Blog Tausiyah275

September 21, 2014

Profesional VS Ibadah

Filed under: Muamalah,Seri Kesalahan2,Tarbiyah — Tausiyah 275 @ 10:04 am

Bismillah,

Catatan: artikel ini pertama kali saya buat dan tulis sekitar 20 Agustus 2013 lalu. Saya baru selesaikan hari ini karena ada beberapa hal yg hendak saya tambahkan di artikel ini sebelum saya muat.

Semoga bermanfaat.

=== 20 Agustus 2013
Selama beberapa waktu terakhir ini, saya membaca banyak informasi mengenai ‘ustad matre’. Untuk menghindari fitnah/kesimpang siuran berita, saya kutip saja informasi yg saya terima (saya dapat dari situs ini).

Kepada Yth :
Ustaz Solmed

Ustaz Solmed yang terhormat, saya adalah salah satu TKI Hong Kong yang terluka dengan pernyataan ustaz di twitter yang mencurigai kami (TKI Hong Kong) sebagai jaringan dari komunis. Saya (masih) memaklumi jika ustaz memasang tarif saat diundang untuk berceramah.

Itu hak ustaz. Pun, saya juga mengerti jika ustaz membela diri ketika ustaz dituding menaikkan tarif saat diminta ceramah di Hong Kong, terlepas dari benar atau tidaknya argumen yang ustad sampaikan. Namun, ketika ustad “berkicau” di twitter dengan menyatakan kecurigaan bahwa TKI Hong Kong merupakan bagian dari jaringan komunis, maka saya sebagai bagian dari TKI Hong Kong merasa terluka, teriris hati saya mendengar hal ini.

Saya suka menulis, saya menyampaikan hal ini melalui tulisan dan mem-broadcastnya di sosmed bukan untuk mencari sensasi, apalagi popularitas. Ini adalah suara hati saya. Sedih tak terkira saya melihat seorang ustad “memerangi” saudara seagamanya dengan bersenjatakan media.

Miris, melihat dan mendengar pemberitaan beberapa media yang menurunkan berita timpang (tidak balance, hanya memaparkan berita dari pihak ustad Solmed, tidak berusaha melakukan cross check dengan pihak EO di Hong Kong).
(more…)

Iklan

Kapankah Cerai Sebagai Solusi Terbaik (Terutama Bagi Kaum Perempuan)?

Filed under: Fiqh,Hikmah,Munakahat — Tausiyah 275 @ 5:01 am

Bismillah,

Sehubungan dengan banyaknya pertanyaan dan konsultasi terkait perceraian di sini, saya melihat banyak kaum perempuan yg bingung menentukan sikap, apakah hendak bercerai agar mereka terlepas dari perilaku buruk suami yang mereka terima ataukah meneruskan pernikahan dengan alasan anak-anak ataupun tidak enak (dan tidak nyaman) dengan predikat janda yg mereka terima.

Berikut ini saran dari saya yang sebaiknya dipikirkan masak-masak oleh kaum perempuan sebelum mereka menentukan nasib mereka sendiri. Saran ini berlaku umum, juga bisa digunakan oleh kaum lelaki (suami). Namun pada dasarnya saran ini ditujukan kepada kaum perempuan.

1. Meneruskan pernikahan, dengan asumsi si suami/istri masih bisa diperbaiki kelakuannya.
Resiko:
– Mesti tahan banting selama proses memperbaiki kelakuannya
– Tidak bisa menentukan berapa lama proses dilakukan
– Tidak ada jaminan ybs akan berubah

2. Menghentikan pernikahan (cerai). Solusi ini memang tidak disukai ALLOH SWT, namun dengan bercerai maka:
– Anda dan keluarga (anak) punya hak untuk hidup (lebih) bahagia, aman, nyaman, dan bebas dari ketakutan
– Anda mencegah orang lain berbuat dosa (bertindak kasar, dst dst)
– Siapa tahu anda menemukan jodoh/pasangan yg lebih baik. Aamiin.

Resiko yang mesti dihadapi kaum perempuan, pada saat mereka memilih no 2 adalah:
– Anda mesti siap mencari nafkah untuk keluarga
– Anda mesti siap dg rongrongan/masalah (terutama terkait anak) yg dilakukan oleh (mantan) suami anda kelak.
– Tidak ada jaminan anda menemukan jodoh pengganti, mungkin akan menjanda seterusnya
– Mesti siap menjadi omongan orang

Namun, sesungguhnya tidak perlu risau dengan status janda yg akan melekat pada diri perempuan, usai mereka bercerai. Mengapa? Silakan baca artikel berikut ini, insya ALLOH anda tidak perlu takut lagi dengan predikat janda. Aamiin.

So, apabila kondisi rumah tangga anda memang sudah sedemikian parah dan tidak bisa diperbaiki lagi, maka tempuh langkah terakhir, yakni bercerai. Itupun memang sudah dilakukan masak-masak, bukan karena emosi sesaat yang kelak akan disesali, terutama jika sudah jatuh talak 3.

Semoga bermanfaat.

September 17, 2014

Apa Hukumnya Dibonceng Tukang Ojek?

Filed under: Ensiklopedia Islam,Fiqh,Hikmah,HOT NEWS,Lain-lain,Seri Kesalahan2,Tarbiyah — Tausiyah 275 @ 10:47 am

Bismillah,

Salah satu hal yg pernah ditanyakan kepada saya adalah hukum dibonceng tukang ojek.

Sebagaimana diketahui bersama, keberadaan tukang ojek merupakan salah satu penyelamat terutama di Jakarta yg jalanannya seringkali macet (dan mungkin tidak akan pernah terselesaikan). Selain karena ongkosnya murah, tukang ojek yg jago akrobat (yg sayangnya membahayakan jiwa dirinya dan penumpangnya) akan menghemat waktu tempuh. Resikonya ya jelas ada, selain anggota tubuh berbenturan dengan kendaraan lain, bau asap dan kondisi badan jadi acak2an mesti siap ditanggung si penumpang.

Jika penumpangnya laki-laki, maka tidak ada masalah dari sisi hukum Islam. Tapi bagaimana jika penumpangnya perempuan?

Sudah seringkali saya mendapati penumpang perempuan dibonceng tukang ojek. Ada berbagai peristiwa dan posisi yg terkadang membuat saya hanya bisa mengelus dada, tapi kadang juga membuat saya tersenyum dan acungkan jempol.

Beberapa ulama menyatakan bahwa perempuan yg dibonceng tukang ojek (laki-laki tentunya) termasuk yg dikenai hukum berdua-duaan (khalwat). “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan.” (Riwayat Ahmad)

Hadits di atas seringkali dijadikan rujukan, terlebih karena:
1. posisi kursi (jok) sepeda motor merupakan satu kesatuan (tidak ada pemisah).
2. normalnya berboncengan itu hanya berdua (agar tidak melanggar hukum).

Saya melihat para ulama lebih sering menekankan sanksi hukum tanpa membantu mencarikan solusi yg, minimal, bisa 60% atau lebih. Walhasil anjuran dan pendapat ulama ini sering diabaikan dan dianggap angin lalu.

Di sini, saya berusaha membantu mencarikan solusi, terlebih jika melihat kondisi Jakarta yg memang seringkali memaksa para perempuan menggunakan jasa ojek.

1. Beri ruang/jarak dengan tukang ojek.
Jika si perempuan (apalagi sudah bersuami) memeluk erat badan si tukang ojek, jelas hal itu menyalahi hukum Islam. Bahkan bisa saja ada pikiran bahwa mereka selingkuh. Ataupun hal tersebut sudah mendekati zina.

Memberi ruang/jarak di sini bisa dilakukan dengan menyimpan tas ataupun map atau benda lain yg bisa menghindarkan kontak dengan tubuh si tukang ojek.

Ada kalanya si tukang ojek yg justru kurang ajar. Dia lantas mengendalikan motornya dengan ngawur, meng-gas dan meng-rem sesukanya, sehingga terjadi kontak/sentuhan antara dia dengan penumpangnya.

Jika ini terjadi, ada baiknya si perempuan bersikap tegas. Minta turun dan laporkan ke polisi dengan tuduhan pelecehan seksual. Menampar atau melakukan kontak fisik jelas tidak disarankan, meski saya tahu rasa kesal, dongkol, dan marah yg muncul.

2. Mencari tukang ojek yg baik2 (dikenal).
Poin 2 ini mungkin agak sulit, terlebih jika butuhnya mendadak. Dan tidak ada jaminan juga tidak terjadi perselingkuhan, apalagi sudah kenal.

Namun, setidaknya tukang ojek yg baik2 dia juga akan berusaha menjaga sikap. Karena bila terjadi hal yg tidak menyenangkan dialami 1 pelanggannya, bisa berakibat hilangnya pelanggan (perempuan) yg lainnya.

3. Tidak melewati jalur2 sepi.
Kecuali terpaksa karena hari sudah malam (gelap) atau lokasi tujuannya di tempat sepi. Minta tukang ojek untuk selalu lewat daerah yg ramai (tapi bukan macet) untuk mencapai tujuan.

Semoga artikel ini bermanfaat.

« Laman SebelumnyaLaman Berikutnya »