Blog Tausiyah275

Agustus 8, 2012

Mencari Dan Memilih Pemimpin Dari Kacamata Islam

Filed under: Ensiklopedia Islam,Fiqh,Hikmah,HOT NEWS,Lain-lain,Seri Kesalahan2,Tarbiyah — Tausiyah 275 @ 6:57 am

Bismillah,

Salah satu hal yg tidak bisa lepas dari kehidupan kita sebagai muslim adalah memilih pemimpin. Yang dimaksud dengan pemimpin di sini terutama yg terkait dengan pemimpin di ranah publik, seperti walikota, gubernur, ataupun presiden.

Islam sendiri sudah memberikan petunjuk yg jelas mengenai bagaimana mencari dan memilih pemimpin, baik melalui ayat2 di Al Qur’an maupun hadits2 dari Rasululloh SAW.

Pertama, beragama Islam.

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (Ali Imran(3):28)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?” (An Nisa(4):144)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” (Al Maidah(5):51)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.” (Al Maidah(5):57)

Kedua, laki-laki.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (An Nisa(4):34)

“Tidak akan beruntung suatu kaum yang mengangkat seorang wanita sebagai pemimpinnya.” (HR. Bukhari)

Ketiga, dewasa (baligh). Baligh di sini terutama mampu berpikir dengan baik, serta sudah bisa membedakan hal2 yg benar dan salah.

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.” (An Nisa(4):5)

Keempat, adil. Pengertian adil di sini adalah adil secara umum, tidak berat sebelah memihak salah satu golongan, terutama kelompok yg berkaitan dengan dirinya atau menguntungkan dirinya.

“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (Shaad(38):26)

Kelima, amanah dan berlaku profesional serta mempunyai ilmu/pengetahuan di bidangnya. Dengan berlaku amanah dan mempunyai pengetahuan di bidangnya, maka seorang pemimpin akan dipercaya dan bisa dengan mudah memecahkan persoalan2 yg timbul.

“Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” (Yusuf(12):55)

Kita juga sering mendengar hadits Rasululloh SAW sebagai berikut
“Apabila suatu urusan dipercayakan kepada seseorang yang bukan ahlinya, maka tunggulah waktu kehancurannya.” (HR. Bukhari)

Keenam, sehat fisik dan mental, karena seorang pemimpin seringkali dituntut bekerja keras tidak mengenal waktu serta banyak mendapat tantangan dan serangan dari lawan2 politiknya.

“Dari Abu Dzar berkata, saya bertanya kepada Rasululloh SAW, mengapa engkau tidak meminta saya memegang sebuah jabatan?; Abu Dzar berkata lagi, lalu Rasululloh SAW menepuk punggung saya dengan tangannya seraya berkata; Wahai Abu Dzar,sesungguhnya kamu seorang yang lemah. Padahal, jabatan itu sesungguhnya adalah amanat (yang berat untuk ditunaikan)” (HR. Muslim)

Rasululloh SAW juga menyatakan agar TIDAK MEMILIH SESEORANG MENJADI PEMIMPIN KARENA YBS MENGINGINKANNYA.

“Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari r.a, ia berkata, “Aku dan dua orang dari kaumku datang menghadap Nabi saw. Salah seorang mereka berkata, ‘Ya Rasululloh SAW angkatlah kami sebagai pejabatmu.’ Satu orang lagi juga mengatakan perkataan yang sama. Lalu Rasululloh SAW bersabda, ‘Kami tidak akan memberikan jabatan pemerintahan ini kepada orang yang meminta dan berambisi untuk mendapatkannya’,” (HR Bukhari [7149] dan Muslim [1733]).

Dalam riwayat lain

“Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Samurah r.a, ia berkata, “Rasululloh SAW bersabda kepadaku, ‘Wahai Abdurrahman, janganlah engkau meminta jabatan pemerintahan, sebab apabila engkau diberi jabatan itu karena engkau memintanya maka jabatan tersebut sepenuhnya dibebankan kepadamu. Namun apabil jabatan tersebut diberikan bukan karena permintaanmu maka engkau akan dibantu dalam melaksanakannya’,” (HR Bukhari [7147] dan Muslim [16522]).

Diriwayatkan dari Auf bin Malik dari Nabi saw. beliau bersabda, “Jika kalian mau, aku beri tahu kepada kalian tentang jabatan, apa hakikat jabatan itu? Awalnya adalah celaan, yang kedua adalah penyesalan dan yang ketika adalah adzab di hari kiamat, kecuali orang yang berlaku adil. Bagaimana mungkin ia dapat berlaku adil terhadap keluarga-keluarganya?” (HR al-Bazzar [1597]).

“Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan.” (HR Bukhari no. 7148)

“Kami tidak menyerahkan kepemimpinan ini kepada orang yang memintanya dan tidak pula kepada orang yang berambisi untuk mendapatkannya.” (HR. Bukhari no. 7149 dan Muslim no. 1733)

Dari sekian banyak syarat dan ketentuan dalam mencari dan memilih seorang pemimpin, poin 1 dan 2, yakni beragama Islam dan laki-laki seringkali menjadi bahan perdebatan tiada akhir. Pro dan kontra seringkali terjadi dan berfokus pada 2 poin ini,terutama di Indonesia.

Tahun 1999, sempat terjadi perdebatan sengit ketika Megawati hendak naik menjadi presiden. Mayoritas ulama dan kaum muslim menolak pencalonan Megawati menjadi presiden terutama dengan dalil bahwa harusnya laki2 yg lebih berhak menjadi pemimpin. Namun, ketika Megawati menjadi presiden apa yg terjadi? Yg menjadi Wakil Presiden adalah Ketua dari Partai Pembangunan Persatuan (PPP) yg notabene partai Islam. Ironis kan? :-)

Demikian pula dengan ‘predikat’ agama Islam yg mesti disandang oleh pemimpin. Ada yg mengatakan bahwa agama Islam di sini bukan syarat mutlak, alias mesti ada catatan khusus.

Saya setuju dengan pendapat ini, terutama jika kaum muslim hidup di negara/lingkungan yg mayoritas non muslim. Sebagai contoh, kaum muslim di Amerika Serikat jelas tidak bisa memilih pemimpin (presiden) yg beragama Islam, terutama karena belum ada calon presiden dari kalangan Islam. Namun, di beberapa negara bagian, kaum muslim sudah bisa mempunyai senator yg beragama Islam.

Yang seringkali menjadi ganjalan di hati saya adalah sikap kaum muslim yg menjadikan Islam sebagai SATU-SATUNYA SYARAT DALAM MEMILIH PEMIMPIN. Pokoknya Islam, pokoknya mesti yg seagama, seiman, pilih yg terbaik di antara yg terburuk, bla bla bla.

Saya, terus terang katakan bahwa orang2 yg memilih dg dasar demikian sama halnya dengan membeli kucing dalam karung. Mungkin pernyataan ini terlalu kasar atau liberal, namun mari kita kaji dan telaah lebih mendalam sebelum anda marah ataupun tidak suka apalagi mencap saya sebagai orang kafir ataupun orang liberal (JIL).

“Pokoknya Islam” ini seringkali menjadikan kaum muslim (terutama di Indonesia) menjadi object politik yg selalu dibodohi oleh orang2 licik, culas, dan jahat yg kebetulan memegang tampuk kekuasaan. ‘Sialnya’ lagi, orang2 tersebut ternyata beragama Islam pula, orang2 yg mengaku dan menyatakan bahwa sesama muslim itu saudara namun dalam kenyataannya (dalam berpolitik) mereka seringkali tidak ragu menusuk dari belakang kaum muslim.

Perilaku dan sikap “Pokoknya Islam” ini pula yg menjadikan agama Islam menjadi bahan ejekan, cemoohan, dan dihina karena ternyata pemimpin2 (beragama) Islam yg dipilih ternyata memiliki sifat korup, jahat, culas, licik, khianat, dan perilaku2 tidak Islami lainnya.

“Ah, kalo itu kan urusan dia dengan ALLOH SWT.”
“Setidaknya itu yg terbaik dari yg terburuk.”
“Tugas kita harus mengingatkan dia, bla bla bla…”

Pernyataan2 di atas mungkin pernah kita dengar, tapi apa iya lantas kita hanya berwacana dan beropini dengan pernyataan2 di atas?

Menurut saya, korupsi itu tidak sekedar kejahatan dan kemaksiatan yg bisa diselesaikan urusannya dengan ALLOH SWT. Namun, juga terkait (sangat) erat dengan hajat hidup orang banyak (masyarakat/manusia). Bagi saya, seorang koruptor yg (ingin) bertobat tidak cukup hanya dengan berdoa kepada ALLOH SWT agar dosa2nya diampuni. Akan tetapi, dia juga mesti mengembalikan hak-hak masyarakat yg telah dia rampas dengan cara yg lalim.

Berapa banyak masyarakat yg mati karena dana kesehatan dikorupsi? Berapa banyak pengungsi dan orang yg tertimpa bencana mati kelaparan karena bantuan yg mereka tidak jauh dari memadai atau layak? Berapa banyak anak-anak yg tidak bisa sekolah karena dana pendidikannya disunat sana sini?

Dengan kata lain, apabila ada calon pemimpin yg beragama Islam namun perilakunya tidak Islami, maka JANGAN DIPILIH!

“Tugas kita harus mengingatkan dia, bla bla bla…”

Ah, menurut saya statement/pernyataan di atas hanya sekedar omong kosong belaka! Saya tidak yakin dan tidak percaya masih ada pemimpin (di Indonesia) seperti Umar bin Khatab yg ketika dia berkata,”Jika saya salah, beritahu saya” dan kemudian ada seseorang yg tidak kalah lantang berkata,”Umar, jika kamu salah, saya akan luruskan kamu dengan pedang”. Terlalu bermimpi (kebangetan) jika saya mengharapkan ada pemimpin seperti itu.

Lha wong pemimpin2 yg sudah ada saja, walau sudah diingatkan berkali-kali (dari cara yg halus hingga demo besar2an) tidak pernah ada tindakan yg nyata untuk melakukan perubahan sesuai yg diminta oleh masyarakat.

“Ulama juga punya tanggung jawab moral dengan menegur pemimpin, bla bla bla…”

Lagi2 pernyataan yg membuai dan menina bobokan. Mengharapkan ulama di Indonesia untuk bisa bersikap tegas dan menjaga moral di Indonesia mirip mimpi di siang bolong. Ketika ulama sudah tunduk pada penguasa dan setiap tindakannya adalah ‘pesanan’ dari penguasa, maka saat itu matilah moral suatu masyarakat.

Pemimpin yg mengaku Islam namun pada kenyataannya berlaku khianat (tidak amanah) juga tidak perlu dipilih! Slogan “Pilih ahlinya…” (yg tentu saja ditujukan kepada dirinya) pada saat kampanye dan ternyata saat menjabat tidak bisa dibuktikan bahwa dirinya ahli seperti yg digembar-gemborkan, jelas merupakan suatu KEBOHONGAN YANG SEDEMIKIAN NYATA! Bahkan jika kita menilik pada hadits Rasululloh SAW di atas, “Apabila suatu urusan dipercayakan kepada seseorang yang bukan ahlinya, maka tunggulah waktu kehancurannya.”(HR. Bukhari) maka mestinya pemimpin2 ‘kacangan’ seperti itu banyak2 muhasabah dan bertobat, bukannya mencalonkan diri kembali menjadi pemimpin. ;-)

Jadi, mestinya mencari dan memilih pemimpin bukan sekedar beragama Islam, namun dia juga mesti memenuhi syarat2 yg telah saya tuliskan di atas.

Saya sendiri, jika ada pilihan calon pemimpin yg Islam namun berlaku tidak adil, khianat, tidak bisa dipercaya dengan calon pemimpin yg non muslim namun memiliki sifat adil, bisa dipercaya, tegas, maka saya akan memilih pemimpin yg non muslim.

“Wah, anda menyalahi hukum ALLOH SWT, adzab akan menimpa anda!”
“Anda kafir!”
“Anda menyesatkan orang2!”

Sesungguhnya saya berlindung kepada ALLOH SWT atas kesalahan saya dalam memilih pemimpin ini. Namun, saya mempunyai prinsip yg sama dengan Ibnu Taimiyah yg mempunyai pendapat sebagai berikut:
“Sesungguhnya ALLOH SWT mendirikan (mendukung) negara yang adil meskipun negara itu kafir, dan ALLOH SWT tidak mendukung (negara) yang zalim sekalipun negara itu Muslim.”

pernyataan Ibnu Taimiyah mengenai pemimpin yg muslim tapi dzalim dengan pemimpin non muslim tapi adil.

Pernyataan Ibnu Taimiyah ini akan terasa relevan jika kita melihat banyak negara2 kafir yg masyarakatnya bisa hidup dengan tenang dan sejahtera, walau negara tersebut tidak punya sumber daya alam yg cukup. Kita bisa lihat Jepang. Meski negara kafir itu sering dilanda bencana gempa, gunung meletus, bahkan tsunami, namun kita bisa lihat masyarakatnya hidup tenang, tolong menolong, tepat waktu, hormat pada orang tua. Bandingkan dengan negara kita. Mayoritas Islam, tapi kekayaan alam diambil orang, sering terjadi amuk massa, pemimpinnya korup, masyarakatnya banyak yg hidup dengan kondisi yg memprihatinkan.

Arab (Saudi)? Di balik kekayaan sumber daya alam (minyak) yg dimiliki dan kemakmuran yg dinikmati masyarakat Arab (Saudi), sebenarnya banyak kebobrokan pemimpin dan masyarakatnya. Hanya saja, seperti tulisan saya di sini dan sini, kaum muslim cenderung enggan untuk membahasnya, dengan berbagai alasan, terutama “jangan mengungkit aib saudaramu”. ;-)

Penutup,

Sebenarnya jika menjadikan figur Rasululloh SAW sebagai seorang pemimpin, maka syarat2 menjadi/memilih pemimpin itu ‘mudah’.
1. Shiddiq (berkata jujur)
2. Fathonah (cerdas)
3. Tabligh (mampu berkomunikasi)
4. Amanah (bisa dipercaya)

Sayangnya, seperti saya tulis di atas, banyak (calon) pemimpin yg beragama Islam namun tidak memenuhi 4 kriteria di atas. Boro2 4 syarat, bisa memenuhi 1 saja sudah bisa dikatakan ‘beruntung’. ;-)

Dan bagi saya, memilih pemimpin (beragama) Islam yg jahat sebenarnya merugikan kita, di dunia dan di akhirat. Di dunia, kita dirugikan dengan sifat jahatnya yg membuat banyak masyarakat sengsara. Di akhirat, kita juga akan diminta pertanggungjawabannya karena memilih pemimpin yg jelas2 jahat/tidak amanah/khianat.

Dan sesungguhnya, dengan memilih pemimpin Islam yg jahat, sebenarnya kita sudah menjerumuskan saudara kita itu ke dalam jurang neraka. Mengapa? Karena dengan menjadikan dia sebagai seorang pemimpin, maka dia akan lebih leluasa melakukan tindak kejahatannya, seperti korupsi, menyengsarakan masyarakat serta dampak kejahatannya akan lebih luas dan merusak.

Seharusnya pemimpin Islam yg jahat itu merasa malu mencalonkan diri sebagai pemimpin karena kejahatan yg dia lakukan sebenarnya mencoreng nama Islam itu sendiri. Bagaimana mungkin orang2 (terutama non muslim) bisa percaya Islam itu rahmatan lil ‘alamin (rahmat/anugerah bagi alam semesta) jika ternyata untuk kelompok masyarakat yg kecil saja sudah menjadi bencana dan menimbulkan kesengsaraan? ;-)

Terkait dengan pemilihan Gubernur DKI, banyak orang khawatir dengan pasangan Jokowi-Basuki. Mereka melihat sosok Basuki yg Cina dan non Islam adalah ancaman bagi kaum muslim (terutama di Jakarta). Tak ayal, banyak black campaign yg ditujukan kepada mereka, yg (menurut saya) lucunya juga dilakukan oleh ‘MUI DKI Jakarta’ seperti bisa dilihat di sini.

Menurut saya, ketakutan itu terlalu berlebihan. Pertama, sosok Jokowi sendiri adalah muslim yg bisa dipercaya. Hasil kepemimpinannya di Solo membuktikan bahwa dia memenuhi 4 syarat pemimpin di atas. Kedua, Basuki berada di posisi (calon) wakil gubernur. Dengan demikian, bukan pengambil keputusan langsung. Tidak perlu taktu, masih ada Jokowi (pemimpin yg Islam) yg diharapkan bisa ‘mengendalikan’ Basuki/Ahok agar tidak melampaui batas, apalagi merugikan kaum muslim (Jakarta). Jika anda masih takut dg Ahok dan tidak percaya dg Jokowi, coba cek agama wakil walikota Solo. Yak, non muslim. So, Jokowi sudah punya pengalaman bekerjasama dengan pemimpin yg non muslim.

Mari kita berdoa, semoga ALLOH SWT selalu melindungi kita dari pemimpin2 jahat, apalagi pemimpin jahat yg beragama Islam. Dan PILIHLAH PEMIMPIN YG ADIL!

Semoga berguna.

About these ads

36 Komentar »

  1. ya setuju bangett deh,,, sekarang bukan agama kita sampingkan tapi peruubahan yang harus dilakukan sesegera mungkin. gak munafiklah kita butuh perubahan, jadikan perubahan menjadi lebih baik itu nyata dan keimanan tetap di pegang masing”…

    Komentar oleh annomous — Agustus 12, 2012 @ 3:10 am | Balas

  2. mengena sekali. terima kasih. semoga kita dilindungi Allah dari pemimpin jahat yang beragama islam… Amiiin.

    Komentar oleh etanoir — Agustus 13, 2012 @ 12:37 am | Balas

  3. yang jelas segala pilihan kita, ucapan kita dan tindak tanduk kita akan dihisab dan diminta pertanggungjawabannya jd berhati2lah, semua ayat2 dan hadits yg dikutip diatas sdh sgt jelas membimbing kita dalam hal pemimpin, kalau didunia kita bisa berdalih dan memutar balikkan kata dan fakta maka tidak nantinya….

    Komentar oleh annomous — Agustus 13, 2012 @ 7:09 am | Balas

  4. AlQur’an bukan hanya sekedar dibaca tapi dikerjakan apa yg diperintahkan oleh Allah swt di dalam AlQur’an. Mereka yg membaca dan mengerjakan /melaksanakan itulah termasuk orang orang yg muslim yg taat beribadah sesuai dg ajaran Islam. Kita tdk tahu isi hati orang yg tdk muslim. Dari hal kecil aja dpt dilihat seperti memilih pasangan yg tdk muslim. Waktu Pernikahan secara islam dan masuk islam. Tapi setelah nikah di tarik pasangannya utk masuk ke agama non Muslim. Hati hati dlm memilih PEMIMPIN.

    Komentar oleh kojimanmoto — Agustus 21, 2012 @ 7:54 am | Balas

  5. [...] pemimpin yg barangkali sudah jarang kita temui (atau malah tidak ada). Karenanya saya merasa pemimpin seperti inilah yg dibutuhkan kaum muslim sekarang, bukan sekedar agamanya saja yg Islam tap…. [...]

    Ping balik oleh Apakah Sinetron Omar (Umar bin Khattab) Merusak Aqidah? « Blog Tausyiah275 — Agustus 22, 2012 @ 2:29 pm | Balas

  6. Merujuk KOMENTAR No.1, Bukan anda saja yang menginginkan perubahan, semua manusia didunia, tapi perubahan yang bagaimana?
    apakah anda sudah tahu pemimpin yang baru akan melakukan perubahan yang lebih baik untuk JAKARTA !!?
    Bicara ke IMANAN tidak ada toleransi, (tuk kaum muslim lihat ;Q.S. (Ali Imran(3):28) (An Nisa(4):144) (Al Maidah(5):51) (Al Maidah(5):57) )

    Komentar oleh BONNY — September 15, 2012 @ 3:59 pm | Balas

  7. Bro, Anda lebih memilih pendapat Ibnu Taimiyah dibandingkan Al-Quran?? Sungguh Anda adalah seorang Islam (jika Anda Islam) yang tidak beriman, yg tidak mempercayai apa yang dijelaskan dalam Al-Quran. Mudah2an Anda diberikan petunjuk ke jalan yang lurus.

    Komentar oleh you — September 17, 2012 @ 9:25 pm | Balas

  8. [...] Diperhatikan Dalam Mengelola BlogShorthBlogging – Tidak Perlu Memaksakan Diri Melebihi KemampuanMencari Dan Memilih Pemimpin Dari Kacamata Islam body.custom-background { background-color: #d3d1cc; } .set-header:after{ background-image: [...]

    Ping balik oleh Casino Online Sbobet | sbobetcasino.edu.pl — September 18, 2012 @ 10:31 am | Balas

  9. ntah kenapa tapi dari komentar2 yang ada ini membuat saya sedih dan jadi tidak bersemangat untuk memilih.. *shalat istikharah sepertinya akan sangat diperlukan*

    Komentar oleh gujet — September 19, 2012 @ 9:13 am | Balas

  10. Hehe..pada akhirnya ketahuan sedang “berkampanye” utk tim mana di pilkada dki besok…:)

    Pertanyaannya, apa ada jaminan tim yg anda dukung akan berlaku adil dan tidak korupsi??
    Jawabannya tentu TIDAK!

    Soal Amanah saja sudah terbukti tidak, krn meninggalkan Solo ditangan wakilnya yg non-muslim,
    apa ada jaminan, Jakarta pun tidak akan ditinggal di tengah masa jabatannya, sehingga pd akhirnya wakil gubernur akan naik menjadi gubernur dki?

    Komentar oleh qudsi — September 19, 2012 @ 12:42 pm | Balas

    • setuju dengan statement agan qudsi di atas.. sungguh lalai yg menulis blog ini ya, dari setiap ayat dalam al-quran sudah dijelaskan ditambah lagi dengan dengan beberapa kriteria calon pemimpin yg disampaikan oleh Rasulullah SAW. Justru yg anehny si penulis lebih memilih pernyataan Ibnu Taimiyah ??. bukankah di Islam ada 2 pusaka yg patut menjadi tuntunan kita dalam kehidupan ? yaitu Al-Quran dan Al-Hadits??.
      Mudah2an Anda diberikan petunjuk ke jalan yang lurus. Aamiin

      Komentar oleh hamba allah — September 19, 2012 @ 4:01 pm | Balas

  11. Jiahhh ketauan..yg bikin ne ga copy paste internet kan? Atau jgn2 ini profokasi mana yg d percaya alquran ap pendapat manusia…

    Komentar oleh midun — September 19, 2012 @ 9:40 pm | Balas

  12. Sadarkah ANDA kalau Jokowi menang yang akan menggantikan kedudukan sebagai walikota Solo adalah wakilnya? Secara tidak langsung kita membuat kota Solo dipimpin oleh Non Muslim!! bertentangan banget sm dalil Al-Qur’an yang disebut2 diatas. Oh lupa! ANDA pake Ibnu Taimiyah ya, ya gak akan nyambung. Btw kalo bego dikit aja, jangan banyak2 :)

    Komentar oleh muhammad al fatih — September 20, 2012 @ 5:20 pm | Balas

    • perbedaan pendapat sudah tentu ada di kalangan kita karena indonesia milik bersama. Memahami al qur an memang perlu ijtihad, baik menggunakan pemikiran sendiri maupun mengikuti ulama2 lain. Kalau penulis mengutip pendapat ibnu taimiyah sah2 aja kan. Karena beliau salah satu ulama walaupun kontroversial bagi yang tak sependapat. Yang penting keputusan apapun yg kita ambil kita yaqini dengan niat yang baik. Bagaimanapun kita hidup di masa yg sudah jauh dari zaman rasul. Mari saling menghargai sesama manusia apalagi sesama muslim. Karena yang maha benar hanya Alloh swt. Boleh jadi masih2 pendapat kita juga benar, hanya beda tingkat kebenarannya. Dan kita tentu sadar tiap kita pasti punya kelemahan. Makanya menurut saya kita sampaikan saja apa pendapat kita. Hindari penggunaan kata2 yg menyinggung perasaan orang lain. Mudah2 Alloh memberi hidayahnya pada kita. Dalam al qur an sebetulnya yang wajib dipilih adalah orang mu’min, yang derajatnya lebih dari sekedar muslim. Karena dalam ayat lain kita dilarang menyebut2 sudah mu’min tetapi silahkan sebut2 sudah muslim dengan alasan orang yg benar2 mu’min akan betul bertaqwa kepada Alloh dan tidak akan merusak ketaqwaannya meskipun hanya dengan menyebut dirinya mu’min (mungkin karena sok tahu). Bagi yang tidak sependapat boleh berbagi ilmu. Mohon dengan cara yang santun.

      Komentar oleh palapa course — September 27, 2012 @ 10:03 pm | Balas

  13. very bad

    Komentar oleh riana — September 21, 2012 @ 2:21 pm | Balas

  14. mudah2 an ini dapat membuka mata hati dan pikiran kita sehingga menjadi muslim yang cerdas dan bijak khususnya dalam memilih pemimpin

    Komentar oleh palapa course — September 27, 2012 @ 4:29 pm | Balas

  15. tahukah anda siapa ibnu taimiyah? Apakah menurut anda beliau tidak mengerti alqur an dan hadits? Tak pantaskah pendapat beliau diikuti oleh sebagian umat islam? Tahukah anda bedanya muslim, mu’min, kafir zhimmi, kafir harbi? Mengapa Alloh memerintahkan kita menghentikan perang jika kita tidak lagi diperangi? Bagimana dakwah yang baik (mau’izhoh hasanah) itu?

    Komentar oleh palapa course — September 27, 2012 @ 10:28 pm | Balas

  16. Jika harga mati hrs memilih yg beragama islam, klau pemimpin islam hanya bisa korupsi, menyengsarakan rakyat, dan negara tdk aman utk apa ?” Pd umumnya pemimpin yg beragama islam dan negara islam Pejabatnya/ Rajanya pd KORUPSI, pdhal Negaranya kaya, rakyatnya Miskin, Contoh: nyata Irak, Libya, Mesir, Suriah, Yaman ( T.Tengah yg masih berkuasa belum ketahuan ), dan adik Sultan Brunei Jefry mengambil uang negaranya U$. 15. Miliar, Indonesia dari paling bawah – atas, daerah – Pusat adalah beragama islam ternyata Korupsi. klau pola pikir merujuk pd Alkitab…maka bgs ini akan semakin Hancur.

    Komentar oleh sejarawan — November 8, 2012 @ 9:02 pm | Balas

  17. Pemimpin yg hrs beragama Islam itu klo pemimpin sholat (imam) atau kegiatan ibadah Islam yg lain. Sptnya istilah imam (sholat) itu dimaknai meluas sbg pemimpin dlm hal apapun, sampai2 milih ketua kelas, dirigen paduan suara, mayoret, kapten sepakbola jg mempertimbangkan agamanya.. :-)

    Komentar oleh Allie — November 14, 2012 @ 5:44 pm | Balas

  18. Parah Bro, bahasa ente tinggi tapi kebelinger memutar balikan fakta, jangan sekali – sekali memilih pemimpin orang kafir kecuali semua orang di Indonesia ini sudah kafir semua itu sudah mutlak dan jelas di Alquran dan hadits.

    orang kafir itu punya sisi mengkafirkan umat islam dan mencegah pengembangan islam dengan segala macam cara pembodohan dan pemutarbalikan fakta persis kaya omongan lo (ini sudah dibuktikan sampai sembilan perang salib) di indonesia dibuktikan oleh peristiwa Ambon kekejaman orang kafir.

    orang islam tidak punya niat mengislamkan orang kafir karena tidak ada untungnya memaksakan islam kepada orang kafir (islam dipeluk atas dasar iman bukan paksaan) atau mencegah pengembangan agama kafir.

    ingat!!! elo juga ngga bisa memastikan bahwa orang kafir itu adil (belum ada mekanisme memilih orang kafir yang adil) dan lebih sulit melihat kritria kalau mereka adil bayangkan negara yang minoristas kafir ada nilai korupsi orang kafir di indonesia hampir mayoritas, asal lo tau mereka tidak akan pernah puas sampai seluruh orang Islam itu menjadi “budak nafsu” orang kafir

    Allahu Akbar

    Komentar oleh Indorama — November 20, 2012 @ 9:13 am | Balas

    • mengapa orang Islam memilih pemimpin kaum hawa sedangkan ketentuan islam jelas syarat utama pemimpin harus laki-laki

      Komentar oleh ambhar — November 29, 2012 @ 10:38 am | Balas

    • Yup saya setuju dgn anda

      macm ni la yg dikhawatirkan,pandai berbicara tapi menyesatkan

      dah jelas dia sendiri yg menulis

      ““Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” (Al Maidah(5):51 ”

      Bisa menulis tapi tak memahami nya

      astaghriullah

      Komentar oleh hasballah — Juni 11, 2014 @ 10:12 am | Balas

  19. lah ni admin macam pula alquran yang jelas2 firman allah di anggap lbh mulia dari pada pendapat ibnu taimiyyah….. wahabi lo…..

    Komentar oleh umar — Desember 23, 2012 @ 9:59 am | Balas

  20. cepetan tobat, ya!!!!!, sperti ibnu taimiyah yang mengakui kesalahannya dalam berfatwa. dalam buah pikirnya yang terakhir.

    Komentar oleh jai,m — Februari 13, 2013 @ 11:39 am | Balas

  21. aannnnnd kalau belajar agama jangan septong-sepotong, gak enakkkl brooo

    Komentar oleh jai,m — Februari 13, 2013 @ 11:41 am | Balas

  22. ane Stuju dgn pndaPat antum
    mudah2n pemimpin2 kta adalah dari golongan muslim yg tdak jahat dan dapat memenuhi syarat menjd pempin yg seperti antm katakan td
    amiend

    Komentar oleh Rafi — September 14, 2013 @ 5:03 am | Balas

  23. […] komentar2 di artikel saya ini sebelumnya, ditambah dengan komentar Rhoma Irama seperti terlihat di atas, yang menunjukkan ketidaksukaan […]

    Ping balik oleh Dipimpin Oleh Non Muslim (Atau Perempuan), Apakah Aib? | Blog Tausiyah275 — September 29, 2013 @ 6:26 am | Balas

  24. Allah menolong negara yang adil walaupun (negara itu) kafir dan tidak akan menolong negara zalim walaupun negara itu Mukmin (Syaikhul Islam Ibn Taimiyah).

    Pernyataan di atas adalah benar pernyataan Syaikhul Islam Ibn Taimiyah dalam salah satu kitabnya, Majmû’ al-Fatâwâ (VI/322).

    Pertanyaannya adalah, apa makna sebenarnya dari pernyataan tersebut? Benarkah bagi Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah—dengan ungkapan tersebut—sistem yang tidak islami atau sistem Islam itu bukanlah suatu hal urgen dan yang urgen adalah keadilan? Bisakah ungkapan di atas dijadikan hujjah bagi kebolehan ber-musyârakah dengan sistem yang tidak islami dan berkoalisi dengan partai sekular?

    Mengurai Masalah
    Sebagaimana diketahui, taraf pemikiran umat Islam saat ini begitu merosot tajam hingga hampir mencapai titik nadir. Dampaknya, bermunculanlah pemikiran dan gagasan aneh yang tidak pernah dikenal oleh generasi Islam sebelumnya. Misalnya, kebolehan melakukan musyârakah (bergabung) dengan pemerintahan yang tidak islami, koalisi partai Islam dengan partai sekular dan lain sebagainya. Gagasan-gagasan aneh dan menyimpang ini juga lahir akibat diabaikannya mabâdi’ asy-syarî’ah (prinsip-prinsip syariah) demi apa yang mereka sebut dengan ‘kemaslahatan’. Kemaslahatan telah mereka posisikan seolah-olah lebih tinggi di atas hukum syariah. Akibatnya, suatu perkara yang jelas-jelas haram bisa mengalami metamorfosis menjadi halal jika dalam perkara yang haram tersebut terdapat kemaslahatan. Begitu pula sebaliknya.

    Ironisnya, para pengusung gagasan-gagasan di atas juga mengetengahkan sejumlah argumentasi untuk membenarkan pendapat mereka. Mengenai musyârakah dengan pemerintahan yang tidak islami misalnya, mereka beralasan dengan kisah Nabi Yusuf as. Menurut mereka, Nabi Yusuf as. telah ber-musyârakah dengan pemerintahan yang tidak islami yang ada di Mesir saat itu. Mereka juga beralasan dengan kisah Raja Najasyi yang memerintah dengan hukum-hukum kufur, padahal pada saat kematiannya terbukti telah memeluk agama Islam. Menurut mereka, dua kisah ini membuktikan bahwa musyârakah dengan pemerintahan yang tidak islami bukanlah perkara terlarang. Dalam prespektif itu pulalah ungkapan yang dikutip oleh Syaikhul Islam Ibn Taimiyah di atas dikemukakan. Dengan ungkapan di atas seakan-akan Ibnu Taimiyah melegalkan musyârakah dalam pemerintahan yang tidak islami dan berkoalisi dengan partai-partai sekular.

    -skip-

    Sumber :

    http://hizbut-tahrir.or.id/2009/10/04/keadilan-menurut-ibn-taimiyah/

    Komentar oleh Bang Uddin — Desember 21, 2013 @ 10:33 am | Balas

  25. […] dengan artikel saya mengenai wartawan ini dan artikel mengenai pemimpin muslim-non muslim (artikel ini dan […]

    Ping balik oleh Dilarang Suudzon Dan Membuka Aib Sesama Muslim? | Blog Tausiyah275 — Desember 26, 2013 @ 1:27 pm | Balas

  26. Dampak memilih pemimpin non muslim/zalim/kafir atau apa yg sederajat itu apa Gan ?

    Komentar oleh Dityan Agil — Januari 10, 2014 @ 7:55 pm | Balas

  27. astaghfirullah.. cepet tobat dan direvisi gan al-Qur’an dan hadis adalah pegangan utama umat muslim.. dan kedudukannya lbh tinggi dari perawi hadis..

    Komentar oleh pulsar 135 — Januari 18, 2014 @ 6:56 pm | Balas

  28. Saya termasuk orang yang pertama sekali paling setuju apabila pemimpin memiliki 4 kriteria yang dicontohkan oleh Rasulullah saw, dan yang paling terpenting sekali adalah sistem, hukum, uu / kostitusi tentu harus sesuai menurut kehendak maunya Allah dan Rasulnya ( Alqur’an Dan Sunnah ) Allah swt berfirman dalam Alqur’an Surat 4 (Annisa) ayat 59 , maknanya anda bisa pahami sendiri ya,..Maka menurut pandangan saya sistem kepemerintahan itu sangat menentukan sekali

    Komentar oleh fadhil — April 5, 2014 @ 3:05 am | Balas

  29. Aneh…
    SATIR amat
    lah Caleg itu kan bukan peminpin kita
    partai yang memberi nama dan gambar

    Beginilah kesalahan dasar akibat terlalu lama memakai sistem pemilu dengan sistem proposional

    Sebagai contoh
    Pada sistem distrik, daerah pemilihan berbasis pada jumlah penduduk. Sedang
    pada sistem proporsional, basis pemilihan wilayah (biasanya propinsi) terlepas
    jumlah penduduknya sama atau tidak .

    Pada sistem distrik, ukuran daerah pemilihan kecil, berupa distrik, sehingga
    jumlah daerah pemilihan menjadi banyak. Sedangkan pada sistem proporsional,
    ukuran daerah pemilihan besar (di Indonesia propinsi), sehingga jumlah daerah
    pemilihan menjadi lebih sedikit.

    Pada sistem distrik, batasan daerah pemilihan berubah-ubah sesuai dengan
    perkembangan jumlah penduduk. Sedangkan pada sistem proporsional, batasan daerah
    tetap, kerena tak bergantung pada perubahan jumlah penduduk.

    Pada sistem distrik, setiap daerah pemilihan (distrik) hanya ada satu wakil
    terpilih. Sedangkan pada sistem proporsional, setiap daerah pemilih (wilayah)
    punya beberapa wakil secara proporsional.

    Pada sistem distrik, caleg harus berasal/berdomisili di daerah pemilih (distrik)
    tempat dirinya dicalonkan. Sedangkan pada sistem proporsional, asal caleg bebas,
    tidak harus putra daerah.

    Pada sistem distrik, hubungan pemilih dengan caleg terpilih bisa berupa
    hubungan langsung (baca: lewat caleg independen), namun dapat pula melalui
    partai (dicalonkan oleh partai). Dengan kata lain, caleg terpilih dicalonkan
    oleh pemilih atau pemilih dan partai. Sedangkan pada sistem proporsional,
    hubungan pemilih dengan caleg terpilih melalui partai, (tak ada caleg independen).
    Artinya, caleg dicalonkan oleh dan melalui partai.

    Pada sistem distrik, caleg terpilih bertanggung jawab kepada rakyat pemilih
    (untuk caleg independen) atau kepada rakyat pemilih dan partai. Dengan kata
    lain, dalam sistem ini kekuasaaan partai atas caleg terpilih sangat kecil.
    Sedang pada sistem proporsional, caleg terpilih lebih bertanggung jawab kepada
    partainya bukan kepada rakyat pemilih, karena memang partai yang mencalonkan
    dirinya. Singkatnya, kekuasaan partai atas caleg terpilih cukup besar.

    Pada sistem distrik, caleg dikenal oleh rakyat pemilih. Bila tak dikenal
    hampir pasti dia tak akan dipilih. Sistim ini menekankan kualitas dan atau
    popularitas individu. Sedang pada sistem proporsional, Caleg kurang atau bahkan
    bisa tidak dikenal rakyat pemilih, karena memang rakyat hanya memilih tanda OPP,
    bukan memilih individu caleg.

    Pada sistem distrik, cenderung merugikan partai kecil, karena suara pihak
    yang kalah hilang alias tidak dihitung. Akibatnya, hasil perbandingan suara
    pemilih dan wakil terpilih menjadi tidak berimbang (proporsional). Sedang pada
    sistem proporsional, cenderung menguntungkan partai kecil, karena semua suara
    memang dihitung secara proporsional, alias tidak ada suara yang hilang.

    Pada sistem distrik, banyak suara yang hilang sia-sia (wasted), sehingga
    pemilih pun akan kian malas untuk memilih partai yang sudah pasti kalah (partai
    gurem). Dengan sistem penghitungan suara seperti ini, maka pada akhirnya akan
    cenderung menghasilkan dua partai besar. Sedang pada sistem proporsional, suara
    pasti dihitung, maka sistem ini cenderung menghasilkan multi partai, sebab
    meskipun partainya kecil, tetapi tetap berharap dapat kursi hasil gabungan dari
    suara di berbagai wilayah.

    Pada sistem distrik, Adanya dua partai besar memungkinkan partai yang menang
    mendapat suara mayoritas mutlak, sehngga tidak mengarah ke pemerintahan koalisi.
    Sedang pada sistem proporsional, partai kecil tetap eksis, maka suara/kursi
    menjadi terpecah-pecah ke dalam partai-partai kecil. Untuk dapat membentuk
    pemerintahan mayoritas mutlak (50% + 1), biasanya partai-partai akan mengarah
    kepemerintahan koalisi.

    Pada sistem distrik, cenderung ke sistem sentralisasi, karena wakil rakyat
    memang lebih loyal pada pemilih dan konstituensinya, bukan kepada pusat (baca:
    OPP di pusat). Implikasinya, sistem distrik menghasilkan keterbukaan pertanggung
    jawaban politik dari wakil terhadap rakyat yang diwakili. Sedang pada sistem
    proporsional, cenderung ke arah sentralisasi, karena wakil rakyat loyal pada
    pusat (baca: OPP di pusat yang mencalonkannya. Implikasinya, sistem proporsional
    tidak menekankan keterbukaan pertanggung jawaban politik.

    Komentar oleh Bang Uddin — April 5, 2014 @ 11:54 am | Balas

  30. […] Artikel yg berkorelasi: Mencari Dan Memilih Pemimpin Dari Kacamata Islam […]

    Ping balik oleh Islam Dan Politik | Blog Tausiyah275 — Juni 9, 2014 @ 4:36 pm | Balas

  31. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” (Al Maidah(5):51

    Komentar oleh hasballah — Juni 11, 2014 @ 10:05 am | Balas

  32. […] Oleh karena itu, ketika saya membaca di KonsultasiSyariah.com tentang siapa yang harus dipilih jika harus memilih antara pemimpin yang profesional tapi bukan Muslim atau pemimpin yang sholeh tapi tidak profesional, saya sangat setuju dengan jawaban ustadz tersebut. Saya juga sependapat dengan tulisan sejenis di salah satu blog yang saya baca. Silahkan baca selengkapnya di sini dan di sini. […]

    Ping balik oleh Kriteria Presiden Pilihanku | arinidm's blog — Juli 2, 2014 @ 3:48 pm | Balas


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Rubric Theme. Blog pada WordPress.com.

%d bloggers like this: