kotoran hewan qurban bertebaran dan berceceran, mengundang lalat dan menyebar kuman dan bakteri ke udara terbuka. Belum lagi bau kotorannya yg bisa membuat orang kehilangan nafsu makan. Dari sisi ini, kesehatan dan kebersihan diabaikan. Padahal ada beberapa hadits yg terkait dengan kebersihan.

“Diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqas dari bapaknya, dari Rasulullah saw. : Sesungguhnya Allah SWT itu suci yang menyukai hal-hal yang suci, Dia Maha Bersih yang menyukai kebersihan, Dia Mahamulia yang menyukai kemuliaan, Dia Maha Indah yang menyukai keindahan, karena itu bersihkanlah tempat-tempatmu” (HR. Tirmizi)

“Diriwayatkan dari Malik Al Asy’ari dia berkata, Rasulullah saw. bersabda : Kebersihan adalah sebagian dari iman dan bacaan hamdalah dapat memenuhi mizan (timbangan), dan bacaan subhanallahi walhamdulillah memenuhi kolong langit dan bumi, dan shalat adalah cahaya dan shadaqah adalah pelita, dan sabar adalah sinar, dan Al Quran adalah pedoman bagimu.” (HR. Muslim)

“Kebersihan adalah sebagian dari iman” (HR Tirmidzi) << hadits ini ditengarai sebagai hadits lemah, tidak shahih, namun banyak disampaikan dan dijadikan patokan.

Penggunaan trotoar juga menyulitkan para pejalan kaki yg hendak menggunakan trotoar. Tidak sedikit pejalan kaki yg berjalan di pinggir jalan yg beresiko dengan keselamatan mereka. Lagipula larangan berjualan di trotoar tidak hanya diberlakukan utk penjual hewan qurban, tapi juga ke pedagang kaki 5. Jadi tidak ada alasan menolak aturan ini. 🙂

Penjualan hewan kurban di jalur hijau dan taman juga tidak bisa dibenarkan karena memang 2 tempat itu BUKAN tempat berjualan hewan (kurban). Menjual hewan kurban di taman jelas akan merusak keindahan taman, belum lagi jika hewan2 tersebut memakan tanaman di taman. Penjual hewan kurban, setahu saya, tidak akan mau mengganti kerugian yg ditimbulkan. Jangankan untuk mengganti tanamannya, untuk membayar kerugian saja enggan (tidak mau?).

Sama seperti poin di atas, kebersihan taman dan jalur hijau akan rusak karena kotoran hewan bertebaran, bau yg menyengat, dan lalat yg hilir mudik. Taman berfungsi untuk tempat beristirahat dan melepas lelah warga kota. Jika muncul ketidaknyamanan, apalagi bau kotoran dan lalat beterbangan, bagaimana warga kota bisa menikmati taman kota?

Kedua, masalah berkoordinasi dengan RPH (Ruang Pemotongan Hewan) terkait penampungan, penjualan, dan pemotongan hewan kurban.

Selama ini kegiatan penyembelihan/pemotongan hewan kurban dilakukan di halaman masjid. Tidak heran hal ini membuat masjid dan lingkungan sekitar menjadi bau karena hewan qurban ini, baik karena penempatan hewan qurban di masjid ataupun usai proses penyembelihan dilakukan.

Jika anda perhatikan, tempat penyembelihan dan pemotongan hewan qurban yg dilakukan di masjid bisa dikatakan tidak cukup bersih. Darah hewan ditampung di lubang yg dalamnya (seringkali) tidak sampai 1 meter. Usai penyembelihan, hewan qurban yg sekarat disimpan di sembarang tempat, mengakibatkan darah2 berceceran belum lagi jika si hewan meronta-ronta sehingga membuat darah terpercik ke mana-mana. Bau anyir darah lantas tercium dan dihirup oleh kaum muslim.

Saat pemotongan, seringkali petugas pemotongan tidak dilengkapi dengan peralatan kebersihan yg memadai. Tangan tidak dibungkus dg plastik, tidak disediakan alat pencuci tangan (sabun ataupun cairan pembersih). Padahal bisa saja si petugas pemotongan baru memegang kotoran/barang tidak bersih.

Berdasarkan pengamatan saya, bekas2 darah dan pemotongan hewan qurban ini bisa bertahan hingga 2 minggu meskipun sudah dilakukan aktivitas bersih-bersih. Dengan bau darah dan daging yg masih menyengat, apakah umat Islam bisa sholat dengan khusyuk? Terlebih jika halaman masjid biasanya digunakan untuk Jum’atan. Karena ada darah kering dan kotoran2 hewan qurban, jelas halaman masjid tidak layak untuk dijadikan tempat sholat karena darah dan kotoran sifatnya najis.

Jika masjidnya memang cukup luas sehingga bisa menampung hewan qurban untuk dijual, disembelih, dan dipotong-potong, saya rasa tidak ada masalah. Kenyataannya, masjid-masjid sekarang (apalagi di Jakarta) tidak punya lahan yg cukup luas utk kegiatan tersebut.

Berbeda jika dilakukan di RPH yg memang disiapkan khusus untuk proses penyembelihan dan pemotongan.

Yang dibutuhkan sebenarnya adalah memperbanyak RPH sehingga lebih memudahkan masyarakat, tidak saja muslim tapi juga non muslim yg ingin membeli daging sapi/kambing/domba.

Ketiga, instruksi agar kepala Satpol PP DKI melaksanakan penertiban lokasi penampungan dan penjualan hewan kurban tidak resmi.

Hal ini, menurut saya, dimaksudkan untuk kenyamanan umat muslim juga. Dengan membuat lokasi penampungan dan penjualan hewan kurban yg resmi akan memudahkan umat muslim yg hendak membeli hewan qurban. Maksudnya hewan qurban yg dijual sudah sesuai dengan syarat dan ketentuan.

BISA SAJA ada pedagang yg hendak berbuat curang dengan menjual hewan qurban yg cacat misalnya. Atau punya penyakit sehingga bisa mengancam dan membahayakan yang mengonsumsinya. Anda bisa cek berita terkait hewan qurban berpenyakit di sini.

Dengan penjelasan2 (yg saya harap) logis di atas, saya menjadi heran jika ada yg marah2 dengan aturan yg dikeluarkan oleh Basuki TP. Saya TIDAK MELIHAT ADA LARANGAN, melainkan HIMBAUAN. Lalu apa permasalahannya? Karena Basuki TP orang Cina dan Kristen? Atau karena jagoannya kalah saat pilgub (dan pilpres) kemarin?

Saya melihat bahwa pemotongan hewan qurban di masjid bukanlah contoh dari Rasululloh SAW. Setahu saya, di Timur Tengah sekalipun tidak sembarangan penyembelihan dan pemotongan serta pembagian hewan qurban dilakukan. Biasanya kegiatan ini dilakukan di RPH dan ditangani oleh para ‘tukang jagal’ yg memang punya lisensi/ijin khusus.

Jika mau menengok ke kaum muslim yg hidup di negara non muslim, terutama di Eropa dan Amerika Serikat, pengaturan hewan qurban justru sudah dilakukan sejak lama. Lantas apakah umat Islam di sana protes? Saya belum pernah menemukan berita ttg protes umat Islam di negara Barat gara2 ada aturan qurban. Saya yakin mereka juga paham bahwa aturan yg dibuat justru untuk kenyamanan bersama.

Bukankah Rasululloh SAW bersabda,“Barangsiapa ingin disenangi Allah dan rasulNya hendaklah berbicara jujur, menunaikan amanah dan tidak mengganggu tetangganya.” (HR. Al-Baihaqi)

Meskipun sama2 muslim, bisa jadi ada tetangga kita yg tidak kuat mencium bau kambing, kotorannya, ataupun darahnya.

Maka, diperlukan sikap tenggang rasa dan menghargai serta tidak mengganggu (langsung atau tidak) tetangga kita.

Semoga bermanfaat.

Oktober 14, 2013

Apakah Benar, 1 Bulu = 1 Kebaikan?

Filed under: Fiqh,Hadits,Hadits of the Day,Hikmah,HOT NEWS,Qurban,Seri Kesalahan2 — Tausiyah 275 @ 6:07 am

Bismillah,

Sudah cukup lama saya hendak membuat artikel ini, tentang salah kaprah dan kelemahan hadits mengenai pahala dari hewan qurban, yakni dari tiap 1 helai bulunya hewan qurban maka si qaribun (orang yg berqurban) akan mendapatkan 1 pahala.

Namun ternyata sudah ada yang menyusun artikel ini dengan lebih lengkap. Saya ambil saja tulisannya yg bersumber dari sini.

Pertanyaan:
Assalamu ‘Alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh.
Shahihkah hadits yang menyebut bahwa orang yang berqurban mendapatkan pahala sejumlah bulu hewan kurbannya, karena satu bulu adalah satu kebaikan? (Jamaah Masjid Nurul Fikri, Kelapa Dua, Depok)

Jawaban:
dakwatuna.com – Wa ‘Alaikum Salam wa Rahmatullah wa Barakatuh.
Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ‘Ala Aalihiwa Ashhabihi wa Man Waalah, wa ba’d:
Hadits tersebut cukup terkenal, apalagi disebarkan melalui spanduk di berbagai sudut ibu kota Jakarta.

Berikut hadits-hadits tersebut:
1. Riwayat Ibnu Majah dalam Sunannya No. 3127
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ خَلَفٍ الْعَسْقَلَانِيُّ حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ حَدَّثَنَا سَلَّامُ بْنُ مِسْكِينٍ حَدَّثَنَا عَائِذُ اللَّهِ عَنْ أَبِي دَاوُدَ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ قَالَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا هَذِهِ الْأَضَاحِيُّ قَالَ سُنَّةُ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ قَالُوا فَمَا لَنَا فِيهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بِكُلِّ شَعَرَةٍ حَسَنَةٌ قَالُوا فَالصُّوفُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بِكُلِّ شَعَرَةٍ مِنْ الصُّوفِ حَسَنَةٌ
Berkata kepada kami Muhammad bin Khalaf Al ‘Asqalani, berkata kepada kami Adam bin Abi Iyas, berkata kepada kami Sullam bin Miskin, berkata kepada kami ‘Aidzullah, dari Abu Daud, dari Zaid bin Arqam, dia berkata: berkata para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Wahai Rasulullah, hewan qurban apa ini?” Beliau bersabda: “Ini adalah sunah bapak kalian, Ibrahim.” Mereka berkata: “Lalu pada hewan tersebut, kami dapat apa wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Pada setiap bulu ada satu kebaikan.” Mereka berkata: “Bagaimana dengan shuf (bulu domba)?” Beliau bersabda: “Pada setiap bulu shuf ada satu kebaikan.”

2. Riwayat Imam Al Hakim dalam Al Mustadrak ‘Alash Shahihain, 2/422, No. 3467, Juga Imam Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 18796, Abdu bin Humaid dalam Musnadnya No. 259, Ahmad dalam Musnadnya No. 19283
أخبرنا أبو بكر محمد بن عبد الله البزار ببغداد ثنا محمد بن سلمة الواسطي ثنا يزيد بن هارون أنبأ سلام بن مسكين عن عائذ الله بن عبد الله المجاشعي عن أبي داود السبيعي عن زيد بن أرقم رضي الله عنه قال : قلنا يا رسول الله ما هذه الأضاحي ؟ قال : سنة أبيكم إبراهيم قال قلنا : فما لنا منها ؟ قال : بكل شعرة حسنة قلنا يا رسول الله فالصوف ؟ قال : فكل شعرة من الصوف حسنة
Mengabarkan kepada kami Abu Bakar Muhammad bin Abdullah Al Bazzar di Baghdad, bercerita kepada kami Muhammad bin Salamah Al Wasithi, bercerita kepada kami Yazid bin Harun, mengabarkan Sullam bin Miskin, dari ‘Aidzullah bin Abdullah Al Mujasyi’i, dari Abu Daud As Sabi’i, dari Zaid bin Arqam Radhiallahu ‘Anhu, kami berkata: “Wahai Rasulullah, hewan qurban apa ini?” Beliau bersabda: “Ini adalah sunah bapak kalian, Ibrahim.” Mereka berkata: “Lalu pada hewan tersebut, kami dapat apa wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Pada setiap bulu ada satu kebaikan.” Mereka berkata: “Bagaimana dengan shuf (bulu domba)?” Beliau bersabda: “Pada setiap bulu shuf ada satu kebaikan.”
Imam Al Hakim berkata:
هذا حديث صحيح الإسناد و لم يخرجاه
Hadits ini shahih isnadnya, dan keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya. (Al Mustadrak ‘Alash Shahihain, 2/422, No. 3467)

3. Riwayat Imam At Tirmidzi dalam Sunannya No. 1493 secara mu’alaq (tanpa sanad).
قَالَ أَبُو عِيسَى وَيُرْوَى عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ فِي الْأُضْحِيَّةِ لِصَاحِبِهَا بِكُلِّ شَعَرَةٍ حَسَنَةٌ
Berkata Abu ‘Isa (At Tirmidzi), diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa Beliau bersabda: “Bagi pemiliknya, setiap bulu hewan qurban adalah satu kebaikan.”

Selanjutnya…

Para Imam hadits telah mendhaifkan hadits-hadits ini, bahkan sebagian mereka ada yang mengatakan palsu. Ada pun penshahihan Imam Al Hakim, sebagaimana telah masyhur menurut para ahli hadits, bahwa Beliau termasuk yang mutasahil (memudahkan) dalam menshahihkan hadits.

Imam Adz Dzahabi mengkritik penshahihan Imam Al Hakim dalam At Talkhish dengan mengatakan: “‘Aidzullah, dikatakan oleh Abu Hatim: munkarul hadits.” (Ibid)

Imam Ibnul Mulqin juga mengkritik penshahihan Imam Al Hakim, Beliau berkata:
ثمَّ قَالَ : صَحِيح . وَفِيه نظر ؛ لِأَن فِيهِ عَائِذ الله الْمُجَاشِعِي قَالَ البُخَارِيّ : لَا يَصح حَدِيثه . وَقَالَ أَبُو حَاتِم : مُنكر الحَدِيث . وَقَالَ ابْن حبَان : يروي الْمَنَاكِير ، لَا يجوز الِاحْتِجَاج بِهِ .
Kemudian dia (Al Hakim) berkata: shahih. Hal ini perlu dipertimbangkan lagi, sebab dalam hadits ini terdapat ‘Aidzullah Al Mujasyi’i. Imam Al Bukhari berkata: tidak shahih haditsnya. Berkata Abu Hatim: haditsnya munkar. Berkata Ibnu Hibban: Dia meriwayatkan hadits-hadits munkar, dan tidak boleh berhujjah dengannya. (Al Badrul Munir, 9/274)

Imam Al Mundziri juga mengoreksi Imam Al Hakim, Beliau berkata:
بل واهيه عائذ الله هو المجاشعي وأبو داود هو نفيع بن الحارث الأعمى وكلاهما ساقط
Justru hadits ini lemah, ‘Aidzullah dia adalah Al Mujasyi’i, dn Abu Daud dia adalah Nafi’ bin Al Harits Al A’ma, keduanya gugur. (Imam Al Mundziri, At Targhib wat Tarhib, 2/99)

Apa sebab kedhaifan hadits ini? Karena di dalamnya ada beberapa perawi yang bermasalah.

Pertama. ‘Aidzullah bin Al Mujasyi’i
Kun-yah (gelar) beliau adalah Abu Muadz. (Al Hafizh Al Mizzi, Tahdzibul Kamal, 14/93. No. 3069). Dia adalah seorang qadhi pada masa khalifah Sulaiman bin Abdul Malik. (Al Hafizh Ibnu Hajar, Lisanul Mizan, 7/255, No. 3435).

Imam Abu Hatim mengatakan tentangnya: “Munkarul hadits – haditsnya munkar.” (Al Jarh wat Ta’dil, 7/38).

Imam Al Bukhari berkata: “’Aidzullah dari Abu Daud, meriwayatkan darinya Sullam bin Miskin, tidak shahih haditsnya.” (Imam Al Bukhari, Adh Dhu’afa Ash Shaghir, Hal. 96, No. 289)

Imam Ibnu ‘Adi juga berkata seperti Imam Al Bukhari. (Imam Ibnu ‘Adi, Al Kamil fi Dhua’afa Ar Rijal, 5/355)

Imam Ibnu Hibban berkata: “Dia meriwayatkan hadits-hadits munkar, dan tidak boleh berhujjah dengannya.” (Imam Ibnul Jauzi, Adh Dhu’afa wal Matrukin, 2/68, No. 1750)

Kedua. Abu Daud As Sabi’i
Nama aslinya adalah Nufai’ bin Al Harits Al A’ma. (Ta’liq Musnad Ahmad, 32/34)

Imam Yahya bin Ma’in berkata tentangnya: “Laisa bisyai’ – bukan apa-apa.” Imam Abu Hafsh Ash Shairafi ‘Amru bin ‘Ali berkata: “Nafi’ Abu Daud matrukul hadits ­– haditsnya ditinggalkan. Imam Abu Hatim mengatakan: “Munkarul hadits dhaiful hadits – haditsnya munkar dan lemah.” Imam Abu Zur’ah berkata: “Lam yakun bisyai’ – dia bukan apa-apa.” (Lihat semua dalam Al Jarh wat Ta’dil, 8/490)

Imam Abdurrahman bin Mahdi mengatakan: “Dia dikenal dan diingkari.” (Imam Al Bukhari, Adh Dhu’afa Ash Shaghir, Hal. 120, No. 381)

Imam Abu Nu’aim Al Ashbahani mengatakan: “Dia meriwayatkan hadits-hadits mungkar dari Anas, Al Barra, Zaid bin Arqam, dan Buraidah.” (Imam Abu Nu’aim, Adh Dhu’afa, hal. 152), dan hadits ini dia riwayatkan dari Zaid bin Arqam.

Imam Yahya bin Ma’in berkata: “Lam yakun tsiqah – Dia tidak bisa dipercaya.”

Berkata Imam An Nasa’i, Imam Al Fallas, dan Imam Ad Daruquthni: “Matruk.”

Imam Ibnu Hibban mengatakan: “Tidak boleh berhujjah dengannya.” (Imam Ibnul Jauzi, Adh Dhu’afa wal Matrukin, 3/165)

Dalam kitab lain, Imam Yahya bin Ma’in ditanya tentang Abu Daud Al A’ma, katanya: “Tidak bisa dipercaya dan tidak amanah.” (Al Majruhin, 3/55)

Al Hafizh Al Mizzi berkata: “Yahya bin Ma’in mengatakan, Abu Daud Al A’ma memalsukan hadits, dia bukan apa-apa.” (Tahdzibul Kamal, 30/12)

Imam Adz Dzahabi berkata: “Tarakuuhu – para ulama meninggalkan haditsnya.” (Imam Adz Dzahabi, Al Mughni fidh Dhu’afa, 2/701)

Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: “Matruk, dan Ibnu Ma’in menyebutnya sebagai pendusta pada generasi kelima.” (Taqribut Tahdzib, 1/1008)

Imam Al Bushiri berkata: “Matruk, dan dia tertuduh memalsukan hadits.” (Mir’ah Al Mafatih, 5/111)

Imam Abul ‘Ala Al Mubarkafuri berkata: wadhaa’ kadzdzaab – pemalsu hadits dan pendusta. (Tuhfah Al Ahwadzi, 9/49)

Disebutkan dalam Hasyiah As Sindi ‘Ala Ibni Majah:
وَقَالَ اِبْن عُمَر أَبُو الْحَمْرَاء اِتَّفَقُوا عَلَى ضَعْفه وَكَذَّبَهُ بَعْضُهُمْ قَالُوا وَأَجْمَعُوا عَلَى تَرْك الرِّوَايَة عَنْهُ
Berkata Ibnu Umar Abul Hamra’: para ulama sepakat atas kelemahannya, sebagian mereka menyebutnya sebagai pendusta, mereka mengatakan bahwa telah sepakat meninggalkan riwayat darinya. (Hasyiah As Sindi ‘Ala Ibni Majah, 4/443)

Demikian cacat yang ada pada sanad hadits ini, dengan cacat yang cukup parah. Oleh karenanya para ulama mendhaifkan hadits ini. Di antaranya:

  • Imam Al Bukhari menjelaskan sanad hadits tersebut: “ ’Aidzullah dari Abu Daud, meriwayatkan darinya Sullam bin Miskin, tidak shahih haditsnya.” (Imam Al Bukhari, Adh Dhu’afa Ash Shaghir, Hal. 96, No. 289)
  • Imam Al Mundziri berkata: “waahiyah – lemah.” (Imam Al Mundziri, At Targhib wat Tarhib, 2/99)
  • Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: “Dhaif jiddan – sangat lemah.” (Ta’liq Musnad Ahmad, 32/34)
  • Syaikh Al Albani mengatakan: “maudhu’ – palsu.” (As Silsilah Adh Dha’ifah, No. 527, Dha’if At Targhib wat Tarhib No. 672), dalam kitab lainnya beliau mengatakan: dhaif jiddan. (Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 3127)
  • Imam Ibnul ‘Arabi menyatakan tidak ada satu pun yang shahih tentang keutamaan berqurban:

قال بن العربي في شرح الترمذي ليس في فضل الأضحية حديث صحيح انتهى قلت الأمر كما قال بن العربي
“Berkata Ibnul ‘Arabi dalam Syarh At Tirmidzi, tidak ada hadits yang shahih tentang keutamaan berqurban. Selesai. Aku (Syaikh Al Mubarkafuri) berkata: “Masalah ini –masalah keutamaan qurban, pen- sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul ‘Arabi.” (Tuhfah Al Ahwadzi, 5/63)

  • Sedangkan hadits riwayat Imam At Tirmidzi yang berbunyi:

قَالَ أَبُو عِيسَى وَ يُرْوَى عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ فِي الْأُضْحِيَّةِ لِصَاحِبِهَا بِكُلِّ شَعَرَةٍ حَسَنَةٌ
Berkata Abu ‘Isa (At Tirmidzi), diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa Beliau bersabda: “Bagi pemiliknya, setiap bulu hewan qurban adalah satu kebaikan.”
Imam At Tirmidzi sendiri mengisyaratkan kedhaifannya, dengan menggunakan shighat tamridh (bentuk kata yang menunjukkan adanya cacat), yakni yurwaa ‘an (diriwayatkan dari). Para ahli hadits menyebutkan, bahwa untuk menyebutkan hadits yang dhaif tidak boleh menggunakan shighat jazm (bentuk kata yang menunjukkan kepastian), seperti qaala (bersabda), tetapi hendaknya menggunakan shighat tamridh seperti ruwiya ‘an (diriwayatkan dari), hukiya ‘an (diceritakan dari), dan semisalnya.

Syaikh Al Albani menyebutkan bahwa hadits ini palsu. Menurutnya, hadits riwayat At Tirmidzi ini aslinya adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Al Hakim, Al Baihaqi, yang telah dibahas sebelumnya. (As Silsilah Adh Dha’ifah No. 1050)

Imam Al Mundziri juga menyebutkan bahwa hadits yang disebutkan diisyaratkan Imam At Tirmidzi ini adalah yang telah kami bahas sebelumnya. Berkata Syaikh Al Mubarkafuri:
قال المنذري في الترغيب وهذا الحديث الذي أشار إليه الترمذي رواه بن ماجة والحاكم وغيرهما كلهم عن عائذ الله عن أبي داود عن زيد بن أرقم قال
Berkata Al Mundziri dalam At Targhib, bahwa hadits ini yang disebutkan oleh At Tirmidzi ini, juga telah diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah, Al Hakim, dan lainnya, semuanya diriwayatkan dari ‘Aidzullah, dari Abu Daud, dari Zaid bin Arqam, dia berkata: .. (lalu disebutkan hadits lengkap seperti hadits kedua). (Tuhfah Al Ahwadzi, 5/63)

Artinya pembahasan hadits ini sama dengan hadits sebelumnya.
Demikian. Wallahu A’lam.

Dengan demikian maka sudah bisa DIPASTIKAN BAHWA HADITS YANG MENYATAKAN ADA PAHALA DARI TIAP HELAI BULU ADALAH TIDAK BISA DIJADIKAN REFERENSI KARENA LEMAH/TIDAK BERDASAR!

November 14, 2011

Transfer Pahala, Apakah Bisa?

Filed under: Fiqh,Hadits,Haji & Umroh,Lain-lain,Qurban,Sholat — Tausiyah 275 @ 6:17 am

Bismillah,

Dalam berbagai kesempatan, seringkali saya temukan pertanyaan2 berikut:
– bolehkah saya menghajikan ortu yg sudah meninggal?
– bolehkah saya bersedekah atas nama orang lain (yg sudah meninggal)?
– bolehkah saya berqurban atas nama orang tua yg sudah meninggal?
– jika saya membaca Al Fatihah, apakah pahalanya sampai untuk orang tua saya yg sudah meninggal?
Dan pertanyaan2 lain yang sejenis.

Dari beberapa rujukan yg pernah saya baca, ada perbedaan pendapat yg saya rasa bisa menimbulkan pertentangan dan perpecahan jika tidak disikapi dengan arif dan bijaksana.

Bagi kaum yg menganggap dirinya salaf, mereka benar2 ketat menyeleksi ataupun melakukan suatu ibadah. Jika tidak ada dalil yg shahih (menurut mereka), maka mereka akan menolak dengan keras dan membid’ahkannya. Sementara bagi mayoritas kaum muslim di Indonesia, yg notabene adalah kaum nadhiyin (pengikut NU), pertanyaan2 di atas merupakan hal yg esensial dan sudah seringkali dilakukan.

Berulangkali saya temui, terutama di Jakarta dan Bandung, menjelang sholat Jum’at para pengurus masjid mengumumkan shodaqoh sebesar X dan pahalanya untuk si fulan, fulan, dan fulan. Berikutnya juga pahala Fatihah untuk guru2 mereka, ortu, dst dst.

Nah, pertanyaannya, bagaimana sikap yg harus kita ambil? Apakah hendak mengamalkannya? Atau menolak dengan keras dan menganggapnya bid’ah?

Ada 3 pendapat mengenai pertanyaan2 di atas.

Pertama, menolak amalan2 di atas. Dengan kata lain, pahala tidaklah bisa dikirim/ditransfer ke orang yg sudah meninggal. Banyak dalil yang mendukung pendapat ini, terutama hadits Rasululloh SAW “Apakah anak Adam mati, putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara; shadaqoh jariyah, ilmu yang dimanfa’atkan, dan anak yang sholeh yang mendo’akan dia.”

Dalil2 lainnya:
“Dan tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dia kerjakan”. (QS An-Najm(53):39)

“ALLOH SWT tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.” (QS Al Baqarah(2):286)

“Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak dihalangi (menerima pahala) nya; dan ALLOH Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali Imran(3):115)

Kedua, ada amalan yg akan sampai ke org yg sudah meninggal, ada yg tdk sampai. Amalan2 yg dianggap bisa mentransfer pahala adalah amalan2 yg menggunakan harta.

Maksudnya begini. Ortu si Fulan sudah meninggal. ALLOH SWT mengkaruniai Fulan dengan harta yg banyak. Maka saat Fulan beramal dengan hartanya, misalnya sedekah, haji, qurban, dia bisa mentransfer pahalanya untuk kedua ortunya.

Sementara, jika Fulan membaca Fatihah atau Al Qur’an, atau sholat maka pahalanya tidak akan bisa ditransfer.

Beberapa dalil yang mendukung pendapat ini adalah:
Dari Abdullah bin Abbas ra. bahwa Saad bin Ubadah ibunya meninggal dunia ketika ia tidak ada ditempat, lalu ia datang kepada Rasululloh SAW unntuk bertanya,”Wahai Rasululloh SAW sesungguhnya ibuku telah meninggal sedang saya tidak ada di tempat, apakah jika saya bersedekah untuknya bermanfaat baginya?” Rasululloh SAW menjawab,”Ya”. Saad berkata,”Saksikanlah bahwa kebunku yang banyak buahnya aku sedekahkan untuknya”.

Dari Ibnu Abbas ra. bahwa seorang wanita dari Juhainnah datang kepada Rasululloh SAW dan bertanya,”Sesungguhnya ibuku nadzar untuk haji, namun belum terlaksana sampai ia meninggal, apakah saya melakukah haji untuknya?” Rasululloh SAW menjawab,”Ya, bagaimana pendapatmu kalau ibumu mempunyai hutang, apakah kamu membayarnya? Bayarlah hutang ALLOH SWT, karena hutang ALLOH SWT lebih berhak untuk dibayar.”

Untuk ibadah haji ini, ada yg mengsyaratkan bahwa ortunya sudah pernah berniat haji, namun keburu dipanggil ALLOH SWT.

Ketiga, semua amalan bisa ditransfer pahalanya.

Beberapa dalilnya:
Dari Abdullah bin Abbas ra. bahwa Saad bin Ubadah ibunya meninggal dunia ketika ia tidak ada ditempat, lalu ia datang kepada Rasululloh SAW unntuk bertanya,”Wahai Rasululloh SAW sesungguhnya ibuku telah meninggal sedang saya tidak ada di tempat, apakah jika saya bersedekah untuknya bermanfaat baginya?” Rasululloh SAW menjawab,”Ya”. Saad berkata,”Saksikanlah bahwa kebunku yang banyak buahnya aku sedekahkan untuknya”.

Dari ‘Aisyah ra bahwa Rasululloh SAW bersabda,”Barang siapa yang meninggal dengan mempunyai kewajiban shaum maka keluarganya berpuasa untuknya.”

Dari Ibnu Abbas ra. bahwa seorang wanita dari Juhainnah datang kepada Rasululloh SAW dan bertanya,”Sesungguhnya ibuku nadzar untuk haji, namun belum terlaksana sampai ia meninggal, apakah saya melakukah haji untuknya?” Rasululloh SAW menjawab,”Ya, bagaimana pendapatmu kalau ibumu mempunyai hutang, apakah kamu membayarnya? Bayarlah hutang ALLOH SWT, karena hutang ALLOH SWT lebih berhak untuk dibayar.”

Dari Ma’qil bin Yasar ra berkata bahwa Rasululloh SAW bersabda,”Bacakanlah surat Yaasiin atas orang yang meninggal di antara kalian.” (HR Abu Daud, An-Nasaa’i dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

“Jantungnya Al-Quran adalah surat Yaasiin. Tidak seorang yang mencintai ALLOH SWT dan negeri akhirat membacanya kecuali dosa-dosanya diampuni. Bacakanlah (Yaasiin) atas orang-orang mati di antara kalian.” (Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

Hadits ini dianggap cacat oleh Ad-Daruquthuny dan Ibnul Qathan, namun Ibnu Hibban dan Al-Hakim menshahihkannya.

“Dari Abi Ad-Darda’ dan Abi Dzar ra. berkata, “Tidaklah seseorang mati lalu dibacakan atasnya surat Yaasiin, kecuali ALLOH SWT ringankan siksa untuknya.” (HR Ad-Dailami dengan sanad yang dhaif sekali)

“Adalah Ibnu Umar ra. gemar membacakan bagian awal dan akhir surat Al-Baqarah di atas kubur sesuah mayat dikuburkan. (HR Al-Baihaqi dengan sanad yang hasan).

Lalu, pendapat mana yang paling benar?

Saudara2ku, semua pendapat mempunyai dalil yg sama2 kuat. Menurut saya, daripada sibuk menyalahkan orang lain, beribadahlah sesuai dengan pendapat yg kita yakini. Toh, semuanya mempunyai dalil, dan seperti saya tulis, insya ALLOH sama2 kuat. Jika menyalahkan pendapat lain dan menganggap dirinya paling benar, maka sesungguhnya dia tidak ada bedanya dengan Iblis yg menganggap Nabi Adam as lebih rendah karena dia terbuat dari api sementara Nabi Adam as dibuat hanya dari tanah.

Pilih salah satu pendapat, lalu lakukan dengan kontinyu (istiqomah). Insya ALLOH akan bermanfaat.

Semoga berguna.

Laman Berikutnya »